Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Jatuh tersungkur.


__ADS_3

Jam 10 pagi mobil beriringan menuju hutan yang masih kawasan AL INAYAH. Djody dan Isabella memilih lokasi di sebuah hutan tempat resepsi outdoor. Selain jatuh cinta dengan tempatnya yang hutan banget, mereka ingin mengenang masa remaja dulu.


Hutan ini selain mudah untuk di jangkau kendaraan juga tempatnya banyak menampung para tamu undangan dari pihak Djody maupun Isabbela.


Untuk penampilan Bella di pelaminan terlihat natural sesuai dengan tema pernikahan yang memang santai namun elegan. Riasan wajah yang natural dipadukan dengan dress berwarna peach cerah dan di sesuaikan dengan tema. Sedangkan Djody mengenakan jas coklat muda netral cocok banget dengan rustic audoor, mereka.


"Selamat Mbak Bella..." Prily datang bersama Bobby.


"Terimakasih Prily," Bella tersenyum ramah.


"Selamat broo, cepat dapat momongan ya, kayak gw nih, sekali suntik cus... dua bulan kemudian langsung jadi. Ahahaha..." dua pria yang sama somplaknya itupun tertawa. Bella tersenyum kecut mendengar gurauan Djody dan Bobby. Sementara Prily menarik cepat tangan Bobby menjauh dari pelaminan.


"Mas... kalau bercanda jangan keterlaluan apa! Bella itu sekarang lagi galau tau nggak!" omel Prily ketika sudah menjauh.


"Alaaah... biasa saja kali Pril, Bella tuh sudah kebal dengan candaan aku," kilah Bobby.


"Cek! Mas mah nggak ngerti!" sungut Prily. Mereka berjalan menuju panggung band. Namun di tengah jalan bertemu sahabatnya tampak menggandeng seorang gadis.


"Pril... loe sudah menemui pengantin?" tanya Kevin. Ya pria itu adalah Kevin dan Rasmini.


"Sudah Vin, baru saja," jawab Prily menatap Rasmini tersenyum.


"Kalian kapan menyusul?" kali ini Bobby buka suara.


"Belum ada rencana Kak Bobby" jawab Kevin. Kevin dengan Rasmini belum ada komitmen untuk menikah. Mereka masih ingin saling mengenal. Usia mereka masih terlalu muda. Yakni, Kevin 25 tahun, sementara Prily baru 23 tahun.


"Okay Vin, kami tunggu di depan panggung ya," pungkas Prily. Mereka berpisah, Kevin menuju pelaminan sementara Prily mengait lengan Bobby hendak mencari makanan.


.


Sementara di pelaminan, Adnan dan Sabrina tampak menuju tempat sang ratu sejagat telah berbahagia.


"Selamat menempuh hidup baru Mbak Bella," ucap Sabrina disusul Adnan yang menggendong Dafa. Sedangkan Afina tampak cantik dengan baju setelan muslim duduk di samping Djody, sementara Elma duduk di sebelah Bella.


"Terimakasih Adnan, Ina..." jawab Bella lalu mereka cipika cipiki.


"Akak. Akak" Dafa menggapai-gapai ingin ikut Fina.


"Dafa... siniin Pa" pinta Afina. Sudah tiga hari Fina tinggal bersama Bella tentu tidak bertemu adiknya menjadi kangen.


"Tapi Kak" cegah Sabrina, sebab di belakang tamu sudah antri.


"Sebentar doang Bun," paksa Fina tidak tega melihat adiknya yang mimblik-mimblik ingin menangis.


"Benar kata Fina In" Bella menyela. Adnan mendudukan Dafa di pangkuan Afina. Kemudian Adnan ambil foto kedua anaknya bersama pengantin.


"Sekarang kita foto bersama Nan," ajak Djody. Keluarga Adnan foto bersama pengantin dan akhirnya meninggalkan pelaminan.

__ADS_1


"Akak... akak Pa... huaa... ikut akaaak..." Dafa masih menoleh Fina sambil menangis, melambai-lambaikan tangan. Afina memang sangat menyayangi adiknya. Wajar jika tidak ada Fina sebentar saja Dafa sudah mencari. Apa lagi jika Fina menginap di rumah Bella, tidak jarang Adnan mendatangi rumah Bella bersama Sabrina dan Dafa tentunya.


"Ayo di gendong Papa, terus kita ambil balon, okay..." Adnan ambil alih Dafa dari gendongan Sabrina, lalu menuju dimana balon untuk hiasan pinggir panggung. Adnan kemudian ambil dua buah balon mengetuk-ngetuk pelan ke hidung Dafa, yang awalnya menangis pun berubah tertawa.


Sabrina mengikuti anak dan suaminya dari belakang. Namun langkahnya berhenti kala netranya terpukau melihat konsep yang sudah disusun oleh Bella.


Konsep acaranya yang intimete, di manfaatkan Bella dan Djody untuk bisa berkumpul bersama teman dan sahabat. Pernikahan yang hangat dan santai semua tamu bisa duduk dan ngobrol. Wajar, Djody mempersiapkan acara ini sejak lamaran ketika itu, lantas mempuanyai ide dan mempersiapkan segala sesuatunya seperti kursi dan lain sebagainya.


Djody tidak lupa mengundang band ternama hingga tamu-tamu yang hadir bisa menikmati acara tanpa harus buru-buru pulang, walaupun sudah merasa lelah mereka bersantai menonton band sambil mencicipi hidangan yang tersedia.


"Sabrina... kamu sendirian Nak? Adnan kemana?" tanya mama Fatimah yang baru saja tiba bersama papa Rachmad.


"Itu Ma, lagi ambil balon, tadi Dafa rewel," jawab Sabrina lalu memberi salam kedua mertuanya yang akhir-akhir ini jarang ia kunjungi karena kesibukan.


"Kamu kenapa Nak... kok pucat?" Mama Fatimah memegang pipi menantunya perhatian.


"Nggak apa-apa kok Ma," kilah Sabrina.


"Sebaiknya kamu menuruti saran suami kamu mencari pembantu untuk mengurus Dafa Nak, kamu sepertinya kelelahan," papa Rachmad tak kalah perhatian.


"Tidak lelah Pa, Ina kan hanya mengurus Dafa, seperti para ibu rumah tangga pada umumnya." Sabrina tersenyum merasa tersanjung dengan perhatian kedua mertuanya.


"Ya sudah... tapi kamu sebaiknya periksa ya Nak, jangan mengabaikan karena hanya sakit kepala" pungkas mama Fatimah.


"Baik Ma" Sabrina menatap mertuanya yang sedang menemui pengantin.


"Yank... kok kamu kelihatan pucat? kalau tidak enak badan kita langsung pulang saja," saran Adnan.


"Nggak apa-apa Mas, kayak nya aku masuk angin deh," jawab Sabrina sejak tadi pagi memang terasa sakit kepala. Ternyata bukan hanya mertuanya, Adnan pun berpikiran sama.


"Yank... kamu tidak berniat nyanyi seperti dulu?" Adnan tersenyum tangan kiri merangkul pundak Sabrina dan tangan kanan memangku Dafa.


"Nggak ah... nanti ada yang marah lagi" Sindir Sabrina. Mengingat band, pikiran Sabrina berputar saat awal mengandung Dafa. Gara-gara menuruti kata Afina mengajaknya bernyanyi di panggung memicu pertengkaran dengan Adnan.


"Nggak... sekarang nggak marah lagi, kan kita sudah ada buah cinta yang lucu seperti ini, masa mau marah-marah terus..." Adnan mencium kepala Dafa.


"Ina... loe gw cariin dari tadi, ternyata disini?" Prily tiba-tiba datang merusak keromantisan pasutri.


"Elah Loe?! Bini dirangkul terus, takut amat hilang sih Nan," tandas Bobby.


Adnan melirik Bobby lalu melengos kesal. Namun Bobby justru tertawa garing. Langsung kena plototan Prliy.


"Ante..." Dafa menunjukkan balon kepada Prily.


"Wee... balonya banyak, ada tiga, sekarang di gendong sama Tante yuk... cari balon lagi," Prily ambil alih Dafa dari pangkuan Adnan setelah minta ijin.


"Alon, anyak..." Dafa tersenyum menunjukkan gigi putih nya.

__ADS_1


"Iya, balonya banyak," Prily menegaskan, lalu mengajak Dafa menjauh diikuti Bobby.


"Siapa yang akan menyumbangkan lagu bahagia..." pekik vokalis di atas panggung.


Adnan lalu menoleh istri di sebelahnya. Sang istri tampak sedang tidak bersemangat.


"Yank... kita nyanyi yuk" ajak Adnan bermaksud menghibur istrinya yang terlihat lelah.


"Kita?" dahi Sabrina berkerut. Pasalnya suaminya itu anti sekali beryanyi.


"Iya, kita duet, selagi Dafa anteng." Adnan berdiri di depan Sabrina menarik tanganya pelan agar beranjak dari duduk nya.


"Tapi Mas..." Sabrina sebenarnya malas sekali, tetapi karena Adnan tampak antusias. Sabrina mengalah menuruti kata suaminya. Lagi pula Sabrina ingin dengar suara suaminya bernyanyi seperti apa.


"Eh Mbak... Mas... sebelum bernyanyi perkenalkan nama dulu," kata MC. Setelah keduanya tiba di panggung.


"Saya Muhamad Adnan, dan ini istri saya Nur Sabrina," Adnan memperkenalkan diri. Selesai berkenalan Adnan meminjam gitar salah satu grup band.


Jreng jreng jreng.


Kemesraan ini janganlah cepat berlalu.🎶


Adnan memetik gitar membuat Sabrina terharu, ternyata suara suaminya sangat bagus. Sabrina berdiri di samping Adnan memegangi pundaknya.


Kemesraan ini ingin kukenang selalu.


Hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu.


Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu🎶


Adnan menanti Sabrina agar bernyanyi namun rupanya kali ini Sabrina benar-benar tidak bersemangat.


Bruk.


Sabrina tersungkur di panggung.


Klontang.


Adnan segera melempar gitar kesembarang arah, kemudian memangku kepala Sabrina.


"Sabrina... kamu kenapa sayang... Ina bangun sayang..." Adnan menepuk pelan pipi Istrinya, namun tidak sadar juga. Semua yang di panggung mendekati Sabrina.


"Tolong minggir" Adnan segera menggendong Sabrina membawanya turun dari panggung lalu berjalan dengan langah panjang ke mobil.


Kevin dan Rasmini mengajar, begitu juga dengan mama Fatimah dan papa Rachmad.


.

__ADS_1


__ADS_2