
Adnan menggendong putrinya ke taman yang masih di halaman rumah, kemudian mengajaknya duduk ditaman di atas rerumputan yang hijau memandangi kucing hitam yang montok.
"Kucingnya sudah berapa hari nggak mandi sayang..." Adnan menghibur putrinya. Ia tahu setiap Afina sedang sedih jika di ajak kesini dia akan terhibur.
"Meoong... meoong..." Begitu melihat Afina kucing hitam itu berlarian di dalam kandang hendak keluar.
"Keluarin kucingnya Pa, Fina yang memandikan ya," Afina sudah muali terhibur.
"Okay... kita mandikan," Adnan membuka pintu kandang, kemudian berlalu ambil perlengkapan mandi kucing.
"Meoong..." Begitu kandang di buka empus pun loncat menghampiri Afina, menggosok-gosokan pipinya ke kaki Afina.
"Pus... sini-sini," Afina menggendong empus.
"Sini... kita mandikan empus nya," Adnan siap selang sabun, dan handuk.
"Fina yang nyabunin ya Pa," Fina bersemangat.
"Boleh..." Adnan membiarkan Afina menyabuni kucing, setelah disemprot air dengan selang oleh Adnan. Adnan mengamati Afina yang mengajak bicara empus tersenyum. Karena berhasil menghibur putrinya dengan cara memandikan kucing piaraan Sabrina dan Afina. Kucing hitam pengganti kucing yang mati dua tahun yang lalu.
"Meoong..." kucing yang biasanya takut air, tetapi yang ini berbeda. Nyatanya empus senang karena memang sudah biasa dimandikan.
"Sudah wangi... pasti Bunda seneng banget ini Pak," Fina tahu yang biasa memandikan empus adalah Sabrina.
"Pasti dong..." Adnan menggosok kucing dengan handuk hinga kering.
"Pa kenapa kucingnya nggak dilepas saja sih... orang-orang kan kalau piara kucing nggak ada yang dikurung," usul Fina.
"Boleh saja, tapi harus di pakaikan pampres sayang, kalau nggak, kucing kan pipisnya kemana-mana," saran Adnan.
"Ya dech kita ke dalam Pa," pungkas Afina. Afina menggendong kucing membawa nya ke kamar.
"Kamu diam disini ya," Afina menurunkan di karpet kemudian memasangkan pampres, dipakein baju lucu milik Fina ketika masih bayi. Empus di dandani seperti layaknya anak-anak oleh Afina.
Ya. Fina saat ini bisa melupakan apa yang terjadi pada mama nya.
Sementara di dapur Sabrina sedang ambil air minum. Ia sudah selesai memandikan Dafa melihat suaminya kaosnya sedikit basah kemudian menghampiri.
"Darimana Mas, kok kaos Mas basah sih?" tanya Sabrina ketika Adnan menyimpan ember di gudang dekat dapur.
"Memandikan kucing sama Fina, biar dia senang, aku tadi sempat kaget Yank, ketika Afina menangis," tutur Adnan.
__ADS_1
"Iya Mas, lain kali kita jangan membicarakan Bella lagi ketika ada Fina," Sabrina pun merasa bersalah karena dialah yang awalnya mengajak Adnan ngobrol masalah Bella.
"Mas... demi kebaikan semua apa tidak sebaiknya... Mas mencabut laporan tentang penculikan Fina," Sabrina tidak kuat melihat hati Afina terluka.
Adnan tidak menjawab ia bersandar di tembok.
"Mas... pasti saat ini Mbak Bella sudah berkumpul dengan suaminya, toh David tidak akan mengijinkan Bella berbuat macam-macam. Lagi pula Mbak Bella akan berpikir dua kali untuk mengulang kesalahan yang sama," Sabrina menjelaskan panjang lebar.
"Nggak tahu In, saat ini aku belum bisa memutuskan," lirih Adnan. Sabrina tersenyum mendengar sikap Adnan sudah tidak meluapkan emosi ketika mendengar nama Bella. Sabrina mengusap pundak suaminya.
"Sekarang Fina kemana Mas" Sabrina baru menyadari jika Afina tidak bersama Adnan.
"Di kamarnya," singkat Adnan.
"Oh kalau gitu... aku mandi dulu ya Mas, kalau Dafa bangun... tolong di gendong,"
"Ya," pungkas Adnan kemudian menggendong tubuh Istri nya menapaki anak tangga ke kamar mandi.
"Mas... ih," Sabrina pun pada dasarnya senang di perlakukan seperti ini tetapi ia malu jika di lihat Afina.
...*******************...
"Buk buk buk!
"Siapa kamu?! Jawab!!! Jika tidak.... saya akan menyeret kamu keluar!" ancam Bella.
"Seharusnya saya yang harus bertanya pada Anda? Anda ini siapa?" Wanita itu balik bertanya.
"Oh iya, Anda harus tahu, saya ini istrinya David sudah menikah satu tahun yang lalu. Lihat bayi yang saya kandung ini adalah buah cinta kami," Wanita itu pada dasarnya lembut.
Jedeeerrrr.
Bak disambar petir Bella mendengarnya.
"Saya tidak percaya! Saya ini istrinya, kami sudah menikah sejak 5 tahun yang lalu, jadi jangan mengaku-ngaku!" tandas Bella.
"Saya berani sumpah, saya ini istrinya David," wanita itu mengacungkan dua jari.
"Saya tetap tidak percaya," sanggah Bella. Bella pun ambil tas slempang kemudain pergi dari tempat itu.
Bella menyetop taksi di pinggir jalan mendatangi perusahaan kecil milik David.
__ADS_1
Taksi pun akhirnya sampai tujuan setelah membayar, Bella tidak mau berbasa basi lagi lalu masuk.
"David ada di dalam?" tanya Bella kepada karyawan suaminya yang rata-rata pria.
"Ada Nona," sahut mereka.
Dengan membawa segudang amarah Bella pun ke ruang kerja David.
Tok tok tok
"Masuk"
Bella membuka pintu kemudian masuk ke dalam tampak David sedang di depan komputer belum menyadari siapa yang datang. Bella pun berdiri di samping meja kerja David.
"Bella... kapan kamu datang?" David menatap wajah Bella yang merah padam.
Plak!!
Tanpa David sadari satu tamparan melayang di pipi nya.
"Bella... kamu..." David mengusap pipinya ternyata tamparan Bella sakit juga.
"Katakan David? Siapa wanita yang berada di apartemen?" Bella menatap devil wajah David.
David bangkit dari kursi kemudian berjalan ke depan jendela. "Dia istri aku Bella" ujarnya tanpa menoleh.
"Apa? Kenapa kamu tega Dav! Kenapa, Dav?!" cairan bening luruh dari mata Bella.
"Maafkan aku Bella, setahun yang lalu orang tua aku menjodohkan aku dengan Angela," lirih David.
"Awalnya aku menolak, karena aku mencintai kamu Bella,"
"Omong kosong!" potong Bella.
"Dengarkan aku dulu Bella, jangan dipotong aku akan ceritakan semuanya," David menarik napas panjang.
"Sebenarnya sudah lama sekali orang tua aku ingin menjodohkan aku dengan Angela. Tapi aku selalu menolak, karena apa? Karena aku ingin menjaga perasaan kamu. Aku masih memberi pengertian kepada mommy agar tidak melanjutkan perjodohan ini. Tetapi mommy sudah sangat kecewa sama kamu Bella. Kamu tidak bisa di atur, kerjamu mabuk-mabukkan, keluyuran malam. Setahun yang lalu kamu pasti ingat, ketika kita bertengkar kamu justeru pulang ke Indonesia," David merasa sakit mengingat itu. David pun menceritakan semuanya pada Bella ia rasa sudah tidak ada yang perlu di tutup-tutupi. David merasa bersalah karena membohongi dua orang wanita, bahkan sampai saat ini Angela pun belum tahu jika David telah beristri.
"Aku susul kamu ke Indonesia dengan harapan kita bisa berdamai, tetapi tetap saja kita bertengkar, dan yang membuat aku sakit hati. Mama kamu selalu menghina aku, karena aku bukan orang kaya, selalu membandingkan aku dengan mantan suami kamu," tutur Davit panjang lebar. Selama bertahun-tahun harga dirinya di injak-injak oleh keluarga Bella.
Davit pun akhirnya pulang ke negara A seorang diri tanpa Bella. Dalam keadaan emosi David menerima perjodohan itu. Awalnya David tidak begitu saja menerima kehadiran istri keduanya mengingat cinta nya pada Bella. Tetapi ternyata Angela wanita baik. David menerima sosok yang sempurna pada diri istri keduanya, pengobat luka hati David yang selama bertahun-tahun semakin parah.
__ADS_1
.