Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Afina tidak masuk sekolah.


__ADS_3

"Finaaaaa... jangan pergi Nak, maafkan Bunda. Maafkan Bundaaaa..." pekik Sabrina.


"Oeeekkk... oeekk..." Dafa pun menangis menjerit-jerit. Sebenarnya sudah bobo dalam gendongan sang papa, tetapi ketika mendengar teriakan Sabrina bocah itu terbangun. Adnan bergegas menghampiri Sabrina yang sedang mengigau.


"Ina... bangun sayang..." Adnan menepuk pelan pipi istrinya.


"Hoss... hos hos hos..." Sabrina segera bangun kemudian duduk, napasnya tersengal-tersengal. Keringat dingin membanjiri tubuhnya.


"Ina... kamu mimpi sayang?" Adnan menggendong Dafa di tangan kiri, duduk di ranjang di sebelah Ina. Sementara tangan kanan merangkul pundak Sabrina.


"Oeeek... oeeek..." Dafa terus menangis.


"Mas... Afina usir aku, aku nggak mau kehilangan Fina Mas..." Sabrina sesegukan.


"Kamu hanya mimpi sayang..." Adnan mengeratkan pelukanya hingga kepala Sabrina jatuh ke pundak nya.


"Tapi seperti bukan mimpi Mas..." air mata Sabrina bercucuran.


"Oeeekkk... oeeekkk..."


"Sudah lah sayang... lihat Dafa," Adnan menatap Dafa yang sedang menangis.


"Maafkan Bunda sayang..." Sabrina segera mengambil alih Dafa dari gendongan Adnan. Kemudian memberikan asi walaupun baru keluar sedekit. Dafa seketika diam dalam dekapan sang bunda.


Adnan ambil minum air mineral yang berada di atas meja memberikan kepada Sabrina.


"Terimakasih," Sabrina meneguk air hingga seperempat botol.


"Sama-sama, Dafa sudah tidur sebaiknya kamu tidurkan saja," Adnan merapikan ranjang di sebelas Sabrina.


Sabrina menidurkan Dafa di sebelah kemudian turun dari ranjang. Ia masih diam menafsirkan mimpi baru saja.


"Mau kemana?" Adnan seketika berdiri. Memegang lengan Sabrina.


"Aku mau ke kamar mandi," jawabnya lirih.


"Aku antar ya," Adnan perhatian.


"Nggak usah," tolak Sabrina. Lalu ke kamar mandi.


Adnan menatap sendu langkah Sabrina, hingga masuk ke kamar mandi, kemudian meninggalkan Dafa menuju sofa. Ia tahu Istri nya pasti takut kehilangan Afina melebihi dirinya. Namun Adnan bisa apa? Untuk saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan. Mengapa baru sekejab merasa bahagia kini sudah dihadapkan pada persoalan yang rumit. Adnan menarik napas panjang. Ia bukan tidak bisa tegas terhadap Isabella. Bisa saja merebut kembali Afina dengan paksa. Tetapi tentu hati Afina pun juga harus dijaga. Adnan tidak bisa memungkiri bahwa Bella adalah ibu kandung Afina. Dan Fina sendiri yang memilih untuk tinggal bersama Bella.

__ADS_1


"Mas..." Sabrina mengejutkan lamunan Adnan.


"Sini sayang..." Sabrina duduk di samping Adnan.


"Sebaiknya kamu istirahat mumpung Dafa sedang tidur," Adnan merebahkan kepala Ina di pangkuan nya.


"Aku takut mimpi lagi Mas," Sabrina mengingat mimpi tadi seperti nyata.


"Sudahlah... yang namanya mimpi itu kan bunga tidur In, lagian sebelum tidur kan kita membicarakan tentang Fina, jadi terbawa mimpi," Adnan mengusap kepala Istri nya. Ia menghibur agar Sabrina tidak terlalu memikirkan mimpi.


"Mudah-mudahan begitu ya Mas," Sabrina menarik napas berat.


"Mas kapan aku boleh bertemu Afina?" Sabrina ingin segera bertemu anak sambungnya. Tentu ingin memastikan bahwa mimpinya tidaklah menjadi kenyataan.


"Besok aku ke sekolah ya, bicara dengan Bella baik-baik," Adnan berniat mengajak Fina ke rumah sakit walaupun hanya sebentar untuk mengobati rasa kangen Sabrina.


"Iya," Sabrina menjawab satu kata.


"Sekarang lebih baik kamu tidur, disini juga tidak apa-apa." pungas Adnan. Membiarkan Sabrina tidur di pangkuanya. Ina pun menenggelamkan wajahnya ke perut suaminya. Adnan berusaha tidur dalam posisi duduk bersandar di sandaran sofa pada akhirnya mereka terlelap juga walaupun hanya satu jam, sebab Adnan harus shalat subuh.


******


Keesokan harinya di rumah sakit, Adnan membantu Istri nya mandi. Jika biasanya Sabrina yang menyiapkan pakaian untuk Adnan. Kali ini Adnan yang sibuk menyiapkan pakaian Sabrina.


"Nggak apa-apa... ayo aku temani mandi," Adnan mengait lengan Sabrina.


"Mas... nggak usah ikut masuk, aku kan nggak di infus Mas, jadi jangan khawatir," Sabrina menutup pembicaraan bersamaan dengan menutup pintu.


Adnan mengalah kemudian kembali ke kamar. Ternyata Dafa sudah bangun. "Anak Papa sudah bangun... tadi malam begadang... iya..." Adnan mengajak putranya bicara menatap mulut Dafa yang menyar menyor menggemaskan sekali.


"Selamat pagi Pak," sapa suster.


"Selamat pagi," Adnan menjawab.


"Saya mau memandikan dedek Pak," ujarnya sopan.


"Silahkan," Adnan menyingkir membiarkan Suster menggendong Dafa. Adnan pun akhirnya ambil handphone berniat menghubungi supir papa Rachmad. Adnan hendak ke sekolah namun rasanya tidak mungkin mengendarai mobil dalam keadaan badan yang tidak sehat di tambah lagi kurang tidur.


"Dafa mana Mas?" Sabrina tampak terkejut selesai mandi melihat Dafa tidak ada di tempat tidur.


"Sedang dimandikan perawat sayang..." Adnan tidak jadi menghubungi supir.

__ADS_1


"Oh... ya Allah... aku tuh deg degan terus Mas," Sabrina mengusap dada. Ia saat ini sedang banyak pikiran. Melihat putranya yang baru sehari ia lahirkan tidak ada di ranjang panik sendiri.


"Sekarang kamu sarapan dulu," Adnan ambil nampan mendekatkan pada Sabrina.


"Mas sebaiknya sarapan juga, mau pesan, apa mau ke bawah?" tanya Sabrina. Pasangan itu saling mengingatkan.


"Nanti aku pesan saja Yank," jawab Adnan sambil membuka penutup tromol sarapan pagi yang di sediakan rumah sakit.


"Terimakasih," Sabrina lantas mencoba nasi tim sedikit terasa enak kemudian makan dengan lahap.


"Permisi..." sapa perawat sudah kembali menggendong Dafa. Kemudian menidurkan di tempat semula.


"Terimakasih Sus," kata Adnan.


"Sama-Sama Pak," suster pun ke luar meninggalkan mereka.


Dafa sudah mandi, Sabrina juga sudah selesai makan. Adnan merasa tenang kemudian pamit ke bawah hendak sarapan tapi sebelumnya membuka kerudung Sabrina. Menyisir rambut terlebih dahulu, kasihan istrinya sejak kemarin Adnan tidak melihat istrinya mengurus dirinya sendiri.


"Aku nggak jadi pesan yank, mau sarapan bubur di bawah saja," Adnan tampak sedang menyisir rambut Istri nya.


"Iya, terserah Mas saja," Sabrina mengakhiri obrolan.


"Selagi anak kita bobo, kamu ikut tidur juga ya, semalaman kan begadang," pesan Adnan.


"Iya..." Sabrina merasa tersanjung di perhatikan terus oleh suaminya.


Pria itu bergegas keluar, melihat lift yang sudah terbuka segera berlari. Sampai di depan gerobak bubur Ayam, Adnan memesan. Hingga beberapa menit kemudian pesanan datang. Adnan lalu menyantapnya. Belum sampai habis, handphone miliknya bergetar. Ia lihat siapa gerangan yang telepon ternyata dari wali kelas Afina. Saat ini sudah jam delapan pagi.


"Assalamualaikum..." jawab Adnan.


"Waalaikumsalam..."


"Pak Adnan, putri Bapak saat ini tidak masuk sekolah, apakah Afina sedang bersama Bapak?" tanya guru terdengar dari sambungan telepon.


"Apa? Afina tidak masuk sekolah?" suara Adnan meninggi.


"Begitulah Pak,"


Tut


Adnan memutus sambungan telepon kemudian beranjak dari duduk nya. Ia bayar bubur, kemudian meninggalkan tempat itu. Adnan segera ke parkiran mengeluarkan mobil lantas berangkat tidak ada waktu untuk pamit Sabrina.

__ADS_1


"Kurangajar!" gumam Adnan sambil menyetir. Bella benar-benar menantangnya. Mengapa sampai Afina tidak sekolah? Pikir Adnan. Adnan menjalankan mobilnya menuju apartemen Bella.


.


__ADS_2