Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Melarikan diri.


__ADS_3

Bella berteriak mengurangi rasa sesak di dalam dada. Putus sudah harapanya kini agar bisa berkumpul dengan anak kandung nya.


"Afina..." ia menjatuhkan lutut ke tanah, menundukan kepala, kedua tanganya menekan tanah. "Hiks hiks hiks..." Tangisnya kini pecah.


Kedatangannya ke Indonesia yang sudah ia susun rapi, agar misinya untuk mendapatkan putrinya ke pangkuanya berjalan lancar, tetapi ternyata sia-sia. Padahal ia bisa sampai ke tempat ini bukan suatu hal yang mudah, sampai ribut besar dengan Davit sang suami.


Ia susut air matanya, kemudian beranjak meninggalkan tempat itu. Semakin berkurang umurnya dunia terasa sepi, tidak ada anak ternyata cukup menyiksa batin nya.


Jika sudah seperti ini ia akhirnya mencari tempat yang bisa menenangkan menurut Bella. Padahal jika ia sadari tempat inilah yang membuat hidup Nya rusak.


Satu botol minuman dan gelas kecil sudah di depanya. Ia tuang sedikit kemudian ia teguk terus-terus dan terus hingga tandas.


"Pelayan... tambah satu botol lagi," ujarnya.


"Baik Non" pelayan ambil lagi satu botol. Bella ulangi seperti di awal dan akhirnya habis.


Karena sudah biasa, tiga botol minuman itu lantas tidak membuatnya mabuk.


Tempat remang-remang itulah tempat terakhirnya, jika sedang buntu seperti sekarang. Namun kali ini ia bukan ikut berdansa. Tawaran pria hidung belang yang sejak pertama menawarkan ranjang pun Bella tolak, bukan itu yang ingin ia lakukan saat ini.


Malam telah larut akhirnya Bella pulang. Ternyata tiga botol minuman tidak mempengaruhi walupun dia menyetir sendiri. Kali ini Bella bukan pulang ke apartemen melainkan pulang ke rumah orang tuanya. Selama di Indonesia baru ia kunjungi sekali ketika tiba di Jakarta seminggu yang lalu.


Tok tok tok


Bella mengetuk pintu hingga berulang-ulang 10 menit kemudian baru di buka.


"Baru pulang Non?" tanya bibi bau alkohol menyengat membuat bibi ingin muntah.


"Iya," jawab Bella singkat kemudian masuk ke kamar.


"Non... Non! Ternyata belum berubah," gumam bibi seraya mengunci pintu.


Pagi harinya sarapan pagi sudah siap. "Memang Bella pulang, kok mobil nya di rumah An?" tanya Wijaya papa Bella kepada istrinya.


"Nggak tahu," jawab Andini. Ia memang belum mengecek kamar putrinya.


"Bibi..." panggil Andini.


"Saya Nyonya..." bibi pun mendekati meja makan.


"Bella, tadi malam pulang ya Bi?" Andini yang sedang mengoles roti dengan mentega menoleh bibi sekilas.


"Iya Nyonya," jawab bibi.

__ADS_1


"Panggilkan Bi," titah Andini.


"Baik Nyonya," bibi kemudian memanggil Bella. Tidak lama kemudian kembali sudah membuntuti Bella.


"Apa yang kamu lakukan di apartemen Bella?" tanya Wijaya menoleh Bella yang sedang menarik kursi dengan wajah kusut.


"Ya... santai saja Pa, selagi masih di Indonesia," Bella lantas menyeruput sereal yang dibuatkan bibi.


"Kamu kemarin mengajak Fina pergi, tidak bicara dulu dengan Adnan kan..." sambung Andini. Andini rupanya tidak tahu kekisruhan yang terjadi.


"Kenapa musti bilang sih Ma? Afina itu kan anak aku," Bella sedikitpun tidak merasa bersalah.


"Ini nih! Yang Mama nggak habis pikir, seharusnya kamu itu bisa mengambil hati Adnan supaya bisa kembali sama kamu, terus tinggalkan David yang tidak ada apa-apanya itu. Eh ini, kamu malah membuat masalah," Andini ngomel-ngomel.


"Sudahlah Ma, kita tidak usah mengusik ketentraman Adnan lagi. Dia sudah bahagia dengan wanita lain," nasehat Wijaya. Biar bagaimana Wijaya tidak mau bermusuhan dengan Rochmad sahabatnya.


"Alaah... kalau dulu nggak dikasih donor satu ginjal milik Papa, pasti Rochmad itu sudah meninggal!" ketus Andini. Ujung-ujungnya di meja makan pun terjadi perselisihan antara suami istri itu.


"Aku bilang sudah An, jika yang kamu mau harta, sudah banyak pemberian dari Rochmad temasuk rumah ini," Wijaya ingat semua kebaikan mantan besan sekaligus sahabatnya. Sebenarnya tidak harus menukar anak dengan ginjal. Papa Rachmad sudah memberikan ucapan terimakasih berupa tanah, membukakan resto untuk Wijaya. Hingga bisa untuk menopang hidup sampai saat ini, dan termasuk rumah yang mereka tinggali.


"Sekarang sebaiknya kamu fokus dengan rumah tangga kamu Bella. Urus David dengan baik, semoga kalian cepat punya momongan," kata Wijaya bijak.


Teng tong teng tong.


"Selamat pagi," sapa polisi.


"Selamat pagi Pak," bibir bibi gemetar karena takut.


"Ibu Isabella ada?"


"Ada Pak, sebentar saya panggilkan," dengan kaki gemetar bibi ke ruang makan.


"Non, di luar ada polisi, mencari Nona Bella," bibi mengangguk santun.


"Polisi?" Bella, Andini, dan juga Wijaya terkejut semua saling melempar tatapan penuh tanya.


"Ada apa Bela?!" ketus Wijaya. Namun Adini segera mengait lengan suaminya, mengajaknya ke depan menemui polisi.


"Ada apa ini Pak, anak saya berbuat kesalahan apa?" Wijaya memegangi dadanya sebelah kiri yang terasa nyeri.


"Saya mendapat tugas menjemput Isabella," polisi menunjukan surat penangkapan.


Dengan tangan gemetar Wijaya menerima surat, kemudian membaca surat tersebut lalu jatuh limbung terkulai lemas di lantai.

__ADS_1


"Papa... bangun pa..." Andini menggoyang tubuh suaminya. Belakangan ini Wijaya memang mempunyai riwayat sakit jantung. Mungkin pria yang sudah tidak lagi muda itu stres memikirkan putri satu-satunya.


Dua polisi terpaku di tempat.


"Pak, tolong bantu suami saya," dengan air mata yang berderai Andini mendongak menatap polisi.


"Mari Bu... saya bantu," dua polisi mengangkat tubuh wijaya.


"Bi, ambil kunci mobil saya" titah Andini.


"Baik Nyonya," bibi segera ambil kunci mobil yang berada di dekat meja makan. Bibi tidak menemukan Bella disana. Dengan langkah setengah berlari bibi sampai di depan. Tuan Wijaya sudah digotong di pinggir mobil miliknya.


"Kuncinya Nyonya," bibi menyerahkan kunci kepada sang majikan. Andini kemudian memencet remote mobil. Begitu pintu terbuka, tanpa di suruh kedua polisi sudah tanggap menidurkan Wijaya di jok tengah.


"Nyonya, lalu bagaimana dengan saudara Bella? Mohon maaf, kami hanya menjalankan tugas" polisi sebenarnya tidak tega tetapi mereka hanya menjalankan tugas.


"Bi... panggil Bella di dalam," pungkas Andini. Andini kemudian menyalakan mobil. Saat ini tidak bisa berpikir apapun selain segera membawa suami ke rumah sakit, yang penting suaminya selamat.


"Baik Nyonya," bibi kembali masuk ke dalam sementara polisi menunggu di luar.


Tok tok tok


"Non Bella..." bibik mengetuk kamar Bella. Karena lama tidak dibuka, wanita paruh baya itu memberanikan diri membuka pintu kamar perlahan. Bibi memindai sekeliling kamar tetapi kosong.


"Non..." bibi mengetuk pintu kamar mandi. Ternyata pintu tidak di kunci. Lagi-lagi bibi membukanya namun kosong juga.


Bibi ke luar dari kamar mencari Bella keseluruh kamar, namun nihil, lantas kembali ke depan menemui polisi.


"Maaf Pak, Non Bella tidak ada di dalam," jujur bibi.


"Boleh kami cek di dalam Bi?" tanya polisi. Bibi hanya diam tentu bibi tidak begitu saja membiarkan orang lain masuk tanpa ada pemilik rumah.


"Tapi di dalam sudah saya cari ke seluruh kamar tidak ada Pak," lirih bibi.


"Bi, kami hanya menjalankan tugas," tegas polisi.


Bibi pun mengalah mengantar polisi mencari ke seluruh ruangan ternyata Bella memang tidak ada.


"Pak, sepertinya saudari Bella keluar dari jendela," polisi memberi tahu rekan kerja nya. Tampak jendela kamar Bella sudah terbuka lebar.


"Kita kejar selagi belum jauh," kata salah satu polisi.


"Mari" dua polisi melompati jendela.

__ADS_1


.


__ADS_2