Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Tertangkap.


__ADS_3

Bella keluar dari apartemen, sampai di pinggir jalan menyetop taksi.


Wanita itu bermaksud ke perkampungan dimana Angela tinggal. Entah apa yang akan dilakukan wanita tamperamen itu.


Taksi berlalu setelah Bella memberi tahu alamat kepada supir taksi.


*************


Di tempat yang berbeda David sedang dalam perjalanan menuju mall. Walaupun sudah selama satu bulan saat David keluar dari kediaman Angela. Ia bukan lantas menyerah. Walaupun kedatanganya selalu disambut dengan sikap dingin oleh istri nya. David selalu memberi perhatian khusus. Ia hanya bisa berdoa semoga hati istrinya segera diberikan kelapangan dan memberikan maaf untuknya.


Saat ini David sudah berada di salah satu Mall, menenteng keranjang ambil makanan ringan, susu, dan cemilan untuk bumil. Setelah keranjang sudah berisi setengah, David ke tempat buah-buahan dan sayuran. Di tempat itu, ia ambil beberapa sayuran segar dan buah yang biasa di olah sang istri dan juga disenangi.


Tidak lupa David menuju dimana baju hamil dipajang. Memilih yang kira-kira Angela sukai ambil beberapa baju walaupun saat ini kehamilan istri nya sudah 8 bulan.


Setelah mendapatkan semuanya David menuju kasir antri diantara para pelanggan mall lainya.


Puk!


Pundaknya ada yang menepuk dari belakang. Ia tengok ke kiri. "Djody," sapa David.


"Belanja apa, Dav?" tanya Djody menatap keranjang di depan David.


"Biasa... ini menyenangkan hati Istri," David terkekeh.


"Sos seeet..." Djody pun ikut terkekeh.


"Kamu sendiri beli apa, Djod?" David menatap isi keranjang Djody. Tampak beberapa pakaian anak perempuan.


"Ini membeli baju pesta untuk putriku," Djody tersenyum.


David akhirnya maju ke depan kasir mengeluarkan barang-barang di meja. Karena yang di depan sudah pergi.


"Dav, setelah ini kita minum kopi ya? Sekalian ada yang ingin saya tanyakan," pinta Djody.


"Siip..." David mengacungkan jempol, kemudian membayar belanjaan sebelum akhirnya menitipkan barang di penitipan sekaligus menunggu Djody disana.


"Kita ke Cafe saja Dav," kata Djody. Ia pun sedang menitipkan belanjaan.


"Ayo, kita ke Cafe mana?" tanya David. Ia juga ingin bersantai sejenak. Melonggarkan otak agar tidak terus menerus berpikir.


"Cafe disini saja," pungkas Djody.

__ADS_1


Mereka berjalan berdua menuju Cafe yang berada di mall tersebut, kemudian memesan kopi dan juga cemilan untuk teman ngobrol.


"Oh iya Djod, tadi kan kamu bilang ada yang akan kamu tanyakan, soal apa?" tanya David.


"Sorry Dav, mungkin pertanyaan ini terlalu pribadi, mengapa kamu dengan Bella sampai bercerai? Apa tidak ada jalan keluar untuk kalian rujuk?" selidik Djody. Djody kecewa kepada David, mengapa menceraikan sahabatnya saat Bella sedang terkapar di rumah sakit.


"Ceritanya panjang Djody... saya yang salah, karena saya telah mengkhianati Bella," tutur David. Ia menceritakan semua tentang pernikahannya dengan Angela.


"Astagfirrullah... jadi... selama setahun kamu menyembunyikan pernikahan kamu dengan Bella?" Djody tidak habis pikir menatap David yang seperti air tenang itu, ternyata menghanyutkan.


"Ya, saya akui, ini kesalahan saya, terserah kamu mau menilai saya ini laki-laki seperti apa, tapi kesabaran seseorang ada batasnya Djod." David menarik napas berat.


"Saya tahu, Bella memang keterlaluan Dav, tapi apakah jika dengan kamu suaminya, sikapnya juga selalu berkata pedas?" tanya Djody. Djody yang menghadapi sikap Bella hanya kurang lebih satu bulan saja, Djody kadang kesal, apalagi jika sampai bertahun-tahun.


"Jika hanya kata-kata pedas, tidak saya jadikan persoalan Djody, tapi ya sudahlah... saya rasa tidak etis juga jika saya menceritakan peliknya rumah tangga saya sama kamu," David tentu tidak akan mengumbar aib rumah tangga nya.


Djody mengangguk mengerti. Kopi cappuccino sudah tersedia, mereka masing-masing menyeruput kopi dan menikmati cemilan.


"Sebenarnya Bella itu teman saya ketika SMP Dav," kata Djody jika mengingat kala itu ia tersenyum.


David mengernyitkan dahi menangkap senyum Djody.


"Kamu mencintai Bella Djody?" tanya David to the point.


Deeerrtt... dereett..


Handphone David bergetar. Ia letakkan gelas, kemudian mengangkat, setelah melihat siapa yang menghubungi ternyata mertuanya.


"Apa?" David mendelik gusar.


"Baiklah, saya segera pulang," jawab David kemudian menyimpan kembali handphone.


"Djody... saya duluan ya, Bella mengancam Angela di rumah mertua saya," David segera beranjak.


"Saya ikut Dav"


Mereka membayar kopi yang baru di cicipi sedikit kemudian berlalu.


************


"Tolong lepaskan anak saya Nona... Angela tidak bersalah," Mommy Angela memohon pada Bella menarik-narik tangan Bella yang menjambak rambut Angela.

__ADS_1


"Sakit... Mom... tolong Mom..." Angela meringis menahan kulit kepalanya yang terasa perih.


"Baiklah! Saya akan bebaskan kamu! Jika kamu bersedia pergi dari kehidupan David, Karena David adalah milikku! Jika kamu tidak menurut. Saya akan membuat hidupmu semakin sengsara!" Sarkas Bella mendorong tubuh Angela.


Bruk"


Angela jatuh ke pelataran, kejadian ini berada di halaman rumah Angela. "Mommy... sakit Mom..." Angela meringis merasakan perut nya yang terasa sakit luar biasa.


"Toloooonnng... toloooonnngg..." pekik momy Angela. Bingung entah apa yang akan ibu paruh baya itu lakukan.


Beberapa menit kemudian, warga perkampungan yang dekat rumah Angela berdatangan.


"Ada apa ini?" tanya salah satu warga.


"Wanita ini telah membuat kerusuhan di rumah saya," adu mommy Angela.


"Mommy..." jerit tangis Angela. Semua mata beralih memandangi Angela yang masih tidur miring di pelataran sambil memegangi perut. Tampak sang mommy menatap sendu putrinya sambil menangis.


"Angela..." pekik David yang baru saja datang bersama Djody. Mereka berlari cepat begitu turun dari mobil masing-masing. Ketika dari mall tadi mobil mereka beriringan.


Mereka berdua mendekati Angela, tidak tahu jika Bella merasa geram, mengapa semua pria memperhatikan Angela wanita yang sudah merebut suaminya.


David menjatuhkan lutut ke tanah dada nya terasa sesak.


David mengangkat kepala Angela menidurkan ke pangkuan. "Angela..." mata Davit menangkap darah yang mengalir di betis rasa panik menyerang.


"David... sakit Dav... aku nggak kuat Dav..." rintih Angela.


"Angela... kamu harus kuat sayang..." David membopong tubuh Istrinya berlari menuju mobil di ikuti Mommy.


Para warga yang masih mencekal lengan Bella menatap kejadian itu. Begitu juga dengan Djody. Djody menatap Bella memendam rasa kecewa yang dalam. Djody menyusul David menabrak pundak Bella yang masih dipegang warga agar tidak berlari.


"Biar saya yang menyetir Dav," Djody minta kunci mobil kemudian menyalakan. Mobil pun berjalan melalui gang sempit di perkampungan hanya muat satu mobil.


Nguing... nguing... nguing...


Terdengar suara mobil polisi yang berhenti di depan rumah Angela, setelah mobil David berlalu. Ternyata ada salah satu warga yang telepon polisi, melaporkan Bella.


"Ikut kami!" polisi memborgol tangan Bella di saksikan warga yang masih berkerumun.


"Tidak mau, saya tidak bersalah!" Bella hendak melepaskan tangan. Namun apalah daya benda berwarna perak telah mengunci tangan Bella.

__ADS_1


.


__ADS_2