
Dengan perasaan campur aduk Adnan melajukan mobilnya menuju apartemen Bella. Sepanjang jalan berusaha untuk mengendalikan diri untuk tidak menyetir secara ugal-ugalan hanya untuk melampiaskan kekesalan. Pria blasteran Arab Indonesia itu pun akhirnya sampi di depan apartemen.
Brak!
Ia menutup pintu mobil dengan keras kemudian memencet remote sambil berlalu. Setengah berlari ia menuju lift, memencet nomor tiga agar cepat sampai tujuan. Tentu akan mengajak putrinya ke sekolah, walupun terlambat sedikit tidak apalah daripada tidak masuk sama sekali. Pikir Adnan.
Teng tong teng tong.
Tiga kali menekan bel namun pintu belum dibuka juga. Adnan menunggu hingga 15 menit berdiri di depan pintu apartemen. Namun Bella tidak ada tanda-tanda akan keluar. Adnan pun berpikir negatif.
"Bapak mencari siapa?" tanya seorang wanita, jika diperhatikan dari penampilan seperti pekerja kantoran yang sudah siap berangkat.
"Mbak, saya mau tanya, penghuni apartemen ini kemana ya?" tanya Adnan sopan.
"Saya tidak tahu Pak, tapi saat subuh tadi, sepertinya pergi," wanita rambut pendek itu menyahut.
"Kira-kira kemana ya Mbak?" Adnan mengorek informasi siapa tahu wanita ini mengetahui keberadaan Bella.
"Saya kurang tahu Pak, tidak kenal soalnya," wanita itu menjelaskan. Bella tinggal di apartemen ini baru, otomatis tidak ada yang mengenal.
"Tapi kalau saya perhatikan, sepertinya akan pergi lama Pak, soalnya membawa dua koper," imbuh wanita itu.
Adnan kemudian pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada tetangga Bella, yang tinggalnya bersebelahan.
Adnan menuju kediaman Andini. Mungkin Bella membawa Fina kesana. Adnan masih berpikir positif. Ia tidak ingin berpikir yang aneh-aneh sebelum semua jelas daripada membuat kepalanya pusing.
********
"Nan, kamu mau ketemu Bella kok nggak langsung ke apartemen saja," kata Andini ketika Adnan sampai di rumah mertua.
Deg.
__ADS_1
Tanpa bertanya terjawab sudah bahwa Bella tidak membawa Afina kemari. Pikiran buruk langsung memenuhi otak Adnan.
"Jadi, Bella nggak membawa Afina kemari Ma?"
"Loh memang Bella mengajak Fina? Bukankah Fina tinggal bersama kamu?" rupanya Andini tidak tahu jika Bella mengajak cucunya. Andini tidak pernah berpikir bahwa Afina mau dekat dengan Bella.
"Bella mengajak Fina pergi, nggak bicara dulu dengan saya Ma? Lalu kemana perginya Bella Ma?!" cecar Adnan.
"Sabar Nan, Mama akan menghubungi Bella," Andini segera menghubungi Bella tetapi nomornya tidak aktif.
"Nomornya tidak aktif Nan," Andini menggeleng lemah.
"Lalu dimana kira-kira Bella mengajak Fina pergi Ma?" Adnan bermaksud mencari kemanapun Bella pergi ke lubang semut sekalipun.
"Mama tidak tahu Nan, setahu Mama, Bella disini tidak punya tempat tinggal selain apartemen,"
Adnan pun segera pamit pulang tidak ada yang bisa ia lakukan di rumah ini. Di dalam mobil pikiranya berkelana. Mengingat-ingat kira-kira kemana perginya Bella. Jika ke negara A tidak mungkin, tentu Bella akan berpikir dua kali untuk menghadapi Davit suaminya. Sudah pasti David akan menentang jika sampai istrinya menculik Fina.
Adnan berputar-putar mencari putrinya hingga tengah hari namun seperti tidak ada jejak. Rasa lelah, letih, tidak bisa Adnan tahan. Beristirahat sejenak akan lebih baik. Ia memutuskan untuk beristirahat di masjid sekaligus shalat dzuhur. Adnan berdoa berserah diri dan memohon semoga Afina tidak kurang suatu apa dimanapun ia berada.
Mata Adnan melebar kala panggilan dari Sabrina berkali-kali tidak ia jawab. Sebab hp miliknya sejak tadi tergeletak di jok belakang. Tidak berpikir lagi Adnan segera menghubungi istrinya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Mas... kamu dimana, aku telepon dari tadi tidak di angkat. Aku itu khawatir tahu nggak sih Mas?! Sudah gitu pergi tidak bilang dulu!" damprat Sabrina di telepon. Adnan terperangah, kemudian menjauhkan handphone karena suara istrinya seperti tropet tanjidor.
"Hallo! Mas masih di situ? Dengar nggak sih! Aku ngomong!" rupanya Sabrina masih belum puas ngomel-ngomel.
"Ina... tenang dulu," Adnan minta maaf, lalu menceritakan semuanya tentang Afina dengan lembut. Terdengar isak tangis di telepon Adnan pun menghiburnya sampai Sabrina tenang dan mengerti baru menyudahi pembicaraan.
__ADS_1
Adnan kemudian mengabari papa Rachmad menceritakan jika Bella menbawa Afina kabur sebelum akhirnya Adnan merebahkan tubuhnya di pojokan masjid tanpa alas. Ia akan tidur barang sejenak seperti pesan Sabrina barusan di telepon.
*******
"Kalian ini bagaimana?! Bukankah saya tugaskan agar menjaga apartemen Bella?!" papa Rachmad marah besar. Sudah memerintahkan dua orang agar menjaga apartemen tetapi nyatanya Bella pergi juga. Papa Rochmad sebenarnya bukan tipikal pria yang mudah marah, tetapi jika menyangkut masalah keluarganya tentu tidak bisa mentolerir siapapun yang lalai.
"Maaf Tuan, mungkin Bella keluar saat kami shalat subuh tadi," jawab dua pria itu. Papa Rochmad pun tidak bisa berkata-kata lagi jika sudah menyangkut masalah ibadah.
Papa Rochmad mengerahkan orang-orangnya agar mencari keberadaan Afina. Beliau tidak akan mengampuni kesalahan menantu nya itu sudah di kasih waktu untuk mendekati cucunya tetapi Bella malah mengajak kabur Afina.
********
Tiga hari kemudian Afina belum bisa di temukan Adnan pun sudah melaporkan ke polisi atas hilangnya putrinya. Semua keluarga di rundung kesedihan yang dalam.
Sabrina tentu saja yang paling terpukul, betapa tidak? Selama dua tahun mereka bak lem dan perangko yang sulit dipisahkan. Hari-hari mereka lalui dengan ceria, belum pernah Sabrina sekalipun memarahi Afina. Jika Sabrina mengajarkan kedisiplinan Sabrina lebih menunjukkan dengan tindakan daripada dengan mulut akan terasa memerintah. Sikap inilah yang tidak di sukai anak-anak. Sabrina selalu menjaga perasaan Afina. Mengasuh anak sambung tentu tidak semudah anak kandung. Salah sedikit saja sang anak akan merasa dianak tirikan.
"Sayang... hee... kok kamu melamun sih..." Adnan yang baru selesai mandi baru pulang mencari Afina berjongkok memegangi kedua lutut Sabrina yang sedang memangku Dafa. Saat ini Sabrina sudah pulang ke rumah sejak kemarin.
"Mas... aku takut, Afina dibawa kabur Bella ke negara A," tergambar jelas kecemasan di wajah Sabrina.
"Aku rasa tidak mungkin Yank, pasti Bella akan berpikir dua kali untuk membawa Fina kesana," Adnan yakin jika Afina berada di Indonesia tetapi entah dimana.
"Tetapi nyatanya pihak kepolisian belum bisa menemukan keberadaan Afina Mas..." keluh Sabrina.
"Yang sabar sayang... kita doakan semoga Afina tetap menjadi Afina yang dulu, sehat, dan diperlakukan dengan baik oleh Bella," hibur Adnan.
"Sekarang gantian aku yang gendong Dafa terus kamu mandi dulu," Adnan mencium pipi putranya. Lalu mengambil alih Dafa dari tangan Sabrina.
Sabrina kemudian membetulkan pakaian bagian dada yang terbuka.
"Mas mau minum apa? Aku buatkan dulu," Sabrina menatap wajah lelah suaminya merasa kasihan.
__ADS_1
"Nggak usah... nanti aku cari sendiri, sekarang cepat mandi keburun Dafa menagis lagi," tidak Adnan.
.