
Di dalam pesawat seorang pria yang hanya mengenakan piama yang ditutup dengan jaket, tampak tidak tenang jika bisa mempercepat penerbangan ini akan ia buat secepatnya agar cepat sampai tujuan.
"Mas tinggal di Jakarta ya?" tanya seorang gadis yang duduk di sebelah nya di pinggir kaca.
"Ya" jawabnya malas.
"Jakarta Nya dimana Mas?" wanita itu kembali bertanya padahal Adnan sudah malas berbasa basi.
"Siapa tahu nanti kita di Jakarta bisa bertemu Mas, saya disana tidak punya saudara," kata wanita itu.
Adnan tetap diam bersandar di jok melipat kedua tangannya.
"Kenalkan Mas, nama saya Rasmini, biasa di panggil Rasmi," Rasmi mengulurkan tangan. Namun Adnan terpejam sama sekali tidak menghiraukan tangan Rasmi. Rasmi menarik tanganya kembali cemberut.
Satu jam 30 menit Adnan sampai di bandara internasional Jakarta pesawat segera mendarat. Ia tidak mau membuang waktu cepat-cepat berjalan ke depan sebelum yang lainya beranjak dari duduk nya. Tentu akan lama lagi sebab ia duduk di tengah, biasanya di depan akan berjejal.
Puk.
Dompet Adnan jatuh di dalam pesawat. Wanita yang masih sibuk mengeluarkan tas dari lemari pesawat mengamati dompet tersebut. Ia ambil dompet tanpa melihat isinya sebenarnya wanita itu ingin mengejar pria yang barusan duduk bersamanya selama satu jam lebih. Namun di depan berjejal tentu sulit untuk lewat. Wanita yang bernama Rasmini itu memasukkan dompet ke dalam tas.
*******
Adnan numpang taksi waktu hampir dini hari ia sampai di depan rumah. Adnan merogoh kantong hendak ambil dompet guna membayar taksi namun dompetnya tidak ada.
"Pak di tunggu ya, dompet saya hilang," ujar Adnan.
"Hilang Tuan" supir taksi terkejut. "Coba di cari dulu Tuan, siapa tahu jatuh ke bawah jok," supir taksi pun turun mencari ke belakang.
Sedangkan Adnan sudah tidak terpikirkan lagi segera masuk ke dalam mengetuk pintu. "Bibi ada uang nggak, saya mau pinjam 200 ribu dulu" kata Adnan begitu bibi membuka pintu tanpa basa basi.
"Ada Tuan" Bibi segera ke kamar ambil uang kemudian kembail.
"Ini uangnya Tuan,"
__ADS_1
"Terimakasih Bi" Adnan cepat berlalu setelah bibi menyerahkan dua lembar kertas berwarna merah.
"Pak ini uang nya," Adnan segera kembali masuk ke dalam, setelah membayar taksi tidak mendengarkan supir yang entah bicara apa. Yang jelas membicarakan masalah dompet.
"Sabrina sudah pulang Bi?" Adnan tampak ngos-ngosan menghampiri bibi.
"Belum Tuan,"
"Siapa Bi?" tanya mama Fatimah yang ke luar dari kamar tamu. Beliau tidak bisa tidur memikirkan kemana menantunya. Sedangkan Kamila diantar suaminya pulang sebelum akhirnya mencari putrinya bersama papa Rachmad. Walaupun sudah memerintahkan orang untuk mencarinya namun terasa tidak puas jika tidak mencarinya sendiri.
"Ma, Sabrina kemana Ma," Adnan mendekati Fatimah yang masih berdiri di depan pintu menatap Adnan tajam. Yang ditatap kemudian menunduk.
Plak!
Satu tamparan yang belum pernah Fatimah lakukan hingga Adnan seusia sekarang akhirnya melayang keras ke pipi Adnan. Fatimah menatap telapak tangannya dadanya terasa sesak.
"Bagus Nan! Kelakuan kamu!" ketus mama.
Adnan tidak sepatah kata pun berbicara.
Adnan kemudian menarik kursi setelah duduk menyalakan komputer, tangan kirinya memegang pipi nya yang masih perih bekas tamparan.
Kreet!
Tak urung Fatimah mengikuti putranya kemudian duduk menarik kursi di sebelah Adnan turut mengecek CCTV. Keduannya tidak ada yang bersuara. Hingga beberapa menit Adnan menajamkan mata ketika Sabrina tertangkap dalam kamera cctv. Begitu juga dengan Fatimah.
Tampak Sabrina berjalan ke luar rumah mengenakan pakaian setelan atas bawah. Baju berwarna merah marun, dan celana hitam. Ia menylempang tas kecil tanpa membawa apa pun. Setelah membuka pagar dan menutupnya kembali sudah tidak nampak lagi di kamera.
"Sabrina kemana Ma..." lirih Adnan. Membentur-bentur kan dahinya ke pinggir meja.
"Memang jika kamu siksa seluruh tubuhmu lantas bisa mengembalikan keadaan Nan," mama Fatimah melirik Adnan dengan rasa kecewa.
"Sekarang katakan! Apa yang kamu lakukan pada istrimu, Adnan?!" ketus mama.
__ADS_1
Adnan menggeleng.
"Katakan apa yang kamu lakukan pada istrimu kemarin di kampus Nan?!" mama Fatimah mengulangi. Kali ini lebih kencang lagi.
"Aku nggak suka Ma, lihat Sabrina di dekati pria lain, aku cemburu Ma," Adnan meremas dagunya gusar.
"Oh, jadi karena itu? Lalu siapa pria yang mendekati istrimu," mama Fatimah tahu pasti anak nya salah menilai Sabrina.
"Aku tidak suka istriku bernyanyi di panggung, tiap kali ada acara, Ma. Apa lagi ia bernyanyi dengan pria lain," Adnan menjelaskan panjang lebar. Hatinya kesal tiap kali Sabrina bernyanyi di panggung. Semua pria menatapnya kagum, pandangan para pria tertuju padanya, disoraki, di tepuki tangan, bahkan ada yang bersiul-siul.
"Tapi bukan begini caranya Nan, kamu kan bisa bicara baik-baik, jika kamu tidak suka." Fatimah kali ini bicara pelan.
"Lagian saat istrimu bernyanyi, Mama perhatikan biasa saja, lalu dimana yang salah Nan? Cek! kamu itu!" mama Fatimah berdecak kesal.
"Tapi kenapa Ina tidak menolak saat diberi buket bunga, aku kesal Ma" adunya seperti anak kecil.
"Astagfirrullah... jadi ini masalah nya" Fatimah geleng-geleng kepala.
"Nan... Nan! Heran Mama itu sama kamu! Begitu saja kamu persoalkan, kalau hanya itu masalahnya mama rasa tidak ada yang aneh, kok,"
"Nan, Sabrina itu wanita yang lembut, jika kamu menyakiti hatinya sedikit... saja, ia akan merasakan sakit yang luar biasa, jangan samakan dengan Bella mantan istri mu, walaupun kamu maki-maki Dia tetap kembali," tutur Fatimah.
"Mama rasa, sudah tidak pantas lagi, kamu di nasehati seperti ini, kamu sudah dewasa, sudah banyak mengecap pahit manisnya hidup, seharusnya kamu sudah tahu mana yang terbaik, bukan marah, maupun cemburu yang kamu agul-agul kan seperti ini," nasehat Fatimah.
Adnan hanya diam entah apa yang pria itu pikirkan.
"Sekarang jika sudah terjadi begini apa yang akan kamu lakukan! Nan? Ya Allah... Mama sedih melihat kelakuan kamu seperti ini Nan," Fatimah memijit pelipisnya rasanya mau menangis.
"Jika tahu akan begini! Mama tidak akan mendukung Afina agar kamu menikahi wanita sebaik Sabrina Nan" mama Fatimah merasa bersalah pada Sabrina dan keluarganya. Fatimah merasa hanya membawa Sabrina ke dalam penderitaan.
"Ma, aku pergi dulu mau mencari Sabrina," Adnan beranjak dari duduk nya.
"Tunggu! Sebentar lagi waktu subuh Nan, tunggu sampai terang, lagian kamu mau mencari kemana," cegah Fatimah. Walaupun kesal tentu Fatimah tidak mengijinkan anaknya pergi dalam keadaan kacau seperti saat ini. Yang ada justeru akan membuat Adnan celaka. Jika sudah terang nanti Fatimah akan mengantarkan Adnan mencari menantunya.
__ADS_1
.