Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Tertembak peluru


__ADS_3

Isabella PoV.


Mimpikah aku bisa bersanding dengan pria yang tidak pernah serius jika bicara. Humoris, namun membuatku selalu tertawa, justeru mempunyai nilai plus bagiku. Karena aku pun bisa bercanda dengan nyaman, walaupun aku tipikal wanita serius dan jutek.


"Bella... kamu nggak sikat gigi ya?" tanya nya terkekeh setelah menyudahi pagutan.


"Djody! Kamu keterlaluan ya!" omel ku. Namun dalam hati aku tertawa. Mungkin setiap perempuan mempunyai preferensi yang berbeda dalam memilih pasangan. Dan semua itu pernah aku miliki.


Suami pertama, agamis, tampan, stabil dalam finansial, dan mandiri. Itu lah Adnan yang sudah mendapatkan wanita seperti yang ia idamkan yakni Sabrina, yang tidak pernah Adnan dapatkan dari wanita manapun.


Suami kedua yang sabar... sungguh sangat sabar, walaupun kesabaran itu akan ada batasnya. Toh ia menyerah juga mempuanyai istri seperti aku. Bukan salahnya jika ia memilih wanita yang sesuai denganya yaitu Angela. Wanita lemah lembut, sederhana, dan memiliki kesempurnaan yang lagi-lagi tidak pernah ia dapatkan dari aku.


"Bella... sekarang kamu mandi gih! Supaya wangi jangan bau ketiak seharian diam di hutan seperti orang hutan," lagi-lagi terkekeh.


"Djody.... keterlaluan kamu ya!"


Buk! buk! buk!" aku pukul-pukul badanya dengan bantal.


"Bella... kamu mau masuk televisi, biar jadi terkenal? Wanita yang menganiaya suaminya setelah nikah, bahkan belum menyicil," selorohnya sambil menghalangi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wanita mana yang tidak akan tertawa mendengar kekonyolan suamiku ini.


"Tau ah! Nggak jelas!" sungutku kesal kemudian aku lempar bantal mengenai tubuhnya. Sebelum akhinya melangkah ke kamar mandi.


"Hai... mau kemana kamu? Jangan mandi dulu, kita sore pertama dulu, biar nggak mandi dua kali," ia terkekeh. Mungkin ini sisi positif nya mempuanyai suami seperti Djody. Ketika keadaan menjadi serius dan rumit, dia tahu bagaimana meringankan situasi dengan membuat lelucon. Dia ubah momen penuh ketegangan menjadi momen lucu, dalam hitungan menit. Itulah Djody pria yang aku kenal kurang lebih delapan bulan. Ini baru beberapa menit di dalam kamar mungkin hal seperti ini akan sering aku hadapi.


"Hup, mau kemana bidodariku..." Hanya dengan dua langkah ia bisa menangkap tanganku.


"Nggak mau... aku mau mandi! Tubuhku bau kan! Katamu!" jawabku ketus walaupun aku tahu, dia bicara tadi hanya bercanda. Namun aku merasa kesal juga.


Dipeluknya tubuhku dari belakang. Ia letakkan dagu di pundak. Aroma mint dari hembusan napasnya membuat mataku terpejam menikmatinya. Ia putar tubuhku yang masih mengenakan gaun pengantin lengkap. Kami pun saling berhadapan. Ia menatap mataku lekat terasa menghipnotis aku.


"Cup" ia kecup bibirku lembut. "Mandi dulu cantik..." Ia usap kepalaku. Ya Allah... Ia ternyata romantis juga membuat hatiku meleleh.


"Aku bantu buka baju ya" ujarnya. Aku melengos berniat ambil baju ganti namun baru ingat ternyata aku kesini belum membawa perlengkapan apapun.


"Nggak usah" jawabku serius, sambil melenggang ke kamar mandi. Namun seketika langkah kaki ini berhenti. Masa iya? Aku keluar hanya memakai handuk? Oh tidak! Aku menggerutu dalam hati.


"Kan... berhenti. Pasti minta dibukakan baju," terkekeh. Membuatku gemas.


"Aku nggak bawa baju ganti" ucapku nyengir.


"Nggak usah pakai baju, malah gampang kan, jadi aku nggak usah repot buka kancing bajumu,"


"Djodyyyy...!!!" aku hentak-hentakkan kakiku di lantai.

__ADS_1


"Ambil saja kaos aku di lemari,"


"Tolong ambilin Djod" pintaku. Masih terasa aneh jika membuka lemari Djody. Walaupun nanti itu tugasku mempersiapkan keperluan Djody.


"Duuhh... punya istri satu saja, nyuruh-nyuruh, apa lagi dua" selorohnya sembari membiak tumpukan baju.


Plak!


Seketika tangan ini terjun bebas di bahu kekar Djody.


"Aow" kilahnya padahal tidak sakit.


"Awas saja! Berani menduakan! Aku potong anumu!" aku menahan tawa. Ternyata aku sudah ketularan somplak.


"Hahaha... coba-coba kalau berani" Djody hendak membuka boxer.


"Djodyyyyy...." Segera aku tarik kaos dan celana training dari tangannya kemudian berlari ke kamar mandi. Masih sayup-sayup terdengar tawanya. Ya ampuuun... geleng-geleng kepala.


Di kamar mandi segera aku buka baju mengendus-endus ketiakku sendiri, tapi masih wangi. Dasar Djody suamiku itu. Aku tatap bibirku didepan kaca yang jontor karena ulah nya, tersenyum sendiri.


Lalu balik badan segera mandi, tentu saja agak lama agar bersih dan wangi. Apakah ia nanti juga akan mengolok-olok lagi setelah aku sudah wangi?


Setelah rapi aku pakai kaos miliknya yang kebesaran, namun sebelumnya aku cium dulu. Heeemmm wangiiii...


Aku keluar dari kamar mandi berjalan pelan ke kamar tidur. Namun tidak ada Djody, disini. Segera membuka pintu kamar mungkin dia diluar.


"Eh Bella... kamu nggak istirahat?" tanya mertua yang sedang membantu Sati memasak.


"Sudah mandi kok Mom... sudah terasa segar," aku mendekati mertua.


"Mommy sendiri nggak istirahat? Memang nggak capek... kok langsung memasak?"


"Mommy mau menyiapkan makan malam yang spsial buatan Mom, untuk menyambut menantu Mommy," tuturnya tersenyum kepadaku. Terimakasih ya Allah... jangan balikkan hati mertuaku, biarkan beliau selalu bersikap baik kepadaku. Walaupun aku wanita yang banyak kekurangan.


"Bella bantu ya Mom?" segera aku memegang pisau hendak membantu mengiris bawang bombai.


"Tidak usah... biar mommy saja, lagian Mom disini tidak lama kok, lusa sudah kembali," tuturnya panjang lebar.


"Ya sudah Mom. Oh iya, Mommy lihat Djody nggak?" aku sampai lupa tujuan awal bermaksud mencari Djody.


"Tadi Mommy lihat, lagi ngadem di bawah pohon La,"


"Kalau gitu saya ke depan ya Mom?"

__ADS_1


"Iya," jawab mommy singkat, kemudian aku buka pintu depat memindai sekeliling. Pandanganku menangkap Djody yang sedang mengebulkan asap rokok ke atas, sambil memandangi bentangan bonsai yang tersusun rapi. Waah... Ternyata masih ada di Jakarta kebun seluas ini. Padahal jika dijual permeter harga tanah di wilayah ini sudah mencapai puluhan juta. Cek cek cek. Ternyata Djody tidak hanya kaya di negara A. Di Indonesia pun ternyata seorang milyuner, terbukti mas kawin yang diberikan padaku tidak tanggung-tanggung. Tidak pernah aku sangka, aku ini janda mahal. "Hihihi..." aku tertawa sendiri seperti orang kurang waras.


"Hii... kamu tertawa sendiri? Jangan-jangan... di tempat ini ada makhluk halus, hu sereem..." Djody berlari meninggalkan aku. Padahal aku baru saja sampai.


"Djody...." Aku kejar dia. Namun ia memutari pohon mangga. Setelah tertangkap reflek aku peluk tubuh atletis itu dari belakang. Sudah pasti dia senang sekali.


Kami pun akhirnya duduk di kursi taman tampak puntung rokok masih menyisakan asap. "Kamu habis merokok ya Djod?" tanyaku padahal aku sudah melihat.


"Iya, kamu mau?" tanya dia, tentu tidak sungguh-sungguh.


"Nggak mau! Nanti mulutku bau rokok" mana ada suami menawari rokok istrinya.


Kami ngobrol ngalor ngidul sambil tertawa hingga menjelang maghrib, ia memeluk pundak entah sudah tidak ada rasa malu aku lingkarkan tangan ke pinggang nya. Tidak aku sangka walaupun slenge-an begitu, Djody menjadi imam shalat magrib berjamaah dengan suara yang memukau.


"Mama... Fina malam ini bobo disini nggak?" tanya Elma anak tiriku saat kami melipat mukena selesai shalat.


"Nggak sayang... Dafa kan tidak mau di tinggal sama Fina,"


"Oh..." hanya itu jawab Elma.


Author PoV.


Setelah magrib keluarga Djody makan malam bersama. Di meja makan tampak ramai tentu Elma yang paling ramai. Setelah makan, keluarga itu ngobrol sambil menonton televisi. Hingga jam 9 malam masuk kamar masing-masing. Lelah seharian kemudian tidur.


Tentu berbeda dengan pasutri yang baru sah itu. Djody sedang melancarkan serangan malam.


Pria tampan itu sudah tidak ada ampun menyerang lawan yang tak lain Bella. Bella rupanya sudah tepar kalah dalam pertempuran. Djody memang hebat menggunakan senjata tangan dan mulut hingga membuat tubuh Istri nya bercak-bercak ternyata tidak sampai di situ.


DOOORRR....!!!


Djody merarik pelatuk pistol yang sudah berisi peluru dan tepat sasaran. Membuat Bella jatuh terkapar. "Djody... kamu kererlaluan..."


"Bella..." ucap Djody.


"Heeemmm..." Bella sudah tidak kuat menyahut.


"Kamu membohongi aku..." Djody berucap sambil terpejam.


"Bohong masalah apa, bukankah selama ini aku sudah menceritakan siapa aku Djody..." Bella memaksakan diri untuk bangun.


"Kamu ternyata sudah tidak gadis lagi..."


"Djodyyyyyy.......

__ADS_1


.


__ADS_2