Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Wajah kamu jelek.


__ADS_3

Bella menunggu di pintu exit bandara, menatap satu persatu diantara orang-orang yang beriringan siapa tahu ada suaminya diantara mereka.


"Bella...." suara bariton mengejutkan dirinya. Bella menoleh ke belakang tampak Djody sedang berjalan ke arahnya tersenyum lebar. Tapi Bella justeru balik badan fokus kembali ke tujuan awal.


"Ah, aku cuma berhalusinasi, jika memang orang itu Djody, nggak mungkin datang dari belakang," gumam Bella.


"Bella... kamu nggak kangen... masa disapa suminya diam saja," Djody memeluk dari belakang. Bella masih tidak percaya, ia menganggap bahwa kehadiran suami nya hanya halusinasi karena ia sangat merindukan Djody.


"Aow" pekik Bella karena tengkuknya di gigit dari belakang.


"Hahaha..." Djody terpingkal-pingkal.


Plak!


Pukulan keras mengenai pundak Djody. "Djodyyyy... kamu keterlaluan! Hu huuu..." Bella menangis sejadi-jadinya. Orang-orang yang melewati jalan itu melirik sambil berlalu. Namun Bella tidak perduli.


"Heee... kenapa? Kamu nggak mau aku kembali?" Djody memeluk Bella dari depan, tetapi seketika Bella lemas dalam pelukan pria yang membuatnya seperti orang gila itu.


"Bella... kamu kenapa sayang..." Djody membopong tubuh Istri nya, lalu duduk di lantai. "Bella..." di tepuk-tepuk pelan wajah istrinya, terlihat bekas aliran air mata yang merusak riasan Bella. Djody mengedarkan pandangan tidak mungkin Bella kemari hanya sendiri, pasti ada yang mengantar. Tapi kemana jono? tanya Djody dalam hati. Ia rogoh ponsel yang sudah mati sejak kemarin karena belum di charger.


Tidak ada pilihan lain selain membuka tas istrinya mencari handphone Bella. Sudah biasa diantaranya membuka handphone karena tidak ada yang dirahasiakan lagi.


Djody mencari nomor seseorang kemudian menghubungi, deringan kedua terdengar sahutan pria yang menyebalkan bagi Djody karena kalau diberitahu selalu membantah, siapa lagi jika bukan Jono orangnya.


5 menit kemudian, pria bertopi itu menghampiri Djody. "Saya Tuan... kenapa Tuan bisa selamat dari pesawat itu, saya pikir Tuan sudah..."


"Sudah apa maksudmu?! Sudah mati gitu! Iya?" omel Djody. "Bantu saya" ujarnya kemudian.


"Baik Tuan," Jono tidak membantah lagi, segera menarik koper menuju parkiran diikuti Djody sembari menggendong Bella. Sambil berjalan, Djody tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa mata Bella tampak sembab habis menangis, begitu juga dengan Jono sampai mengira bahwa diri nya telah mati.


"Mari Tuan..." Jono membukakan pintu untuk Djody. Djody segera masuk memangku istrinya.


"Mau kemana Tuan?" tanya Jono. Maksudnya ke rumah sakit atau pulang.


"Ke rumah sakit Jo, masa pakai tanya lagi!" ketus Djody.


"Bukan begitu Tuan, Non Bella tadi sudah pingsan, tidak mau saya bawa ke rumah sakit," tutur Jono.

__ADS_1


"Memang ada apa sebenarnya Jon?" Djody merasa aneh.


Jono menceritakan kepanikan pagi ini, dan menceritakan juga jika Adnan dan Bobby pun sampai datang ke bandara.


Djody terperangah mendengar penuturan Jono. "Pulang saja Jon," ujarnya, kali ini bicara lunak. Ia menunduk menatap wajah istrinya merasa bersalah. Andai saja handphone miliknya tidak mati sudah pasti ia menghubungi istrinya.


Djody kembali pinjam handphone Bella menghubungi dokter pribadi nya agar datang ke rumah satu jam lagi untuk memeriksa istrinya. Belum sampai satu jam Djody sudah tiba di rumah ia kembali menggendong istrinya menidurkan di kamar.


*********


"Alhamdulillah... ternyata berita mengenai Tuan Djody itu tidak benar ya Mas," kata Sati, setelah menutup pagar begitu mobil masuk garasi, ia mendekati Jono.


"Makanya itu Sat, sangking aku tidak percaya kalau Tuan Djody ternyata pulang dengan selamat, sampai keceplosan," Jono menuturkan ucapanya ketika di mobil tadi.


"Makanya Mas Jo, kalau bicara sama bos itu yang sopan, jangan ceplas ceplos kayak teman saja! Kalau Mas dipecat bagaimana?!" Omel Satinah.


"Iya... cantik..." Jono tersenyum menatap wajah ayu Sati.


"Ih! Prut! Sukanya ngegombal!" Sati mencebik.


"Permisi..." datang wanita berseragam putih sambil menenteng koper kecil di depan pagar yang belum tertutup sempurna.


"Terimakasih," ujar dokter mengikuti Sati. Sati segera membuka pintu mempersilahkan dokter masuk. Sati kemudian mengetuk kamar Djody.


Ceklak.


Djody rupanya masih mengenakan baju yang sama karena masih berusaha menyadarkan Bella dari pingsan. Ia segera mempersilahkan dokter masuk agar memeriksa keadaan istrinya.


"Kenapa istri saya Dok?" tanya Djody panik. Setelah Bella selesai diperiksa.


"Tidak apa-apa, istri Anda hanya kelelahan dan sepertinya sedang panik" dokter kandungan paruh baya yang dulu pernah merawat istri pertama Djody ketika di Indonesia itu menjelaskan sambil menulis resep vitamin, kemudian memberikan kepada Djody. Djody hanya menganggukan kepala saja.


"Nona Bella... bangun Non..." dokter kemudian membangunkan Bella. Bella pun mengerjapkan mata menatap wajah dokter yang awalnya samar-samar menjadi nyata.


Ia memindai sekeliling menatap lekat wajah Djody yang berdiri di samping nya.


"Saya permisi Tuan Djody, Nona Bella..." dokter pun meninggalkan kamar, setelah dijawab Djody.

__ADS_1


"Bella... kamu nggak senang aku kembali kesini, masa aku datang seperti melihat hantu, malah pingsan," kelakar Djody dikecupnya wajah pucat istrinya.


"Kamu jahat Djod! Kenapa nggak ngabari aku?" Bella melengos.


"Hp aku mati sejak kemarin La, makanya tidak bisa menghungi kamu,"


Bella menatap wajah Djody merasa lega, entah bagaimana ceritanya tentang pesawat yang ditumpangi Djody sampai hilang. Yang terpenting saat ini suaminya sudah sampai di rumah dengan selamat.


"Pasti kamu masih memikirkan tentang pesawat itu kan?" tanya Djody karena sudah mendengar cerita dari Jono.


"Iya... aku takut tahu! Aku pikir aku akan menjadi janda yang ketiga kali," Bella lalu mewek.


"Begini ceritanya," Djody menceritakan ketika ia berangkat dari kediaman Prayoga dengan mengendarai taksi. Taksi pun moggok di tengah jalan. Pasalnya saat itu jalanan dipenuhi salju yang semakin tebal sebab tadi malam negara A sedang dilanda badai salju.


Djody menunggu taksi yang lain dengan perasaan kesal. Wajar ia tidak ingin ketinggalan pesawat saat itu, belum lagi Djody mendengar kabar penerbangan akan segera di hentikan jika badai tidak segera berlalu.


Ketika sudah tiba di bandara, kekhawatiran Djody pun terjadi. Pasalnya pesawat yang ia pesan sudah take off 10 menit yang lalu.


Djody pun memesan pesawat yang lain walaupun sempat mengalami kendala ketika cuaca buruk. Ternyata Allah sayang pada Djody, dengan kejadian taksi mogok justeru dirinya selamat.


"Alhamdulillah... Djody... ternyata Allah masih menyangi kamu," Bella merasa lega.


"Kamu rupanya cinta bangeeeeeet... sama aku, sampai-sampai pingsan dua kali," kelakar Djody.


"Sekarang bukan waktunya bercanda tahu!" Bella manyun membuat Djody gemas.


"Bukan waktunya bercanda tapi waktunya..." Djody menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Bella yang masih terlentang. Wajah mereka hingga tnggal beberapa cm nyaris nempel. Bella memejamkan mata ketika hembusan nafas Djody menerpa wajah Bella dan membuat Bella ingin minta dicium.


"Nggak jadi ah" Djody menjauhkan wajahnya.


"Djody..." Bella malu sudah berharap tetapi Djody justeru menjauh.


"Habisnya kamu jelek muke up kamu sudah luntur," ucap Djody terkekeh sambil ngeloyor ke kamar mandi.


"Bluk!


Bantal mendarat di punggung Djody.

__ADS_1


**********


"Maaf... sedang tidak enak badan, up sehari sakali saja maksain," 🙏🙏🙏 ❤❤❤.


__ADS_2