Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Janjian.


__ADS_3

Keluarga kecil itupun sudah sampai tempat yang di tuju. Rupanya Adnan mengajak anak dan istrinya mengunjungi tempat bermain. Selama menikah Adnan belum pernah mengajak istrinya jalan-jalan.


"Pa, Fina mau berenang ya," kata Fina antusias. Memang dasar bocah. Padahal di rumah mama Fatimah pun ada kolam renang. Namun berhubung di kolam renang cukup ramai dengan anak-anak seusia nya, membuat Afina bersemangat.


"Okay... kita beli pakaian ganti dulu," Adnan mengajak mereka ke toko pakaian khusus untuk berenang.


"In, kamu ganti baju juga ya" Adnan menatap Sabrina yang masih mengenakan kebaya wisuda tampak gerah. Sebab Sabrina mengipasi badan bagian atas.


"Yang benar saja, masa aku di suruh pakai baju renang," tolak Sabrina.


"Beli kaos saja sama celana ini, kan melar," Adnan menunjukan celana batik bahan katun berkaret longgar. Seperti yang di jual di kaki lima.


"Iya deh," Sabrina memang sudah gerah, kehamilan yang sudah 7 bulan ke atas memang selalu kegerahan.


"Maaf sayang... aku membelikan baju kamu yang murah, lain kali kita cari baju yang bagus," Adnan ingat. Selama menikah belum pernah membelikan baju untuk istrinya.


"Beli baju itu, tidak harus mahal Mas, bagi aku yang penting nyaman dipakai," Sabrina menjawab santai.


"Iya juga sih," Adnan membeli tiga kaos. Ia juga ingin segera mengganti kemeja dengan kaos agar lebih santai.


"Pa, Fina kesana ya," Fina sudah tidak sabar ingin segera nyebur, setelah ganti pakaian di ruang ganti.


"Okay... hati-hati..." pesan Adnan.


"Mas nggak ikut renang?" tanya Sabrina.


"Nggak, aku mau temani kamu disini," Adnan merangkul pundak Sabrina. Duduk di kursi taman mendengar gemericik air mancur di sebelahnya.


"In, kamu ingat nggak? Sekarang hari apa?" Adnan menoleh ke kiri ke arah Sabrina.


"Hari sabtu," jawab Sabrina, yang sedang memperhatikan Fina. Anak sambungnya itu sudah meluncur seperti katak di kolam renang. Ia sudah mahir. Wajar, karena ia sering berenang di rumah sang nenek.


"Selain itu?" Adnan mengulangi.


"Hari wisuda aku," Sabrina mengulas senyum. beralih menatap suaminya, cita-citanya untuk meraih gelar sarjana pendidikan kini telah tercapai.


"Ya, tetapi... ada yang lebih bersejarah," pancing Adnan.


Sabrina diam sejenak sambil berpikir. "Eeemm hari anniversary," Sabrina tersenyum.


"Maaf Mas, aku sampai lupa," Sabrina merangkul tubuh kekar suaminya.


"Nggak apa-apa sayang... maafkan aku juga, hingga dua tahun usia pernikahan kita. Aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan," sesal Adnan selama ini ia melewatkan momen waktu berdua. Selayaknya pasangan pada umumnya seperti bulan madu, dinner romantis, atau apapun itu untuk menyenangkan hati istrinya.


"Aku nggak minta yang aneh-aneh kok Mas, cukup satu, kamu percaya sama aku, dan jangan ada orang ketiga di antara kita," tegas Sabrina.


"Jelas ada orang ketiga diantara kita," Adnan melirik wanita di sebelah nya.


"Maksud nya?" Sabrina mendelik gusar.


"Itu Afina, memang bukan orang ketiga?" Adnan terkekeh.

__ADS_1


"Iihh... kaget tahu!" Sabrina cemberut.


Jreng jreng jreng.


Saat Sabrina sedang bermanja terdengar suara gitar. Seketika ia bangun dari pundak Adnan. Seorang pria berpenampilan nyentrik tetapi mengalunkan lagu anniversary dengan suara emasnya.


Mata Sabrina melebar kemudian menoleh Adnan yang sedang mengulas senyum kepada nya.


Jreng jreng jreng


Sengaja daku.


Memberi ruang bagimu.


Untuk memahami waktu.


Tak ingin daku


Mengulang waktu yang sama.


Tuk mengerti tentang kita. 🎶.


Belum hilang rasa terkejutnya datang lagi dua orang wanita cantik membawa dua buket bunga mawar dan anggrek kemudian memberikan kepada Adnan.


"Terimakasih" ujar Adnan.


"Sama-sama Tuan," Dua wanita itupun pergi.


"Selamat hari pernikahan kita sayang..." Adnan memberikan dua buket bunga itu. Sabrina berkaca-kaca dua buket bunga ini mengingatkan ketika mereka bertengkar tiga bulan yang lalu.


"Bang, tolong fotoin kami," titah Adnan kepada penyanyi.


"Baik Tuan." penyanyi meletakkan gitar kemudian memotret pasutri itu.


"Yaaa... Papaaa... Bundaaa... Fina kok nggak di ajak foto?" Afina berlari menghampiri dalam keadaan baju yang masih basah.


"Sini-sini," Sabrina memeluk Afina dari belakang kemudian Adnan memeluk Istrinya dari belakang pula. Hingga beberapa gaya gambar telah di abadikan.


"Terimakasih Bang," Adnan memberikan sejumlah uang kepada penyanyi ketika sudah selesai.


Adnan kemudian mengirim foto itu kepada mama Fatimah.


Adegan romantis telah selesai mereka makan siang bersama di resto yang tidak jauh dari tempat itu.


********


Malam harinya tepatnya malam minggu.


"Sayang... sudah lama loh kita tidak..." Adnan tidak melanjutkan ucapanya. Sejak bed rest ketika itu mereka tidak melakukan hubungan suami istri.


"Memang belum boleh ya?" Adnan menatap wajah istrinya yang sudah tidur miring berhadapan dipenuhi gairah.

__ADS_1


"Boleh kok, kan sekarang sudah tujuh bulan," jawaban Sabrina membuat Adnan merasa di awang-awang. Belum puas jalan-jalan tadi siang. Rupanya Adnan mengajak istrinya berselancar mengarungi samudara yang indah.


Dengan tertatih-tatih Sabrina segara ke kamar mandi segera mandi wajib. Begitu kembali, Adnan sudah mendengkur halus.


Sabrina pun tidur pulas hingga ke esokan harinya Adnan sudah berzikir rupanya sudah selesai shalat namun tidak membangunkan istrinya.


Sabrina mandi kemudian menjalan kan shalat subuh, Adnan sudah tidak ada di kamar.


Deeerrtt deeŕtt...


Ketika Sabrina sedang melipat mukena terdengar handphone miliknya. Ia segera ambil handphone melihat nomor ternyata telepon dari orang misterius.


Sabrina mendiamkan ketika sudah mati sendiri. Ia memberanikan diri untuk chating nomor tersebut daripada ia terus dibuat penasaran.


"Assalamualaikum..." ketik Sabrina.


Ting.


Baru beberapa detik sudah ada balasan.


"Waalaikumsalam..." orang itu membalas. "Mas Adnan, akhirnya kamu chat aku juga,"


Sabrina terkejut, ternyata nomor itu ditujukan untuk suaminya, lalu mengapa selalu meneror diri nya?


"Iya, habis kamu telepon terus... kamu siapa, dan ada apa?" Sabrina kembali membalas.


Ting.


"Masa sih Mas... kamu lupa? Kalau aku tulis disini kayak nya kepanjangan, boleh nggak kita bertemu,"


"Bertemu dimana? Terus kapan?" Sabrina mengikuti permainan.


Ting.


"Pagi ini saja, aku tunggu di taman ××× sekalian joging, terus Mas aku traktir sarapan pagi,"


"Okay..."


Sabrina mengakhiri chatting. "Tunggu aku" Gumam Sabrina lalu tersenyum. Ia penasaran siapa wanita, dari bahasanya sepertinya mengagumi suaminya.


Sabrina lalu ke lantai bawah mencari suaminya hendak ijin. Namun tidak ada.


"Bibi... Mas Adnan kemana ya?" Sabrina menghampiri bibi yang sedang membuat sarapan.


"Tuan tadi ke luar Non, pakai baju olah raga mungkin joging," jawab bibi.


"Oh gitu..." Sabrina ambil botol minum lalu mengisinya.


"Bi... saya mau mencari Mas Adnan, kalau Afina nanti tanya tolong bilang kalau kami olah raga ya," pesan Sabrina.


"Siap Non,"

__ADS_1


Sabrina pun pergi membawa botol minum untuk bekal jika haus di jalan.


.


__ADS_2