Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Gemar menguntit.


__ADS_3

"Pegangan yang kencang Bella, kok dilepas..." suara Djody terdengar agak kencang. Bicara di atas motor tentu tidak akan mendengar jika tidak keras.


"Nggak!" tegas Bella.


Senyum Djody mengembang sepanjang jalan walaupun tertutup helm. Ia tidak menyadari jika usianya sudah kepala tiga plus. Masih merasa seperti anak SMA yang sedang kasmaran. Motor sport itu pun akhirnya tiba di yayasan AL INAYAH.


"Djody... kita mau ngapain kesini, mau sekolah lagi?" seloroh Bella menatap Djody yang sedang membuka helm setelah parkir. Bella heran untuk apa calon suaminya itu membawanya ke sekolah.


"Ikut aku" jawab Djody. Djody menggandeng tangan Bella mengajaknya ke hutan yang masih kawasan AL INAYAH.


"Djody... kamu nggak romantis amat sih... ngajak dinner di hutan" protes Bella.


"Bella... kamu ingat tidak, 18 tahun yang lalu, saat itu kita masih SMP kelas tiga?" tanya Djody sambil berjalan memasuki hutan.


"Ingat lah, waktu itu kan kita kemah disini, terus kamu malam-malam datang ke tenda perempuan," Bella mengingat saat Djody hendak masuk ke tenda miliknya, padahal saat itu sudah waktunya tidur.


"Terus... kamu ditangkap sama osis, tidak boleh masuk ke tenda pria. Kedinginan diluar, bukanya mikir kamu malah menghisap rokok kan?! Hayoo..." Bella menunjuk Djody.


"Hahaha... kamu jenius" Djody tertawa ingat kenakalannya ketika SMP dulu.


"Sudah berapa tenda yang kamu datengin waktu itu, selain tenda aku, sama teman-teman? Pasti kamu datangi tenda wanita satu persatu kan?!" sungut Bella.


"Ya nggak lah, aku cuma mendatangi kamu saja, habisnya penasaran banget sama kamu," Djody menerawang mengingat kala itu.


"Penasaran kenapa?" tanya Bella. Bella tahu jika Djody saat itu selalu mengganggunya, tapi ia tidak tahu jika Djody punya perasaan kepadanya.


"Karena saat itu aku mencintai kamu," jujur Djody.


"Cinta?" Bella terperangah.


"Iya, tapi kamu galak banget, jadi aku nggak berani bilang." Djody tersenyum.

__ADS_1


"Cinta apaan? Masa anak smp sudah cinta-cinta-an" Bella tidak percaya.


"Ya sudahlah kalau kamu nggak percaya, sekarang kita kesana," Djody mengait jemari Bella menuju hutan yang jarang di kunjungi orang-orang.


"Djody... kok kamu ngajak aku kesini sih?" Bella memindai sekitar. Di depan tampak semak belukar yang menyeramkan. Bella takut jika Djody meninggalkan nya disini pasti akan menjadi santapan ular. Bella lantas melepas pegangan Djody kemudian balik badan.


"Bella... kamu mau kemana?" Djody menangkap pundak Bella.


"Djody... apa yang akan kamu lakukan? Kamu mau membunuh aku kan! Kamu dendam karena kamu dulu sering aku maki-maki," cicit Bella bayangan buruk pun bermunculan. Bella mengenal Djody belum begitu lama, jika sampai Djody berbuat jahat di hutan ini, walaupun berteriak-teriak pun tidak ada yang mendengar.


Tanpa menjawab Djody menggendong Bella melewati semak belukar namun masih ada celah untuk ia pijak. Bella mencium aroma parfum yang menyeruak dari dada bidang Djody rasa takut sedikit demi sedikit sirna. Bella justeru merasa nyaman mengendus dengan mata terpejam.


Bella baru sadar ternyata Djody sudah menurunkan tubuhnya di depan tenda. "Djody..." Bella terperangah memindai sekeliling tenda tampak bersih bahkan di gelar karpet.


"Kita masuk" Djody menuntun Bella mengajaknya masuk ke dalam tenda. Di dalam tenda pun sudah di gelar karpet merah marun.


"Djody..." Bella menatap Djody sebelum akhirnya duduk di karpet.


"Bella... aku mencintai kamu, kamu adalah ratu di hati aku, aku berjanji akan menjaga hati ini hanya untuk kamu," Djody mengangkat telapak tangan Bella. Ia selipkan cincin di jari manis.


"Kenapa kamu melamar aku disini Djod?" Bella masih belum percaya.


"Bella... aku melamar kamu disini ingin mengenang masa remaja aku. Dimana aku melabuhkan hati mencintai kamu untuk yang pertama kali. Walaupun entah bagaimana caranya awal mula jalan kita untuk bertemu kembali, dan akhirnya bersatu. Aku bersyukur Bella, semoga lancar dan bisa memiliki kamu," tutur Djody, membuat hati Bella meleleh.


"Djody..." Bella menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Hais... nggak boleh menangis, nanti mata kamu jadi jelek," Djody membuka kedua telapak tangan Bella lalu menghapus air mata nya.


"Kalau aku jelek, terus kamu nggak mau gitu... hiks hiks hiks," Bella semakin menangis terharu dengan kejutan yang diberikan Djody.


Djody pun merogoh ponsel tampak mengetik sesuatu, tidak lama kemudian datang dua orang pria dan wanita menenteng koper.

__ADS_1


"Permisi..." wanita yang seusia dengan Bella itu berdiri di depan tenda.


"Siapa itu Djod?" cepat-cepat Bella mengusap air matanya. Lagi-lagi bila dikejutkan oleh orang tidak di kenal entah siapa orangnya.


"Makanya kamu jangan menangis lagi nanti jelek, karena mereka ini akan merias kita,"


"Merias?" Bella semakin bingung.


Djody mengangguk. Lalu mempersilahkan dua orang itu masuk. Yang wanita bagian merias Bella, dan yang pria bagian merias Djody. Bella tidak menolak mau pun membantah lagi. Ia percaya, Djody pasti akan melakukan hal yang berbaik.


Setelah keduanya selesai dirias tampak cantik dan tampan mereka salin baju yang sudah di sediakan oleh Djody.


"Awas, kamu keluar dulu, jangan ngintip," Bella mendorong tubuh Djody hingga keluar tenda.


"Nggak apa-apa aku disini, daripada ngintip mendingan melihat langsung. Hahaha" Djody tertawa hingga sampai di luar tenda.


"Ihh! nggak jelas!" Dengan perasaan tidak tenang Bella membuka pakaian kemudian mengganti dengan yang baru.


"Djody.... sebenarnya kita ini mau ngapain?" tanya Bella ketika sudah selesai lantas menemui Djody ternyata sudah rapi, dan tampan, dengan baju adat betawi. Perasaan Bella semakin kagum. Namun, Bella seketika berpikir Djody akan menikahinya di tempat ini. Bella tentu tidak mau jika pernikahan nya tidak disaksikan oleh kedua orang tuanya.


"Nggak apa-apa Bella, kita cuma mau fhoto prewedding." jawab Djody santai. Bella pun meresa lega.


"Kamera..." panggil Djody. Datang kameramen, Djody lantas mengajak Bella foto di dalam tenda, dengan berbagai gaya dan akan mereka pilih saat memesan undangan pernikahan mereka tiga bulan lagi. Selesai ambil gambar kedua perias dan kameramen segera meninggalkan tempat itu.


Waktu berganti sore, sejak siang tadi waktunya ia habiskan di hutan. "Djody, pulang yuk sudah sore" Bella merengek mengajak pulang khawatir matahari keburu tenggelam betapa seramnya di hutan ini.


"Masih ada satu lagi jangan pulang dulu," cegah Djody, memegang pundak Bella.


"Apa lagi Djody, aku takut kemalaman" Bella benar-benar ngeri.


"Tenang Bella... ada aku yang penting kamu nurut, kalau kamu nggak mau menurut... aku akan tinggal di hutan ini," terkekeh.

__ADS_1


"Pejamkan mata" perintah Djody.


.


__ADS_2