
Sabrina segera dibaringkan di ruang bersalin setelah menunggu beberapa menit kemudian dokter bersama perawat pun datang.
"Bu Sabrina, bagaimana kontraksinya... sudah lebih sering?" tanya dokter lembut.
"Sudah tidak tahan Dok" lirih Sabrina.
Dokter pun memasang sarung tangan kemudian memeriksa bagian bawah. "Oh air ketuban nya sudah pecah ya?"
"Iya Dok, tolong istri saya, Dok," Adnan rasanya tidak tahan melihat istrinya meringis kesakitan.
"Tenang Pak Adnan, air ketuban nya pecah baru sedikit kok, semoga lancar, mari bu Sabrina... jika perut nya terasa sakit langsung mengejan ya," titah Dokter.
Aaaaaggghhh...
"Mari Bu Sabrina... sedikit lagi," dokter menyemangati.
"Sayang... yang kuat ya, aku bantu dengan doa" Adnan terus berdoa sambil mengusap kepala, istri nya memberi kekuatan.
"Aaaggghhh... hos hos hos"
"Mari Bu... sedikit lagi bu Sabrina, sudah terlihat rambut nya."
"Aaaaggghhhh...."
"Oeeekkkk oeeeekkkk..."
"Alhamdulillah... selamat sayang... selamat ya...," Adnan mencium seluruh wajah istrinya. Sabrina sendiri terasa nyawanya yang tadi terpisah-pisah kembali terkumpul kembali.
"Alhamdulilah... putranya laki-laki Pak," kata dokter setelah dedek di bungkus handuk oleh perawat. Kemudian bayi di tidurkan di dada Sabrina agar menyusu untuk yang pertama kali.
"Anak kita laki-laki Mas?" tanya Sabrina ia merasa bahagia. Dikaruniai anak laki-laki untuk yang pertama kali.
"Iya sayang..." Jawab Adnan seraya membantu suster membuka kancing Sabrina paling atas agar dedek menyusu. Adnan tentu sudah berpengalaman ketika menemani Bella melahirkan dulu, walaupun Bella kala itu marah-marah tidak mau menyusui. Ingat Bella Adnan teringat wanita itu masih hidup atau sudah mati? Terlepas dari itu Adnan senang wanita sinting itu tidak mengganggu keluarganya.
"Pak, pentol nya masih kecil... Bapak kurang rajin ya?" seloroh suster memang benar adanya.
"Pentol?" dahi Adnan berkerut.
Sedangkan Sabrina merasa malu segera membuang wajah ke samping.
"Suster... kamu ini ya," dokter terkekeh. Perawat yang satu ini memang suka ceplas ceplos.
Adnan tidak menanggapi pasalnya tanganya gemetar hendak memasukan pentol ke mulut dedek kesusahan. Walaupun akhirnya bisa juga.
"Lain kali yang rajin ya Pak," perawat mengulangi sambil membawa dedek pergi untuk di bersihkan.
Adnan hanya geleng-geleng kepala. Kemudian beralih menatap Sabrina yang menarik tangannya.
"Mas... aku malu..." Sabrina merengut kesal. Sementara Adnan terkekeh.
"Maaf ya Bu Sabrina... rekan kami yang satu itu memang konyol," dokter menjelaskan.
"Tidak apa-apa Dok," Adnan yang menjawab.
Selesai dibersihkan, dedek diberikan kepada Adnan segera di adzankan, kemudian Sabrina di bersihkan oleh perawat yang konyol tadi.
__ADS_1
**********
Jam delapan pagi Sabrina sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP.
"Mas... aku mau makan," kata Sabrina setelah melahirkan rupanya terasa lapar.
"Oh iya, aku sampai lupa," Adnan terkesiap saking senangnya sampai lupa membelikan istrinya sarapan. Padahal pagi ini belum ada jatah makan pagi.
"Aku tinggal sebentar nggak apa-apa kan..."
"Nggak apa-apa Mas..."
Adnan segera ke luar hendak mencari sarapan. Sampai di lobby berpapasan dengan mama Fatimah bersama papa Rachmad.
"Nan, Ina sudah melahirkan ya?" mama Fatimah tersenyum.
"Alhamdulillah Ma, Pa," Adnan tampak sumringah.
"Cucuku laki-laki apa perempuan Nan?" sambung papa Rachmad.
"Surprise Pa, mendingan Papa sama mama segera temui Ina, aku mau cari sarapan dulu," pungkas Adnan.
"Dasar... anak itu, ayo Pa," mama Fatimah berjalan lebih dulu di ikuti papa Rachmad.
"Sabrina..." sapa mama ketika sampai di kamar Sabrina.
"Mama... Papa..." Sabrina yang sedang chatting dengan Prily karena Prlily akan datang menjenguk, segera meletakkan handphone menyambut kedatangan mertua.
"Selamat sayang..." Mama Fatimah mencium pipi menantunya.
"Lihat Pa, cucu kita tampan sekali," mama Fatimah sudah tidak sabar memangku sang cucu.
"Hidung nya ini loh," papa Rachmad menyentuh hidung mancung sang cucu. Papa Rochmad tersenyum lebar. Ia sudah mempunyai generasi penerus kampus untuk cucu laki-laki, sementara yayasan pendidikan untuk cucu perempuan.
"Iya Pa hidungnya mirip Sabrina ya," mama menoleh Sabrina. Sabrina senyum-senyum. Ia senang mempuanyai mertua yang baik dan perhatian sejak sebelum menikah hingga kini kasih sayang beliau kepadanya tidak berubah. Walaupun Sabrina bukan menantu sempurna.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Adnan sudah kembali membawa sarapan dan juga cemilan.
"Ma, Pa, ini aku belikan cemilan," kata Adnan meletakan di meja sofa.
"Kalian saja yang sarapan, kami sudah sarapan kok," jawab mama yang masih asyik memandangi cucunya. Cucu nya memanyun-manyunkan bibir tampak menggemaskan.
"Sarapan sayang... aku suapi ya," Adnan segera duduk di samping istri nya, membawa segelas susu ibu menyusui dan roti, agar asinnya keluar banyak.
"Aku makan sendiri saja Mas," Sabrina malu kepada kedua mertuanya. Segera ia ambil Roti yang berisi suyuran cocok untuk ibu melahirkan. Sabrina sarapan tampak lahap Adnan menatapnya senang.
Hingga menjelang dzuhur mama Fatimah dan papa Rachmad pamit pulang. Malam nanti beniat kembali.
"Sabrina..."
Tidak lama kemudian setelah kepergian mama. Sabrina dan Adnan di kejutkan oleh kehadiran Prily. Tetapi bukan Prily yang membuat mereka terkejut tetapi seorang pria yang menemani Prily sungguh tidak menyangka.
__ADS_1
"Ina... selamat ya... muach-muach" Prily langsung menyambar pipi sahabatnya.
"Terimakasih Prily..."
"Selamat Ina... dan loe Nan, kalian sudah menjadi orang tua yang sempurna, tapi jangan bertengkar lagi seperti dulu," Bobby meledek.
"Kalian jadian?" Adnan mengalihkan tidak ingin mengingat pertengkaran nya dulu dengan Sabrina.
"Iya Pryl, jujur sama gue, loe sama Kak Bobby jadian?" Sabrina menambahkan.
Bobby menoleh Prily begitu juga sebaliknya, mereka saling melempar pandang mengulum senyum. Sabrina dan Adnan sudah tahu jawabannya. Jika mereka memang saling mengaggumi.
"Sejak kapan Pril, loe main rahasia-rahasian sama gue," Sabrina cemberut.
"Sejak loe di rawat lima bulan yang lalu In, gue sama Kak Bobby mencari loe, terus.... terus..." Prily malu-malu.
"Terus... Kak Bobby nembak loe! Iyakan?" cecar Sabrina.
"Loe juga nggak bilang sama gw! Loe," Adnan menoyor jidat sahabatnya sejak SMP itu.
"Hahaha... gw tuh sengaja sembunyikan dari loe Nan, karena gw ingin seperti loe, publik menjelang pernikahan beberapa hari lagi," tutur Bobby.
"Jadi... loe sebentar lagi mau menikah Pril?" Sabrina tersenyum.
"Iya In, gw sekalian mau kasih undangan ini," Prly mengelurkan undangan berwarna pink dari tas lalu memberikan kepada Sabrina.
"Selamat-selamat." Sabrina mengulurkan tangan.
"Oeekk... oeeekk..." dedek bayi menangis. Adnan segera mengangkat putranya.
"Cup, cup, cuuuub..." dedek langsung diam dalam gendongan sang papa.
"Pak Adnan, saya boleh gendong sebentar nggak?" tanya Prily. Walaupun Adnan notabene suami sahabatnya. Prily selalu segan pada Adnan.
"Boleh, tapi hati-hati, saya mau membuat susu dulu," Adnan memberikan putranya pada Prily kemudian menuju dispenser disana sudah siap botol, dan susu formula sebab asi eksklusif belum ke luar.
Rupanya Adnan sudah tidak merasa kagok membuat susu formula. Wajar dulu ketika Afina bayi. Ia mengurus sendiri tidak boleh di urus baby sitter kecuali mama Fatimah sesekali membantu.
"Nan, gw tunggu loe di luar, gw mau bicara penting!" tandas Bobby.
"Mau bicara apa, gw nggak mau ninggalin bini gue Bob, bicara disini saja," tolak Bobby sambil mengaduk susu.
"Nan, ini penting jangan sampai Sabrina mendengar, biar Prily yang menemani bini loe! Ayo cepat nggak banyak waktu," tegas Bobby tidak mau di bantah.
"Yang... ini susu nya, aku ke luar sebentar ya, biar kamu di temani Prily," Adnan memberikan botol pada Sabrina.
"Iya Mas, hati-hati,"
Adnan mengikuti Bobby ke luar.
.
"Hayooo... apa kira-kira yang akan dibicarakan Bobby pada Adnan? Hingga Sabrina tidak boleh mendengar?" ✍✍✍ 💪💪💪.
---
__ADS_1