Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Aku tidak mau berbagi bunda.


__ADS_3

"Djody... Sabrina mana?" dengan terengah-engah Adnan tiba di rumah sakit menghampiri Djody yang sedang di ruang tunggu.


"Anak loe sudah lahir Nan, memang loe kemana sih?" tanya Djody ketus.


"Alhamdulillah... terus bagaimana keadaan anak istri gw?" bukan menjawab pertanyaan Djody, tetapi Adnan balik bertanya.


"Masih di ruang bersalin, ditemani bini gw," jawab Djody. Kasihan juga melihat wajah Adnan yang sudah pucat pasi.


Tanpa bertanya lagi Adnan segera ke ruang bersalin. Ia ketuk pintu rupanya Bella yang membukanya.


"Bella... bagaimana keadaan Sabrina?" tanya Adnan dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Adnan merasa bersalah tidak bisa menemani istrinya saat berjuang mempertaruhkan nyawa.


"Sebaiknya kita keluar saja Nan," Bella segera keluar melewati Adnan, menyusul Djody ke ruang tunggu. Adnan mengikuti mereka bertiga duduk disana.


"Sabrina sehat Nan, sekarang sedang di mandikan, begitu juga dengan anakmu," Bella tersenyum ia menemani proses persalinan Ina hanya dengan sekali mengejan sudah lahir anak kedua.


"Alhamdulillah..." Adnan merasa lega, ia ingin segera bertemu istrinya dan minta maaf. Seharusnya Adnan tidak mematikan handphone. Padahal ia tahu bahwa istrinya tinggal menunggu hari akan melahirkan.


"Lalu anak kami laki-laki atau perempuan La?"


"Perempuan," jawab Bella pendek.


"Terimakasih Bella... kamu sudah menemani istriku" Adnan menatap Bella yang sedang bergelayut manja di pundak Djody. Bella membayangkan jika bisa melahirkan semudah Sabrina tadi.


Adnan tidak menyangka bahwa Bella benar-benar bisa berubah 180 derajat.


"Sama-sama Nan, lagian aku tidak melakukan apapun,"


"Sama gw nggak terimakasih, Nan" bukan Djody jika tidak berkelakar walaupun sedang panik sekalipun. Namun justru membuat suasana menegang menjadi santai.


"Ya, gw terimakasih sama loe, karena sudah membawa Sabrina dengan cepat ke rumah sakit ini." Adnan sungguh-sungguh.


"Tapi gw melakukan ini tidak gratis Nan, gw minta imbalan," kelakar Djody.


"Imbalannya apa?" Adnan menatap lekat wajah Djody.


"Lusa... gw mau ke negara A selama seminggu, ada proyek besar yang harus gw tanda tangani. Gw titip anak dan bini gw" tutur Djody.


"InsyaAllah..." pungkas Adnan.


Djody akhirnya beranjak menggandeng istrinya menuju ruang periksa dokter kandungan.


***********

__ADS_1


Sore harinya Sabrina sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Anak perempuan cantik sudah dibaringkan di samping Sabrina.


"Ya Allah... lucu banget Mas," betapa bahagianya Sabrina dengan hadirnya putri yang montok panjang 53 cm dan berat 3,5 kg gram sungguh ideal.


"Siniin Mas, aku mau pangku," pinta Sabrina.


"Selamat sayang... terimakasih kamu sudah memberikan aku anak yang tampan dan juga cantik. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah," Adnan mencium punggung tangan Sabrina. Kemudian mengangkat tubuh bayi meletakkan di pangkuan istrinya.


"Aamiin..." jawab Sabrina. Ia mencium pipi putrinya lembut.


"Maaf, aku tidak menunggui saat kamu berjuang setengah mati," sambung Adnan.


"Sudahlah Mas, mendingan Mas jemput Fina sama Dafa, pasti mereka senang melihat adiknya sudah lahir," Sabrina mengalihkan tidak mau mendengar lagi suaminya menyalahkan dirinya sendiri.


"Okay... aku telepon supir Papa," Adnan segera telepon Supir papa Rachmad, ternyata sang supir sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dan sudah membawa anak-anak bersama mama Fatimah dan papa Rachmad.


"Sudah dalam perjalanan kok Yank" kata Adnan setelah menutup handphone.


Tok tok tok


Saat sedang ngobrol ada yang mengetuk pintu kamar inap. Adnan segera membuka pintu perlahan. Ternyata Djody, Bella, dan juga Elma.


"Oh, kalian... masuk," titah Adnan sambil berlalu mendahului mereka.


"Belum... kalian sudah janjian?" Adnan melirik Elma yang berjalan di sebelah.


"Iya, tadi Fina telepon Elma Om, katanya ketemuan disini"


"Mana ponakan aku? Aku boleh gendong nggak nih...," Bella mendekati ranjang. Sementara Djody meletakkan buah tangan di atas meja di ikuti Adnan.


"Boleh Mbak," Sabrina menyerahkan dedek kepada Bella. Bella menerima dengan hati-hati. Jujur ia belum pernah menggendong bayi selain anak Angela sudah setahun lebih, itu pun hanya beberapa menit.


"Waah... dedek nya lucu..." seru Elma. Tersenyum manis. "Dedek di perut Mama pasti nanti cantik begini," harap Elma.


"Pasti dong... kalau anaknya cewek pasti cantik seperti Elma" Sabrina mengusap kepala Elma sambil tersenyum.


"Nggak lah... adik kamu ini sudah pasti cowok," Djody sudah punya anak perempuan tentu ingin anak kedua nya laki-laki.


"Terima saja Djody... Allah mau kasih kamu anak laki-laki atau perempuan," sanggah Adnan.


"Iya sih... tapi boleh kan berharap Nan," Djody mendekati istrinya, yang sedang menggendong dedek. Namun Bella tidak berniat menjawab kata-kata suminya. Bagi Bella apapun yang akan diberikan kepadanya tentu bahagia sudah diberi kesempatan untuk hamil saja alhamdulilah.


Bella ngobrol panjang lebar membicarakan tentang anak-anak sementara Djody ngobrol dengan Adnan di sofa.

__ADS_1


***********


"Ina... kenapa kamu mau melahirkan tidak telepon Mama?" Sesal mama Fatimah.


"Iya In, kalau kamu telepeon Adnan tidak bisa, kan bisa menghubungi Papa," papa Rachmad pun tak kalah menyesal.


"Tidak apa-apa Pa, Ma... yang penting... dedek sudah lahir sehat dan selamat," Sabrina bersyukur diberikan kemudahan untuk melahirkan.


"Ini dedek Dafa?" tanya Dafa begitu tiba lalu minta di pangku Sabrina.


"Iya, ini dedek Dafa, dedeknya perempuan," Sabrina mengajaknya ngobrol putranya sesekali mencium pipi Dafa dan melakukan sentuhan-sentuhan menunjukkan bahwa ia sangat menyayangi Dafa.


"Yeyyy.... aku ada teman main," Fina antusias menyambut kehadiran adik keduanya.


"Teman Dafa uga," Dafa tidak mau kalah.


"Iya dong... teman kalian semua," Sabrina menyahut.


"Sudah diberi nama belum?" tanya mama Fatimah. Begitu datang langsung menggendong dedek.


"Belum Ma," Sabrina menggeleng, memberi nama tentu menyerahkan kepada Adnan.


"Oeeekk... oeeekk..." hingga beberapa saat kemudian dedek menangis kencang.


"Dafa sekarang duduk di samping Bunda ya," Sabrina berniat memberi asi walaupun belum keluar.


"Ndak auk..." Dafa mengeratkan pelukanya. Ia tidak ingin Sabrina menggendong dedek. Padahal dedek terus menangis walaupun sudah di goyang-goyang dalam gendongan mama Fatimah.


"Sini aku gendong Ma," Adnan yang sudah membawa susu formula dalam botol menggendongnya dan memberi susu, namun putrinya tidak mau diam.


"Dafa... sekarang main di sofa sama kakak yuk" semua sibuk membujuk Dafa. Fina heran biasanya adiknya menurut tetapi kali ini kenapa ngeyel.


"Oeeek... oeeek..." sudah berbagai cara membujuk Dafa. Namun Dafa tidak mau bergeser sedikitpun dari pangkuan Sabrina. Bocah itu seolah tahu tidak ingin berbagi bunda dengan siapapun termasuk adiknya.


"Dafa... hanya sebentar sayang... nanti kalau dedek sudah tidak menangis lagi, Dafa di pangku Bunda lagi. Bunda tidak akan kemana-mana kok, Dafa sekarang duduk disini ya," sabrina menepuk ranjang di sebelah.


Dafa pun menurut tanpa menjawab.


"Sini Mas," Sabrina memangku dedek memberikan asi bening kepadanya. Seketika bayi itu diam, merasa nyaman dalam dekapan sang bunda. Namun sebaliknya. Sang kakak yang duduk di sebelah Sabrina air matanya bercucuran. Ia sedih bundanya ada yang ambil, ia iri tidak pernah dibayangkan oleh Dafa jika ia akan diduakan.


Mama Fatimah, papa Rachmad, Adnan sedih melihat Dafa.


"Sayang... di gendong Papa yuk... kita main ke bawah." Adnan merangkul putranya. Namun Dafa menangis tidak bersuara menepis-nepis tangan Adnan. 😭😭😭.

__ADS_1


.


__ADS_2