
Tiga hari sudah, Sabrina paska melahirkan dan saat ini sudah berada di rumah. Ia menatap putrinya di dalam box sedang tidur pulas. Lalu menoleh putranya yang baru saja tidur di ranjang di sebelah papanya. Bukan hal yang mudah untuk membujuk Dafa, sudah dengan berbagai macam cara semua menenangkan Dafa. Namun Dafa tetap sedih, murung, dan memendam rasa kecewa. Selama ini Sabrina mencurahkan perhatianya hanya untuk Dafa tetapi sejak kehadiran Bilqis rupanya Dafa merasa dinomorduakan. Ya. Anak ketiga Adnan diberi nama itu.
"Yaank... kok belum tidur..." Adnan awalnya sudah tidur melihat istrinya termenung di samping box kemudian bangun dan merangkul tubuh Istri nya.
"Iya Mas..." Sabrina balik badan meninggalkan box lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Menatap Dafa yang tidur di sebelahnya.
"Kamu capek banget ya?" Adnan menatap sendu Sabrina. Matanya cekung, pipi nya sedikit tirus, Adnan tahu bahwa istrinya kurang tidur. Wajar, kadang kedua anaknya sering bangun malam, seperti punya anak kembar walaupun jarak Dafa dan Bilqis dua tahun.
"Biasa saja kok Mas," Sabrina tidak menunjukkan bahwa dirinya lelah di depan Adnan terlebih pada Afina.
"Sebaiknya Mas Adnan tidur juga" Saran Sabrina. Sabrina juga tahu Adnan pun juga tak kalah lelah selalu siaga mencari apapun yang di butuhkan. Termasuk membuat susu di tengah malam, karena asi eksklusif belum mencukupi.
Namun mereka tidak ada yang mengeluh, inilah seninya menjadi orang tua. Membuatnya tersadar dan bersalah kepada orang tua mereka.
"Iya sayang..." Adnan tidur di sebelah Dafa, tepatnya Dafa tidur di tengah. Sabrina tidak ingin memaksa Dafa agar tidur bersama Eti.
Malam terlewati begitu panjang, karena sebentar-sebentar bangun mendengar tangisan Bilqis. Sabrina pun harus menyusui. Tidak ada rasa mengeluh bagi Sabrina. Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 4 pagi. Sebelum kedua anaknya bangun Sabrina bergegas mandi. Mandi kungkang yang di lakukan Sabrina. Tidak perlu lama-lama cukup jebur-jebur setelah sabunan membilasnya kemudian salin baju.
"Oeeek... oeeekk..." terdengar bilqis menangis Sabrina bergegas keluar tampak Adnan sedang mengganti popok. Sabrina menatap suaminya dari kejauhan rambutnya masih acak-acakan kas bangun tidur, ia terharu. Bersyukur Sabrina mempunyai suami yang pengertian dan penuh perhatian.
"Pup ya Mas?" tanya Sabrina berdiri di samping suaminya.
"Iya sayang... tapi sudah aku ganti," jawab Adnan santai. Lalu membawa popok kotor keluar kamar. "Aku shalat subuh dulu ya," ujarnya sebelum akhirnya menutup pintu.
"Iya Mas" Sabrina segera menggendong Bilqis, mengajaknya duduk di ranjang lalu memberikan asi.
"Bundaa..." Dafa sudah bangun juga duduk sambil terpejam menggaruk-garuk kepala nya.
"Sudah bangun sayang... sini duduk sama Bunda," panggil Sabrina. Dafa pun turun berjalan malas mendekati Sabrina.
"Hu aaa... mau dipangku Bunda..." Dafa menangis kencang.
__ADS_1
"Oeek... oeeekk..." Bilqis pun terkejut melepas memem menangis menjerit-jerit. Beginilah kenyataan yang dihadapi Sabrina selama tiga hari ini dan entah mau sampai kapan.
"Kak Dafa... jangan menangis sayang..." Sabrina menidurkan Bilqis membiarkan menangis di box. Kemudian Sabrina menggendong Dafa mengajaknya ke kamar mandi. Setelah pipis dan meraup wajah Dafa dengan air Sabrina cepat kembali.
"Oeek... oeeek..."
"Kak Dafa turun ya sayang... dedek Bilqis nangis terus kan," Sabrina menjelaskan.
"Ndak mau... mau sama Bunda" kukuh Dafa.
Sabrina membuka lemari ambil gendongan, kemudian menggendong Dafa di belakang. Sementara Bilqis ia gendong di depan. Begitulah kerepotan ibu muda itu. Sabrina melewati kamar Fina, ternyata Fina belum bangun.
"Sayang... bangun Nak..." ternyata tidak hanya sampai disini tugas Sabrina. Ia masih harus membangunkan Afina. Walaupun Afina sudah mandiri tentu Sabrina tidak mau jika Fina sampai kurang kasih sayang darinya.
"Iya Bun" jawab Afina. Bagusnya tidak harus susah payah membangunkan Afina, hanya sekali panggil kemudian bangun.
"Kalau sudah mandi terus ke bawah, nanti kita sarapan bersama ya,"
"Iya Bun"
"Ya Allah... Dafa sama Mbak yuk," Eti yang sedang membuat sarapan untuk Dafa, begitu melihat Sabrina kerepotan berniat menggendong Dafa.
"Dafa ndak auuuukkk!" jerit Dafa.
"Iya... nggak mau nggak apa-apa" Sabrina mengedipkan mata pada Eti agar menjauh.
************
Sementara diwaktu yang sama, jika dikeluarga Sabrina penuh dengan keriwehan sejak subuh karena ketiga anaknya. Berbeda dengan pasutri ini. Karena jam sembilan nanti tiba saatnya Djody akan berangkat pulang ke negara A. Djody tampak sedang merayu istrinya agar menyuguhkan sarapan pagi. Tetapi bukan sarapan pada umumnya, melainkan minta kue apem yang empuk dan lezat.
"Sudah Djod, aku capek tahu!" omel Bella. Pasalnya sudah disuguhkan beberapa kue apem sejak selepas isya, hingga sebelum subuh, Djody ingin nambah dan nambah lagi. Pria itu seolah tidak ada lelahnya.
__ADS_1
"Bella... dosa loh menolak suami, kita nanti bakal seminggu nggak akan bertemu, masa kamu nggak bisa membuat aku kenyang," ucapnya sambil memberi tanda cinta di seputar leher.
"Jangan bawa-bawa dosa Djod, yang benar saja, rambut kita masih basah loh," Bella memegang rambutnya yang basah ketika sebelum shalat subuh tadi mereka sudah mandi wajib.
"Sekali... lagi, habis ini sudah, kamu nggak kasihan sama piaraan aku ini," Djody menunjuk piaraan yang bersembunyi di balik boxer sudah mencari celah agar bisa menembus goa untuk bersembunyi.
"Minggir Djod, aku mau membangunkan Elma," Bella beralasan padahal Elma tidak pernah di bangunkan sudah bangun sendiri.
"Jangan alasan!" Djody menyadak lengan Bella yang sudah beranjak. Namun dengan cepat Djody menarik hingga wajah Bella membentur dada bidang nya. Djody mencium rambut Bella yang wangi karena sampoo membuat hasratnya semakin menggebu. Pria tampan itu menidurkan Istrinya yang bagai candu itu ke kasur dan menindihnya membuat Bella tidak berkutik.
Bella pun menyerah, menerima apa yang akan di lakukan suaminya. Merasa mendapat celah untuk masuk ke dalam goa, Djody segera melancarkan aksinya.
Tok tok tok.
"Mama... Papa..." pekik Elma dari luar pintu.
"Ayo cepat sarapan, Elma mau berangkat ini," saat ini sudah jam 6, 30 menit, padahal jam tujuh Elma sudah harus masuk tetapi papa sama mama nya tidak keluar-keluar. Elma yang sudah tidak sabar memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Ceklak ceklek.
Rupanya Elma mencoba mendorong handle pintu namun dikunci. Ya jelas di kunci Elma. Yang sambar ya Elma, bapakmu sudah berhasil memasuki goa tapi belum sampai puncak.
"Djody... hentikan! Djod, Elma kesiangan tuh" Bella mencoba bangun dari kunjungan Djody. Namun Djody tidak menghiarukan.
"Djody..." bentak Bella menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Namun justru membuat Djody semakin bersemangat.
"Seeetttt... biarkan saja Bella... sedikit.... lagi, sedikit.... lagi"
"Kiaaaa..."
__ADS_1
.