
"Jon, tolong antar saya ke bandara" titah Djody, ketika sampai di halaman. Nampak supir pribadi Djody yang ia bawa dari Indonesia, sedang mencuci mobil.
"Sekarang Tuan?" tanya Jono.
"Besok Jono! Ya, sekarang lah!" ketus Djody.
"Memang mau kemana to Tuan, kok sepertinya tergesa-gesa?" Jono melipat selang.
"Kan sudah saya bilang ke bandara tadi Jon, kok malah tanya!" Djody geregetan pada Jono.
"Njeh... Tuan... kuncinya mana Tuan?" tanya Jono dengan logat bahasa jawa yang medok.
"Ini, terima kuncina." Djody melempar kunci.
Crek!
Jono segera menangkap kunci. Pemuda yang masih berumur 25 tahun itu menyalakan mobil Djody, kemudian berangkat setelah membukakan pintu untuk tuan Nya.
Jono menjalankan mobil tuan Nya, dengan kecepatan sedang, Djody menjadi tidak sabar. "Cepat! Jono!" tegas Djody.
"Saya sudah mengendarai mobil sesuai aturan Tuan" dasar Jono tidak tahu jika bos nya sedang galau malah menjawab gerutuan Djody. Walaupun jawaban Joni tidak salah.
"Berhenti!" Djody berdecak kesal. Ia ambil alih setir setelah tukar tempat.
Ngeeeennng...
Mobil meluncur cepat. Djody menjalankan mobilnya di atas rata-rata. Jono syok kemudian menggerutu sepanjang perjalanan.
"Ya ampuuun... jangan ngebut Tuan... saya belum menikah Tuan... Pacar saya di kampung nanti kebingungan kalau saya sampai mati Tuan. Padahal Dia sudah saya icipi Tuan..."
Ciiiitttt.
Greekk!
"Apa kamu bilang?!" Djody mengerem mendadak, melotot tajam, ke arah Jono yang masih belum hilang rasa takutnya..
"Bilang apa tadi saya? Lupa Tuan... hehehe..." Jono menggaruk-garuk kepala.
"Sudah kamu apain pacar kamu?!" Djody mendelik gusar.
"Hehehe... cuma guyon Tuan," Joni hanya cengegesan tidak jelas.
Ngeeeeeeng...
Jedug.
"Duh Gusti..." Jono memegangi dahi karena dahinya ke bentur.
Djody kembali berlalu meninggalkan tempat itu. Kali ini Jono hanya berdoa dalam hati hingga mobil sampai di depan bandara.
"Ini kuncinya," Djody berlari, meninggalkan Jono yang masih mengatur napas. Ia bekerja dengan Djody sudah sejak 3 tahun yang lalu. Tetapi belum pernah bos nya itu menyetir bersamanya. Ternyata Djody seperti pembalap. Pantas saja, ketika itu Djody sampai menabrak Bella.
Sementara Djody sudah sampai di lobby bandara, pandanganya mengedar ke sekeliling. Namun tidak ada Bella dan David disana. Ia menajamkan penglihatan tentu harus jeli, sebab banyak orang yang wira wiri.
Ia mengangkat lengan kiri menelisik jam ternyata sudah jam 8 30 menit.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan... Dia sudah check in? gumam Djody. Ia berharap Bella belum check in, jika sudah, harapan Djody untuk bertemu Bella kandas juga.
Puk!
Tangan lembut menepuk pundak Djody dari belakang. Djody memutar kaki, hingga berhadapan dengan wanita yang ia cari.
"Bella..." Djody menyapa.
"Loe kesini mengantar siapa?" tanya Bella memindai sekeliling.
"Oh itu, anu" Djody menggaruk tengkuknya. "Mengantar sepupu" jawab Djody asal.
"Oh..." Bella tentu percaya saja apa yang dituturkan Djody.
"David kemana Bella? Kalian belum check in? Bukankah... kalian, berangkat jam sembilan ya?" cecar Djody. Djody hanya basa-basi, padahal dalam hati nya, Bella agar jangan cepat-cepat pergi.
"David ke toilet Djod," jawab Bella.
"Oh iya Djod, gw mau ucapin terimakasih, karena loe sudah membiayai pengobatan luka gw, menemani, sampai sembuh," tulus Bella.
"Biasa saja kali... kan aku yang menabrak kamu," jawab Djody.
Oh jadi ini orang yang sudah menabrak Bella?
Andini menatap Djody dari atas sampai bawah. Tatapan yang sulit diartikan.
"Oh iya Djod, kenalkan, ini Mama saya," Bella memegang pundak Andini yang masih duduk memandangi Djody.
"Selamat pagi Tante..." sapa Djody, tersenyum ramah.
Bella mengajak duduk Djody, di samping Andini. Suasana menjadi sunyi hanya terdengar derap langah kaki orang-orang yang berlalu lalang. Djody melirik Bella di sebelah nya, ia merasa aneh kata-kata Bella hari ini lebih lembut dari biasanya.
"Nak Djody... Indonesia nya di daerah mana?" tanya Andini.
"Saya dari Jakarta, Tan" Jawab Djody santun. Andini hanya manggut-manggut.
"Bella, memang kamu sama sekali tidak mengenal saya?" inilah yang akan Djody tanyakan sejak kemarin, tetapi karena Bella selalu marah-marah kepadanya, Djody mengurungkan niatnya.
"Kenal lah, kamu kan Djody? Gw belum amnesia kali???" Bela mengeryitkan kening.
"Kamu dulu dari SMP mana?" pancing Djody.
"AL INAYAH," Bella menjawab singkat.
"Kamu ingat nggak, anak yang bernama Tama?" selidik Djody.
"Tama?" Bella mengingat-ingat.
"Tama, yang gendut, jelek, bau rokok, usil, nyebelin itu? Dimana sekarang Dia?" Bella kesal ketika ingat di godain cowok itu.
"Sekarang ada di sebelah kamu?" Djody tersenyum.
Bella seketika berdiri. "Jangan bilang kalau kamu itu..." Bella menatap lekat wajah Djody.
"Kalau saya ini, Tama! Gitukan? Maksud kamu?" Djody menyeringai.
__ADS_1
"Jadi... loe Djody Wirastama? Astaga... dunia ternyata sempit," Bella geleng-geleng. Lagi-lagi menatap Djody dari atas sampai bawah. Kok bisa Tama yang dulu pendek dan gendut kini menjadi pria yang gagah, tinggi, dan juga tampan.
"Kenapa? Mau ngatain lagi" Djody terkekeh.
"Eh, kamu disini juga Djody" David yang baru dari toilet menghentikan obrolan mereka.
"Dia mengantar saudara nya Dav," Bella yang menjawab.
"Oh gitu" jawab David.
"Sekarang kita check in dulu Ma, Bella... sudah waktu nya ini," David melihat jam di lengan.
"Ayo..." Bella mengait lengan mama Andini kemudian beranjak pergi sambil menarik koper tanpa pamit Djody. Djody menatap langkah Bella merasa kecewa.
"Djody... saya berangkat ya, atau... kamu mau ikut ke Jakarta bersama kami?" tanya, David. Netranya menangkap raut kecewa di wajah Djody.
"Lain kali Dav, masih banyak urusan, nanti menunggu putri saya libur sekolah," tutur Djody.
"Okay... saya berangkat Djod," David menjabat tangan Djody.
"Titip Bella ya Dav," Djody menepuk pundak David.
"Tentu," jawab David singkat sebelum akhirnya pergi.
Djody menatap langkah David hingga masuk ke dalam. Selama setengah jam, ia duduk di tempat itu, barang kali Bella berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke Jakarta.
Namun harapan tinggal harapan.
Djody pun akhirnya beranjak pergi, sesekali menoleh ke belakang. Pria itu berharap Bella kembali keluar dan memanggilnya.
"Djody... tunggu..."
Tapi ini hanya dalam angan Djody.
*************
Di pesawat, David tukar nomor kursi dengan mantan mertuanya. Mama Andini duduk bersebelahan dengan Bella. Sementara David memilih duduk dengan seorang pria. Ia ingat kata-kata Angela sebelum berangkat masih terngiang di telinga. Walaupun Angela tidak tahu, saat di dalam pesawat. David sudah berjanji dengan dirinya untuk tidak menyakiti hati wanita untuk yang kedua kalinya.
.
24 jam bukan waktu yang sebentar untuk sampai ke Indonesia. Dan pada akhirnya mereka tiba di bandara internasional Jakarta.
"Dav, kita mau minta di jemput, atau... numpang taksi saja?" tanya Bella.
"Lebih baik kita pesan taksi saja, menurut Mama bagaiamana?" David minta pendapat mantan mertuanya.
"Memang sebaiknya numpang taksi saja Dav," Mama Andini sudah sangat lelah.
"Iya Ma" David pun memesan taksi.
************
"Hai... hai... haiii... Jangan pada kemana-mana dulu ya, bagaiamana pertemuan David dengan mantan mertua pria? Pertemuan keluarga Adnan kepada Bella, terutama Sabrina dan Afina?
"Siapakah jodoh Bella, dan bagaimana hubungan Kevin dengan Rasmini? Masih banyak yang belum Buna kupas loh" 💪💪💪 ❤❤❤.
__ADS_1