Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Kemana kamu Afina.


__ADS_3

"Bob, ada apa?" Adnan menahan lengan sahabatnya ketika sudah agak jauh dari ruang rawat VIP.


Bobby menghentikan langkahnya. "Afina nggak ada di sokolah Nan," kata Bobby diplomatis.


"Apa? Loe tahu darimana?" Adnan menatap Bobby tajam.


"Gua tadi ke rumah loe Nan, gw pikir loe sudah pulang ke rumah, tapi gw ketemu Bibi yang sedang menangis." tutur Bobby.


Flashback on.


"Bibi darimana, terus... kenapa?" cecar Bobby. Ketika Bobby tiba di rumah Adnan. Bibi pun baru turun dari taksi sambil menangis.


"Saya baru saja menjemput Fina Tuan Bobby, tapi ternyata di sokolah tidak ada," bibi menyusut air mata nya.


"Oh... mungkin sambil menunggu Bibi, Fina bermain bersama teman-temanya di lokasi sekolah Bi," Bobby masih menjawab santai.


"Tidak ada Tuan, saya sudah cari sampai muter-muter sekeliling sekolah," jawab bibi di sela-sela isak tangis.


"Lalu bibi sudah lapor pihak sekolah?" Bobby menatap lekat wajah bibi. Kali ini Bobby khawatir.


Bibi hanya menggeleng.


"Lalu Bibi sudah memberi kabar Adnan?" cecar Bobby. Bibi lagi-lagi menggeleng. Bibi bingung bagaimana caranya memberi tahu Adnan. Sedangkan saat ini Sabrina sedang mempertaruhkan nyawanya.


"Sekarang sebaiknya kita ke sekolah saja Mas, jangan beritahu Pak Adnan dulu," saran Prily. Prily tidak ingin mengganggu kebahagiaan sahabatanya yang baru saja Sabrina rasakan.


"Baiklah" Bobby segera masuk kembali ke dalam mobil. Di ikuti bibi. Mereka berniat menanyakan kepada guru atau yang lainya.


"Bibi, punya nomor handphone mama Fatimah nggak?" tanya Prily berniat menghubungi beliau jika Fina tidak di temukan.


"Ada Non," bibi memberikan nomor. Sangking bingungnya bibi sampai lupa menghubungi Tuan besar.


"Sebaiknya menghubungi beliau nanti saja Pril, kita cari ke sekolah dulu, siapa tahu masih main bersama teman-temannya," Bobby penuh harap.


"Maksud aku juga begitu Mas," sahut Prily.


Dengan wajah yang menegang mereka kembali ke sekolah. Begitu tiba menemui satpam sekolah, guru, dan juga yang lainya. Namun semuanya tidak ada yang mengetahui. Di kelas pun sudah tidak ada satu anak pun disana.

__ADS_1


"Pak, apa kira-kira... tidak mencurigai seseorang yang mengajak Fina keluar?" tanya Bobby kepada security. Seharusnya security yang menjaga pagar bisa mengenali Fina sebab semua orang tahu siapa Fina dan cukup di kenal.


"Ketika anak-anak keluar dari pagar berdesak desakan Pak," jawab security memang benar adanya.


"Mohon maaf atas kelalaian kami Tuan, kami akan menghubungi teman-teman Afina, mungkin Fina bermain ke salah satu rumah mereka," wali kelas Afina ketakutan jika sampai pemilik sekolah mengetahui jika cucu nya hilang, sudah pasti akan kena marah. Pikir guru.


"Tidak ada pilihan lain Mas, kita harus menghubungi Tante Fatimah," Prly mengelurkan hp. Tanpa dijawab Bobby, Prly kemudian menghubungi mama Fatimah. Beliau kebetulan pulang dari rumah sakit langsung ke yayasan.


Tidak sampai 10 menit kemudian mama Fatimah datang bersama suaminya.


"Apa yang terjadi kemana cucu saya? Kalian ini bagaimana?!" papa Rachmad marah besar menatap guru-guru yang masih berkumpul di depan kelas Fina.


"Papa..." mama Fatimah mengusap pundak suaminya.


"Kalian ini keterlaluan! Bukan kah saya sudah menekankan, jangan diijinkan cucu saya ke luar dari pagar sebelum kami menjemput!" papa menatap tajam mereka. Satu pun tidak ada yang berani mendongak.


Bobby yang sejak smp mengenal papa Rachmad belum pernah melihat papa semarah ini. Bobby pun tidak berani memandang wajah sengit papa Rachmad.


"Bibi! Kenapa kamu sampai terlambat menjemput!" papa menatap tajam wajah bibi. Yang sedang menunduk meremas telapak tangan.


"Maafkan saya Tuan... tadi jalanan macet," bibi menjelaskan sambil bergetar.


"Ini juga! Gara-gara Adnan di suruh cari sopir selalu menolak!" papa menekan tembok gusar.


"Bapak-bapak... Ibu-ibu semua, kami minta bantuan kalian, tolong bantu kami mencari Fina ya..."


"Baik Bu," semua guru dan juga satpam membubarkan diri.


"Bobby, Prily, kalian mau ke rumah sakit kan?" tanya mama Fatimah.


"Betul Tante..."


"Tolong jangan sampai Sabrina tahu masalah ini dulu Nak, beri tahu Adnan saja," titah mama. Mama Fatimah khawatir menantunya stres paska melahirkan.


"Baiklah Tante" Prily pun pemikirannya sama dengan mama Fatimah.


Semua bagi tugas masing-masing. Bobby bersama Prily segera ke rumah sakit selain menjenguk, yang terpenting saat ini memberi tahu Adnan. Mama dan papa Rachmad menghubungi orang suruhanya. Guru-guru bahu membahu mencari Afina dengan cara menghubungi wali murid teman-teman Afina.

__ADS_1


Flashback off.


"Kenapa loe nggak telepon sejak tadi Bob?!" sesal Adnan jika memberi tahu lebih awal tentu Fina belum pergi jauh, pikir Adnan.


"Sekarang sebaiknya kita cari Afina, Nan," Bobby tidak mau berdebat lagi. Segera menuju parkiran.


"Pakai mobil gw saja, sebaik nya loe, jangan nyetir," Bobby tidak membiarkan Adnan menyetir dalam keadaan kalut, bisa-bisa kejadian seperti dulu terulang kembali. Mereka menyusuri jalanan berharap Fina cepat diketemukan.


"Kira-kira loe ada bayangan nggak Nan?" tanya Bobby waktu sudah sore tetapi tidak ada tanda-tanda ke beradaan Fina.


"Oh iya gw baru ingat, jangan-jangan... Fina di jemput Bella!" Adnan mendelik gusar.


"Coba telepon Dia Nan," saran Bobby.


"Gw nggak punya nomor hp Dia Bob," Adnan tentu tidak mungkin mau menyimpan nomor mantan istri nya.


"Sekarang antar gw ke rumah mantan mertua gw," pinta Adnan.


Mereka menuju kediaman mantan istri Adnan.


********


Di rumah sakit bunda Kamila bersama Abdullah baru saja datang.


"Kamu ini keterlaluan In, kenapa Bunda nggak di kasih kabar," Mila ngomel-ngomel. Ia menyesal tidak menunggui putrinya saat melahirkan anak pertama seperti yang dilakukan oleh seorang ibu kebanyakan. Dengan dukungan orang tua kandung tentu membuat Sabrina merasa lebih tenang. Pikir Mila.


"Sudahlah Bun, lagian aku kan sudah melahirkan lancar. Doa Bunda dikabulkan, anak aku lahir sehat tidak kurang suatu apa," jawab Sabrina.


"Benar kata Ina Bu, kenapa kamu malah ngomel-ngomel terus," pak Abdul menengahi.


"Kamu memang nggak mau menggendong cucu kamu?" Abdul mengalihkan.


"Mau-mau!" Kamila bersemangat beranjak mendekati dedek bayi. Kemudian mengangkat nya pelan. Ia usap kepala cucu pertamanya lembut.


"Anak kamu sudah dikasih nama belum In?" Kamila menoleh Sabrina yang sedang mengajak ngobrol Prily. Prily tidak fokus mendengarkan. Sejak siang tadi ia belum berniat pulang tentu menunggu calon suaminya kembali. Namun hingga sore Bobby belum juga menjemput, Prily lebih banyak diam memikirkan Fina. Membuat Sabrina curiga sebab Prily biasanya seperti burung beo.


"Belum Bun, Mas Adnan belum menyiapkan nama." ingat nama Sabrina ingat suaminya hingga sore belum kembali.

__ADS_1


"Prily, kenapa Mas Adnan lama sekali ya? Memang Kak Bobby menculik suami aku dibawa kemana?" Sabrina bergurau tetapi hanya di bibir di dalam hati memikirkan suaminya.


.


__ADS_2