Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Bingung memilih.


__ADS_3

Oma Andini terus membujuk cucu nya agar mau membujuk Adnan menjemput Bella ke negara A. Misi Andini minta Adnan agar menjemput Bella, sebenarnya tidak hanya semata-mata karena Bella tidak ada yang menjemput. Tetapi Andini ingin Adnan mantan menantu itu bisa kembali bersama Bella.


"Bagaimana sayang... kamu mau bantu Oma kan? Kasihan loh, Mama disana berbaring sendiri di rumah sakit. Kalau disini kan ada Oma yang mengurus, kamu juga bisa bertemu dengan Mama Bella," Andini rupanya ahli dalam hal membujuk dan merayu.


"Ya Oma, nanti Fina coba ngomong sama Papa," jawab Afina mengakhiri pembicaraan.


Kriing... kriiing...


Bel jam kedua berbunyi, Afina salim Oma, kemudian masuk ke kelas.


Oma menatap cucunya tersenyum miring. "Aku yakin! Adnan pasti mau menjemput Bella. Adnan paling tidak mau membuat Fina kecewa," Oma manggut-manggut. Yakin rencananya akan berhasil. Oma pun akhirnya kembali pulang.


Sementara Fina sudah duduk bersebelahan dengan temanya. Ia letakkan kedua tangan di atas meja, kemudian menjatuhkan kepalanya berbantalkan tangan.


"Mama sakit? Mama sakit? itulah yang ada dalam pikiranya Fina saat ini. Hingga beberapa saat Fina tidak seperti biasa membuat teman di sebelahnya merasa aneh.


"Fina... kamu kenapa?" tanya Talita mengangkat kepala Fina agar bangun.


"Nggak apa-apa Lita," Afina menoleh Talita tersenyum. Menyembunyikan kegelisahan hatinya.


"Assalamualaikum..." seorang guru pun sudah masuk sambil mengempit buku pelajaran.


"Waalaikumsalam..." jika anak-anak yang lain antusias, berbeda dengan Fina. Ia tampak gelisah.


"Sekarang... keluarkan buku bahasa Indonesia kalian..." titah bu guru. Sambil membawa kapur sudah siap menulis di papan tulis.


Semua murid mengeluarkan buku dan mengerjakan tugas yang di berikan ibu guru. Hingga beberapa menit kemudian, semua murid sudah hampir selesai mengerjakan tugas. Namun Afina hanya melamun bahkan bukunya masih kosong.


"Fina... kamu kenapa Nak? Sedang tidak enak badan?" ibu guru membungkuk memegang pundak Afina.


"Tidak bu guru..." Afina tampak lemas menjawab. Guru tahu jika Fina tidak baik-baik saja. Ia segera keluar telepon Adnan agar menjemput putrinya. Yang bu guru tahu, Afina sedang sakit.


Tidak lama kemudian, dengan perasaan tidak tenang, Adnan sudah sampai di sekolah. Setelah mengetuk pintu dan berbicara dengan guru sesaat, bu guru menghampiri Afina.


"Fina... sepertinya kamu tidak sehat Nak, sebaiknya kamu pulang saja, Papa kamu sudah menunggu diluar," kata bu guru.


"Baik Bu," Afina memasukan buku ke dalam tas, setelah menggendong, kemudian keluar menemui Adnan yang menunggu di depan pintu.

__ADS_1


"Fina... kamu sakit Nak," Adnan berjongkok menatap wajah Afina. Dari sorot mata bening itu tidak bisa berbohong bahwa putrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Kita cerita di mobil saja Pa," Afina hendak berjalan. Namun dihalangi tubuh Adnan. Agar Fina nemplok di punggung.


"Malu Pa," tolak Afina.


"Sekarang itu waktu belajar sayang... lihat. Mana ada orang diluar, semua di kelas kan..." kata Adnan tanpa menoleh ke belakang.


Afina pun nemplok ke punggung Adnan. Gadis kecil itu menempelkan pipinya di badan sang papa. Sudah beberapa bulan terakhir memang Fina tidak melakukan momen ini. Karena Afina kini bukan anak tk lagi. Ia malu dengan teman-teman jika ada yang melihat. Padahal jujur. Afina pun ingin selalu sedekat ini dengan sang papa.


"Sudah sampai..." kata Adnan ketika sampai di mobil kemudian berjongkok menurunkan Afina.


Tut.


"Masuk sayang..." titah Adnan, sambil membuka pintu. Fina duduk di depan di samping pengemudi yang tak lain Adnan sendiri.


"Fina... kamu sakit sayang....kepalanya pusing, atau..."


"Fina nggak sakit Pa, tadi kan Fina sudah bilang, tapi yang sakit Mama... hu huuu..." Afina menangis setelah menahan sejak tadi.


"Mama... kamu tahu darimana?" Adnan pun menghentikan mobilnya karena ia melewati jalan alternatif yang sepi.


"Kapan Fina bertemu Oma?" Adnan mengusap kepala putrinya.


"Tadi pas istirahat," Fina mengusap air mata dengan punggung tangan.


Adnan menarik napas panjang. Ia tampak kesal kenapa juga mantan mertuanya itu harus bicara tentang Bella pada Fina. Padahal Adnan sengaja menyembunyikan pada Afina agar tidak kepikiran.


"Terus... Oma bilang apa?" tanya Adnan. Ingin tahu maksud Andini. Apakah beliau tidak tahu jika tindakannya itu akan mengganggu psikis Fina.


"Kata Oma... Papa disuruh menjemput Mama Bella. Ayo jemput Pa, Fina mau ketemu Mama. Fina mau minta maaf," paksa Afina menggoyang lengan Adnan sambil menangis. Fina tentu tidak tahu apa-apa, yang ia tahu bahwa Bella itu adalah Mama kandungnya.


"Fina... sekarang dengarkan Papa," Adnan pindah duduk satu kursi dengan Fina, kemudian mendudukan Fina ke pangkuan. Semakin bertambahnya usia. Afina tidak seperti saat tk dulu. Kini sudah mulai bingung dengan situasi, mengapa kedua orang tuanya harus berpisah. Fina akhir-akhir ini lebih sensitif dan emosional. Mudah dipengaruhi, dan mudah dihasut, oleh orang yang sengaja punya kepentingan pribadi.


"Papa minta maaf, Papa memang salah, karena nggak memberi tahu Fina, kalau Mama Fina sakit. Tetapi... Papa melakukan ini, karena Papa tidak mau anak Papa sedih. Ya, seperti sekarang ini," Adnan menyentuh hidung mancung Fina yang masih misek-misek menangis.


"Tapi... Papa bisa menjemput Mama kan?" Fina mulai tenang.

__ADS_1


"Masalahnya... bukan bisa, nggak bisa sayang... sekarang Papa mau tanya. Fina sanyang nggak sama Bunda?"


"Sayang..."


"Nah... sekarang Papa mau jelaskan. Bisa saja Papa menjemput Mama Bella besok, atau hari ini, sekalipun. Tapi masalahnya bukan waktu," Adnan menunduk menatap lekat wajah Fina yang sudah tidak menangis lagi.


"Tapi masalahnya, Papa tidak pantas sayang... jika Papa melakukan itu, banyak hati yang tersakiti. Mama Bella saat ini sudah ada Om David. Jadi... Om David yang berhak mengantar jemput Mama Bella," Adnan memberi gambaran yang jelas.


"Dan tugas Papa, menjaga kamu, menjaga dedek Dafa, dan juga menjaga Bunda Sabrina. Jika Papa menjemput Mama Bella, pasti Bunda akan sedih. Fina nggak mau kan... Bunda sedih?"


"Nggak mau..." Fina menggeleng cepat. Ia lebih tidak ingin Bundanya sedih.


"Nah... sekarang... Fina memang belum mengerti, mengapa Papa dengan Mama Bella berjauhan, jika Fina sudah lebih besar nanti, pasti akan mengerti," Adnan menjelaskan panjang lebar.


"Kemarin kan kita sudah janji, kalau liburan nanti kita akan menjenguk Mama,"


"Iya Pa"


"Sekarang kita pulang saja," Adnan pun menjalankan mobilnya kembali.


...***********...


"Oh... Tante Dini tadi datang ke sekolah Mas?" tanya Sabrina. Ketika sudah sampai di rumah, Adnan menceritakan kepada Sabrina.


"Iya Yank, aku kesel banget, apa sih?! Maunya mantan mertua aku itu? Seperti anak kecil saja!" kata Adnan geram. Ia sedang siap-siap berangkat mendatangi mantan mertuanya akan minta penjelasan.


"Aku juga khawatir Mas, jika Afina terus-terusan di pengaruhi akan kebingungan," jawab Sabrina.


"Nanti Mas jangan kasar loh, bicara sama Tante Dini," pesan Sabrina.


"Aku berangkat Yank," Adnan segera berangkat. Sabrina mengantar sampai teras sambil menggendong Dafa.


Sabrina menatap kepergian suaminya hingga pagar di tutup oleh bibi. Ibu muda itu duduk di teras memandangi teriknya matahari. Sebelum menikah dengan Adnan, yang Sabrina pikirkan hanya Fina. Anak itu ternyata mampu menariknya ke suatu kehidupan yang tidak pernah Ina bayangkan ketika remaja. Mempunyai suami yang sudah pernah gagal menikah ternyata tidak mudah. Sabrina harus di hadapkan dalam persoalan yang rumit. Banyak yang merecoki kerukunan rumah tangga nya. Yang membuat Sabrina kuat adalah, dukungan dari mertua yang sangat menyayangi.


Saat ini tugas Sabrina yang berat adalah membuat Afina jangan sampai terombang ambing. Bingung memilih antara Adnan dan Bella.


Sabrina ke kamar Afina. Namun sebelumnya menidurkan Dafa di box, kemudian ambil handphone, satu-satu cara agar bisa membuat Fina tenang hari ini adalah telepon Bella.

__ADS_1


.


__ADS_2