Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Galah panjang.


__ADS_3

Pulang menjenguk mantan mertua Adnan langsung menjemput Fina ke sekolah.


"Bagaimana belajarnya hari ini?" tanya Adnan ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Lancar Pa, Fina tadi dapat nilai 10," celoteh Afina.


"Makanya... Papa sama Bunda kan sudah bilang, Fina tuh pintar," puji Adnan. Bapak dan anak itupun berbincang-bincang hingga sampai di depan rumah.


"Fina duluan ya Pa" pamit nya.


"Iya sayang..." Adnan pun memasukkan mobil ke dalam garasi.


Afina berlari-lari kecil ingin segera sampai di dalam dan melaporkan hasil belajarnya hari ini pada bunda.


"Assalamualaikum..." salam Afina dengan suara kas cempreng nya.


"Kok nggak ada jawaban" gumam Afina. Ia mencari Sabrina ke dapur. Namun tidak ada, kemudian berjalan pelan menuju kamar. Ketika melewati kamar Sabrina. Afina membuka pintu menyembulkan kepala sedikit, ternyata sang bunda sedang tidur. Afina pun menutup pintu perlahan.


"Kenapa?" Adnan tiba-tiba sudah memegang pundak Afina.


"Seeettt... pelan-pelan ngomongnya Pa... Bunda lagi tidur," Afina meletakan jari di bibir nya.


Adnan terkekeh lalu mengusap kepala putrinya.


"Ya sudah... Fina salin baju, terus makan," titah Adnan.


"Iya Pa," Fina ke kamarnya, begitu juga dengan Adnan.


Adnan menatap Sabrina yang meringkuk dengan posisi miring. Buah paya yang sudah matang itu terpampang nyata. Rupanya Sabrina selesai menyusui belum sempat menutup. Wajar, sering kali para mak-mak selalu ketiduran kala menyusui karena terlalu capek.


Adnan meneguk ludahnya. Duh... masih lama lagi waktu nipas. Ia ambil selimut lalu menutup dada Sabrina. Jika kelamaan melihat buah paya, bisa-bisa galah panjang milik Adnan ingin segera menyogok.


Adnan segera ke kamar mandi hanya lima menit sudah kembali kemudian, salin baju santai.


"Brot"


Terdengar suara bom angin dari tempat tidur. Adnan segera mendekati Dafa yang tidur di sebelah Sabrina. Rupanya putra nya sudah bangun menggerak-gerakkan tangan dan kaki ke atas. Perlahan Adnan memeriksa popok Dafa. Ternyata Dafa sedang pup.


Perlahan-lahan Adnan mengganti popok Dafa agar tidak mengganggu tidur sang istri. Pria yang sudah matang itu tidak merasa geli, dengan terampil mengganti popok. Setelah rapi Adnan menggendong putra nya mengajak ke kamar Afina.


"Kakak..." panggil Adnan menirukan suara anak kecil.


"Dedek... sini-sini, bobo dekat kakak" Afina menyambut kehadiran Dafa dengan senang hati.


"Kakak jangan bobo dulu ya, belum makan siang soalnya," kata Adnan sembari menidurkan Dafa di sebelah Afina.


"Nggak, Fina mau main sama dedek," Afina pun duduk menempelkan jari ke telapak tangan Dafa.

__ADS_1


"Papa... lihat nih, tangan Fina dipegangin sama dedek," Fina kegirangan.


"Itu artinya... dedek ingin main sama Fina," jawab Adnan. Adnan pun ikut merebahkan tubuhnya.


"Bunda masih bobo ya Pa?" tanya Fina. Karena Adnan tidak biasanya mengajak Dafa ke kamarnya.


"Masih, makanya jangan bobo dulu ya, nunggu Bunda. Kasihan kalau Bunda dibangunkan," kata Adnan. Karena Fina belum makan siang.


"Nggak apa-apa Pa, Fina belum lapar kok," jawab Afina. Afina mengajak Dafa bermain, Adnan tersenyum mendengar celotehan Afina pada adiknya kadang lucu.


Di kamar sebelah. Sabrina membuka mata, kemudian menoleh ke samping. Betapa terkejutnya Dia, karena Dafa tidak ada di tempat tidur.


"Dafa..." pekik nya. Kemudian keluar kamar, menuruni anak tangga sampai lupa jika ia baru selama sepekan melahirkan.


"Bibi..." panggil Sabrina, menahan tangis.


"Saya Non" sahut bibi dari tempat cucian piring, kemudian mendekati Sabrina.


"Dafa kemana Bi? Dafa nggak ada di kamar? Hiks hiks hiks," Sabrina menangis. Ia membayangkan jika putranya diculik orang.


"Mungkin sama Tuan Non..." bibi berusaha tenang. Padahal ia pun panik juga.


"Mas Adnan sudah pulang?" Sabrina mengusap air matanya.


"Sudah Non, tadi sudah menjemput Non Fina?"


Brak!


"Bunda"


"Ina"


Panggil Adnan dan Afina bersamaan.


"Maaaasss... hiks, membawa Dafa nggak ngomong..." pekik Sabrina dengan perasaan campur aduk. Lega, kesal, sedih, menjadi satu.


"Maaf-maaf," Adnan merangkul tubuh Istri nya. Adnan paham maksud Sabrina tanpa bercerita. Sementara Afina hanya menatap bingung.


...*************...


Di rumah sakit dua pria yang tak lain David dan Djody masih gelisah di ruang tunggu. Pasalnya mereka belum tahu kabar dari dokter mengenai keadaan Bella. Padahal hari sudah mulai malam. Kedua pria itu sejak tadi siang hingga malam tidak ada yang saling bicara.


Tergambar jelas kesedihan di wajah David, betapa tidak? Bella tidak berdaya, sedangkan Angela. Ia hubungi berkali-kali. Namun handphone nya tidak aktif, padahal Angela sedang dalam keadaan hamil besar.


Ceklak!


Pintu terbuka David segera beranjak diikuti Djody.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Bella istri saya Dok?" tanya David diliputi rasa cemas.


"Mari ikut saya," kata dokter berjalan lebih dulu masuk ke ruangan. David dan juga Djody mengikuti.


"Bella baru saja selesai dipasang gips bagian kaki, karena patahnya tidak terlalu parah. Sedangkan bagian tulang siku harus dioperasi, kami minta tanda tangan Anda," dokter menjelaskan.


"Baik Dok" David segera menandatangani kertas yang di sodorkan dokter.


"Terimakasih," ujar dokter. Setelah tanya jawab sebentar mengenai Bella. Dokter segera ke ruang operasi.


Sedangkan dua pria itu masih harus bersabar menunggu. Jika Djody bisa tidur walaupun menyender di tembok.


Tentu tidak untuk David. Pikiranya kemana-mana. Langkah apa yang harus ia ambil setelah ini? David kini telah terjebak dengan pilihanya. Ia dulu tetap kekeh memilih Bella, walapun kedua orang tuanya menentang hubungan mereka.


Masih segar dalam ingatan David pertemuanya dengan Bella saat itu. Bella dalam keadaan mabuk berat kemudian David menolongnya. David mengajak Bella ke apartemen sewaan miliknya di Indonesia. Usut punya usut, ternyata Bella baru bercerai dengan seorang pria yang bernama Adnan.


Semenjak pertemuan itu, tumbuh benih-benih cinta antara janda dan lajang. Tentu saja, David tidak mengetahui tabiat Isabella yang sebenarnya. Setelah menikah dengan cara islam dan menjadi suami istri, David baru tahu siapa Bella.


Detik, menit, hingga beberapa jam kemudian, malam tergantikan pagi. Dengan tertatih-tatih David meninggalkan Djody ke kamar mandi, kemudian ambil air wudhu. Shalat subuh di bawah tangga memohon ampunan, dan mohon dimudahkan untuk menghadapi persoalan yang membelenggu.


"Sudah ada kabar dari istri saya Djody?" tanya David setelah kembali ke tempat.


"Belum Dav," jawab Djody.


"Keluarga Isabbela?" terdengar panggilan dari ruangan. David bergegas masuk ke ruangan tersebut.


"Selamat pagi Dok," lirih David dengan wajah kusut.


"Silahkan duduk," kata dokter menjelaskan bahwa Bella sudah akan di pindahkan ke ruang rawat inap. David sedikit merasa lega, karena operasinya berhasil walaupun Bella belum sadar.


Jam 9 pagi, di ruang rawat inap. Bella sudah dipindahkan dari ruang operasi. Dua orang pria David dan juga Djody sibuk mengurus Bella.


Tampak David sedang membujuk Bella agar memaafkan. "Bella... maafkan aku..."


"Keluar kamu David! Keluaaarrr...!!" pekik Bella.


"Bella... jangan teriak-teriak keadaan kamu masih belum stabil," David menenangkan.


"Jika kamu mau aku tenang! Pergi dari sini! Pergiiiii..." usir Bella.


"Baiklah Bella, aku pergi," David pun mengalah kemudian ke luar dari ruang inap.


Sedangkan Djody, yang baru saja selesai mengurus administrasi, tertegun memperhatikan suami istri yang sedang bertengkar itu.


Bella mengalami patah tulang kaki, tangan, dan juga luka-luka lebam, memar, wajahnya tampak banyak luka karena terseret aspal. Bagusnya kepalanya tidak mengalami cedera serius.


.

__ADS_1


__ADS_2