Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Kebahagiaan sekaligus kesedihan.


__ADS_3

Aku buka mata perlahan setelah bangun dari tidur, kepala ini terasa pusing sekali. "Dimana aku?" Aku memindai sekeliling ternyata di ruang yang asing. Di kamar kami? Bukan. Di kamar Afina, juga bukan. Menoleh kanan, kiri, tidak ada Dafa. "Kemana putraku?" Seketika aku memaksakan diri untuk bangun. Namun tangan kiriku terasa sakit, baru menyadari ternyata aku di infus di rumah sakit.


"Ya Allah... Dafa sama siapa?" Aku berniat menarik infus yang mengganggu pergerakan tanganku. Pulang bertemu Dafa adalah tujuanku.


"Sayang... Nggak boleh di copot," suamiku tiba-tiba masuk entah darimana.


"Mas... kenapa aku bisa disini? Aku kenapa Mas... teruus... mana Dafa?" aku mencecar pertanyaan. Suamiku naik ke atas ranjang memelukku dari samping.


"Tenang sayang... Dafa sama Mama, jangan khawatir, barusan aku telepon anak kita baik-baik saja, dan sudah tidur," Adnan menghiburku. Mana bisa aku tenang? Dafa sulit sekali tidur jika tidak aku keloni sambil menyusui.


"Aku mau pulang Mas, aku nggak kenapa-napa kok," aku kukuh dengan pendirian ingin minta pulang.


"Ina... kamu harus di infus dulu, setidaknya malam ini. Besok baru kita pulang pagi-pagi sekali, ya," Adnan membujuk aku.


"Memang aku kenapa Mas?" tanyaku. Mengapa juga musti di infus, walaupun badanku terasa lemas dan sakit kepala, sudah aku tahan seminggu yang lalu, toh aku bisa melewatinya.


"Kamu memang tidak apa-apa, tapi tekanan darah kamu rendah sekali, apa lagi kamu saat ini sedang mengandung adik Dafa," tutur suamiku. Ia tampak sumringah mencium dahiku lembut.


"Hamil? Jadi aku hamil Mas?" sungguh aku terkejut. Bagaimana tidak? Saat ini Dafa masih minum asi, karena aku berniat menyusui Dafa sampai dua tahun. Tetapi rencana tinggal rencana.


"Iya sayang... Terimakasih ya... kamu akan memberiku anak lagi," ucapnya. Ia genggam tanganku.


"Tapi Mas..." aku menunduk mengusap perutku yang belum terasa menonjol. Pantas, akhir-akhir ini selalu kram perut jika sedang kelelahan.


"Tapi kenapa sayang... kita harus bersyukur," suamiku bersemangat.


"Bukan apa-apa Mas, tapi kan Dafa masih kecil?" Bukan aku tidak bersyukur, dan tidak senang mendengar kehamilan ini. Namun aku merasa kasihan dengan Dafa, berarti aku harus menyapih dengan cepat. Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu ingin memasang alat kontrasepsi, tetapi lagi-lagi Adnan tidak mengijinkan. Saat ini aku sudah hamil ya sudahlah aku senang, ternyata Allah masih memberi kepercayaan kepadaku.


"Terus... menurut hasil pemeriksaan aku sudah hamil berapa bulan Mas?"


"Tiga bulan In,"


"Ya Allah... maafkan Bunda ya Nak" aku usap perutku. Hamil sudah tiga bulan tetapi mengapa aku tidak menyadarinya.


"Sayang... mulai besok... aku mau mencari pengasuh untuk Dafa, supaya kamu bisa istirahat,"


"Jangan!" tolakku cepat.


"Kenapa?" Adnan tampak kecewa.


"Nanti saja, mencari pengasuhnya Mas...aku tidak ingin Dafa lebih dekat dengan pengasuh daripada aku ibunya," jawabku.


"Ina... aku tuh tidak mau kamu kelelahan, yang penting kamu sehat, anak-anak juga sehat, jadi jangan memaksakan diri," suamiku ini memang perhatian. Ia ingin mencari orang agar meringankan beban aku. Tapi bagiku apa yang dipikirkan suami ku terlalu berlebihan. Toh sudah ada bi Suhaya yang membantu mengurus rumah.

__ADS_1


"Mas... bagaimana ceritakanya aku bisa sampai disini?" aku membicarakan masalah lain.


"Kamu ingat nggak... ketika aku ajak nyanyi tadi siang?"


"Terus..." aku ingat ketika naik ke atas panggung, tetapi selebihnya aku nggak ingat.


"Kamu pingsan Yank, terus aku langsung membawamu kesini, ternyata hasil tes... dinyatakan hamil, tetapi sayanganya tekanan darah kamu rendah," tutur suamiku panjang lebar.


"Tapi aku nggak apa-apa, sebaiknya kita pulang saja Mas. Bilang sama perawat biar melepas infus, aku kasihan Dafa Mas... pasti dia merengek. Dia kan kalau nggak aku keloni suka rewel,"


"Kamu yang benar saja In! Lihat?! Sekarang jam berapa, sebaik nya malam ini kita tidur disini. Aku jandi, besok pagi-pagi akan urus semua terus kita pulang,"


Aku tatap wajah tampan suami aku sangat mengkhawatirkan aku. Tidak ada pilihan lain selain mengalah.


"Lebih baik... kamu sekarang tidur, istirahat. Jangan pikirkan macam-macam, supaya besok kamu diijinkan pulang" suamiku menutup tubuhku dengan selimut setelah membantuku merebahkan diri benar juga apa yang di bicarakan ya.


Author PoV.


Keesokan harinya Adnan segera mengurus administrasi, dan juga konsultasi ke dokter. Tekanan darah Sabrina sudah stabil tentu sudah diijinkan pulang.


Di jalan, Sabrina sudah tidak sabar ingin bertemu Dafa. Selama ini Sabrina tidak pernah meninggalkan putranya.


"Assalamualaikum..." ucap Sabrina begitu tiba dirumah.


"Sudah Bun, aku kan nggak sakit, Dafa kemana?" Sabrina balik bertanya.


"Harusnya tiga hari Bun, tapi Sabrina merengek ingin pulang terus," Adu Adnan kepada mertuanya.


"Wajar sih Nan, Ibu mana yang akan betah di rumah sakit. Sementara di rumah ada anak, masih kecil pula," bu Kamila yang menjawab. "Yang penting... kamu harus jaga kesehatan," imbuh bu Kamila.


"Tentu Bun. Dafa mana?" Sabrina mengulangi pertanyaan menatap lantai atas.


"Dia sama Fina di atas," jawab bu Kamila.


"Kalau gitu aku ke atas Bun," Sabrina segera naik ke lantai atas.


"Nan, tadi malam... Dafa menangis terus, Bunda sama Mama kamu tidak bisa menghiburnya, hanya Fina yang bisa menenangkan sampai Fina tidak sekolah," tutur Kamila panjang lebar.


"Astagfirrullah..." Adnan khawatir.


"Bunda sengaja tidak bilang istrimu Nan, khawatir Dia banyak pikiran," tegas Kamila.


"Iya Bun kalau gitu saya menyusul ke atas," jawab Adnan cepat-cepat naik tangga.

__ADS_1


.


Sementara di kamar. Sabrina baru saja masuk.


"Unda... Unda puang, holee... Unda puang..." Dafa kegirangan menyambut kedatangan bundanya. Segera meninggalkan mainan mobil-mobilan. Bocah yang baru berumur satu tahun itu segera merangkul Sabrina.


"Akak... Unda puang..." ia menoleh Fina.


"Iya sayang... Bunda sudah pulang, gendong Bunda yuk," Sabrina tersenyum.


"Endong..." Dafa mengansungkan tangan. Sabrina segera menggendong putranya menciumi seluruh wajahnya.


"Bunda sudah sembuh?" Fina pun bergelayut di lengan Sabrina.


"Bunda itu nggak sakit sayang..." Sabrina juga mencium pipi Fina yang menatap Sabrina lekat.


"Kata Nenek, sama Uti, Bunda hamil ya?" Fina tampak senang.


"Iya sayang... kamu akan punya adik lagi, kayaknya kamu capek banget... pasti karena momong dedek Dafa ya? Sekarang Fina istirahat ya," tebak Sabrina. Melihat Fina sampai tidak sekolah, Sabrina yakin jika Dafa tidak mau di tinggal.


"Iya Bun, kalau gitu... Fina ke kamar ya,"


"Iya sayang..." Sabrina menatap Fina hingga keluar dari kamar.


"Unda... memem..." Dafa memegangi dada Sabrina, jika dulu Sabrina mengenakan baju yang ada kancing depan, kini ia memakai gamis retsleting belakang.


"Memem Bunda, pahit sayang... sekarang Papa buatin susu ya," Adnan tiba-tiba sudah ada di dekat Sabrina yang masih mengendong Dafa.


"Dak au... Dafa au memem ini," Dengan memelas Dafa masih berusaha membuka baju Sabrina. Sabrina hanya bisa menangis tidak tega melihat anaknya. Jika tiba-tiba ia sapih begitu saja alangkah menderita putranya.


"Unda... butain... ini tutah..." ucap Dafa masih berusaha membuka baju Sabrina.


Sabrina menatap Adnan berlinang air mata.


"Mas..." lirih Sabrina.


"Sayang... ingat kata dokter, boleh saja kamu tetap memberikan asi pada Dafa, tetapi kondisi kamu yang tidak mungkin" Sabrina pernah pendarahan saat hamil yang terdahulu. Ditambah lagi kesehatan Sabrina saat ini tidak mungkin memberi asi saat sedang hamil.


"Undaaa... Dafa mau memeeem... hu aaa..." Dafa kesal membuka baju Sabrina tidak bisa juga.


"Dafa.... di gendong sama papa yuk, kita beli mainan," Adnan membujuknya. Namun rupanya Dafa tidak mau mendengar apa pun, yang ia ingin hanya bobo di kelonin bundanya sambil memem.


.

__ADS_1


__ADS_2