Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Jin baik menjamu ku.


__ADS_3

Sabrina menggendong Dafa kemudian duduk di ranjang memberinya asi. Sungguh luar biasa kuasa Allah. Manusia sebenarnya diberikan banyak kemudahan. Sabrina bersyukur, sudah diberikan susu yang alami sehat bergizi tanpa harus bersusah payah membeli, maupun membuatnya, tinggal membuka tutup asi eksklusif sudah mancur.


Sementara Adnan merebahkan tubuhnya di kasur di belakang Sabrina.


"Bun, asi rasanya seperti apa ya?" Afina melihat asi Sabrina sampai tumpah karena banyak rupanya menelan ludah.


"Katanya sih rasanya manis" Jawab Sabrina sambil membersihkan asi di pipi Dafa dengan tisue.


"Memang Bunda nggak pernah minum asi?" Afina penasaran.


"Pernah, tapi kan lupa sayang... Bunda waktu itu masih kecil,"


Adnan senyum-senyum mendengar pertanyaan Fina.


"Pa, waktu Fina kecil minum asi kayak dedek nggak?"


"Nggak" jawab Adnan cepat. Mendengar pertanyaan Fina senyum Adnan seketika menghilang.


"Oh..." hanya itu Fina menjawab.


"Bun, boleh nyobain sedikit ya...," Afina mencolek asi yang menetes lalu menjilat. Padahal sabrina belum menjawabnya.


"Hihihi... Fina... Fina" Sabirna tersenyum melihat Fina menjilati bibir nya sendiri.


"Fina mau ke kamar mandi dulu Bun," pamit Fina. Rupanya ia kebelet.


"Hati-hati sayang, di antar nggak?" Sabrina masih khawatir.


"Nggak Bun," tolak Afina.


"Mana asi nya? Tadi Fina nyobain, berarti aku juga boleh dong..." Adnan menaik turunkan alis nya sengaja mencolek pepaya Sabrina yang sudah matang karena Dafa sudah bobo kembali.


"Jangan macam-macam dech!" sungut Sabrina melengos.


Adnan terkekeh.

__ADS_1


"Oh iya Mas, sudah ada kabar mengenai Mbak Bella?" Sabrina membicarakan yang lain kali ini lebih serius. Semenjak kabur tiga hari yang lalu polisi ke hilangan jejak Bella.


"Belum... perkiraan aku sih, kabur ke negara A," jawab Adnan geram.


"Sudahlah Mas... nggak usah terlalu dendam, nggak baik, yang ada... justeru menyiksa batin Mas sendiri. Sekarang ini yang lebih penting, kita harus waspada, lebih hati-hati menjaga Afina. IsyaAllah Mas, aku akan fokus dengan anak-anak," kata Sabrina.


"Cek! Kamu bisa bicara begitu karena yang kamu tahu kasus Bella hanya sepenggal saja In, Lastri sama pak Arman saksinya, Bella itu dari masih SMK nggak pernah berubah," Adnan tampak kesal jika mengingat itu.


"Aku tahu Mas... siapa Bella, tetapi.. mungkin Bella saat ini sudah berubah, dan memang benar-benar tulus menyayangi Afina kita kan nggak tahu Mas," Sabrina tidak lantas mengadu domba.


"Jadi! Kamu bermaksud membiarkan Afina tinggal sama Dia!" Adnan berkata ngawur.


"Cek! Tuhkan! Salah mengartikan. Bukan begitu maksud aku, tadi kan aku sudah katakan kita harus hati-hati menjaga Fina, itu artinya... aku tidak rela jika Fina tinggal bersama Bella. Tapi... ada Tapi nya ini..." Sabrina menjeda ucapanya.


"Tapi apa?" tanya Adnan merengut.


"Kecuali Mbak Bella sudah berubah lebih baik, walaupun bagaimana... Bella itu ibu nya Fina Mas, sudah pasti Fina tidak mau Mama nya menderita," Sabrina berkata panjang lebar.


"Nggak! Pokoknya... aku akan menuntut Bella atas kasus penculikan, biar kapok Dia! Enak saja! Dia sudah berani main-main sama aku, biar saja. Dia mendekam di penjara!" kata Adnan sudah tidak bisa diganggu gugat.


"Papa.... hu huuu... Mama Bella jangan di penjara..." Afina yang baru ke luar dari kamar mandi lalu menenggelamkan wajahnya di pangkuan Adnan. Rupanya Fina mendengarkan percakapan mereka.


Sabrina hanya menarik napas berat. Inilah yang ia takutkan. Darah lebih kental dari air, tentu Fina tidak akan rela Ibu nya menderita. Afina anak yang baik bukan pendendam sudah pasti akan memaafkan sang mama walaupun apa yang sudah Bella lakukan kepadanya.


"Papa jangan penjarain Mama. Mama sebenarnya sayang sama Afina, hu huuu..." Afina menggoyang-goyang tangan Adnan, air mata nya berderai.


Sabrina menatap sendu wajah Afina bergantian dengan suaminya.


"Sayang... kita jalan yuk" Adnan mengendong Afina mengajak nya ke luar rumah, entah mau kemana.


...***************...


Di negara A wanita berambut pirang, ikal sepundak, berjalan gontai setelah turun dari taksi sambil menarik koper menuju apartemen David. Walupun saat pergi Bella tidak menggubris ultimatum suaminya, toh kini ia kembali. Mau kemana lagi? Hanya David yang selalu mengerti diri nya. Walaupun David sering marah padanya, tetapi David tidak akan bisa marah terlalu lama. Pikir Bella.


Bella naik lift menuju lantai paling atas dimana suaminya tinggal. Sampai tujuan Bella membuka pin apartemen milik David.

__ADS_1


Pintu terbuka Bella mengedarkan pandangan ke ruang tamu, keadaan sangat sepi. Ya jelas sepi, seperti biasanya jika hari kerja David pasti ke tempat usaha mandiri miliknya, yang bergerak di bidang industri kecil yakni membuat hiasan dinding yang terbuat dari kayu. Walaupun usaha David tidak besar, tetapi Bella selama ini tidak pernah kekurangan.


Bella memandangi dapur tampak perabot tersusun rapi dan masih bau oroma masakan.


"Tumben, David hanya sendiri kok memasak? gumam Bella. Bella dengan David selama menikah jarang sekali memasak. Jika sesekali memasak pun paling makanan instan.


Pandangan Bella beralih ke atas meja makan. Ia buka penutup saji terdapat masakan yang masih hangat, berupa steak daging dan sayuran segar sudah tersaji. Dahi Bella berkerut ketika melihat masakan tersebut. Siapa gerangan yang memasak? Tanya Bella dalam hati.


"Oh, mungkin jin baik yang ingin menjammu aku makanan. Ternyata jin baik tidak hanya di negeri dongeng saja, di dunia nyata pun ada" Bella berbicara sendiri.


Bela yang memang lapar, segera duduk di meja makan. Ambil piring, kemudian menjepit satu potong steak daging dan brokoli saos tiram. Tangan kiri memegang garpu, tangan kanan memotong steak dengan pisau.


Satu potong steak masuk ke dalam mulut membuat Bella menikmati masakan itu dengan lahap. Nambah dan nambah lagi 4 potong steak ia habiskan.


"Terimakasih jin," Bella mendongak. Perut terasa kenyang ia beranjak hendak salin baju dan tidur. "Oh my god... dunia terasa menyenangkan"


Bella kemudian melepas sepatu meletakkan di rak. Namun mata Bella membulat kala ada sepatu wanita berhak datar berada di situ.


Sepatu siapa ini? Bella mengangkat sepatu tersebut kemudian menelisik.


Ia letakkan kembali sepatu, kemudian menoleh ke kamar yang dalam keadaan tertutup. Bella merasa heran dengan ke anehan di apartemen milik suaminya.


Dengan langkah pasti Bella berjalan menuju kamarnya yang biasa ia gunakan bersama David. Ia dorong handle pintu, namun betapa terkejutnya Bella. Tatkala seorang wanita hamil sedang tidur siang dengan nyenyak nya.


Deg.


Dada Bella tiba-tiba sesak ia menarik napas panjang setelah lega mendekati wanita tersebut.


Bluk!


Satu buah guling ia pukulkan ke kepala wanita itu.


"David..." wanita itu mengerjapkan mata masih belum sadar sepenuhnya siapa yang memukul nya dengan guling. Walaupun pukulan itu tidak sakit namun tidak mungkin David melakukan itu. Pikir wanita itu.


Bluk!

__ADS_1


"Siapa kamu?!" bentak Bella.


.


__ADS_2