Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Ketahuan.


__ADS_3

Dengan berjalan kaki Sabrina bersemangat hendak menepati janjinya menemui wanita misterius. Ia sengaja tidak menumpang taksi karena lokasi yang di tunjukkan wanita misterius tidak jauh dari tempat tinggal nya. Beruntung suaminya sedang tidak ada, tentu tidak akan banyak merangkai cerita. Sudah pasti tidak di ijinkan pergi sendirian.


Sabrina memindai sekeliling ketika sampai di lapangan dekat taman. Banyak keluarga yang sedang berolah raga di tempat itu. Sabrina pun hampir setiap minggu olah raga disini bersama anak dan suaminya.


Sabrina melungguhkan bokong di kursi taman di tempat inilah mereka berjanjian dengan wanita itu. Namun rupanya yang mengatur rencana justru belum datang.


Sabrina mengerling tampak suaminya sedang melintas sambil berlari-lari memutari lapangan.


Deg.


Sabrina deg degan khawatir suaminya mengetahui jika ia berada di tempat itu akan gagal semua rencana nya. Lain cerita jika Sabrina sudah mengetahui seperti apa wanita itu tidak ada masalah.


Ia terus memantau suaminya dari jarak jauh hingga kira-kira setengah jam Adnan kembali ke luar dari area.


Sabrina merasa lega kemudian kembali membuka handphone siapa tahu wanita misterius menulis pesan kembali. Tetapi ternyata kosong lalu ia mengangkat kepalanya, mata Sabrina menyipit wanita yang memakai celana jins model pensil memakai kaos dan rambut tergerai, berjalan ke arahnya.


"Rasmini..."


"Mbak Sabrina..."


Keduanya sama-sama terkejut.


"Kamu suka olah raga disini juga?" Sabrina belum menyadari jika wanita yang di tunggu adalah Rasmini.


"Kadang-kadang Mbak Sabrina, kalau lagi ada waktu senggang," jawab Rasmini.


"Duduk sini Ras sudah selesai olah raga belum?" Sabrina menunjuk kursi di sebelahnya.


"Sudah Mbak, cuma masih menunggu seseorang," jawab Rasmini kemudian duduk bersebelahan dengan Sabrina.


Sabrina menatap Rasmini apakah yang sering telepon ke hp miliknya adalah Rasmini? Oh tidak mungkin! Sabrina menepis anggapan nya sendiri. Namun ia akan menyelidiki.


"Mbak Sabrina hamil sudah berapa bulan?" Rasmi memandangi perut Sabrina.


"Alhamdulillah... sudah tujuh bulan," Sabrina menunduk mengusap perut nya.


"Syukurlah... saya jadi ingat ketika itu Mbak. Mbak sampai di rawat karena pendarahan,"


"Iya Ras, aku juga beryukur semua ini tidak lepas dari peran suami saya yang selalu sayang dan siaga ketika bayi di perut aku rewel," Sabrina tersenyum, mengingat perubahan suaminya yang signifikan.


"Bukankah... ketika Mbak Sabrina di rawat tiga bulang yang lalu itu, suami Mbak nggak menunggui?" Rasmini heran suami seperti itu di bilang siaga.


"Kan saya sudah bilang Ras, ketika itu suami aku sedang ke luar kota," kilah Sabrina. Mereka ngobrol ngalor ngidul hingga melupakan tujuan mereka masing-masing.

__ADS_1


Rasmini melihat handphone satu jam lebih ia disini tetapi pangeran ganteng belum juga datang. Ia berpikir apakah pria itu membohonginya? Rasmi bertanya dalam hati.


Melihat kegelisahan Rasmi Sabrina semakin curiga bahwa yang berjanji denganya tadi memang Rasmi. Dugaan Sabrina semakin kuat, sebab Rasmi bekerja di kampus milik suaminya. Bukan tidak mungkin jika suaminya dengan Rasmi pernah bertemu. Lalu Rasmi minta nomer handphone kemudian suaminya memberi nomor hp miliknya.


Keduanya saling diam larut dalam pikiran masing-masing.


"Ras, kok kamu gelisah begitu... kenapa?" Sabrina menyelidik.


"Aku tadi janjian dengan seseorang tapi sudah satu jam menunggu tidak datang juga," Rasmi tampak kecewa.


"Laki-laki atau perempuan?" cecar Sabrina.


"Laki-laki," Rasmi menunduk.


"Pacar?" desak Sabrina.


Rasmini menggeleng. Sabrina tersenyum menatap Rasmi yang sedang menunduk terjawab sudah kecurigaanya.


"Kenapa nggak kamu chat ulang Ras, siapa tahu di jalan macet," saran Sabrina. Sabrina tahu ternyata Rasmi memang jatuh cinta kepada suaminya di lihat dari raut wajah yang sangat kecewa ketika yang di tunggu-tunggu tidak juga datang. Walaupun perasaanya mengatakan memang Rasmi orang yang mengagumi suaminya, tetapi ia ingin lebih yakin.


Rasmini tidak menjawab tetapi menuruti saran Sabrina. Ia tampak mengetik sesuatu tanpa gadis hitam manis itu tahu bahwa Sabrina sudah mantengin handphone miliknya.


Nomor misterius sedang mengetik.


"Mas Adnan... lama banget datangnya." tampak stiker yang sedang sedih.


Sabrina tidak membalas pesan tersebut. Karena terjawab sudah kecurigaanya bahwa Rasmi lah orang nya. Namun Sabrina tetap positif tidak menampakan kecurigaan nya kepada Rasmi.


"Di balas nggak Ras?" tanya Sabrina pura-pura tidak tahu.


"Engga," Rasmini menggeleng.


"Oh mungkin macet Ras, positive thinking dong... tunggu saja, mungkin sebentar lagi datang" Sabrina tersenyum.


Tunggu Ras, akan ada kejutan untuk kamu.


"Mbak juga menunggu seseorang ya?" pertanyaan itu keluar juga dari mulut Rasmi.


"Iya, tepatnya suami aku," Sabrina menjawab santai.


"Bagusnya ada Mbak Sabrina, kalau tidak aku pasti sudah pulang,"


********

__ADS_1


Sementara Adnan ia baru sampai di rumah kemudian ke kamar, tetapi tidak ada istri nya disana. "Pasti di dapur membantu bibi, ah anak itu dibilangin tidak boleh capek-capek tapi ngeyel," gerutu Adnan seorang diri, kemudian ambil handuk lalu mandi.


Selesai mandi ia ambil kaos yang sudah di siapkan istrinya. Ia sisir rambut nya hingga klimis berniat sarapan setelah olah raga perutnya terasa lapar. Namun sebelumnya ia ke kamar putrinya terlebih dahulu.


Ceklak.


"Papa... Papa sama Bunda tadi kemana?" Afina manyun pasalnya ketika bangun tidur tadi mencari kedua orang tuanya tidak ada.


"Papa juga lagi mencari Bunda kok, Papa pikir dikamar kamu," Adnan memegang pundak Afina.


"Terus tadi Papa kemana kalau perginya nggak sama Bunda," Afina sedih, seketika ingat sang bunda pergi dan ternyata ke rumah sakit ketika itu.


"Pa, tapi Bunda nggak sakit kan?" Afina balik badan.


"Mudah-mudahan tidak sayang... sekarang... daripada kita bingung lebih baik telepon Bunda, yuk," ajak Adnan.


"Ya deh"


Afina mengikuti Adnan ke kamar yang sedang ambil handphone.


"Sini sayang..." Adnan mengajak Afina ke tempat tidur miliknya kemudian ambil handphone yang tergeletak di ranjang.


Namun ketika hendak telepon ada beberapa pesan dari Sabrina.


"Oh ini Bunda barusan kirim pesan sayang..." Adnan membaca pesan Sabrina mengatakan bahwa ia sedang di taman xxx.


"Mas... tolong jemput aku ya," begitulah kata terakhir yang di tulis Sabrina.


"Bunda pesan apa Pa?" Fina ingin segera tahu keberadaan Bundanya.


"Bunda minta dijemput, sekarang papa menjemput Bunda dulu ya, nanti setelah ini kita sarapan bareng atau kamu sarapan saja dulu, sekarang sudah jam delapan loh," Adnan melihat arloji di lengannya.


"Iya deh, Papa segera menjemput Bunda, Fina sarapannya nanti saja," pungkas Fina.


Sementara Adnan ambil kunci mobil kemudian berjalan cepat menuruni tangga hendak ke garasi.


"Bi, tolong ambilkan sarapan untuk Afina, terus antarkan ke kamar ya, kasihan dia nanti kesiangan," pesan Adnan sambil berjalan ke garasi.


"Baik Tuan" Bibi mengikuti tuan nya, lalu berpisah Adnan ke garasi, kemudian bibi membuka pagar. Adnan berangkat hanya lima menit sudah sampai tujuan. Adnan turun dari mobil yang ia parkir di pinggir lapangan. Ia pencet remote setelah terkunci berjalan ke taman.


Dari ke jauhan sudah terlihat istrinya sedang ngobrol dengan seorang wanita Adnan tersenyum kemudian mendekat.


.

__ADS_1


__ADS_2