
"Ma... aku ingin bertemu Sabrina, sekarang Istriku dimana? Tolong Ma, aku ingin segera minta maaf" jujur Adnan.
"Sekarang beri waktu istrimu untuk menenangkan diri dulu Nan, biar Dia bermanja-manja sama Bunda nya dulu, habisnya suaminya nggak bisa manjain istri sih... lempeeeng... kaku, seperti kawat," Sindir mama Fatimah.
"Cek! Mama..." Adnan merengut kesal.
"Sudah... jangan cemberut! Kalau lagi nyetir itu yang tenang, Nan. Sebaiknya... kita mencari orang untuk menemani Rasmi yang kamu tabrak kemarin itu, biar masalah kamu selesai satu persatu," Fatimah sebenarnya kasihan pada putranya tetapi beliau juga harus memikirkan perasaan menantunya.
"Yah... Mama..." Adnan langsung lemas tidak ada pilihan lain. Selain menuruti saran mama Fatimah.
"Kenapa juga sih! Ma? Mama harus memikirkan wanita itu! Nambah masalah saja!" kesal Adnan.
"Jaga ucapan kamu Nan, kamu mau gadis yang kamu tabrak itu melaporkan kamu ke polisi! Terus kamu di jebloskan ke penjara! Iya?!" omel mama Fatimah.
Adnan tidak lagi menimpali. Fatimah benar, ia memang sudah bersalah.
"Sebaiknya kita segera pulang, beri tahu Afina dia sudah pasti menangis terus," pungkas Fatimah. Fatimah minta diantar ke mansion dulu, ia ingin beristirahat sejenak sebelum mengantar orang ke rumah sakit.
"Bibi... Tuan sudah pulang?" tanya Fatimah begitu sampai di rumah. Ia segera bersandar di sofa rasanya kepalanya pusing.
"Sudah Nyonya, beliau sedang beristirahat di kamar," jawab bibi.
"Tolong buatkan saya teh pahit terus antar ke kamar ya Bi," titah Fatimah. Biasanya Fatimah tidak pernah menyuruh selagi bisa di kerjakan sendiri tetapi kali ini ibu paruh baya itu lelah jiwa raga.
"Baik Nyonya,"
Fatimah membuka pintu kamar terdengar sang suami sedang mandi, ia segera menyiapkan baju santai untuk suaminya sebelum merebahkan tubuhnya di kasur.
"Mama sudah pulang?" tanya papa Rachmad, selesai mandi.
"Baru saja" Fatimah menjawab dengan mata terpejam.
Melihat istrinya lelah, papa Rachmad membuka lemari berniat ambil celana panjang sebab ia sudah berjanji pada pak Abdul hendak mencari Sabrina kembali.
"Papa mau kemana? Kalau mau mencari menantu kita, Dia sudah bertemu dengan Ayahnya"
"Yang benar Ma?" papa Rachmad meletakan celana kembali lalu mengenakan kaos yang disiapkan istrinya, kemudian merebahkan tubuhnya di samping Fatimah. Fatimah menceritakan panjang lebar tentang peristiwa yang ia alami hari ini dan juga menceritakan jika Adnan menabrak Rasmi.
"Jadi... Adnan menabrak orang Ma?" papa Rachmad melebarkan mata.
__ADS_1
"Iya Pa, padahal gadis itu harusnya besok wawancara kerja, sekarang tugas papa untuk mencarikan Dia pekerjaan," mama Fatimah menceritakan semuannya.
"Gadis itu lulusan apa, Ma?"
"Mama nggak tahu Pa, belum tanya soalnya," Mama menutup pembicaraan.
Papa memberi saran agar Fatimah menyuruh salah satu ART agar menemani Rasmi di rumah sakit.
*******
Adnan setelah mengantar mama Fatimah melanjutkan perjalanan mobilnya ke rumah. Sampai di tempat pertama yang ia tuju adalah kamar putrinya namun sebelumya mandi dulu. Berjalan seharian membuatnya ingin segera mendapatkan sentuhan air hangat melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku.
Kriitt!
Mendengar derit pintu sang pemilik kamar segera melepaskan pelukan bibi. Bibi sejak pagi rela tidak mengerjakan apapun demi nona kecilnya.
"Papaaa..." pekik Fina, segera loncat dari tempat tidur memeluk papanya.
"Bunda mana Pa? Kenapa tidak diajak pulang?" Afina menggoyang lengan Adnan. Adnan langsung menggendong putrinya mengajaknya duduk di sofa.
"Tenang sayang.. Bunda sudah ketemu, tapi belum mau di ajak pulang sama Papa, kamu yang sabar ya" Adnan membujuknya.
"Kenapa Bunda tidak mau diajak pulang Pa? Pasti Papa marahin Bunda kan?!" ketus Fina. Ia menebak apa yang biasa terjadi pada orang dewasa.
Mendengar obrolan Adnan dengan Afina, bibi merasa lega lalu meninggalkan kamar tanpa permisi.
"Kamu tadi sekolah nggak?" Adnan mengalihkan pembicaraan.
"Nggak, aku tadi nggak masuk, habisnya mikirin bunda terus," jujur Afina.
"Tapi besok sekolah ya, nanti Papa antar," Adnan tidak ingin putrinya banyak berpikir hingga membuat nya jatuh sakit. Dengan sekolah setidaknya Afina akan sedikit terhibur.
"Iya, tapi jangan lupa menjemput Bunda ya, enakan di antar Bunda pakai motor," celoteh Afina. Bapak dan anak itupun berbincang-bincang.
Hingga maghrib tiba Adnan masih betah di kamar Fina. Hanya ini yang bisa melupakan sedikit pikiranya tentang Sabrina.
Tok tok tok.
Malam harinya pintu Fina di ketuk bocah itu segera berlari membukanya.
__ADS_1
" Afina... Tuan... makan malam sudah siap," kata bibi.
"Iya Bi" Adnan mengajak Fina makan. Sebenarnya ia tidak berselera tetapi Adnan juga harus menenani Fina agar makan. Pasalnya bibi mengatakan bahwa Fina mogok makan sejak pagi.
"Dari pagi kenapa Fina nggak mau makan?" tanya Adnan ketika mereka sudah di meja makan.
"Nggak lapar," jawab Fina singkat. Makan malam selesai Adnan menemani Afina belajar. Selama punya istri baru kali ini Adnan mengajari Fina. Waktu merangkak naik saat ini sudah jam delapan malam. Afina sudah tidur.
Adnan memandangi putrinya yang sudah terlelap, merasa bersalah. Putrinya harus ikut merasakan dampak terhadap keributan yang ia ciptakan. Adnan sadar. Ia tidak hanya melukai hati istrinya, tetapi melukai orang-orang yang ia kasihi. Afina, orang tuanya, terlebih mertuanya.
Tok tok tok.
Pintu kembali di ketuk Adnan meninggalkan putrinya membuka pintu.
"Ada apa Bi?" tanya Adnan rambunya tampak acak-acakan tidak di sisir. Bibi tercengang menatap tuanya yang biasanya dengan tatanan rambut klimis itu kini tidak tampak.
"Di luar ada Bobby Tuan,"
"Iya Bi" Adnan segera menutup pintu kemudian menemui sahabat nya. Tampak Bobby sudah menunggu di ruang tamu.
"Gluk! Adnan duduk dengan kasar membuat Bobby menoleh cepat.
"Tadi pagi loe telepon gw menanyakan bini loe, loe nggak salah Nan, memang kemana bini loe? loe pikir gw pria yang suka menyembunyikan bini orang!" kelakar Bobby tidak tahu jika sahabatnya sedang dirundung masalah.
"Sabrina pergi dari rumah sejak kemarin Bob," kata Adnan. Hanya dengan Bobby Adnan bisa curhat.
"Pasti masalah di pesta tempo hari kan?" tebak Bobby. Saat kejadian, Bobby hadir diacara ulang tahun tersebut.
"Loe tahu?" Adnan menoleh cepat.
"Nan... Nan! Loe itu seperti anak abg yang baru jatuh cinta, lantas cemburu buta, ngambek lalu putus!" Bobby geleng-geleng kepala.
"Maksud loe apa?!" ketus Adnan. Ingin curhat tapi malah diberi petuah padahal bukan bapaknya.
"Memang loe pikir gw nggak tahu, loe cemburu kan? Waktu bini loe bernyanyi di panggung?" cecar Bobby.
"Bini loe itu cantik Nan, wajar jika banyak yang suka termasuk gu-..." Bobby menghentikan ucapanya karena mata Adnan melotot tajam.
"Bukan begitu Nan, jika loe ngambekan seperti ini terus, bisa-bisa loe gigit jari. Bini loe itu masih muda Nan, Dia butuh teman, butuh hiburan, tidak melulu loe suruh mengurus rumah tangga. Memang bini loe anak lahiran tahun 60 han yang penting dicukupi lantas diam di rumah menunggu suaminya pulang, tidak menyisir rambut, hanya memakai daster, mentang-mentang sudah laku," (Seperti Buna) Loe mau punya bini seperti itu, sono gih!"
__ADS_1
Adnan tidak berkutik.
.