
"Kita berangkat Mbak," kata Sabrina kepada Bella. Ina hendak menggendong Dafa. Namun dicegah Bella. "Biar aku saja yang gendong In," rupanya Bella memang ingin merasakan menimang anak kecil yang selama ini tidak pernah ia lakukan.
"Nggak apa-apa memang, Mbak" Sabrina khawatir merepotkan Bella. Ia menatap mata Bella terlihat habis menangis. Lalu beralih menatap Prily minta kode. Namun Prily hanya menggeleng lemah.
"Nggak apa-apa In, kira-kira aku nanti bisa menimang anak tidak ya In" lirih Bella.
"Semua orang tidak akan tahu apa yang akan terjadi besok Mbak, mungkin saat Mbak Bella berpasangan dengan David tidak dikaruniai anak, itu salah satu ujian yang harus Mbak hadapi. Siapa tahu Allah punya rencana lain yakni menjalani rumah tangga bersama Kak Djody nanti akan mendapatkan momongan bahkan lebih dari satu," nasehat Sabrina panjang lebar.
"Aamiin..." ucap Bella Bella manggut-manggut tersenyum mendengar nasehat Sabrina sedikit lebih tenang.
"Kalau gitu... saya yang nyetir Mbak," usul Ina mengambil alih kunci dari tangan Bella, saat mereka sudah berada di samping mobil.
"Gitu ya" kata Bella, masih senang menggendong Dafa. Sabrina hanya mengangguk membiarkan Dafa bersama Bella, kemudian ia yang menyetir. Di dalam mobil mereka saling ngobrol terasa hangat tidak ada sekat seperti dulu. Jalanan cukup lancar mereka pun akhirnya sampai tempat yang di tuju. Yakni butik Lastri.
Sampai di dalam butik berlantai dua yang atas bagian konveksi, dan yang bawah tentu untuk memajang pakaian. Mata Isabella melebar kala mengerling tidak ia sangka gadis kampung yang dulu selalu ia hina dengan sebutan gadis miskin. Kini memiliki toko-toko dengan koleksi gaun hasil rancangan sendiri. Pola yang dulu Lastri jahit sendiri, kini sudah menjadi konveksi dan mampu membuka lapangan pekerjaan. Butik dari gaun yang murah hingga paling mahal. Dan yang paling membuat Bella terkesima adalah; butik Lastri menjadi one stop shopping. Para pelanggan yang memburu koleksi berbagai model pakaian model baru maupun lama.
"Mbak Bella kita temui Lastri di ruangan dulu ya," usul Sabrina sebelum Bella memilih gaun.
"Tentu" jawab Bella. Inilah momen yang ia tunggu mencari waktu yang tepat untuk menemui Lastri. Terakhir bertemu Lastri, saat di puncak ketika Bella membawa kabur Fina satu tahun yang lalu. Bella menarik napas berat. Andai saja dulu mempunyai pikiran jernih tentu akan melakukan hal seperti sekarang. Dengan berdamai nyatanya Adnan membiarkan dirinya keluar masuk rumah Adnan dan mengajak Fina berjalan kemana pun ia suka.
Tok tok tok.
Sabrina mengetuk pintu membuyarkan lamunan Bella.
"Masuk" suara familiar dari dalam. Lantas Sabrina masuk diikuti Prily dan juga Bella. Netra mereka tertuju kepada wanita cantik berusia 30 tahun yang sedang membuat desain baju. Ia mengangkat kepala ketika terdengar langkah sepatu melihat siapa yang datang Lastri menghentikan kegiatannya.
"Sabrina... Prily... eh ada Mbak Bella juga," sapa Lastri ramah. Seketika Lastri berdiri menyambut kedatangan tamu-tamu nya.
"Mbak Bella... selamat ya, saya dengar dari Ina, sebentar lagi Mbak akan menikah." Lastri menatap wajah Bella yang tampak muram.
"Terimakasih..." Bella menjawab pendek. "Oh iya Tri, untuk itulah saya kesini mau pesan baju," pada akhirnya Bella berkata lancar.
__ADS_1
"Nda, Nda. Ndong" Dafa mengulurkan tangan minta di gendong Sabrina.
"Oh anak Bunda.... ayo sayang..." Sabrina mengambil alih Dafa dari gendongan Bella.
"Mari saya antar Mbak Bella" ujar Lastri mengajak mereka menunjukkan koleksi baju pengantin berbagai model. Sementara Sabrina memisahkan diri bersama Prily melihat baju yang lain.
"Sudah dapat Bella?" tanya Djody tiba-tiba sudah datang.
"Belum, oh ya Djod, kenalkan ini teman kuliah aku dulu, pemilik butik ini," Bella mengusap pundak Lastri.
"Djody"
"Lastri"
Mereka berkenalan lalu memilih model gaun pengantin yang mereka akan pesan, hingga beberapa saat kemudian setelah mendapatkan pilihan pamit pulang.
"Ina... kamu bawa mobil aku ya, aku bareng Djody," usul Bella. Sebab setelah ini Bella bersama Djody akan memesan undangan dan lain sebagainya.
"Tidak apa-apa Bu Lastri, nanti saya yang nyetir," Prily yang menjawab.
"Yakin Pril, kamu juga lagi hamil besar. Sekarang begini saja, biar nanti supir saya yang menyetir," Lastri tidak mau di bantah. Dan pada akhirnya semua sepakat.
Djody mengajak Bella keluar dari tempat itu mereka mengurus ini itu hingga malam hari baru selesai kemudian makan nalam di restoran.
"Bella... aku perhatikan hari ini kamu lain dari biasanya, kenapa?" Djody merasa ada yang dipikirkan calon istri nya.
"Tidak apa-apa Djody... mungkin hanya capek saja," bantah Bella. Setelah metakkan minuman yang baru ia cecap.
"Bella... sebentar lagi kita akan menikah, jangan lagi ada yang ditutup-tutupi," Djody memegang kedua tangan Bella.
Bella menarik napas berat lalu menceritakan tentang kekurangan dalam dirinya. Ia dulu suka mabuk-mabukan.
__ADS_1
"Bella... itu masalalu, tidak usah di ungkit lagi, toh kamu saat ini sudah memperbaiki semuanya jadi jangan merasa bersalah," kata Djody bijak.
"Iya Djody... tapi karena aku dulu sering mabuk, mempengaruhi hormon kesuburan aku, hingga aku di vonis tidak akan mempunyai anak," jujur Bella. Sebenarnya sudah lama ia ingin jujur pada Djody, tetapi Bella merasa takut.
"Bella... jadi itu masalahnya, nanti kita akan berusaha, semoga kamu bisa mengandung anak aku, tetapi jika tidak... aku tidak mempersoalkan, toh kita sudah punya Elma dan Fina kan," Djody menenangkan.
"Aku percaya sama kamu Djod, tapi apa kedua orang tua kamu tidak akan mempersoalkan hal ini," Bella sedih bagaimana jika sampai kedua orang tua Djody akan mengusirnya setelah tahu siapa dirinya.
"Cek! Bella... jangan berpikir yang aneh-aneh," potong Djody. Mereka pun akhir nya pulang.
***********
"Djody Wirastama, saya nikahkan, dan kawinkan engaku dengan ananda Isabella Wijayanti, dengan maskawin 1kg gram emas tuani"
"Saya terima nikah dan kawinya Isabella Wijayanti dengan maskawin tersebut tunai,"
Sah
sah
sah
Hari berganti hari, tibalah saatnya pernikahan mereka di laksanakan di kediaman Djody. Mereka kini sudah sah menjadi suami istri. Jam 10 nanti kedua mempelai akan diboyong ke hutan, dimana Djody dan Bella mempunyai kenangan di tempat itu.
Djody memilih resepsi pernikahannya di adakan di hutan yang bernuansa alami. Walaupun awalnya sempat bertentangan dengan sang Ayah dan mommy. Sebab Prayoga ingin resepsi pernikahan putranya di lakukan di hotel.
**********
"Hallo reader... jangan kemana-mana dulu, kira-kira konflik apa yang akan Bella dan Djody hadapi? Setelah menjalani mahligai rumah tangga??
"Mana komentar dan jempolnya agar buna semangat.✍✍✍💪💪💪❤❤❤
__ADS_1