Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Ingin sekolah.


__ADS_3

Afina menelan ludah melihat 3 pria yang sedang menggigit jagung bakar utuh.Tanpa berpikir lagi Fina berjalan mendekat lalu berhenti di belakang mereka. Remaja-remaja itu jika diperhatikan seperti para mahasiswa.


"Kok jaket almamater yang kakak-kakak pakai itu seperti jaket Bunda? Afina berbicara pelan.


"Hantuuu..." pekik salah satu pria ketika menoleh ke belakang netra nya tertuju pada Afina. Pria itu berlari menjauh membuat dahi Fina berkerut. "Kok takut sih... memang aku hantu," Afina bergumam.


Dua temannya yang masih diam di tempat pun menoleh Afina. Pantas pria itu ketakutan sebab Fina membungkus tubuhnya dengan selimut dari kepala ke bawah. Hawa dingin angin malam tentu membuat Fina mengenakan selimut, karena Fina tidak membawa jaket.


"Siapa kamu?" tanya salah satu pria bernama Rico menatap kaki Fina menginjak tanah ia tahu jika yang ia lihat bukanlah hantu. Pria itu lantas mendekati Fina.


"Om..." Fina tersenyum seraya menurunkan selimut.


"Dek, kamu kok malam-malam di luar?" tanya pria itu di susul temanya. Mereka berdua berdiri di depan Afina.


"Di dalam sepi Om," jujur Afina.


"Memang kamu disini sama siapa?" pria itu berjongkok di depan Fina.


"Sama Mama, tapi Mama Fina sedang ada urusan," tutur Fina.


"Oh jadi nama kamu Fina?" tanya mereka.


"Eemmmm..." Afina mengangguk.


"Kok tega banget sih, itu mak-mak! Masa di tempat seperti ini anak ditinggal sendiri! Kalau di culik orang bagaiamana? Untungnya kita orang baik. Iya nggak Ric?" salah satu pria menepuk dadanya.


"Ah loe!" Rico yang berdiri di samping temanya menjitak kepala teman yang sedang ngomel-ngomel.


Kok malah pada bercanda sih! tawarin aku makan jagung kek! Afina pandanganya tertuju ke perapian tampak jagung bakar sudah menghitam sedikit bagian atas, sungguh cacing di perut Fina ingin diberikan asupan gizi.


"Kruukk... kruuukk.


Benar saja perut Fina berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya pria itu pada akhirnya.

__ADS_1


"Emmm..." Afina malu-malu.


"Sini bergabung sama Om," Rico menuntun Afina duduk di tikar bersama mereka.


"Kamu makan dulu ya," pria berambut gondrong di ikat belakang itu memberikan jatah makan malam yang disediakan pihak kampus. Ternyata mereka sedang oudboan bersama teman yang lain. Namun saat ini mereka sedang bakar jagung di depan penginapan mereka.


"Waah ayam bakar? Terimakasih Om," Afina kegirangan. Tanpa bicara anak itu segera melahab nasi box lengkap dengan lalap dan sambal. Ia seperti mimpi bisa makan ayam bakar makanan vaforid nya.


Dua pria itu saling pandang melihat Afina seperti kelaparan. Wajar. Fina siang tadi hanya makan mie instan yang disediakan Bella.


Datang satu pria berjalan pelan, matanya mengerling waspada. Bayangan hantu penunggu tempai itu menampakan diri. Pikir pria yang bernama Helmy.


"Setan nya sudah pergi?" tanya pria yang kabur tadi sudah kembali.


"Loe tuh Setan nya!" jawab salah satu temanya.


"Om, kata Bunda Fina, nggak boleh ngatain teman begitu nanti dosa loh," polos Afina sambil mengunyah.


"Ahahaha... rasain loe!" pria bernama Rico yang memberikan nasi box tadi tertawa renyah.


"Eh nyulik anak siapa loe Ric?" tanya pria yang bernama Helmy. Menatap wajah Fina.


Helmy menatap lekat wajah Afina. Ia sedang berpikir sepertinya ia familiar dengan wajah Afina.


"Om, boleh minta jagung bakar nggak? Satuuu... saja" Fina mengacungkan jari telunjuk.


"Kamu masih lapar?" tanya Rico.


"Hehehe..." Afina terkekeh.


"Nih buat kamu" Helmy memberi dua buah jagung yang masih panas.


"Terimakasih Om, Fina pamit ya," Fina menatap jagung bakar yang di bungkus kertas, rasanya ingin segera melahap. Tapi tidak mungkin ia makan disini jika kelamaan di luar dan Bella tahu pasti akan marah.


"Sama-sama cantik" Pria bertubuh krempeng seperti cacingan yang bernama Helmy masih belum berpaling dari Fina. Hingga Fina masuk salah satu Fila yang bersebelahan dengan mereka.

__ADS_1


"Ric, kayaknya gw sering lihat anak itu dech, tapi dimana... ya" kata Helmy masih penasaran.


"Ah cuma mirip doang kali..." jawab Rico.


"Udah ah biar saja, mau anak siapa kek, apa urusnya sih sama kita," pria bernama Djody yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua temannya menyahut. Ia kemudian mengigit jagung yang sudah matang tapi di angguri.


Saat sedang berbincang-bincang mendengar langkah kaki mereka menoleh ke arah suara.


"Selamat malam Pak Arman... Bu Lastri..." sapa keempat pemuda itu.


"Selamat malam..." Arman yang menggandeng Lastri menyahut. Pasutri itu hendak quality time. Ternyata para mahasiswa itu berasal dari kampus swasta Al Inayah. Arman dan juga Lastri sebagai dosen ikut oudboan mendampingi para mahasiswa dan juga beberapa dosen yang lain. Namun kini sudah masuk ke dalam Fila masing-masing.


"Pak, Bu, makan jagung bakar dulu, sudah matang kok," Rico menawarkan sopan.


"Lanjut saja, kami mau jalan-jalan," jawab Arman pria yang masih tampan di usianya yang sudah hampir 40 tahun itu hendak jalan ke bukit melihat bintang-bintang mengulang masa indah ketika remaja dulu bersama Lastri sang istri.


*******


Sementara Afina setelah makan nasi kotak, dan satu buah jagung, perutnya kekenyangan. "Alhamdulillah... kenyang" gumamnya, kemudian ke kamar mandi sikat gigi seperti yang sudah di ajarkan Sabrina. Selesai sikat gigi gadis kecil itu lalu menarik selimut menutup badanya lantas bermimpi.


Dini hari Bella baru pulang entah darimana membawa jajanan dalam pelastik. Ia jalan tergesa-gesa membuka pintu fila dengan kunci serep. Segera ia menemui putrinya di dalam kamar. Bella menyesal pasti anaknya sudah tidur dan melewatkan makan malam. Pikir Bella. Ia meletakkan jajanan berupa susu, roti, dan makanan ringan di kamar Fina.


"Maafkan Mama sayang..." ucapnya mencium pipi Afina kemudian kembali ke luar hendak ke toilet. Sampai di dapur matanya menangkap satu buah jagung. Bella pun mengangkat jagung bakar tersebut.


"Kok ada jagung bakar? Fina tadi ke luar, atau ada yang mengantar makanan ke sini? Bella berbicara sendiri.


Bella meletakan jagung bakar tersebut setelah menjalankan ritual di kamar mandi menysul Fina tidur.


Malam berganti mendengar adzan subuh Afina bangun kemudian menoleh kesamping. Ternyata mama nya sudah tidur di sebelah, tetapi Fina sama sekali tidak mendengar kehadiran Bella.


Fina turun dari tempat tidur kemudian ambil air wudhu menjalankan shalat subuh.


"Ya Allah... ampuni Fina, Fina sudah jahat kepada Papa dan Bunda. Berilah Papa dan Bunda Ina kesehatan, ya Allah..." Afina menengadah ke langit memohon ampunan.


Hingga jam tujuh pagi tidak ada yang bisa Afina lakukan. Iya merasa jenuh sudah tiga hari ia tidak sekolah, rasanya ada yang hilang dalam kesehariannya. Bagusnya ini hari sabtu yayasan AL INAYAH libur.

__ADS_1


"Besok aku harus memaksa mama pulang, aku harus sekolah, nggak mau ketinggalan pelajaran," gumam Fina lalu menatap Bella yang masih tidur pulas.


.


__ADS_2