Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Kebakaran jenggot.


__ADS_3

Sambil menunggu dijemput orang tua nya, Fina dan Elma, dua anak manusia itu bercerita panjang lebar kas anak-anak. Ingin menyatukan orang tua mereka, agar menjadi satu keluarga.


Sementara di luar pagar, Adnan sedang berjalan bersama Djody setelah dari parkiran. Kedua pria yang sudah mapan dibidang materi itu sambil ngobrol.


"Jadi... loe nyerah memperjuangkan Bella?" tanya Adnan ketika Djody memilih mundur mendekati Bella.


"Gw nyesel Nan, sudah ngungkapin perasaan gw, toh yang terjadi justeru merusak hubungan persahabatan gw sama Bella," sesal Djody.


"Dengar Djody, loe itu belum seberapa, awal-awal gw resmi menikah dengan Sabrina. Bawaan gw itu cemburu, merasa gw sudah tua, sedangkan bini gw masih muda dan cantik." tutur Adnan.


"Terus..." kata Djody.


"Puncak pertengkaran gw saat itu, Sabrina sudah mengandung, lantas pendarahan di rumah sakit, dan itu terjadi karena keegoisan gw. Hampir saja, gw membunuh darah daging gw sendiri, karena kurang komunikasi. Rumah tangga gw pun nyaris berantakan," Adnan menyesal mengingat kala itu. "Tapi gw berjuang keras meluluhkan hati Sabrina bagaimana caranya agar rumah tangga gw jangan sampai berantakan," jujur Adnan.


"Terus..."


"Semenjak itu... gw kapok Djod, jangan sampai menyakiti hati bini gw, karena tanpa Dia, gw itu kecil... tidak sda apa-apanya,"


"Terus..."


"Terus! Terus...! sekarang perjuangkan Bella! jangan sampai menyesal seperti gw!" sungut Adnan. Mereka pun sampai di depan kelas mencari sosok putri mereka. Keduanya mengedarkan pandangan menangkap gadis-gadis kecil sedang asik ngobrol di taman.


"Elma... kita pulang yuk" ajak Djody.


"Iya Pa," Elma kemudian menggendong tas.


"Fina... aku pulang ya," pamit Elma.


"Okay... aku juga mau pulang kok, memang mau bobo-an disini. Hihihi..." Fina terkikik. Adnan dan Djody saling pandang, menyaksikan keakraban anak-anak mereka.


"Jangan lupa dua bulan lagi ya Fin..." kata Elma mengedipkan satu mata. Kedua bapak itu tersenyum. Anak-anak ternyata bisa menghibur kegalauan orang tuanya.


"Siip... pokoknya... rencana kita harus berhasil, tapi kamu harus sabar ya, El" pesan Afina. Elma mengacungkan jempol sambil berlalu digandeng Djody meninggalkan Al Inayah.


"Papa... kok telat jemput..." todong Afina ketika Adnan sudah menjalankan mobil perjalanan pulang juga.


"Maaf sayang... Papa bukan dari kampus soalnya, tapi dari rumah sakit mengantar Bunda sama dek Dafa," jawab Adnan.


"Rumah sakit... Bunda sakit Pa? Atau... dedek yang sakit?" tergambar kesedihan di wajah Fina.


"Nggak kok... dedek diimunisasi,"


"Oh... kirain Pa" Afina merasa lega.


"Oh iya, Papa jadi penasaran, ada rencana apa kamu sama Elma," Adnan melirik putrinya di sebelah.


"Ada deh... rahasia pokok nya," Afina terkikik.


"Kamu ini, main rahasia-rahasian sama Papa sekarang ya," Adnan mengusap kepala putrinya. Terkekeh.

__ADS_1


"Pa, menurut Papa... bagaimana kalau Om Djody itu menjadi Papa Fina. Jadi... Fina punya Mama dua, Papa dua," kata Afina menoleh Adnan yang sedang fokus dengan stir.


"Bagus itu, jadi kamu mau menjodohkan Mama Bella sama Om Djody?" Adnan melirik putrinya sekilas. "Kamu yakin akan berhasil," sambung Adnan.


"Nggak yakin sih... tapi siapa tahu," jawab Fina tersenyum menatap kedepan.


"Semoga kamu berhasil sayang...," Adnan menjawab ragu-ragu. Ia menoleh sebentar kemudian beralih ke stir. Adnan Flashback 4 tahun yang lalu ketika Fina masih tk nol kecil. Dan misinya untuk menjodohkan dirinya dengan Sabrina akhinya berhasil. Walaupun banyak batu sandungan, namun kelembutan Sabrina membuat Adnan akhirnya luluh. Tetapi saat ini Bella yang akan dijodohkan, tentu tidak akan mudah. Karena Bella wanita yang keras kepala, banding terbalik dengan Sabrina.


Keduanya saling diam, tidak terasa sampai di rumah. "Assalamualaikum..." Afina mengucap salam, menatap Sabrina yang sedang menggendong Dafa sambil digoyang-goyang.


"Waalaikumsalam..." Sabrina tersenyum.


"Dedek bobo ya, Bun?" Afina mendekati Dafa.


"Iya sayang... dari tadi dedek rewel...badanya panas," Kata Sabrina pelan agar tidak mengganggu tidur Dafa.


"Panas Bun?" Afina terkejut.


"Iya... tapi nggak apa-apa kok," Sabrina menjelaskan bahwa Dafa panas karena setelah imunisasi. Afina pun akhirnya ke kamar. Begitu juga Sabrina menidurkan Dafa di box perlahan-lahan.


"Rewel ya yank?" Adnan masuk ke kamar.


"Iya Mas," Sabrina pun terasa lelah kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Adnan kemudian menyusul.


"Capek ya," Adnan memeluk Sabrina dari belakang. Setelah buka puasa selama 40 hari, hingga usia Dafa sudah 4 bulan. Adnan mendapat jatah bisa dihitung. Namun ya sudahlah, Adnan mengerti kesibukan istrinya.


"Jangan tanya lagi Mas..." sahut Sabrina.


*************


Tiga bulan kemudian, hari ini awal Afina libur semester selama 10 hari. Hari ini ia sedang tinggal di rumah Bella, dan sedang bobo siang di kamar seorang diri.


Deeerrrtt... deeerrrtt...


Handphone Afina bergetar segera ia mengangkatnya ternyata Elma vidio call.


"Fin... nanti sore kami akan berangkat," kata Elma.


"Jam berapa Elma..." Fina terlihat kaget.


"Jam tiga, sekarang cepat temui Mama kamu," jawab Elma.


"Okay..."


**********


Di kamarnya Bella sedang gelisah, seiring berjalannya waktu ia semakin merindukan Djody, tapi Djody membuktikan ucapanya. Pria itu sama sekali tidak mau menemui dirinya lagi. Sebenarnya Bella ingin sekali telepon agar mendengar suaranya. Namun, gengsi tentu yang di rasakan Bella.


"Dasar! Laki-laki nggak mau usaha" gumam Bella kesal. Bella ingin Djody jangan menyerah, membuktikan ucapanya jika memang dia benar-benar mencintainya. Tapi selama tiga bulan Djody bak menghilang. Bahkan yang menjemput Elma pun selalu Jono supirnya

__ADS_1


"Dasar! Dasar! Cintamu palsu! Gombal doang,"


Buk, buk, buk.


Bella meninju-ninju bantal.


Tok tok tok.


"Mama..." panggil Afina dari luar.


"Iya... masuk saja, nggak dikunci," Bella menjawab dengan suara serak. Cepat-cepat ia menghilangkan jejak tangis mengusap air bening dengan tisue.


"Mama bangun bobo ya?" selidik Fina. Ia tahu jika mama nya baru saja menangis.


"Nggak pulas sih... nggak biasa tidur siang. Mama kan, biasanya hari gini ke restoran," Bella memang benar.


"Mama habis menangis?" tanya Fina lalu duduk di samping mama nya. Ia pegang tangan Bella kemudian Fina tepuk-tepukan di paha Fina.


"Nggak, kata siapa Mama menangis," tampik Bella.


"Mama kayaknya sedih gitu... pasti kangen sama Om Djody kan?" Afina menempelkan telapak tangan Bella ke pipi Fina.


"Hehehe... nggak lah, apa hubungannya Mama mikirin Om Djody," bantah Bella. "Lagian Fina tahu darimana kalau kangen lantas bersedih?" Bella menyembunyikan perasaan campur aduk.


"Fina tuh sudah paham Ma. Bunda Ina kalau lagi sedih mikirin Papa, suka menangis," tutur Afina.


"Itu kan karena Papa sama Bunda kamu, suami istri, sayang... wajar, kalau Bunda Ina sedih! Nah... sedangkan Mama, apa hubungannya, sama Om Djody," Bella masih gengsi mengakui.


"Oh iya Ma, Fina kesini tadi mau bilang, Elma, sama Om Djody kan mau pulang ke negara A," tutur Fina.


"Apa? Kamu kata siapa?" Bella terperangah.


"Kata Elma Ma, barusan telepon Fina" Fina tampak sedih.


"Jam berapa berangkatnya? Terus... dari bandara mana?" cecar Bella. Kemudian berdiri mengenakan celana panjang dan salin baju.


Afina menahan tawa melihat Bella dari belakang seperti kebakaran jenggot. "Maaf Ma" batin Fina.


"Katanya sih... jam tiga nanti Ma," jawab Fina. Dalam hatinya kasihan.


"Mama berangkat dulu ya," ucap Bella sambil berlalu.


"Yes!" gumam Fina. Setelah Bella keluar dari kamar.


"Ma, Mama mau kemana?" Afina mengejar Bella.


"Mama mau ke bandara sayang..." jawab Bella. Sambil berjalan cepat setengah berlari.


"Fina ikut Ma"

__ADS_1


.


"


__ADS_2