Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Berangkat negara A.


__ADS_3

Tok tok tok


"Papa... Mama..." Terdengar suara Elma. Bersamaan dengan pencapaian Djody ke puncak surga dunia. Bella segera menepuk pundak Djody agar segera menyingkir dari tubunya. Setelah berhasil, Bella turun dari ranjang berjalan pelan mendekati pintu.


"Elma... kamu sarapan dulu ya, Nak, Mama mau mandi dulu," sahut Bella dari balik pintu tanpa berniat membuka, tentu Bella tidak ingin terlihat berantakan di depan anak tirinya itu.


"Tapi Mama..."


"Nggak apa-apa... nurut sama Mama, kalau sudah sarapan minta diantar Jono ya,"


"Iya Ma,"


Terdengar langkah Elma menjauh dari pintu, Bella menarik napas lega. Kemudian melangkah ke kamar mandi, melewati Djody yang justeru mendengkur setelah meneguk manisnya madu. Bella berhenti sejenak mengamati pria yang ketampanan nya dibawah Adnan, dan di atas David itu, tidur terlentang tanpa sehelai kain. Bella menutup tubuh suaminya dengan selimut kemudian mandi.


*********


"Om Jono, antar Elma ke sekolah ya" kata Elma setelah sarapan menghampiri Jono yang sedang menikmati kopi di bawah pohon.


"Pasti dong Non... kan memang sudah tugas," Jono menyeruput kopi yang tinggal di ujung gelas. Kopi buatan Sati luar biasa enak menurut Jono.


"Cepetan Om... terlambat ini..." Elma berjalan lebih dulu. Tidak mau buang waktu lagi segera masuk mobil tanpa menunggu Jono.


"Waduh.... ditinggal..." Jono beranjak meninggalkan gelas kosong tanpa berniat menyimpan segera menyusul Elma.


"Kok, Non Elma tidak ikut mengantar Papa ke bandara?" tanya Jono, ketika mereka sudah meninggalkan rumah.


"Om Jo ini bagaimana sih?! Kan saya harus sekolah Om, masa ijin lantaran mau antar Papa," Elma geleng-geleng kepala.


"Benar juga ya Non, lagian kan Papa memang sering bolak balik Indonesia ke negara A," Jono tertawa.


"Itu Om tahu," jawab Elma sambil ngobrol ngalor ngidul tidak terasa Elma sudah sampai di depan pagar sekolah.


Brak!


Ia tutup mobil dengan kencang karena terburu-buru, berlari cepat meninggalkan Jono. Di depan sekolah sudah sepi rupanya semua murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Dengan perasaan gelisah Elma berjalan menuju kelas. Kekhawatiran nya akan terlambat terjadi juga. "Aahh... gara-gara Papa ini," gumamnya kesal.

__ADS_1


"Elma..." suara yang ia kenal dari belakang membuatnya lega. Tampak Afina berlari dengan wajah kusut tidak seperti biasanya.


"Fina... kamu terlambat juga?" perasaan Elma sedikit lega. Setidaknya masuk tidak hanya sendiri.


"Iya... ini gara-gara tadi malam kurang tidur, jadi kesiangan deh," tutur Fina sambil berjalan.


"Kenapa kok kurang tidur? Pasti Dafa masih rewel ya," tebak Elma memang benar.


"He emm, kalau kamu?" Fina melirik saudara tirinya yang berjalan di samping.


"Kalau aku Papa sama Mama yang kesiangan, aku bangunin susah banget," Elma merengut mengingat itu.


"Masa sih... biasanya Mama kalau bangun suka pagi-pagi...." Fina membantah. Fina tahu setiap menginap di rumah Bella, Bella selalu bangun lebih dulu dariapada dirinya.


"Biasanya sih, tapi kenyataannya memang begitu Fin, mungkin karena lagi capek kali"


Obrolan dua bocah berhenti karena mereka sudah sampai di depan kelas. Elma mendorong handle pintu, mengintai sedikit. Tampak guru baru sedang mengajar.


Tok tok tok.


Fina mengetuk pintu, tidak lama kemudian Pak guru membukanya.


"Waalaikumsalam..."


"Kenapa kalian sampai terlambat?" tanya pak guru dengan suara agak meninggi. "Kalian tidak boleh masuk kelas, sampai pelajaran kedua," tegas pak guru.


"Kami ini saudara Pak guru, adik kami masih kecil-kecil, rewel terus, makanya... kami kesiangan karena harus membantu Bunda di rumah" alasan Fina masuk akal. "Tolong Pak, biarkan kami masuk, lain kali kami tidak akan mengulangi." kata Fina panjang lebar, sedangkan Elma hanya diam menunduk.


"Ya sudah... lain kali jangan diulangi, tapi kamu akan tetap menerima hukuman, saya akan memberikan pr tambahan,"


"Baik Pak" bibir Fina sersungging, ia lega bisa meyakinkan pak guru. Lalu masuk di ikuti Elma.


Guru hanya menggeleng menatap kedua anak itu. "Anak-anak orang kaya memang selalu manja, alasan membantu orang tuanya pasti hanya berbohong," guru bergumam sambil menutup pintu kelas, guru baru itu belum tahu jika Fina putri pemilik sekolah.


**********

__ADS_1


"Kamu hati-hati Djod, kalau sudah sampai negara A... segera hubungi aku," kata Bella sambil menyiapkan pakaian untuk suaminya. Melipat kemeja hati-hati jangan sampai kusut kemudian tangan lentiknya menata ke dalam koper. "Salam untuk Momny sama Ayah" sambung Bella.


"Tentu dong" jawab Djody. Ia sedang mengenakan pakaian yang sudah Bella siapkan. "Burung... kamu puasa dulu selama seminggu ya..." Djody terkekeh seraya menatap burung yang belum sepenuhnya masuk sangkar. Lantas kena plototan mata Bella.


Setelah selesai mereka segera keluar dari kamar, Djody menarik koper.


"Saya bantu Tuan" Sati yang sedang menyapu segera menyandarkan sapu ke tembok, kemudian mengangkat koper milik tuanya dan segera membawanya ke mobil. Disana Jono sudah menunggu.


Sementara Djody melungguhkan bokong di kursi meja makan menyeruput sereal yang masih hangat di susul Bella. Bella meneguk susu hamil yang berwarna putih rasa vanila. Kali ini kedua manusia yang sering banyolan dalam setiap waktu kini saling diam, mungkin lelah juga karena berdebat di ranjang sejak semalam.


"Sudah La?" Djody beranjak lebih dulu.


"Sudah..." Bella membersihkan seputar mulut dengan tisue, sebelum akhirnya menyusul Djody. Ia hendak mengantar suaminya ke bandara.


"Jon, Elma terlambat nggak tadi?" tanya Bella ketika sedang membetulkan posisi duduknya di dalam mobil.


"Terlambat Non, begitu sampai... pagar sudah hampir ditutup sama satpam, tapi bagusnya belum di kunci," Jono menjelaskan.


"Tuhkan! Kamu sih!" tangan lentik Bella menjinggit sedikit pinggang Djody.


"Aow," Djody meringis. Sambil memegangi pinggangnya.


"Kalau kamu tadi tidak memaksa, pasti Elma tidak akan teelambat, Djody," sungut Bella.


"Tapi kamu juga senang kan? Menikmati, sampai merem melek. Ahahaha..." penyakit somplak Djody kambuh lagi. Tidak menyadari jika di depan ada pria dewasa yang sudah mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Apa! Yang yang ada, kram perut tahu!" ketus Bella.


"Perut? Perut kamu sakit?" Djody menyingkap baju atasan Bella.


"Iihh... Djody!" Bella segera menurunkan baju yang Djody angkat hingga menampilkan perut Bella yang putih mulus dan sudah mulai membesar. Bella yakin suaminya tidak bisa melihat anggota tubuhnya terekspose sedikitpun bisa-bisa Bella di ajak turun mencari hotel.


"Sudah sampai Non" Jono menghentikan kekonyolan Djody. Tanpa menunggu jawaban dari tuanya, Jono menghentikan mobilnya mengeluarkan koper milik Djody.


"Aku berangkat sayang... pasti aku selalu merindukan kamu," dikecupnya dahi Bella lembut. Jika sudah begini Djody rupanya bisa serius juga.

__ADS_1


"Aku juga Djod, hati-hati ya," Bella melambaikan tangan begitu juga sebaliknya. Bella memandangi suaminya hingga masuk dimana tempat check in.


.


__ADS_2