Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Dafa Ramdan Rachmadi.


__ADS_3

"Sekarang langkah apa yang akan kita ambil Mas?" tanya Sabrina. Mereka masih membicarakan masalah Afina.


"Sebaiknya kita biarkan saja dulu Yank," Adnan menceritakan apa yang sudah mereka sepakati bersama papa dan mama ketika sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Tapi aku takut Mas, kalau sampai Fina digalakin sama Bella" Sabrina ingat, ketika masih sekolah. Bella wanita yang angkuh, congak, dan tidak memandang bulu.


"Kita doakan saja semoga Fina baik-baik saja, jika Bella sampai macam-macam, aku akan melaporkan ke pihak yang berwajib," tegas Adnan. Ia sudah mempunyai cacatan keburukan mantan istrinya.


"Sekarang kita fokus dedek dulu, kita belum kasih nama loh," Adnan tersenyum menatap bayi mungil yang masih kemerahan sedang tidur pulas.


"Iya Mas, tadi Ayah sama Bunda juga tanya," kata Sabrina.


"Anak kita mau dikasih nama siapa?" sambung Sabrina.


"Aku sudah punya nama untuk anak kita," Adnan mencium pipi putranya.


"Siapa Mas, tapi jangan yang susah-susah, kalau kita panggil biar gampang," usul Sabrina.


"Bagaimana, kalau kasih nama... Dafa Ramdan Rhacmadi? Tapi kalau kamu punya nama yang lebih bagus nggak apa-apa," kata Adnan kemudian mendekatkan kacang koro agar dimakan istrinya.


"Dafa Ramdan Rachmadi," Sabrina mengeja.


"Bagus Mas, aku sih suka nama itu," Sabrina manggut-manggut.


"Kamu sudah makan belum?" Adnan berbicara yang lain.


"Sudah, tadi setelah maghrib ada jatah terus aku makan, sekarang pinginya makan terus," tutur Sabrina sambil nyemil kacang.


"Bagus sayang... memang harus begitu,"


"Tapi nanti aku gemuk," Sabrina seketika berhenti mengunyah.


"Kalau gemuk memang kenapa? Yang terpenting sekarang tuh anak kita," tegas Adnan.


"Ihh... kebanyakan kan laki-laki kalau sudah melihat perubahan istri yang awalnya langsing jadi bulat terus lirik-lirik wanita di luar sana deh!" ketus Sabrina.


"Tuh kan! Jadi ngelantur!" dengus Adnan. Sabrina menatap suaminya tampak melotot tajam takut juga, sekarang ini Adnan pikiranya sedang ruwet Sabrina malah cari perkara.


"Iya-iya... maaf," Sabrina mengaku salah.


"Mas mendingan cari makan dulu deh," Ibu muda itu mengalihkan.

__ADS_1


"Nanti saja In, belum lapar," Adnan tidak berselera makan tentu masih memikirkan Fina. Walupun tampak tegar di depan Sabrina tetapi batinya tersiksa.


"Nanti malah masuk angin Mas..."


"Iya nanti aku makan kok,"


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu menghentikan obrolan mereka.


"Masuk," jawab Adnan. Sabrina kemudian merapikan kerudung.


"Selamat malam..." datang seorang wanita yang mengenakan celana jins pensil dengan kaos santai pas di badan, diikuti seorang pria tersenyum menatap Sabrina.


"Rasmini... Kevin?" Sabrina menoleh suaminya mereka pun saling pandang. Tanpa menjawab ucapan selamat malam Rasmini. Sejak kejadian dua bulan yang lalu. Sabrina baru kali ini bertemu lagi dengan Rasmi.


Rasmini tersenyum kemudian metakkan buah tanggan berbentuk parsel meletakkan di atas meja.


"Selamat Mbak Ina..." Rasmini cipika cipiki.


"Terimakasih Ras... selamat juga ya ternyata kamu memberi aku kejutan sudah mampu meluluhkan hati Kevin," Sabrina masih merasa bersalah karena sudah mempermalukan Rasmi dua bulan yang lalu. Tapi kini Sabrina lega ternyata Rasmi sudah mendapatkan tambatan hati.


"Hehehe..." Rasmi hanya tertawa melirik Adnan. Adnan tampak cuek dengan kehadiran mereka.


"Pakai sapu tangan berlumur ingus, hahaha..." Kevin melirik Rasmi di sebelahnya. Rasmi mencubit lengan kekasihnya. Sejak pertemuan di hutan ketika itu, Kevin dengan Rasmini tukar nomor hp. Mereka sering kontak, sering bertemu, dan baru selama dua minggu ini jadian. Kevin mampu menggeser Adnan dari ruang hati Rasmini kemudian diisi oleh nya.


"Sapu tangan ingus apa?" Sabrina mengerutkan kening.


"Sudah Mbak Sabrina, jangan didengerin," Sarmini melotot tajam agar Kevin jangan cerita macam-macam pada Sabrina.


"Waah... selamat-selamat... gw sudah punya keponakan," Kevin mendekati Dafa.


"Hais! Sudah cuci tangan belum?!" Adnan menahan lengan Kevin ketika berniat menyentuh pipi Dafa.


"Sudah steril Pak," jawab Kevin, dua pria itu masih tampak kaku.


"Kamu sudah wisuda?" tanya Adnan. Mengajak Kevin ngorol di sofa.


"Sudah satu Bulan yang lalu Pak,"


Dua pria yang awalnya berseteru karena merebutkan Sabrina itu kini berbincang-bincang.

__ADS_1


Satu jam kemudian Kevin dan Rasmini pun pamit pulang. Adnan mengantar tamunya hingga sampai pintu. Kemudian kembali menghampiri Sabrina.


"Mas... cari makan dulu," Sabrina mengingatkan suaminya kembali. Karena saat ini sudah jam 9 malam.


"Ya sudah aku pesan online saja," Adnan pun memesan makanan. Tepat jam 10 malam ia makan sendirian karena Sabrina sudah tidur. Adnan menyelimuti istrinya kemudian melangkah ke sofa.


"Oeekk... oeeek..." belum sampai duduk, Dafa menangis. Sontak Adnan kembali ke ranjang pasien. Ternyata Sabrina sudah bangun lebih dulu.


"Cup cup cup, sayaaang... pipis ya..." dengan cekatan Sabrina mengganti popok Dafa. Adnan tersenyum menatap istrinya rupanya seorang ibu mempunyai naluri tanpa belajar pun bisa mengurus anaknya tanpa belajar.


"Oeekk... oeeeek..." sudah diganti popok Dafa masih terus menangis. Sabrina kemudian memangku Dafa. Di usapnya lembut pucuk kepala putranya sayang.


Adnan kemudian membuat susu.


"Haus kali yank..." Adnan memberikan botol susu pada Sabrina.


"Cup cup cup... haus ya..." Sabrina memberikan susu. Dafa menyedotnya dengan kuat. Namun malam ini Dafa rewel sebentar-sebentar menangis.


"Kok anak kita rewel terus, apa jangan-jangan... ada yang dirasa ya, In?" Adnan menempelkan punggung tangan ke dahi Dafa.


"Wajar Mas, Dafa kan seharian tidur terus," Sabrina menepuk-nepuk pelan bokong Dafa yang sudah ia bedong setelah mengenakan popok.


Sudah dini hari Dafa tidak mau tidur kedua pasutri itu pun pada akhirnya begadang.


"Sayang... sebaiknya kamu tidur, biarkan Dafa aku yang gendong," Adnan kasihan menatap mata Sabrina tampak lelah.


"Tapi Mas," Sabrina pun kasihan pada suaminya. Sedikitnya ia sudah tidur, tetapi Adnan sudah dua malam hanya tidur sebentar.


"Sudah... jangan pikirkan aku," Adnan ambil alih Dafa, kemudian menggendong. Ia ayun-ayun tubuh putranya mengajaknya ke sofa.


Sabrina memang lelah kemudian tidur.


*******


"Bunda jahat! Bunda nggak sayang lagi sama Fina, mentang-mentang Bunda sudah ada dedek! hu huuu..." Afina menangis menggerak-gerakan kakinya di lantai.


"Fina sayang... kenapa kamu bicara begitu Nak, sayang Bunda sama kamu tidak akan pernah kurang sampai kapan pun," Sabrina juga menangis mendekati Afina. Namun Afina justeru berdiri menghindar.


"Fina... maafkan Bunda, sayang... jika Bunda punya salah, tetapi Bunda sama sekali tidak ada pikiran begitu Nak," Sabrina berniat memeluk Fina. Namun Fina justeru mendorong tangan ibu sambungnya.


"Bunda jangan mendekat! Mulai sekarang, Bunda jangan dekati Fina lagi! Fina sudah punya Mama baru!" Fina merangkul perut Bella yang tersenyum meledek ke arah Sabrina.

__ADS_1


"Afinaaaaaa..."


.


__ADS_2