
Hari berganti hari, minggu, bahkan bulan. Kehidupan rumah tangga Adnan semakin romantis saja. Saling mencintai, menyayangi, mengasihi, dan mencurahkan kasih sayangnya pada kedua anak mereka. Afina dan juga Dafa tentunya.
Adnan selalu memberikan perhatian khusus untuk istri dan bayi dalam kandungan nya. Saat ini, kandungan Sabrina sudah sembilan bulan tentu sudah saatnya melahirkan.
Siang ini Sabrina hanya di rumah bersama anak-anak. Sementara Adnan sedang ada rapat penting di kampus, membahas tentang kebijakan yang dicanangkan oleh negara mengenai perihal mahasiswa tiga semester kedepan.
"Kakak... Bunda minta tolong, bisa teleponin Papa tidak?" tanya Sabrina sambil meringis memegangi perutnya yang sudah mulai kontraksi.
"Tentu bisa Bun. Bunda kenapa?" tanya Afina. Saat ini Afina sudah kelas tiga SD.
"Bunda sakit pelut Kak," Dafa yang menjawab dangan bahasa cadel walaupun tidak separah dulu, karena saat ini usia Dafa sudah dua tahun dan belum bisa menyebut huruf r.
"Bunda sakit perut?" Afina cepat-cepat ambil handphone mencari nomer papa.
"Sayang... kalau telepon Papa jangan ngagetin ya, jangan katakan kalau Bunda sakit perut," tutur Sabrina.
"Iya Bun, Fina tahu," Afina pun menghubungi papa nya.
Sementara Sabrina ke dapur menemui bibi. "Bibi..." panggilnya lembut. Lalu menarik kursi ia duduk di meja makan.
"Saya Non..." bi Suhaya segera meninggalkan pekerjaan menghampiri Sabrina.
"Bi, tolong... siapkan pakaian ya, kayaknya saya sudah mau melahirkan," titah Sabrina, menghadapi kontraksi yang kedua ini ia lebih tenang, sebab sudah pengalaman ketika melahirkan Dafa dulu.
"Baik Non..." ucap bibi sambil berlalu segera ambil tas di gudang kemudian ke kamar utama menyiapkan pakaian Sabrina.
"Bunda... kok papa di telepon tidak diangkat-angkat...," Fina menatap Sabrina sendu.
"Oh gitu... ya sudah... sekarang panggilkan Mbak Eti saja," titah Sabrina.
"Ya Bun" Fina berjalan memanggil Eti di tempat strika. Saat ini Suheiti sedang strika baju anak-anak. Suheiti yang biasa di panggil Eti adalah art yang belum lama kerja di rumah Sabrina, disiapkan membantu mengurus Dafa saat Sabrina sudah melahirkan nanti. Tidak bisa menolak lagi bagi Sabrina, memang harus mencari pembantu. Pasalnya Dafa belum mengerti jika kasih sayang bundanya nanti akan terbagi dengan sang adik.
"Saya Non," kata Eti sudah menghampiri Sabrina.
"Tolong jaga Dafa ya Et, saya mau ke rumah sakit," titah Sabrina.
"Baik Non,"
"Terus... Bunda ke rumah sakit sama siapa? Fina temani ya Bun," Fina justeru yang panik. "Aahhh... Papa kemana sih! Di telepon nggak diangkat!" Omel Fina.
"Biar Non Ina, saya yang menemani ke rumah sakit. Fina yang tenang Nak," bi Suhaya yang sudah menenteng tas menghampiri Afina.
"Nggak usah panik Kak, tenang saja. Bunda nggak kenapa-napa" nasehat Sabrina. Agar Fina bisa lebih tenang.
__ADS_1
"Dafa itut..." rengek Dafa. Melihat semua kebingungan dia ikut bingung. Anak yang mirip Sabrina itu menyembunyikan wajahnya di pangkuan bundanya.
"Sekarang dengerin Bunda" Sabrina membangunkan pundak Dafa dari pangkuan nya. Kedua tangannya memegang pipi putranya yang menatap Sabrina lekat.
"Bunda kan mau ke rumah sakit, dedek di perut bunda, sudah mau keluar ingin segera bermain bersama Dafa yang ganteng ini" Sabrina menoel hidung Dafa.
"Tetapi... anak kecil nggak boleh ada yang ikut, kalau Dafa memaksa... nanti Bunda dimarahi dokter. Nah... pasti Dafa nggak mau kan... bunda di marahi dokter..." Sabrina menasehati putranya panjang lebar. Ia berusaha menahan sakit di depan anak-anak jangan sampai mereka sedih.
"Ndak mau... Bunda dangan dimalahin..." kata Dafa menatap Sabrina sedih.
"Anak pintar... kalau gitu... dedek sama Mbak Eti dulu ya..." Sabrina tersenyum. Diciumnya pipi Dafa yang menggemaskan. Dafa hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia tidak ikhlas.
"Sekarang... kita kasih makan kucing di taman saja yuk," Eti menggendong Dafa.
"Katih makan kuting," Dafa akhirnya bersemangat.
"Iya, kita ambil umpannya dulu," Eti ambil umpan kucing kemudian mengajak Dafa ke taman.
"Non... saya pesan taksi ya" Kata bibi.
"Iya Bi," jawab Sabrina. Ia sudah siap berangkat.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Aku mau ke rumah sakit Mbak, kayaknya aku mau lahiran," jawab Sabrina.
"Memang Adnan kemana? Kok kamu mau berangkat sama Bibi," potong Djody.
"Dia ke kampus Kak, hari ini memang sedang rapat, di telepon nggak nyambung. Biasanya Mas Adnan kalau sedang rapat sengaja mematikan handphone," tutur Sabrina sambil sesekali meringis.
"Kalau gitu... kami yang antar kamu ke rumah sakit," Bella menuntun tangan Sabrina.
"Apa Mbak Bella nggak repot," Sabrina tidak enak hati.
"Nggak kok In, aku kesini tadi cuma mampir, mau ketemu Fina. Kebetulan hari ini jadwal aku check kandungan," jawab Bella. Saat ini Bella sudah hamil lima bulan. Ternyata senjata pamungkas Djody benar-benar tokcer.
Djody membuka pintu kemudian Sabrina masuk mobil di susul Bella. Di mobil sudah ada Jono supir Djody.
"Mama..." Fina berlari mengejar. Memegang kaca mobil yang masih dalam keadaan terbuka.
"Sayang..." jawab Sabrina dan Bella bersamaan.
__ADS_1
"Fina mau ikut Bun," Fina rupanya tidak tenang.
"Tidak usah sayang... kalau nanti dedek rewel siapa yang mau nenangin," Sabrina beralasan. Walaupun memang benar jika bukan Sabrina, Afina lah yang bisa menenangkan Dafa jika rewel.
"Iya Bun," dengan perasaan campur aduk Afina hanya bisa melambaikan tangan. Anak hampir 9 tahun itu kembali ke dalam rumah.
Ia masuk ke kamar ambil air wudhu shalat dzuhur. Selesai shalat, ia berdoa untuk mama Bella dan mendoakan bunda Sabrina agar dilancarkan segalanya.
Kata mereka diriku selalu di manja.📞
Saat sedang merapikan sadjadah, terdengar panggilan masuk. Afina segera mengangkat handphone. Namun sebelumnya ia lihat dulu siapa gerangan yang telepon ternyata Adnan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Sayang... ada apa? Kok kamu telepon papa sampai berkali-kali?" tanya Adnan di seberang telepon.
"Papa... cepat pulang, Bunda sudah mau melahirkan," jawab Fina tidak pakai basa basi.
"Apa? Ya sudah... Papa segera pulang," jawab Adnan cepat.
"Sebaiknya... Papa langsung ke rumah sakit saja, Bunda sudah berangkat sama Mama Bella," saran Fina.
"Iya sayang...."
**********
Di rumah sakit, Sabrina sudah dibawa ke ruang bersalin oleh perawat. Ia menahan sakit yang sudah luar biasa. Bibirnya komat kamit berdoa agar ia bisa melalui persalinan normal dengan lancar. Sabrina juga berharap suaminya segera datang. Karena dengan di temani Adnan akan menumbuhkan semangat yang baru.
"Sabar ya In" ujar Bella hanya kata itu yang terlontar dari bibirnya. Ia menemani Sabrina, mengusap-usap bahu wanita yang saat ini sudah seperti adik kakak itu.
"Astagfirrullah..." ucap Sabrina, yang sudah tidak kuat menahan sakit.
Bella ikutan meringis, seketika mengusap perutnya senantiasa berdoa semoga anaknya nanti lahir dengan selamat di tempat ini. Ia memindai ruangan yang pernah ia tempati saat melahirkan Fina 9 tahun yang lalu. Tempat ini masih seperti dulu hanya bedanya lebih rapi.
"Mbak... sebaiknya menunggu diluar saja, memang suami Nyona Sabrina kemana?" tanya dokter yang sudah mengenakan sarung tangan yang ia ambil dari laci.
"Suaminya sedang dalam perjalanan, boleh saya menemani adik saya. Dok" Bella memohon.
"Baik lah," dokter mengalah.
.
__ADS_1