
Selesai sarapan pagi di samping rumah sakit Kamila bersama Abdullah kembali ke kamar Sabrina. Ia tidak tahu jika Adnan mengikuti dari jarak jauh.
Adnan berhenti kala mertuanya membuka pintu kamar VIP kemudian menghilang di balik pintu. Adnan berjalan lebih cepat agar segera sampai ke kamar tersebut. Ia sudah bisa menebak jika di dalam sana ada Sabrina.
Ia dorong gagang pintu rupanya dugaannya tidak salah. Hatinya terasa hancur kala pandanganya tertuju ke atas ranjang pasien sang istri sedang meringkuk. Kemudian beralih menatap mama Fatimah sedang ngobrol dengan besan. Adnan merasa tertampar keras ternyata mama Fatimah sendiri tahu keberadaan istrinya tetapi sengaja merahasiakan darinya. Ia langkahkan kaki walaupun dekat tetapi terasa lama karena kaki Adnan merasa gemetar. Ia takut menerima kenyataan jika Istri nya mengalami kecelakaan di tabrak orang seperti ketika ia menabrak Rasmi kemarin.
"Ina..." Adnan terpaku di samping ranjang menatap lekat istrinya. Tetapi Ina melengos kesal menghindari mata lelah Adnan.
"Ina... kamu sakit... sakit apa?" tanya Adnan lembut menyibak selimut meneliti bagian tubuh istrinya mana yang sakit. Sabrina menarik selimut kasar menutup tubuhnya lagi.
"Sakit hati!" ketus Sabrina.
"Ina... maafkan aku," diraih nya telapak tangan putih itu kemudian menciumnya.
Air mata Sabrina membasahi pipi putih nya. Jujur ia tidak bisa menolak sentuhan Adnan, kata-katanya yang lembut seperti saat ini. Sabrina berusaha agar meredam amarahnya.
Memang sudah saat nya berbicara. Sabrina tahu emosi yang berlebihan justru akan membahayakan. Nasehat ayahnya membuatnya lebih tenang. Mempertahankan ego pun yang ada justeru bisa membuat hatinya semakin sakit.
"Nan... boleh kami berbicara Nak," Abdulah menyentuh pundak Adnan yang sedang duduk di samping istri nya.
"Baik Ayah," Adnan berdiri dari duduk nya.
"Cup"
"Sebentar ya," Adnan membungkuk mencium bibir istri nya lembut sebelum akhirnya mengikuti mertuanya yang sedang berkumpul di sofa.
Sabrina memegang bibirnya tidak menyangka suaminya akan melakukan itu.
"Duduk Nan," titah Abdul.
"Terimakasih Yah," Adnan merasa takut kepada mertuanya tergambar jelas di wajah Abdul sudah siap memberi hukuman kepada nya. Pikir Adnan.
"Nan, Ayah bukanya mau ikut campur, entah apa masalah yang kalian hadapi Ayah tidak tahu, tetapi alangkah baiknya jika ada masalah di selesaikan dengan baik-baik. Kalian bukan anak kecil lagi, dan kelak akan dicontoh anak-anak kalian," Abdul memberi nasehat panjang lebar.
Sementara Kamila dan Fatimah hanya diam saja mendengarkan apa yang dibicarakan Abdul pada Adnan.
"Iya Yah kami mengerti," jawab Adnan.
Abdul kemudian menceritakan jika Sabrina hamil membuat mata Adnan melebar kemudian menoleh istrinya tentu Sabrina tidak melihat. "Sabrina hamil Yah," Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa diucap dengan kata-kata selain bersyukur.
"Iya, tetapi kamu harus menjaganya dengan hati-hati, karena istrimu mengalami pendarahan, bagusnya tidak mengganggu janin."
__ADS_1
Deg.
Lagi-lagi dada Adnan merasa sesak.
"Sekarang kami pamit Nan, nanti sore IsyaAllah saya akan kembali lagi," Abdul menyudahi pembicaraan.
"Mama juga pulang Nan, kamu jaga Sabrina, jangan khawatirkan Fina biar mama minta supir menjemput," mama Fatimah pun beranjak.
"Iya Ma,"
"Jeung Fatimah ikut kami saja, sekalian kita menjemput Fina sama-sama," kata Mila. Mereka semua meninggalkan Adnan memberikan ruang untuk mereka berdua.
Suasana sudah sepi Adnan menghampiri istrinya.
"Terimakasih, sayang... kamu sudah mengandung anak kita," Adnan menggenggam tangan istrinya.
"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin, kalau kamu hamil? Maafkan aku ya," kata-kata maaf sudah berapa kali terucap dari bibir Adnan.
"Memang aku tahu! Kalau hamil!" ketus Sabrina.
"Mas yakin? Kalau yang aku kandung ini anakmu?! Bukankah kemarin Mas mengatakan kalau aku perempuan murahan!" Sabrina menekan kata murahan.
"Seeettt... Ina... aku kan sudah minta maaf, harus dengan cara apa aku meyakinkan kamu?"
Di dalam selimut Sabrina merasa tenang ada suaminya di dekatnya. Keduanya lantas tidur pulas. Wajar keduanya sejak kemarin memang kurang tidur. Jika Sabrina tadi malam sudah bisa terlelap walaupun tidak lama karena di tunggui ortu. Namun tentu tidak untuk Adnan.
Siang harinya Sabrina membuka mata karena terdengar langkah kaki.
"Selamat siang..." suara seorang wanita ternyata petugas yang mengantarkan makan siang.
"Makan siang nya Bu," ujar wanita itu. Sabrina seketika bangun merapikan hijabnya yang berantakan lalu menoleh suaminya ternyata tertidur pulas.
"Terimakasih..." Sabrina malu-malu karena suaminya tidur satu ranjang dengannya, apa lagi sedang memeluk tubuhnya. Tentu tidak di diperbolehkan oleh pihak rumah sakit jika ketahuan ranjang ini mereka pakai berdua.
Pengantar makan siang meletakkan di meja samping pasien. Netra nya melirik Adnan yang sedang mendengur hanya tersenyum sambil berlalu. "Hihihi... kayak di hotel saja" gumamnya tentu masih terdengar oleh Sabrina.
Sabrina hanya diam menatap kepergian wanita yang seusia dengan nya itu.
Greekk!
Sabrina menarik kursi roda padahal sudah pelan-pelan tetapi rodanya nyangkut di tiang penyangga infus otomatis menimbulkan suara.
__ADS_1
"Mau kemana?" Adnan bangun dengan cepat turun dari tempat tidur kemudian berputar, menyingkirkan kursi roda.
"Mau ke toilet," jawab Sabrina singkat. "Kok malah dijauhin sih! Rodanya?" imbuh Sabrina. Dengan cepat Adnan mengangkat tubuh istrinya.
"Nggak mau aku mau turun," ucapanya. Ya jelas Adnan turunkan sebab mereka sudah sampai di toilet.
"Keluar sana!" ketus Sabrina ketika sudah sampai di kamar mandi.
"Aku bantu," kata Adnan masih tetap berdiri di depan Sabrina.
"Cek! Mas keluar dulu kalau di tungguin nggak mau keluar," kilah Sabrina.
"Apanya yang keluar?" Adnan terkekeh, tak urung ke luar juga menunggu di depan pintu.
Sabrina tertegun di atas closed mengamati CD, yang sudah dialasi pembalut rupanya masih ada noda merah. Ia sedih sudah bed rest hampir dua hari tetapi masih saja ada darah. Ia benar-benar takut dan khawatir.
"In... kok lama..." Adnan pun tidak tahan pada akhirnya masuk lagi.
"Mas... aku takut anak kita nggak tertolong," Sabrina menangis.
"Sayang... kok kamu bicara begitu?" Adnan berjongkok di depan closed memegang kedua lutut istrinya.
"Sudah dua hari aku di rumah sakit ini Mas... tapi masih juga pendarahan," tergambar jelas kesedihan di wajah istrinya. Hati Adnan mencelos, menatap Ina sendu. Ia menyesal telah melukai perasaan Istri nya hingga membuat stres sehingga mengganggu kehamilannya.
"Nanti kita konsultasi ke dokter ya, agar kita tahu keadaan anak kita," Adnan mengusap air mata istrinya.
"Sekarang sudah belum pipis nya? Kalau sudah aku gendong lagi," sebisa mungkin Adnan menghibur dan meyakinkan Ina. Sabrina sedikit lebih tenang.
"Aku lupa bawa anu," ujar Ina.
"Anu apa?" dahi Adnan berkerut.
"Anu itu..." Sabrina menunjuk ke bawah yang di maksud pembalut.
"Oh... tunggu di sini dulu aku ambilkan," saking semangatnya Adnan lupa tanya dimana tempatnya. Ia membuka laci meja kecil di samping ranjang tapi tidak ada. Ia akhirnya kembali ke kamar mandi.
"Kamu simpan dimana?" Adnan menggaruk tengkuk nya nyengir.
"Tolong ambilkan tas aku yang kecil di atas lemari, biar aku ambil sendiri," Sabrina sebenarnya tidak tega menyuruh apa lagi ambil barang yang sifatnya pribadi.
"Iya deh," Adnan ambil tas, tidak lama kemudian kembali memberikan kepada Sabrina.
__ADS_1
.