Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Hidangan pembuka.


__ADS_3

Adnan menggendong Sabrina turun dari panggung. Tidak perduli semua mata menatapnya, yang terpenting cepat membawa Sabrina ke rumah sakit.


"Nan... Sabrina kenapa Nak?" tanya mama Fatimah sendu, ketika Adnan sudah membaringkan istrinya di jok tengah.


"Nggak tahu Ma" sahut Adnan pendek lalu berputar hendak menyetir.


"Istri Mu itu memang kelelahan Nan, makanya Papa bilang cari orang, supaya membantu mengasuh Dafa." usul papa Rachmad.


"Nanti kita bicarakan di rumah, lebih baik sekarang kita cepat bawa Ina ke rumah sakit," saran mama tidak ingin membuang waktu lagi. Ia benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu dengan menantu kesayangan itu.


"Ma... sebaikanya, Mama tidak usah ikut, tolong Dafa. Dia sedang bersama Prily," Adnan sampai tidak memikirkan Dafa. Adnan khwatir jika Dafa rewel nantinya, terlebih Prily dalam keadaan hamil tentu akan kewalahan mengurus Dafa yang sedang aktif.


"Baiklah," mama mengurungkan niatnya akan masuk ke dalam mobil.


"Pak Adnan, biar saya saja yang menyetir" usul Kevin. Adnan tidak menjawab benar kata Kevin. Kevin segera menjalankan mobilnya di temani Rasmini di depan.


Sedangkan Adnan kebelakang memangku kepala Istri nya di temani papa Rachmad.


Adnan menatap sendu wajah Istri nya yang pucat. Ia merasa bersalah seharusnya tidak memaksa istrinya untuk bernyanyi. Niat hati ingin menghibur Sabrina justeru membuat Sabrina memaksakan diri dan pada akhirnya terjatuh.


*************


"Ada apa La, kok ribut-ribut?" tanya Djody pengantin pun sampai turun dari pelaminan, melihat orang-orang berlarian.


"Nggak tahu Djod, kita tanya Prily saja," Bella mengangkat gaun pengantin yang panjang hingga ke tanah dengan kedua tangan, menghampiri Prily bersama Djody dan juga Afina dan Elma.


"Pril, ada apa?" tanya Bella pada Prlily yang masih menggendong Dafa. Dafa menangis mencari bundanya.


"Sabrina pingsan Mbak, sekarang sudah di larikan ke rumah sakit," Prlily menjawab.


"Ya Allah... pantas, tadi saya perhatikan wajahnya pucat pasi," kata Bella.


"Sudah seminggu ini memang Dia sering ngeluh pusing terus Mbak," tutur Prily. Menceritakan apa yang di dengar dari curhatan sahabatnya. Namun tidak dirasakan oleh Sabrina.

__ADS_1


"Tante... Bunda kenapa Tan? Bunda kenapa... hu huuu..." Afina menangis begitu mendengar Sabrina sakit, menggoyang tangan Prily.


"Fina... yang tenang sayang... Bunda cuma masuk angin kok," Prlily menyentuh pipi Afina.


"Undaaa... huaaa..." kakak beradik itu pun semua menangis.


"Fina... Bunda sudah di bawa ke rumah sakit kok, jangan menangis, Dafa jadi ikutan sayang," Bobby yang menghibur.


"Benar sayang... kita berdoa saja, semoga Bunda tidak apa-apa," sambung Bella.


"Dafa.... sini sama Nenek sayang..." mama Fatimah berniat menggendong cucu nya.


"Enek" ucap Dafa, mengansungkan tangan minta di gendong sang nenek.


"Iya, kita cari Bunda, anak ganteng tidak boleh menangis," hibur mama Fatimah.


"Fina... Nenek mau ajak dedek pulang dulu ya, kamu jangan sedih semoga Bunda tidak apa-apa," mama mengusap kepala Fina.


"Akak... puang..." ajak Dafa dengan bahasa cadelnya. Ia melambaikan tangan agar sang kakak ikut bersamanya.


"Ya sudah, nggak apa-apa, sebaiknya memang kamu pulang saja sayang... tapi jangan sedih ya..." pungkas Bella mencium pipi putrinya. Fina pun akhirnya pulang bersama neneknya.


"Mas... kita menyusul Sabrina..." Prily pun akhirnya pergi bersama Bobby.


Djody dan Bella kembali ke pelaminan suasana kembali tenang. Para tamu terus berdatangan mengucapkan selamat kepada pengantin.


Di halaman yayasan Al Inayah, tampak seorang pria dan wanita bersama seorang anak yang masih berusia 6 bulan dalam gendongan wanita tersebut, baru saja turun dari taksi.


"Pak, lokasi pernikahan Isabella di sebelah mana ya?" tanya pria tersebut, kepada satpam Al Inayah.


"Masuk ke dalam hutan Mister, seharusanya taksi yang Anda tumpangi mengantar Anda sampai dalam hutan," satpam menjelaskan jika di tempuh dengan berjalan kaki tentu lumayan jauh.


"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya pria itu minta pendapat, sebab tidak mungkin membiarkan Istri nya berjalan kaki dalam keadaan lelah.

__ADS_1


"Oh, sebaiknya pesan ojek online saja," jawab satpam.


Pria itu mengangguk segera memesan dua ojek online. Hanya dalam waktu 5 menit ojek sudah tiba. Pria itu membiarkan istrinya naik ojek lebih dulu, baru kemudian dirinya. Ojek beriringan menuju tempat pesta.


Pria itu mengambil alih putranya dalam gendongan wanita cantik. Walaupun tampil apa adanya.


"Assalamualaikum..." sapa wanita itu tersenyum manis kepada Bella dan juga Djody. Bella yang baru saja selesai foto bersama-sama teman kuliah nya dulu menoleh.


"Angela..." di rangkulnya tubuh semampai Angela. Ya pria dan wanita itu adalah Angela bersama David mantan suami Bella.


"Bella... aku doakan semoga kalian bahagia," ucap Angela setelah Bella melepas pelukanya.


"Aku juga selalu mendoakan kamu Ela, alhamdulilah... kita sudah diberikan jodoh yang sesuai dengan diri kita masing-masing," kedua wanita pun menangis terharu. Wanita yang dulu berseteru itu kini selayaknya saudara saling melepas kangen.


"Selamat Djod, samawa ya," ucap David menjabat tangan Djody.


"Terimakasih Dav, Danial bobo ya?" Djody menelisik wajah Danial dalam gendongan David. "Kapan kalian sampai?" cecar Djody.


"Subuh tadi kami sampai Djod, di pesawat Danial begadang," David menceritakan perjalanannya. Kedua pria itu tanya kabar dan lain sebagainya. Hingga beberapa saat kemudian, David mengajak Angela menyingkir dari pelaminan setelah dua pasang pasutri foto bersama untuk kenang-kenangan.


"Aku terharu Djody... mereka jauh-jauh menyempatkan diri untuk datang keacara kita," Bella menatap kepergian Angela yang sudah menjauh.


"Bella... orang baik, kemanapun akan selalu dicari, walaupun sampai kemanapun," ujar Djody.


"Ya... dan kamu lah pria yang menuntun aku menjadi wanita baik," Bella mencium punggung tangan suaminya yang baru sah tadi pagi itu. Djody tersenyum rasanya hendak mencium bibir istri nya jika bukan di tempat umum.


Waktu berganti hingga sore acara pun akhirnya selesai. Pengantin pun akhirnya dijemput Jono pulang ke rumah. Bella diboyong ke kediaman Prayoga. Wanita yang sudah menikah untuk yang ketiga kali itu menginjakkan kaki ke rumah suaminya untuk yang pertama kali.


"Selamat datang ratuku..." ucap Djody memeluk pundak istri barunya. Ia lirik wajah wanita yang sudah halal baginya itu. Bella hanya menanggapi dengan senyuman mensejajarkan langkah kaki suaminya menuju kamar.


Djody mendorong handle pintu, begitu terbuka, Bella mengendus semerbak wangi bunga melati.


"Inilah kamar kita rataku... disinilah kita akan mengukir cinta agar lebih indah, seindah bibir merah mu," Djody rupanya sudah tidak tahan tiap menatap bibir merah itu. Namun kemarin-kenarin tentu belum halal. Djody mendekatkan bibirnya dengan bibir ranum Bella. Ia mencicipi hidangan yang tersedia di depanya, sebagai hidangan pembuka yaitu makanan dingin-dingin empuk. Saat ini mereka nyemil dulu, hidangan beratnya di konsumsi nanti malam saja akan lebih nikmat tiada siapapun yang mengganggu..

__ADS_1


.


__ADS_2