
David menarik koper turun dari lift. Sampai di depan apartemen, ia mendongak menatap kamar lantai lima untuk yang terakhir kali. Sebelum akhinya masuk mobil.
Ia starter mobil setelah meletakkan koper di bagasi. David menuju apartemen yang baru. Sampai tujuan tidak perlu naik lift, David hanya tinggal membuka pin apartemen sudah sampai di tempat.
"Assalamualaikum..." David mengucap salam meskipun tidak ada orang. Agar jika ada jin jahat segera menyingkir. Apartemen ini masih seperti yang dulu ia sengaja membeli yang dua kamar.
Ia menatap dapur komat kamit berdoa agar Angela segera mau di ajak pindah ke tempat ini. Ingat Angela, David tersenyum istri nya itu gemar memasak rasanya tentu memanjakan lidah.
David membuka pintu kamar yang akan ia tempati berdua dengan Angela, dan bayi yang masih dalam kandungan. "Ya Allah... ampuni dosaku dan semoga Angela segera memaafkan aku," David meraup wajahnya.
David memindai sekeliling kamar, sudah ada fasilitas lemari pakaian, maupun tempat tidur. Memang agak mahal sedikit. Namun memudahkan David.
David merebahkan tubuhnya di kasur istirahat. Sore harinya lalu berniat membujuk Angela.
***********
"Ela... kamu memasak apa?" tanya David basa basi, mendekati Angela yang sedang memasak di dapur. Namun Angela sama sekali tidak menggubris.
"Ela... jangan diamkan aku seperti ini, sayang..., aku tidak kuat El" David memeluk Angela dari belakang.
Angela melepas tangan David lalu balik badan. Menatap nanar wajah suaminya.
"Dav, sebaiknya kita masing-masing saja dulu, biar kita intropeksi diri. Untuk saat ini aku ingin sendiri," Angela mencoba untuk bersabar.
"Angela... jika kamu tidak mau memaafkan aku, biarkan aku berada disisihmu, memantau perkembangan anak kita, mengantarkan kamu kedokter, memberikan apa yang kamu butuhkan El," David memegang kedua telapak tangan Angela.
Angela menarik tanganya.
"Jika kamu benar-benar sayang aku, dan anak kita, biarkan aku sendiri Dav! Pergilah Dav..." air mata Angela bercucuran.
David tidak tahan melihat Angela menangis. "Baiklah Ela... aku pergi..." David melangkah ke depan kemudian membuka pintu.
"Maafkan aku Dav..." Angela mengikuti David setelah suaminya itu menutup pintu perlahan menuju mobil.
Angela menyibak gorden mengintai langkah gontai suaminya.
"Maafkan aku Dav..." Angela balik badan tidak kuat lagi menahan air mata. Wanita yang sudah hamil besar itu, bersandar di pintu, dengan mata terpejam. Ia tidak akan menyangka perjalanan rumah tangga nya yang sangat manis seperti madu, kini berubah menjadi sepahit ini.
__ADS_1
**************
Satu bulan kemudian Bella sudah sembuh dan sudah bisa berjalan walaupun belum bisa berlari. Djody membuktikan ucapanya membiayai pengobatan Bella.
Saat ini Bella tinggal di apartemen David. Bahkan Andini pun sudah selama seminggu ini berada di negara A, dan tinggal di apartemen, menemani Bella.
Andini berdiri di depan kaca apartemen, jauh mata memandang tampak jalanan yang lengang dan sepi hanya sesekali mobil melintas tampak lancar. Selancar usahanya untuk memisahkan David telah berhasil. Wanita itu tersenyum, ternyata tidak sulit untuk memisahkan anak dan menantunya. Nyatanya ketika sampai disini ia mendapat kejutan anaknya sudah bercerai.
"Mama ngapain?" tanya Bella mengejutkan lamunan Andini.
"Nggak apa-apa, cuma seneng saja, lihat jalanan disini tidak macet seperti di tempat kita," jawab Andini kemudian melungguhkan bokongnya di kursi.
"Sekarang... kita sebaiknya pulang saja Bella... tidak akan ada gunanya lagi kamu tinggal disini. Toh kamu sudah cerai kan... dengan David," kata Andini. Ia masih berharap Bella bisa menggeser posisi Sabrina.
"Nggak mau pulang Ma, kalau sudah sehat nanti, aku mau melamar kerja disini," kukuh Bella.
"Ngapain... kamu mau cari kerja disini? Mendingan kamu mengurus resto milik Papa. Papa itu sudah sering sakit-sakitan, memang kamu nggak kasihan," Andini berharap.
"Saat ini aku belum kepikiran Ma, aku kan nggak ngerti mengurus resto," tolak Bella.
"Kangen sih Ma, tapi aku hampir setiap hari vidio call kok," jawab Bella. Kali ini setiap hari Bella memang selalu menghubungi putrinya.
"Bella... Ayo lah... dekati lagi Adnan, agar kalian bisa menjadi keluarga yang utuh," kata Andini ngawur.
"Enak saja! Mama! Nggak mau, aku masih mencintai David," Bella cemberut.
"Kamu ngapain sih Bella?! Sudah di cerai kok malah mau ngemis cinta lagi sama David." Andini gregetan pingin mites hidung nya Bella.
"Cek! Mama... apa bedanya? Kalau aku mendekati Adnan lagi? Apa itu namanya nggak ngemis juga? Aku tuh sejak hamil Fina sudah tidak ada rasa cinta lagi sama Adnan Ma!" kali ini Bella berkata jujur.
"Terserah kamu Bella... percumah ngomong sama kamu tuh!" ketus Andini kesal.
"Nggak tahu Ma," Bella pun beranjak meninggalkan mama nya, kemudian masuk ke kamar.
Bella menjatuhkan tubuhnya di kasur, rasanya rindu dengan David. Ia menyesal harusnya dulu bisa bicara baik-baik dengan David. Tetapi ia malah mengusirnya. Dan sekarang Bella nyatanya kalah dengan istri kedua.
"Aaahhhggg..."
__ADS_1
Buk buk buk!
Bella memukul-mukul kasur, rasanya kesal sekali. Bella pun bangun membuka lemari kecil. Barangkali ada pakaian Angela yang tertinggal. Ia berniat membuangnya. Kerena wanita itu, ia menjadi cerai dengan David. Pikir Bella.
Namun lemari itu tampak kosong. Bella kemudian menutupnya kembali.
"Jangan-jangan... Wanita itu tidak hanya maling suami gw! Tapi maling perhiasan gw juga!" bila berbicara sendiri.
Bella membuka berangkas yang sudah hampir dua bulan tidak ia lihat. Bella tersenyum karena barang-barang miliknya masih utuh. Ia keluarkan perhiasan diangkat satu persatu. Kalung, gelang, cincin, entah berapa gram jumlahnya. Satu gelang unik ia angkat ke atas dengan tangan kiri. Yang terakhir Bella meraup mas batangan seperti meraup kacang goreng.
Pluk.
Bella menunduk menatap kertas yang dilipat jatuh ke lantai. Ia meletakkan kembali mas batangan kemudian membuka lipatan kertas yang berisi cincin kawin. Bella tidak perduli dengan cincin kawin itu, karena miliknya pun sudah hilang sejak setahun yang lalu tanpa David sadari. Namun yang membuat penasaran tulisan dalam kertas tersebut, yang ditulis tiga minggu yang lalu dengan tulisan tangan sesuai tanggal yang tertulis.
✍✍✍✍✍
*Bella... ketika kamu membaca tulisan ini, entah saya masih ada atau tidak, karena saya tidak tahu rencana Allah.
Seperti rumah tangga kita ini, tidak pernah saya sangka akan berakhir begitu cepat. Itulah yang namanya takdir. Maka dari itu aku mohon berubahlah menjadi lebih baik. Walaupun saya sendiri bukan suami yang baik di mata kamu.
Karena aku pun telah berbuat salah, telah menyakiti dua wanita sekaligus. Untuk itu maafkan saya. Karena saya hanya pria biasa tempatnya salah*.
Bella... terimakasih, karena kamu telah mendampingi aku selama ini. Walupun saya akui banyak air mata yang tumpah.
Sebenarnya saya ingin bertemu lansung sama kamu, agar kita bisa bicara baik-baik. Tetapi rupanya kamu tidak mau.
Saya tidak bisa memberikan apapun selama menjadi suami. Apartemen ini saya hadiahkan untuk kamu. Karena hanya ini harta yang saya punya.
🙏🙏🙏🙏🙏.
"Ini gara-gara wanita itu!" Bella mengepalkan tangan. Ia masukan kembali barang-barang Bella ke berangkas. Ia ambil tas slempang lalu keluar dari kamar.
"Bella... kamu mau kemana?" tanya Andini terkejut.
"Cari angin Ma" jawab Bella sambil berlalu.
.
__ADS_1