Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Rindu berat.


__ADS_3

"Bundaaa... dedek Dafa nangis..." seru Afina dari lantai dua. Bella mendengar suara Fina mendongak ke atas menatap Fina yang sedang pegangan pagar. Rasanya ingin segera berlari menubruk putrinya. Namun apa lah daya, saat ini Bella berada di rumah orang. Afina tidak begitu memperhatikan siapa tamu bundanya. Karena pandanganya tertuju pada Sabrina. Begitu juga dengan sabrina. Ia menatap ke atas ingin melambaikan tangan agar Fina cepat turun, tetapi Fina buru-buru berlari. Wajar, ia khawatir sebab Dafa sedang menjerit-jerit.


"Bentar Nak," sahut Sabrina. Sabrina beralih menatap Bella.


"Mbak Bella, tunggu sebentar ya, sekalian saya panggilkan Afina," ujarnya seketika berdiri.


"Terimakasih In," Bella menatap Sabrina saat menapaki anak tangga satu persatu, hingga tidak terlihat lagi.


"Oeeekkk... oeeekkk..." suara tangis Dafa cukup kencang ketika Sabrina sampai di lantai dua. Sabrina mengecek popok Dafa, ternyata tidak basah. Jika begini sudah pasti ingin minum asi.


"Cuuup... ayo, digendong sama Bunda ya, capek main sama kakak, ya..." Sabrina mengangkat tubuh Dafa sambil mengajaknya bicara.


"Dedek pipis ya Bun?" tanya Fina memegangi kaki mungil Dafa dalam gendongan Sabrina.


"Nggak kok, dedek cuma capek bermain, terus minta di gendong," Sabrina tersenyum menatap wajah Afina.


"Fina... Bunda ada kejutan buat kamu," kata Sabrina, kemudian duduk menyusui Dafa.


"Kejutan apa Bun? Kado ulang tahun ya?" tanya Afina, karena seminggu lagi usia Afina genap delapan tahun.


"Bukan, tapi lebih dari itu. Mama Bella ingin bertemu sama kamu. Mama menunggu di bawah loh," tutur Sabrina, mengusap kepala Fina.


"Mama di bawah? Mama pulang ke Indonesia Ma?" tergambar keceriaan di wajah Fina.


Sabrina mengangguk.


"Sekarang... temui Mama dulu gih, Bunda nidurin dedek Dafa dulu, nanti Bunda menyusul," titah Sabrina.


"Iya Bun" Afina segera membuka pintu meninggalkan Sabrina yang masih belum mengalihkan tatapanya pada Fina. Sabrina boleh senang Afina bertemu Bella. Tetapi Sabrina sebenarnya menyembunyikan kegelisahan semoga Bella tidak seperti dulu. Menculik Fina kembali.


sementara Afina menuruni tangga dengan tergesa-gesa ingin segera bertemu mama. Afina ingin segera minta maaf. Ketika sudah dekat, Fina menatap sang mama sedang memainkan ponselnya.


"Mama..." panggil Fina bersemangat.


"Fina..." Bella segera beranjak dari duduk nya. Di rangkulnya bocah yang biasanya hanya ia ajak bicara melalui video call itu. Kini bisa bertemu langsung.


"Fina... Mama minta maaf,"


"Mama... Fina minta maaf."

__ADS_1


Kata terucap dari bibir mereka secara bersamaan.


"Mama yang minta maaf sayang... Mama waktu itu menterlantarkan Fina, Mama pergi malam-malam, tapi Mama sekarang berjanji tidak akan meninggalkan Fina lagi," Bella berkata jujur. Keduanya saling memaafkan.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam..."


Adnan sudah tiba di rumah sambil menenteng tas. Fina segera menyandak telapak tangan Adnan menciumnya. Adnan menatap Bella sekilas, yang ditatap tidak berkata apapun hanya menunduk rasa takut mendomonasi, karena khawatir Adnan akan marah seperti biasanya.


"Papa mandi dulu sayang" ucapnya tidak menyapa Bella. Namun begitu, Adnan tidak begitu khawatir akan keberadaan Bella, karena sudah mendengarkan cerita David.


"Iya Pa"


Adnan segera ke atas. Bella menatapnya tidak berkedip, merasa lega karena Adnan tidak mengusirnya seperti sebelumnya. Mama dan anak itupun kembali ngobrol dengan suasana yang berbeda tidak seperti biasanya yang menegang satu sama lain.


Sementara di kamar atas. "Mas... kira-kira... Mbak Bella akan membawa kabur Fina nggak ya," Sabrina masih gelisah. Saat ini sedang menyiapkan baju santai untuk suaminya.


"Tenang saja Yank, tadi aku sudah bertemu David di restoran Papa, kata David... Bella sudah berubah lebih baik," Adnan bercerita panjang lebar seperti yang di ceritakan David.


"Jadi... Mbak Bella dengan David sudah bercerai Mas? Ya Allah... kasihan sekali nasib Bella Mas," sesal Sabrina.


"Sudahlah Yank, tidak usah di pikirkan, itu urusan mereka," jawab Adnan.


"Iya sayang..." Adnan beristirahat di ranjang, setelah mencium pipi istrinya. Sedangkan Dafa sedang pulas di box. Sabrina segera ke dapur semua sayuran sudah di siapkan bi Aya, Ina tinggal memasak saja.


"Sedang memasak apa Ini?" Bella menghampiri Sabrina ke dapur.


"Hehehe... masak seperti biasa saja Mbak Bella, masakan sehari-hari." jawab Sabrina yang sedang meracik bumbu.


"Aku bantu ya In, sekalian mau belajar," Bella menyandak sodet kemudian membantu Sabrina menumis bumbu sambil ngobrol ngalor ngidul, hingga masakan matang.


Bella di rumah Sabrina hingga malam kemudian di lanjutkan makan malam bersama. Walapun masih kaku, Adnan dan juga Bella sudah ada perkembangan sedikit demi sedikit saling sapa. Di meja makan pun menjadi ramai tidak seperti biasanya, Afina selalu berceloteh. Anak itu merasa senang mempuanyai mama dan Bunda.


***********


Hari berganti hari, Bella sering menjemput Fina di sekolah. Bahkan sering mengajaknya menginap di rumah Bella. Bahkan David sudah kembali ke negara A.


Sementara David di negara A, saat ini sedang bermain dengan Danial di dalam kamar.

__ADS_1


"Dav, sebelum Bella pulang ke Indonesia memberi kado, kira-kira apa isinya ya," Angela sebenarnya penasaran dengan isi kado itu. Namun ia belum berniat membukanya jika David belum datang.


"Buka saja sayang... kenapa tidak kamu buka dari kemarin?" jawab David sambil rebahan mengusap-usap tangan Angela, yang masih memegangi kado.


"Baiklah" tangan putih itu segera membuka kado, sebelum melihat isi kado Angela ambil lipatan kertas paling atas.


"Ada suratnya Dav," Angela membuka lipatan kertas dan segera membacanya.


**Angela... aku berikan perhiasan ini sebagian untuk kamu. Kamu lebih membutuhkan daripada aku. Maaf ya, hanya ini yang bisa aku berikan semoga bermanfaat.


...Salam manis*....


Angela segera mengeluarkan kalung, gelang, dan pernak pernik yang terbuat dari emas. "Dav, aku jadi merasa tidak enak, perhiasan ini kan milik Bella, kenapa diberikan padaku?" Angela menatap lekat wajah suaminya.


"Biar saja sayang... maaf ya, aku belum pernah membelikan perhisaan untuk kamu. Tapi jujur, aku belum pernah membelikan Bella perhiasan kok, jadi... rupanya tiap aku memberikan uang nafkah, Bella gunakan untuk koleksi perhiasan," jujur David merasa tidak enak dengan Angela.


"Nggak apa-apa Dav, aku juga sudah check ATM yang kamu berikan, ternyata cukup banyak, jika aku mau, aku juga bisa membelinya. Tapi aku rasa ada yang lebih penting, seperti yang kamu katakan tempo hari. Aku akan gunakan uang itu untuk renovasi rumah ini,"


"Jangan" David memotong ucapan Angela.


"Oh nggak boleh ya," Angela menyesal sudah lancang bicara begitu.


"Untuk renovasi rumah ini aku sudah siapkan dana, jadi jangan khawatir. Sebaiknya uang itu kamu gunakan untuk keperluan pribadi kamu," David berkata panjang lebar.


"Besok... aku akan menemui Djody, agar mendesain rumah ini," pungkas David.


"Terimakasih Dav,"


************


Di tempat yang berbeda, di tepi kolam renang seorang pria sedang termenung. Kakinya masuk ke dalam kolam dan memainkan di air yang berwarna biru. Ia sedang menahan rindu. Rindu itu ternyata berat. Bisa saja, ia meluncur ke Jakarta secepatnya. Namun sebagai pengusa jasa rekonstruksi, saat ini Djody masih bertanggung jawab menangani beberapa project yang belum terselesaikan.


"Djody..." sapa pria, berusia 55 tahun datang menghampiri.


"Ayah... kapan datang, bersama mommy. Yah?" cecar Djody, seketika berdiri.


"Baru saja, mommy tidak bisa ikut," jawab sang ayah.


"Mana cucu kakek?" pria itu sudah tidak sabar ingin bertemu sang cucu, tetapi ketika ke dalam tadi tidak menemukan.

__ADS_1


"Sedang tidur Yah. Oh iya Yah, boleh nggak? Aku ijin Ke Jakarta? Tidak lama kok Yah, paling selama sepekan?" Djody menatap sang Ayah yang ikut duduk di sebelah nya.


.


__ADS_2