Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Belum ingin bertemu.


__ADS_3

Selesai telepon Kamila, Sabrina mengembalikan handphone kepada Rasmi. "Terimakasih ya Ras,"


"Sama-sama Mbak, kalau gitu aku kembali ke kamar," pungkas Rasmi.


*******


"Siapa yang telepon Bu?" tanya pak Abdul. Ia baru sampai di rumah setelah seharian berputar-putar mencari Sabrina kemudian mandi.


"Yah... Sabrina yang telepon," tersirat kegembiraan di wajah Kamila.


"Sabrina Bu? Anak kita dimana?" pak Abdul menjatuhkan handuk di ranjang kemudian mendekati Kamila yang sedang mengotak atik handphone di sofa.


"Di rumah sakit Yah, ayo sekarang kita langsung berangkat," Kamila beranjak dari duduk nya.


"Baiklah," pasutri setengah baya itu, bergegas mengeluarkan mobilnya dari garasi. Pak Abdullah tidak mau berpikir lagi segera menjalankan mobilnya ke rumah sakit.


"Tapi kok anak kita berada di rumah sakit ya, Yah? Kira-kira Sabrina sakit apa," wajah Kamila yang awalnya berbinar-binar kini kembali meredup.


"Tadi Sabrina bilang nggak, sakit apa?" pak Abdul balik bertanya. Sangking semangat karena sudah mengetahui keberadaan Sabrina mereka sampai tidak terpikirkan bahwa putrinya sedang sakit.


"Ibu tadi tanya sakit apa, tapi Ina bilang tidak apa-apa," tergambar jelas kekhawatiran di wajah Kamila.


"Ya sudah Bu, kita nanti juga akan tahu keadaan anak kita," Abdul menenangkan.


"Oh iya, sebaikanya kamu telepon Adnan, memberi kabar," Abdullah mengalihkan.


"Jangan Yah, tadi Sabrina pesan nggak boleh memberi tahu suaminya dulu," Kamila menirukan ucapan Sabrina.


"Loh kenapa begitu?" Abdul tampak kaget menoleh istrinya sekilas.


"Aku sih menyimpulkan Yah, kalau anak sama menantu kita itu sedang ada masalah," Kamila sebagai wanita sudah bisa mencerna apa yang terjadi dengan anak dan menantunya.


"Tapi apa masalahnya Bu, kenapa Sabrina sampai lari dari masalah?" pak Abdul paling tahu tentang anak satu satunya, sebab ia lebih dekat dengan Sabrina daripada Kamila sang bunda. Selama ini Sabrina selalu bersikap dewasa.


"Nggak tahu Yah, aku juga bingung," Kamila menarik napas berat


"Walaupun Ina melarang Ibu agar jangan memberi tahu keberadanya saat ini pada Adnan. Tapi setidaknya kabari Fatimah Bu," Abdul tentu tidak ingin menyembunyikan anaknya, sama saja membuat masalah baru.


"Iya Yah, tapi kita temui anak kita dulu," Kamila ingin memastikan bahwa putrinya memang benar di rumah sakit, baru akan mengabari Fatimah.


Mobil melaju pelan tapi pasti akhirnya sampai di rumah sakit yang sudah ditunjukkan oleh Sabrina. Pak Abdullah bersama istri menuju ruangan Sabrina.


Sampailah di ruangan kelas tiga Abdullah masuk di ikuti Kamila menyingkap sedikit gorden paling pinggir dekat pintu masuk tetapi ternyata bukan Sabrina.

__ADS_1


"Maaf" ujar Kamila. Melihat pasien seorang wanita yang sedang tidur dan si penunggu yang duduk di bawah menggelar tikar menganggukkan kepala.


Kamila menyibak gorden yang kedua tampak seorang gadis bersandar meninggikan bantal cengar cengir sendiri memperhatikan handphone entah apa yang ia lihat.


"Maaf dek"


"Nggak apa-apa Bu"


Kamila menuju kamar terakhir netranya tertuju pada sang putri yang sedang meringkuk. "Ina..." di peluknya putri kesayangan yang sedang melamun.


"Bunda..." Air mata Sabrina jatuh tanpa di undang.


"Hai... anak Ayah bisa nangis juga," kelakar Abdul mengusap kepala putrinya.


"Ayah... hu huuu..." tangis Sabrina pecah. Memang akhir-akhir ini ia sering cengeng, mudah baper dan cepat kesal.


Abdullah menatap sendu putrinya. Tergambar jelas ada kekecewaan di wajahnya. Apakah Adnan telah melukai perasaan nya? Atau ada masalah lain? Pertanyaan ini berkecamuk di pikiran Abdul. Abdul tahu Sabrina sebenarnya perempuan yang tabah dan kuat, sejak kecil ia terbiasa hidup mewah. Selalu dimanjakan dan hingga akhirnya Abdul jatuh bangkrut sampai mau makan pun sulit tetapi Sabrina biasa saja.


"Na... kamu kenapa? Sakit apa? Apa yang terjadi?" cecar Kamila menyusut air bening di sudut mata putrinya. Membuyarkan lamunan Abdul.


"Ayah sama Bunda akan punca cucu, tapi dedek rewel di perut," tutur Sabrina seraya mengusap perutnya.


"Jadi... kamu hamil?" tanya Mila dan Abdul bersamaan. Sabrina mengangguk. Seketika Abdul dan Mila tersenyum.


"Yah... kita akan punya cucu," Kamila menyandak tangan suaminya.


Sabrina menceritakan ketika tiba-tiba pendarahan hingga memutuskan ke rumah sakit. Tentu tidak menceritakan jika ia sedang bertengkar dengan suaminya.


"Lalu kenapa kamu tidak bilang suami kamu? Mereka semua kebingungan mencari kamu, Na" kata Abdul.


"Nggak sempat yah terburu-buru, lagian handphone aku ketinggalan," Alasan Sabrina tepat.


"Sebaiknya sekarang hubungi suami kamu," Addul memberikan handphone miliknya.


"Nggak mau, nanti saja, tolong jangan bilang Mas Adnan dulu, ya Yah..." rengek Sabrina memegang telapak tangan Abdul.


Abdul lalu menarik kursi untuk para penunggu pasien mendekatkan ke pinggir ranjang Sabrina. Ia duduk menatap wajah Sabrina.


"Na, jika kamu sudah siap hidup berumah tangga, itu artinya kamu harus siap menerima peliknya hidup berumah tangga itu sendiri," nasehat Abdul.


"Seromantis dan sehangat apapun masalah rumah tangga akan sulit kamu hindari, wajar kok, semua pasti akan mengalami fase ini," tutur Abdul.


"Konflik itu justeru salah satu indikator jika pernikahan kamu itu sehat. Tapi meskipun begitu, kamu harus bisa memahami bagaimana caranya menyelesaikan masalah konflik itu sendiri, bukan malah menghindar dari persoalan bisa berlarut-larut nanti,"

__ADS_1


"Aku nggak ada masalah Yah" potong Sabrina.


"Kamu pikir, Ayah kamu ini anak kecil, yang bisa kamu bohongi," Abdul menyentuh hidung Sabrina.


"Sekarang kamu harus pindah ke ruang kelas satu, Ayah yang akan urus," Abdullah mengalihkan pembicaraan.


"Nggak usah Yah, aku mau dirawat di rumah saja," tolak Sabrina.


"Nggak! Kamu harus menuruti perintah dokter paling tidak tinggal disini sampai tiga hari," Abdul tidak mau dibantah. Kemudian meninggalkan anak dan istrinya.


"Na, Bunda hubungi mertua kamu ya, kasihan beliau pasti khawatir, jika kamu masih ingin sendiri, setidaknya mereka tahu jika kamu sudah bunda temukan,"


Pungkas Kamila kemudian menghubungi besan.


********


Di perjalanan Adnan masih di temani mama Fatimah sedang menuju kantor polisi. Mungkin tidak akan terasa lelah bagi Adnan demi agar bisa menemukan istrinya. Namun tentu berbeda dengan mama Fatimah. Rasa lelah, letih, dan lesu, sudah mendominasi tubuh dan pikiranya. Masalah bertubi-tubi datang. Masalah menantunya belum bisa ditemukan sudah ada masalah baru, yakin Adnan menabrak Rasmi.


Deeerrrtt deeerrrtt.


Saat sedang melamun handphone nya bergetar. Ia ambil handphone kemudian melihat nama si penelpon adalah Kamila. Ia berharap sang besan membawa kabar baik mengenai Sabrina.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Jeung Fatimah... kami sudah bisa menemukan Sabrina," tutur Kamila di seberang telepon menyejukkan hati Fatimah yang sejak kemarin terasa panas.


"Alhamdulillah... dimana? Mbak Maya? Saya kesana sekarang ya,"


Mendengar mama Fatimah tampak senang Adnan menoleh sekilas kemudian kembali menyetir.


"Ma, Sabrina sudah ditemukan?" Adnan berbinar-binar setelah mama Fatimah mematikan handphone.


"Alhamdulillah... sudah Nan," mama Fatimah bersyukur.


"Sekarang aku mau ketemu Ma, dimana dia sekarang?" Adnan bersemangat.


"Heh! Tunggu dulu! Ina belum mau bertemu sama kamu,"


Deg.


Dada Adnan seperti di ketok palu.

__ADS_1


*******


"Maaf, ye... aye, telap up 🙏🙏🙏 sudah becek, nggak ada ojek yang ada mehek-mehek 🤣🤣🤣 Bahasa apa itu? Buna sendiri kagak ngerti." 💪💪.


__ADS_2