
Tidak ada yang Djody dan Bella bicarakan serius setelah pertemuan itu. Mereka membawa anak-anak mereka pulang. Bella mengantar Fina pulang ke kediaman Adnan. Sementara Djody pulang ke rumah nya. Rupanya Djody merasa lidahnya kelu untuk berucap. Ternyata beda saat belum menanggung rasa seperti sekarang. Dulu Djody merasa bebas untuk berbicara bahkan tanpa sungkan mengatai Bella. Namun saat ini merasa harus berhati-hati tiap kali mengucap kata.
"Papa... Fina kok punya Mama sampai dua ya?" tanya Elma polos. Ketika sedang dalam perjalanan pulang. Djody menoleh cepat, tampak berpikir dulu ketika akan menjawab.
"Papa... kok diam saja," Elma tidak sabar menunggu jawaban.
"Oh... Tante Sabrina itu... Mama tiri Fina. Terus... Mama Bella... Mama kandung Afina." Djody menjawab diplomatis.
"Mama tiri itu seperti apa Pa?" Elma duduk bersila di jok. Yang awalnya menghadap ke depan, kini menghadap dimana papa nya duduk. Bocah itu rupanya penasaran dengan penuturan orang tuanya.
"Duh bagaimana ya..." Djody menggaruk tengkuknya terkekeh.
"Papa... kok malah tertawa sih!" protes Elma.
"Yang namanya ibu kandung... ibu yang melahirkan Elma, tapi... kalau ibu tiri... misalnya Papa Elma menikah lagi, berarti Elma punya Mama tiri?" Jono nerocos menjawab. Tidak tahu jika Djody melotot tajam. Jono hanya mesam mesem membuat Djody ingin menggetok jika tidak ada Elma.
"Oh... gitu ya Om," Elma puas dengan jawaban Jono.
"Kalau gitu... Papa menikah lagi saja Pa, biar Elma punya Mama tiri kaya Fina," polos Elma.
Sang supir di depan menahan tawa. Djody mengacungkan tinju terlihat dari kaca spion oleh Jono.
"Selain Fina, teman dekat kamu siapa lagi?" Djody mengalihkan pembicaraan.
"Ada Pa, namanya Talita, mereka kalau membawa bekal enak-enak Pa. Apa lagi Fina, bekalnya macam-macam dan rasanya enak-enak, nggak kaya Mbak Sati yang di rumah, tiap bawain bekal aku cuma roti terus," adu Elma.
"Ya... Elma bilang saja sama Mbak. Mbak Sati kan baru kerja sayang... jadi belum tahu apa selera Elma," nasehat Djody panjang lebar. Mereka pun akhirnya tiba di rumah peninggalan nenek. Rumah model tempo dulu memang sengaja tidak dirubah oleh Prayoga ayah Djody, agar tidak menghilangkan rumah adat. Membiarkan tanaman hias tumbuh subur yang dulu ditanam oleh nenek agar tidak menghilangkan keasrian rumah tersebut.
Jono memarkirkan mobil di bawah rimbunan pohon di halaman rumah. Nenek dan kakek adalah pendukuk asli. Tentu tanah nya sangat luas. Djody bersama Elma segera ke dalam. Rumah ini hanya satu lantai terdiri dari tiga kamar. Yakni kamar utama, kamar tamu, dan kamar Elma. Di bagian belakang dekat meja makan ada dua kamar yakni kamar Jono dan Satinah. Tentu kamar mereka tidak besar seperti kamar depan namun cukup luas untuk ukuran Satinah dan Jono.
"Pa... Elma ke kamar dulu ya," kata Elma. "Papa berangkat ke kantor lagi nggak?" Imbuh Elma. Djody saat ini mengelola cabang jasa ilustrasi rekonstruksi di Jakarta. Sementara di negara A. Djody serahkan pada Uncle adik mommy.
__ADS_1
"Iya sayang... nanti selesai ke kamar mandi, Papa langsung berangkat. Elma bobo siang dulu ya," pesan Djody.
"Okay..." pungkas Elma. Bapak dan anak itupun masuk ke kamar masing-masing. Djody membuka pintu kamar pribadi, membuka jas, kemudian ia sampirkan di sofa. Selesai melaksanakan ritual nya ke kamar mandi. Ia merebahkan tubuhnya sejenak.
Djody menatap langit-langit. "Papa menikah saja, supaya Elma punya Mama tiri kaya Fina" kata-kata itu terngiang di telinga. "Tidak semudah itu Nak" gumam Djody. Djody memang tidak memungkiri. Cinta dengan Bella? Jelas iya. Tetapi masalahnya, apakah Bella layak dijadikan Ibu pengganti untuk Elma? Sedangkan semua orang tahu siapa Bella. Benarkah Bella saat ini benar-bebar sudah berubah? Djody tentu ingin menikah sekali lagi setelah kematian istrinya terdahulu. Kegagalan David maupun Adnan mempertahankan rumah tangganya bersama Bella, sebenarnya sudah menjadi pelajaran bagi Djody.
Djody tidur miring memeluk guling pikiranya kemana-mana. Terlebih saat ini, Djody tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Namun Elma lah yang harus ia jaga. Banyak sekali kejadian ibu tiri yang kadang sadis, walaupun tidak semuanya. Contohnya istri Adnan yang begitu menyayangi Afina. Djody bangun dari tidurnya, ia mematut diri di depan cermin menyisir rambut, dan merapikan kaosnya. Sebelum akhinya keluar dari kamar.
"Jono" panggil Djody, ketika sampai di luar, tampak Jono sedang tidur pulas di balai yang terletak di bawah pohon belimbing. Walaupun cuaca cukup terik di luar pagar, tentu tidak di halaman rumah Djody yang di penuhi tumbuhan. Membuat siapapun yang berada di tempat itu mengantuk diterpa angin.
Djody pun akhirnya mengeluarkan mobilnya seorang diri. Walaupun kadang berbicara ketus pada Jono, tetapi tentu saja Djody tidak tega membangunkan supir nya yang suka ngeyel itu.
Ngeeennnggg...
Mobil berjalan cepat, membangunkan tidur Jono. Dengan mata yang masih merah Jono berlari ke samping, dimana tadi mobil sang bos ia parkir. Mata Jono melebar kala tempatnya kosong.
"Waduh... piye iki, wes-wes... alamat kena damprat ini," Jono mondar mandir sendiri.
Derap langkah sepatu pantofel milik Djody terdengar nyaring. Hingga ia sampai di depan ruangan Adnan. Ketika ngobrol kemarin, Adnan memberikan letak ruangan Adnan.
Tok tok tok .
"Masuk"
Terdengar suara berat dari dalam, Djody kemudian membukanya setelah mengucap salam dan dijawab oleh Adnan. Tanpa ragu-ragu Djody masuk, mata Elang nya menatap Adnan yang sedang bergijabu di depan komputer.
"Duduk Djod," kata Adnan lalu meninggalkan meja kerja mengajak duduk sahabat lamanya itu di sofa.
"Mau minum apa Djod?" tanya Adnan ia bermaksud memesan minuman melalui wa di kantin kampus.
"Tidak usah repot Nan, gw cuma mau sebentar," tolak Djody. Namun Adnan tidak menanggapi kemudian mengetik di ponsel memesan minuman.
__ADS_1
"Kayaknya penting banget? Ada apa?" Adnan menatap wajah Djody menangkap kegelisahan disana.
"Gw mau tanya serius mengenai Bella Nan," jawab Djody, kemudian ia curhat tentang keraguannya kapada Bella. Apakah Bella layak untuk dijadikan ibu dari anak nya.
"Wah wah wah! Jadi, ada yang sedang kasmaran nih ceritanya," kelakar Adnan.
"Ya... begitulah Nan," jawab Djody namun sedikit ragu.
"Tenang Djod, selama hampir dua bulan gw perhatikan, Bella benar-benar sudah berubah. Gw awalnya juga sangsi, ketika David mengatakan bahwa Bella sudah berubah dalam waktu sekejap" tutur Adnan. Saat Bella membawa Fina kemanapun. Adnan awalnya selalu mengikuti karena takut jika Afina terpengaruh sifat buruk Bella. Tetapi ternyata dugaan Adnan salah, Bella memang sudah berubah. Bahkan beberapa malam sempat menginap di rumah Adnan. Bella rajin shalat.
"Begitu ya Nan," Djody merasa lega.
"Jika loe memang berniat menikahi Bella mantapkan hati loe, shalat istikharah minta petunjuk," nasehat Adnan.
"Wajar Djod, gw pernah merasakan seperti loe. Karena wanita yang gw nikahi sekarang Istri Pilihan Putriku." sambung Adnan.
"Maksudnya? Loe awalnya nggak mencintai Sabrina?" selidik Djody.
"Sejak pertama kali gw bertemu Sabrina. Jujur, gw langsung jatuh cinta, tetapi gw masih trauma dengan pernikahan gw dengan Bella," Adnan bercerita panjang lebar.
"Nah jadi... kesimpulannya... ini sebagai contoh saja, jika loe memang serius dengan Bella, lebih baik loe cepat lamar Dia," nasehat Adnan.
"Okay Nan, gw bisa bertemu Dia dimana?" Djody belum tahu alamat lengkap Bella.
"Datangi saja, ke restoran Isabella, biasanya Dia disana," jawab Adnan.
"Okay... gw pamit Nan" Djody segera beranjak.
"Tapi minumannya belum di antar Djod," cegah Adnan.
"Tadi kan sudah gw bilang Nan, tidak usah pesan minuman," pungkas Djody sambil berlalu. Ia kembali menjalankan mobilnya menuju restoran Isabella.
__ADS_1
.