
Adnan membawa sarapan ke kamar meletakan di meja sofa.
"Sarapan yuk" ujarnya.
"Nggak lapar!" ketus Sabrina.
"Heee... jangan ngambek dong, kamu mau dengar cerita aku nggak? Tentang Rasmi yang kamu cemburui itu" Adnan naik ke ranjang dimana Sabrina tiduran miring tidak memperhatikan dirinya.
"Aku keseeeellll... kenapa Mas kasih nomor hp aku ke Rasmi, tapi Mas nggak mau jujur," tandas Sabrina.
"Aku lupa Yang, kejadian itu sudah tiga bulan yang lalu ketika kamu masuk rumah sakit," jawab Adnan sambil mengusap pungung Istri nya.
"Iya, aku waktu itu di rawat, terus kamu enak-enakan kenalan sama wanita lain, Mas nggak tahunya menduakan aku," Sabrina kesal.
"Dengar dulu In, maaf karena aku tidak pernah cerita sama kamu bagaimana awal aku bertemu Rasmi, karena menurut aku tidak penting." Adnan menceritakan saat pertama kali bertemu Rasmi di pesawat. Ketika sedang kalut memikirkan Sabrina hilang, hingga menabrak Rasmi yang sedang menyeberang tanpa ia tutup-tutupi.
"Apa? Jadi... yang menabrak Rasmi hingga tulangnya patah waktu itu Mas, orangnya?" Sabrina seketika bangun menatap lekat suaminya.
"Nah itu kamu tahu, kamu tahu darimana?" Adnan mengerutkan dahi.
"Tahu nggak Mas, waktu itu kan aku di rawat satu ruangan sama Rasmi, kami tukar cerita, orangan sebernarnya asyik sih Mas," Sabrina merasa bersalah sudah mempermalukan Rasmi tadi.
"Masa sih, tapi kenapa ketika aku baru sampai kamu di rawat di VIP?" selama ini Adnan tidak menanyakan masalah ini.
"Kan dipindah sama Ayah Mas," Sabrina menjelaskan panjang lebar.
"Terus Mas tahu kan! Kalau Rasmi suka sama Mas?" Sabrina merengut.
"Tahu, makanya ketika Rasmi minta nomor handphone aku, aku awalnya nggak mau memberikan.Tetapi Dia maksa terus ngancem-ngancem gitu, aku kan takut masuk penjara In, karena sudah menabrak Dia, makanya aku kasih nomor hp kamu. Sebernarnya aku mau cerita sama kamu saat itu, tapi aku lupa," Adnan menjelaskan panjang lebar.
"Jujur Ina, selama hidupku, aku pernah jatuh cinta hanya dua wanita. Dulu aku pernah mencintai Lastri, dan seiring berjalannya waktu cinta aku hilang karena Lastri sudah menjadi milik Arman, dan pada akhirinya aku mencintai kamu, tidak akan tergantikan oleh siapapun. Makanya kamu jangan pernah curiga aku seupil pun tidak ada rasa apa lagi sampai mencintai wanita yang bernama Rasmini," jujur Adnan.
"Iihh jorok!" Sabrina meninju lengan suaminya pelan.
"Kok jorok?"
"Itu bilangnya seupil!"
"Ah kamu ini, itukan istilah In, intinya aku dengan Rasmi tidak ada apapun, titik."
__ADS_1
"Tapi... terus bagaimana Mas, aku nyesel sudah mempermalukan Dia tadi," sesal Sabrina.
"Sudah... jangan dipikirkan, yang kamu lakukan sudah benar, itu artinya kamu cemburu sama aku," Adnan mengulum senyum.
"Tapi kan cemburu nya aku beda Mas, nggak ngawur kaya Mas Adnan," Sindir Sabrina.
"Sudah ah! Jangan suka mengungkit yang sudah ya sudah. Sekarang kita sarapan" tegas Adnan.
"Bukan sarapan kali Mas, sudah mendekati makan siang kok," Sabrina memang benar sebab saat ini sudah jam 11 lewat.
"Duh! Kasihan si dedek tuh," pungkas Adnan. Mereka lantas sarapan yang awalnya sewot tadi sudah kembali membaik.
********
Malam berlalu tergantikan pagi, Adnan sudah siap-siap ke kampus berangkat bersama Fina. "Papa berangkat sayang..." Adnan mencium perut buncit Sabrina.
"Hati-hati Papa..." Sabrina menunduk memegang kepala suaminya.
Afina yang masih berdiri di tangga melihat kedua orang tuanya tersenyum senang. Afina selalu berdoa agar papa dan bunda tidak bertengkar lagi terkabul.
"Fina... kamu kok berdiri di situ... sini Nak," Sabrina melambaikan tangan.
Seperti biasa Adnan mengantar putrinya ke sekolah terlebih dahulu. Baru kemudian ke kampus.
Adnan terperangah kala netranya menangkap sosok seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu ruangan. Siapa lagi jika bukan Rasmini. Wanita itu rupanya masih belum puas kemudian mendatangi kantor Adnan.
"Ngapain kamu kesini?!" ketus Adnan. Menatap Rasmi mengintimidasi.
"Kenapa Mas tega banget sama aku?!" tandas Rasmi tergambar jelas kesedihan di wajah nya.
"Tega? Memang saya ngapain kamu? Selama ini saya tidak pernah merasa berbuat salah sama kamu, selain menabrak itupun karena saya tidak sengaja dan kami sudah bertanggungjawab," Adnan berdiri agak jauh dari Rasmini.
"Kenapa Mas, harus memberi nomor hp milik Sabrina? Mas sengaja kan! Mau mempermalukan aku! Aku benci sama Mas!" Rasmi mengeluarkan isi hatinya. Sesekali mengusap air matanya padahal matanya sudah bengkak karena menangis sejak kemarin hingga semalaman.
"Loh kok kamu menyalahkan saya, kamu yang memaksa minta nomor handphone padahal saya sudah menolak," Adnan berusaha meluruskan.
"Rasmini... sudahlah... jangan menyakiti diri kamu sendiri sampai menangis begitu, memang istriku salah apa sama kamu?"
"Bukan Istrimu yang salah! Tapi kamu!" pekik Rasmini.
__ADS_1
"Saya?" Adnan menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa kamu dulu tidak pernah bilang kalau sudah punya istri?!" Rasmini sangat kecewa.
"Tunggu-tunggu, memang apa urusan kamu? Kenapa juga saya harus bicara sama kamu tentang keluarga saya, toh nggak ada untungnya kan buat kamu!" Adnan tersenyum miring.
Mendengar kata-kata Adnan hati Rasmini semakin sakit. Ia tatap nyalang wajah Adnan yang awalnya cinta berubah menjadi benci.
Adnan tidak mau ribut lagi kemudian membuka kunci ruangan.
"Aku benci sama Mas!" Rasmi pun pergi meninggalkan tempat itu.
Ia berjalan menjauh hari ini tidak mood untuk bekerja. Rasmini berjalan menyusuri hutan yang sepi di dekat kampus. Ia ingin menyendiri. Hutan ini yang biasa digunakan untuk berkemah anak-anak sekolah AL INAYAH, maupun outbound para mahasiswa.
"Hu huuu..." Rasmini duduk di akar menumpahkan tangis. Ia ambil tisue di dalam tas, yang hanya tersisa sedikit. Entah mengapa penolakan Adnan membuat hatinya seperti tersayat sembilu. Kini ia benar-benar putus asa. Entah akan kemana ia pergi agar tidak lagi bertemu Adnan yang sudah membuat hidupnya tidak ada gunanya. Pulang kampung? Oh tidak... Rasmi tidak ingin menikah dengan pria tua bangka pilihan orang tuanya untuk pelunas hutang.
"Srooot... srooot..." ia susut ingus dengan tisu kemudian melempar.
"Hu huuu..." ia duduk memeluk lutut air mata bercucuran membasahi celana jins.
Ia hendak ambil tisue kembali namun ternyata tinggal bungkusnya saja.
"Hiks hiks hiks"
"Srooot..." ia susut ingus dengan kaos.
"Idiiihhh... jangan jorok dong! Ini pakai sapu tangan aku," seorang pria berdiri di depan Rasmini memberikan sapu tangan yang ia rogoh dari kantong.
Rasmini mendongak menatap pria itu lalu menarik sapu tangan tanpa mengucap terimakasih.
"Sroootttt...."
"Heh! Jorok sekali sih kamu!"
*******
"Siapakah kira-kira pria itu???? 🤣🤣🤣. Next episode. 💪💪💪 ❤❤❤.
.
__ADS_1