
"Mas... jangan diam saja dong, aku bukan tidak mau hamil dan punya anak banyak seperti yang Mas harapkan. Tetapi... setidaknya biarkan Bilqis minum asi selama dua tahun." tutur Sabrina panjang lebar. Banyak yang sabrina pikirkan dengan menunda kehamilan setidaknya ketika hamil anak ketiga, Dafa sudah berumur tiga tahun dan Bilqis dua tahun mereka tidak akan kekurangan kasih sayang seperti yang dirasakan Dafa.
"Mas..." Sabrina menatap suaminya, begitu juga sebaliknya. Adnan merasa kasihan pada Istri nya, memang benar apa yang dikatakan Sabrina, selama Bilqis lahir, Sabrina sampai tidak ada waktu, jangankan untuk merawat diri sendiri untuk istirahat pun sangat kurang. Ketika malam hari pun Sabrina sering kurang tidur.
"Ya sayang..." Adnan memeluk pundak Sabrina yang sedang menyusui.
"Jadi... Mas membolehkan aku untuk pasang alat kontrasepsi?" Sabrina berbinar-binar.
"Iya... tapi bukan berarti kamu yang harus pasang, biar kita pakai cara yang aman saja, aku tuh khawatir dengan kesehatan kamu sayang..." nasehat pria yang mulai memanjangkan jenggot itu.
"Terimakasih Mas..." Sabrina mengerti apa maksud suaminya.
"Dedek bobo ya?" Adnan beralih menatap Bilqis yang masih ngempeng merasa nyaman di dada sang bunda.
"Bobo Mas, kita berangkat yuk," Sabrina melepas memem, kemudian menggendong Bilqis. Sementara Adnan menghampiri Dafa yang tampak tenang entah apa yang bocah itu lakukan.
"Kakak Dafa sedang apa?" tanya Adnan melihat mainan Dafa berantakan.
"Dafa lagi bongkal mobil Pa," Dafa rupanya mencopoti mobil-mobilan hingga berkeping-keping membuat Adnan menggeleng.
"Kakak yakin... bisa memasang kembali?" Adnan berjongkok di depan Dafa.
"Bita," jawab Dafa yakin. "Dafa pelnah lihat olang bongkal mobil begini Pa" celotehnya.
"Ya sudah... Kita berangkat katanya mau menjenguk anaknya Tante Bella,"
"Telus mobilnya bagaimana Pa?" Dafa rupanya mulai mengerti tanggung jawab karena ia belum membereskan mainan.
"Nanti pulang menjenguk dedek... Dafa bereskan ya," titah Adnan.
"Beles Pa," Dafa bersemangat.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju kediaman Djody.
*****************
"Oeeekk... oeeekk..." di kediman Prayoga terdengar tangis bayi melengking. Seorang bapak yang diberi amanat oleh sang istri saat Bella sedang mandi sore, agar Djody menjaga anaknya justeru kebingungan sendiri.
"Fahreza... diam dong sayang... Mama sedang ke kamar mandi," tutur Djody.
Lain Adnan lain Djody, jika Adnan pria yang pandai mengurus anak, tentu tidak untuk Djody. Walaupun sama-sama ditinggal istri sejak anaknya masih bayi, Adnan mengurus Afina seorang diri, sementara Elma diurus mommy Ariana bersama baby sitter tentunya.
"Oeeekk... oeeekk...." tangis Eza semakin kencang
Djody pun mengangkat anaknya. "Cup cup sayang... Mama sedang mandi." Kata Djody sambil menggerak-gerakkan badanya agar Fahreza diam, tetapi tangis Eza semakin kencang.
Tok tok tok.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain Djody mengetuk pintu kamar mandi. "La... cepetan... Eza nangis terus'"
Ceklak.
Bella keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi, ia memilih ganti baju di kamar tersebut daripada digodain Djody terus, padahal sedang masa nifas.
"Sini-sini" Bella berjalan lebih dulu, menuju tempat tidur.
"Nangis terus La... sudah di gendong Eza tidak mau diam" adu Djody sembari menidurkan Eza di ranjang.
Tidak menjawab Bella membuka popok Eza ternyata basah. "Kalau sudah digendong tidak mau diam itu, dilihat popoknya Djody... pipis atau tidak, masa kamu nggak tahu, kamu kan dulu pernah merawat Elma" omel Bella dengan cekatan mengganti popok Eza. Benar saja setelah diganti popok, Fahreza langsung diam.
"Dulu aku nggak pernah mengurus Elma La, yang urus baby sitter sama Mommy," jujur Djody. "Aku mah bisanya pipisin Mamanya doang. Hahaha" Djody tertawa sambil mengamati Bela.
"Dasar kamu Djody" ujar Bella kemudian duduk di ranjang menyusui Eza.
"La, sekarang kalau panggil aku jangan Djod, Djod, doang, pakai embel-embel biar Fahreza tidak mengikuti panggilan kamu," kali ini Djody berbicara serius.
"Iya Papa Djody..." kali ini Bella mengerti apa yang dikatakan suaminya.
"Eza... kamu merebut mainan Papa ya, duh... terus sampai kapan..." Djody berjongkok di depan Bella sambil menciumi sebagian memem seperti tidak mau kalah dengan anaknya.
"Djody..." Bella menjenggùt rambut suaminya. "Kamu ini ya, kayak anak kecil saja," imbuh Bella.
Tok tok tok
"Kalian? Ada apa?" tanya Djody.
"Di luar ada Papa sama Bunda, Pa" kata Fina sementara Elma hanya mengangguk-angguk.
"Baiklah... kami segera keluar," jawab Djody lalu menghampiri Bella.
"Dedek Eza..." Elma mengusap lembut pipi adiknya dengan telunjuk. "Aku boleh gendong tidak Ma?" Elma menatap Bella minta persetujuan.
"Boleh... memang kamu bisa..." Bella melepas memem kemudian meletakan Eza di lengan Elma.
"Hais! Jangan!" cegah Djody. Ia khawatir jika Eza sampai jatuh.
"Papa... kenapa sih?" Elma cemberut lalu mengembalikan Eza ke tangan Bella.
"Maksud Papa Djody benar El, aku kalau mau menggendong Bilqis, juga nggak dibolehin sama Papa Adnan, takut jatuh katanya" Fina menirukan nasehat papanya.
"Benar kata Papa sama Fina sayang... nanti kalau kamu sudah besar boleh kok... gendong Eza," Bella menjelaskan.
"Kalau aku sudah besar, berarti dedek Eza sudah besar juga dong Ma," Elma masih penasaran.
"Jangan khawatir Elma, nanti kamu bakalan punya adik tiga lagi kok, jadi... kamu bagian momong," Djody menatap Bella terkekeh. Bella hanya melengos, sekarang saja rasa sakitnya belum hilang Djody sudah menginginkan anak lagi.
__ADS_1
"Cepetan Ma... ayo keluar, kasihan Bunda Sabrina, sama Papa Adnan menunggu lama" Fina menghentikan perdebatan.
"Ayo" Bella segera beranjak menggendong Eza, mereka keluar bersama-sama. Begitu membuka pintu kamar terdengar samar-samar celotehan Dafa dengan suara kas cadelnya. Kedua bocah Fina dan Elma segera berlari mendahului Bella dan Djody.
"Dedek Dafa... kita main ke taman yuk" ajak Elma.
"Tama kakak Fina ndak?" tanya Dafa jika Fina ikut, tentu dia akan ikut serta.
"Pasti dong dek" sahut Afina.
"Kakak kenapa ndak pulang-pulang, Dafa kangen tama kakak, tau?!" protes Dafa, sudah hampir seminggu Fina tinggal di rumah itu.
"Nanti kalau Bunda sudah pulang dari sini, kakak ikut, sekarang kita main dulu yuk," jawab Fina mengait lengan Dafa menyusul Elma yang sudah berjalan lebih dulu.
.
"Maaf ya In, Nan, kalian menunggu lama" Bella tersenyum menghampiri Sabrina yang sedang menggendong Bilqis.
"Nggak apa-apa Mbak Bella... selamat ya..." dua wanita yang terpaut 9 tahun yakni Bella 35 tahun, dan Sabrina 26 tahun itu pun cipika cipiki.
"Terimakasih In" ujar Bella lantas duduk berhadapan.
"Siapa nama putranya Mbak?" tanya Sabrina menelisik wajah bayi dalam gendongan Bella.
"Fahreza Tante Ina..." Bella menirukan suara anak kecil. Lantas mencium Eza yang sudah terlelap.
"Djody bisa ngurus bayi nggak La?" Adnan nyambung obrolan.
"Nggak! Gw bisanya bikin doang Nan. Hahaha..." Djody tertawa.
Sabrina tersenyum malu-malu, Bella dan juga Adnan sudah biasa dengan kekonyolan Djody hanya melengos saja.
Mereka pun ngobrol panjang lebar membahas masalah anak-anak diselingi tawa Djody yang kadang menggema.
"Sekarang kita foto bersama Nan" ajak Djody.
"Okay..."
Dua keluarga muda itu pun akhirnya keluar bersama-sama menyusul dimana Fina, Elma, dan juga Dafa bermain.
"Anak-anak.... sini... kumpul-kumpul, kita foto bersama..."
"Horeeee...."
Mereka foto bersama minta tolong Jono mengabadikan momen tersebut.
...❤❤❤Tamat❤❤❤ ...
__ADS_1
.