
"Ela... tolong dengarkan aku," kata David yang sudah merebahkan tubuhnya di samping Angel. David melingkarkan tangan ke perut Angela, diusapnya lembut. Ia merasa bersalah jika dikatakan tidak adil, memang David akui. Selama ini David selalu mementingkan Bella daripada wanita yang kini satu tempat tidur denganya.
David tidak menyadari bahwa ada wanita yang berhati mulia berada di sampingnya. Selalu menerima keadaan David, kala usahanya sedang surut. Justru Angela berdoa agar dilancarkan dalam mengais rezek. Tidak hanya itu. Angela juga menghiburnya kala David sedang dalam keadaan sesulit apapun. David sadar kesuksesan suami karena ada istri sholehah di sampingnya.
Tidak jarang jika David di terpa masalah dengan Bella, Angela sebagai obat. Tanpa Angela tahu.
Berbanding terbalik dengan Bella. Bella selalu marah jika diberi uang sedikit. Padahal jika David memberi uang nafkah hanya Bella gunakan untuk membeli sesuatu yang tidak penting.
"Jangan sentuh aku Dav," Angel menyikut-nyikut. Ketika tangan David meraba perut Angel, ingin merasakan gerak bayi. Namun David memeluknya semakin kencang.
"Kamu pergi saja, kamu nggak cinta sama aku, hanya kamu butuhkan ketika hatimu sakit... hu huuu..."
"Ela..."
David sedih mendengar ucapan Angel.
"El, jujur. Dulu aku memang menikahi kamu hanya untuk menyenangkan hati mommy," kata David, diplomatis.
"Ketika itu hubungan aku dengan Bella sudah di ujung tanduk El. Karena kami bertengkar hebat, dan itu bukan yang pertama," jujur David. Sebenarnya David tidak pantas menceritakan persoalan rumah tangganya dengan istri pertama, pada istri kedua, tetapi selama ini David menahan sakit hati ini sendirian.
"Ya, dan ternyata kamu menikahi aku hanya untuk pelarian kamu," Angel kembali mengulangi kata-kata itu.
"Aku akui, tetapi itu dulu El, setahun yang lalu, tetapi semakin lama aku mengenal kamu, kamu ternyata jodoh yang pantas untukku," David menenggelamkan wajahnya di tengkuk Angela.
"Kamu bisa bicara begitu, hanya di depan aku Dav. Jika di depan Bella kamu akan melakukan hal yang sama," Angela menyusut air mata.
"Ela, jika kamu mengira bahwa pernikahan aku dengan Bella, selama ini adem ayem itu salah besar," David menceritakan selama berumah tangga dengan Bella. Jika sedang emosi tidak jarang mengucap kata cerai.
Ela terperangah mendengar penuturan suaminya. Namun rasa kecewa yang dialami Angela sudah sampai ubun-ubun.
"Itu urusan kamu Dav, aku tidak mau ikut campur, yang jelas selama ini kamu sudah membohongi aku" potong Angela.
"Jelas ada urusannya sama kamu El, karena ini masa depan kita. Jujur El, walaupun pertama kali menikah dengan kamu aku sebatas menyenangkan hati orang tua kita. Namun, seiring berjalannya waktu, cinta aku tumbuh, karena kamu wanita paling baik yang pernah aku temui," David mencium punggung Angel. David benar-benar takut kehilangan wanita yang selalu mendukung rencananya selagi itu positive.
************
Jam delapan malam di kediaman Adnan ketika Sabrina sedang mengajari Fina mengerjakan pr, bibi memanggilnya.
"Ada siapa Bi?" tanya Sabrina membuka pintu.
__ADS_1
"Di luar ada Prily, sama suami nya Non." kata bibi.
"Ya sudah Bi, buatkan mereka minuman dulu, nanti saya menyusul," titah Sabrina.
"Baik Non," bibi ke bawah lebih dulu.
"Sayang... di bawah ada Tante Prily, kamu selesaikan pr sendiri ya, sekalian titip dedek kalau bangun bilang Bunda," pesan Sabrina.
"Siap Bun," Fina mengacungkan jempol.
Sabrina segera ke ruang tamu. Disana Adnan, Bobby, dan Prlily sahabat nya sedang ngobrol.
"Cieee... pengantin baru..." goda Sabrina mengulum senyum.
Prily yang sedang duduk bersebelahan dengan Bobby membalas senyum sahabatnya.
"Maaf Prily... gw nggak bisa datang ke acara pernikahan loe," kata Sabrina kemudian duduk di sebelah suaminya. Tangan Adnan pun segera melingkar di pundak istrinya.
Sabrina merasa bersalah karena berhalangan hadir saat hari bahagia sahabatnya.
Bobby memperhatikan sahabatnya yang sedang mengusap pundak Sabrina, merasa iri, kemudian melakukan hal yang sama kepada Prily. Wajah Prily merona ketika diperhatikan oleh Adnan.
"Nggak apa-apa In, gw ngerti kok, jangan di pikirkan," Prily mengalihkan Sabrina, yang sedang mengedipkan mata kepadanya tentu hanya menggoda.
"Sudah lah Yank, toh acaranya sudah selesai dengan lancar. Iya nggak Bob?" Adnan menatap Bobby.
Rupanya tanganya sedang usil pada Prlily. Hingga Bobby tidak menyadari jika sahabatnya mengajaknya bicara.
"Cek! Loe Bobby! Pengantin baru sih, pengantin baru! Tapi tahu tempat dong!" Adnan geleng kepala.
"Hihihi..." Sabrina cekikikan ketika menatap Prily yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Mungkin karena malu. Ketika sedang menoleh bibir nya dicuri suaminya.
"Bilang saja ngiri Nan, loe lagi puasa kan?" celetuk Bobby. Kali ini gantian Sabrina seketika menghentikan tertawanya.
"Oh iya Prily, gw ada kado nih," Sabrina mengalihkan.
"Terimakasih In, boleh dibuka sekarang nggak?" Prily membolak balikkan kado sudah tidak sabar ingin segera membukanya.
"Jangan sekarang, nanti di rumah saja," cegah Sabrina.
__ADS_1
"Loe nggak kasih kado gw juga Nan?" seloroh Bobby.
"Ya itu kado dari kami berdua, memang loe ketika gw menikah kasih kado," Adnan pura-pura menagih.
"Mas... ih" potong Sabrina meremas lutut suaminya. Semua lantas tertawa. Begitu juga dengan Sabrina. Ia tersenyum, memandangi Prily sahabatnya.
Obrolan yang tidak bermutu selesai. Karena satu jam sudah mereka di rumah Adnan. Pasutri itu pun akhirnya pulang.
***********
"Afina... maafkan Mama Nak, Mama ternyata tidak bisa menjadi Mama yang baik untuk kamu," dengan tangan buntung nya. Bella ingin menggapai tangan Afina.
"Mama... tangan Mama kenapa?" Afina menangis kala memegang tangan Bella yang hanya tinggal sepotong sampai siku.
"Sekarang Mama sudah dihukum sama Tuhan Nak, karena tangan Mama tidak Mama pergunakan untuk hal yang baik, jadi tangan Mama di potong."
"Mama tidak boleh berkata begitu, Mama orang baik, Fina sayang sama Mama," Fina kembali menangis.
"Tidak Nak, Mama sadar, tidak bisa menjadi Mama yang bisa melindungi kamu, seperti Bunda Sabrina,"
"Sudah Ma, jangan bicara begitu," Afina duduk di ranjang hendak memijit kaki Bella, tetapi alangkah terkejutnya Afina, kala mata bening Afina menatap kaki Bella yang hanya tinggal sepotong sampai lutut.
"Mama... huuu... tangan sama kaki Mama kemana... Tolong ya Allah... kembalikan kaki Mama."
"Mamaaaa..."
"Oeeeekkk... oeeekkk..."
"Fina... Fina sayang... bangun Nak, kamu bermimpi sayang..." Sabrina merengkuh tubuh anak sambungnya yang masih sesegukan.
"Fina mimpi apa sayang?" tanya Adnan.
"Fina nggak mimpi Pa, tapi ini beneran, kaki dan tangan Mama Bella, buntung Pa," Kata Afina mengusap air matanya yang mengalir deras.
"Oeeekkk....oeeekkk..." Mendengar jeritan Afina tadi. Dafa terbangun.
Sabrina memindahkan Fina dalam pangkuan Adnan, kemudian menggendong Dafa.
"Fina... kamu bermimpi sayang... kamu pasti ketiduran, belum sikat gigi, belum ganti baju, dan yang pasti kamu belum berdoa" kata Adnan memang benar. Setelah selesai mengerjakan pr Afina ketiduran bahkan buku-buku pun masih belum Fina bereskan.
__ADS_1
"Iya Pa, Bunda... boleh nggak? Besok Afina bertemu Mama Bella" pinta Afina menatap Adnan dan Sabrina bergantian.
.