Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Aku tidak sempurna.


__ADS_3

Atas perintah Angela, David mencabut tuntutan Bella, memilih menempuh jalan damai. Setelah satu bulan yang lalu, baru kali ini David dan Bella duduk berdua ngorol dengan kepala dingin.


"Terimakasih Dav" kata Bella saat ini David masih berada di ruang T.


"Sama-sama Bella... dengan kejadian ini, kita sama-sama belajar, agar sikap kita ke depannya menjadi lebih baik. Saya hanya bisa mendoakan, semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik," kata David.


"Iya Dav" jawab Bella pendek. Bella saat ini merasa malu berhadapan dengan mantan suami nya itu, entah mengapa.


"Setelah ini, apa rencana kamu Bela?" tanya David memastikan.


"Aku akan pulang ke Indonesia, melanjutkan usaha Papa Dav, benar kata Mama. Papa saat ini sudah sakit-sakitan," kata Bella. Kali ini ia merasa kasihan dengan kedua orang tuanya.


"Selain itu, aku juga ingin selalu dekat dengan putriku. Walaupun aku tidak bisa tinggal bersamanya. Setidaknya... aku bisa sama-sama membesarkan Afina," Bella memantapkan diri.


"Bagus sekali Bella... kapan rencana kamu akan pulang? Jika Angela mengijinkan, saya akan mengantar kamu ke Indonesia" kata David. David ingin mengunjungi mertua laki-laki. Beliau sudah David anggap seperti orang tuanya sendiri.


"Mungkin minggu depan Dav, Mama ingin secepatnya kami pulang, tapi sebaikanya kamu tidak usah mengantar kami. Jika ingin bertemu Papa, tidak harus sekarang," tolak Bella. Bella sudah berjanji dalam hati, mulai saat ini tidak akan mengganggu siapapun.


"Baiklah Bella, jika begitu... saya pamit," pungkas David.


"Sliahkan Dav" Bella menatap kepergian mantan suaminya. Semua belum berakhir, Bella bertekat akan menata hidupnya kembali yang sudah menjadi kepingan.


Bella akan menyatukan kepingan-kepingan hati, walaupun tidak sepenuhnya kembali pulih, tetapi setidaknya sudah berusaha memperbaiki.


***********


Sementara David, sudah tiba di rumah, setelah parkir bergegas mengetuk pintu. Ia kangen pada putranya, padahal baru sore tadi ia tinggal.


Tok tok tok .


Ceklak.


"Assalamualaikum..." salam David, ketika pintu sudah dibuka dan istrinya sendiri yang membukakan.


"Waalaikumsalam..." jawab Angela.


"Danial sudah tidur, El?" tanya David sambil mengunci pintu kembali. Danial adalah nama anak mereka.


"Sudah," jawab Angela singkat. Angela kemudian menuang air putih dalam gelas untuk suaminya. Walaupun masih kaku Angela tetap menjalankan tugasnya.


"Mommy kemana El?" David memindai sekeliling tidak ada mommy di rumah kecil itu.

__ADS_1


"Setelah selesai memasak tadi, mommy membantu tetangga sebelah," ujar Angela.


"Aku mandi dulu El, gerah," kata David.


Angela hanya mengangguk, kemudian menunggu suaminya di meja makan.


15 menit kemudian, David sudah rapi, mengenakan kaos, dan celana pendek. Ia tampak lebih muda jika memakai baju santai.


"Makan dulu," Angela menyiapkan makan malam ke dalam piring untuk David.


"Terimakasih," ucap David.


Mereka makan malam dalam diam, sesekali David melirik istrinya yang masih belum bisa bersikap seperti bisa kepadanya. David hanya bisa bersabar. Hingga makan malam selesai, Angela berniat membereskan piring.


"Biar aku saja Ela, kamu jangan melakukan apapun, mulai besok... ada orang yang mau kerja membantu kita beres-beres," kata David sambil merapikan piring.


"Tapi apa kira-kira... kita bisa membayar Dav?" tanya Angela polos.


"Hehehe... kamu" David terkekeh sambil berlalu meletakan piring di wastavel kemudian mencucinya.


"Dav... aku serius..." Angela mengikuti David ke dapur. Selama ini Angela tidak pernah tahu, seberapa penghasilan suaminya perbulan dari hasil usahanya laba bersih.


"Sebaiknya... kamu gunakan kartu ATM yang aku berikan, dan check isinya ya," kata David. David sering mengecek kartu ATM. Nafkah yang ia berikan untuk istrinya, namun rupanya Angela tidak pernah membelanjakan uang itu.


"Sini dulu kita bicara," David menuntun istrinya ke ruang tamu mengajaknya bicara.


"El, alhamdulillah... usaha aku semakin lancar, sebaiknya... kita pindah ke apartemen ya," kata David hati-hati.


"Nggak Dav, kita tinggal disini saja," Angela tidak mau pindah karena ia pikir, apartemen yang akan mereka tempati, apartemen yang David tinggali bersama Bella, selama bertahun-tahun.


"Kenapa El? Masa sih... aku numpang sama mommy. Aku ini laki-laki, tidak pantas kalau mendompleng terus," David membujuknya.


"Tapi Dav? Apartemen itu kan milik Bella sama kamu, aku rasa tidak pantas juga dong... kalau aku tinggal di situ," jujur Angela.


"Hehehe..." David kembali tekekeh.


"Cek! Aku serius Dav!" Ketus Angela.


"Tentu bukan di apartemen yang itu, El. Bukanya waktu itu aku sudah mengajak kamu pindah ke apartemen yang baru aku beli" David geleng-geleng kepala.


"Aku bukan orang yang seperti itu Ela" David tentu menjaga perasaan Angela, tidak ingin Angela hidup dalam bayang-bayang Isabella.

__ADS_1


"Aku nggak ingat Dav" jawab Angela. Banyak sekali yang Angela pikirkan. Kesal, marah benci, hingga tidak menyimak kata-kata David.


"Ya El... mau ya," desak David. "Kita pindah ke apartemen, terus... rumah ini kita renovasi, supaya mommy nyaman." usul David.


"Iya Dav, tapi paling tidak, menunggu umur Danial sampai dua bulan ya,"


"Baiklah,"


"Oh iya, aku sampai lupa tanya, bagaimana tadi pertemuan kamu dengan Bella?" tanya Angela.


"Beres El, minggu depan ia akan pulang ke Indonesia," David menceritakan pertemuanya dengan Bella.


"Saran aku, kamu harus mengantar Bella pulang walaupun, Bella tidak mau Dav," saran Angela tulus.


David menoleh cepat. "Sebenarnya aku juga berniat mengantarkan Bella ke orang tuanya El, tapi..." David tentu menjaga perasaan istrinya.


"Dav, jangan pikirkan aku, selesaikan masalah kamu sampai tuntas," tulus Angela.


"Terimakasih sayang..."


************


Seminggu kemudian, sebelum berangkat ke Indonesia. Isabella numpang taksi bermaksud ke rumah Angela. Ia harus minta maaf dan bicara baik-baik agar ia bisa tenang di Indonesia nanti, dan tidak menyimpan rasa bersalah. Apa lagi David akan mengantar dirinya pulang ke Indonesia agar tidak jadi kesalah pahaman.


Bella turun dari taksi baju lengan pendek sampai siku, dan celana kulot panjang hingga sampai mata kaki. Kali ini penampilannya sudah kembali seperti semula.


Rambut pirang sebahu, tertiup angin menyapu wajahnya. Ia selipkan ke daun telinga sambil melangkah menuju pintu rumah Angela.


Bella berhenti sejenak, ingat dua minggu yang lalu ketika membuat kekacauan di rumah ini. Bella menarik napas panjang.


"Bella..." suara lembut dari belakang membuyarkan lamunan nya.


Bella menoleh, menatap Angela yang sedang menggendong Danial, kemudian balik badan.


Kedua wanita itu saling pandang. Ada rasa iri di hati Bella, tapi kali ini bukan karena David. Tetapi ia iri pada Angela, karena Angela menjadi wanita sempurna. Terbukti bisa memberikan buah cinta nya pada David. Sementara dirinya? Ya Allah... betapa aku ini orang yang banyak kekurangan. Batin Bela.


"Bella... mari masuk," lagi-lagi Angela membuyarkan lamunan Bella.


"Boleh aku menggendong anakmu?" tanya Bella mendekati Angela.


.

__ADS_1


__ADS_2