
Jam 11 siang jalanan padat merayap seorang pria ngomel-ngomel pada supirnya. Ia takut putrinya menunggu lama. Pasalnya, ketika mengantar sekolah tadi pagi salah satu guru sudah memberi tahu jika anak-anak akan pulang lebih cepat.
"Cepat Jono! Kasihan Elma, pasti sudah menunggu lama," begitulah Djody menggerutu sepanjang jalan.
Saya sudah mengendara sesuai aturan Tuan, sebab mobil Tuan tidak ada sayap, jadi tidak bisa terbang. Jono sudah selap selip masih juga di omeli. "Iya Tuan" jawab Jono pendek. Kali ini Jono merasa gentar.
"Depan itu ada gang, belok kiri Jon," titah Djody. Ia ingat ketika SMP dulu jika macet melewati jalan alternatif itu.
"Ya Tuan," Djody belok kiri menuju gang kecil. "Mudah-mudahan... tidak berpapasan mobil lain Tuan, jika sampai terjadi kita mundur jauh," jawab Jono. Bukan Jono jika tidak menjawab apa yang diperintahkan Djody.
"Kamu ini Jon! Kenapa sih?! Kalau nggak ngeles!" sungut Djody.
Jono tidak menyahut dan benar saja, mereka bisa sampai ke sekolah dengan cepat. Setelah Jono parkir, tidak banyak bicara, Djody membuka sabuk pengaman, kemudian bergegas menuju kelas Elma. Djody berpapasan dengan banyak orang tua yang rata-rata sudah menuntun anak-anak mereka, itu artinya memang benar sudah bubar sekolah.
Dari kejauhan Djody sudah melihat Elma sedang ngobrol dengan teman seusianya, dan sepasang suami istri yang berdiri terlihat dari belakang. Djody mempercepat langkahnya hingga sampai di samping sepasang suami istri itu.
"Papa"
"Om"
Sapa Elma dan Afina bersamaan. Rupanya Fina masih mengingat om yang dulu pernah vidio call tiga bulan yang lalu.
"Kalian satu kelas?" tanya Djody terkejut melihat Afina lalu mendekat.
Adnan menatap putrinya dengan dahi berkerut, bertanya-tanya. Mengapa Fina bisa mengenal pria itu, padahal Fina belum lama cerita bahwa Elma pindahan dari negara A.
"Iya Pa, Elma satu bangku sama Fina loh," tampak senang tertangkap di wajah Elma. "Papa sudah kenal sama Fina?" tanya Elma menoleh Fina di samping.
"Kenal dong... iya kan Fina?" Djody tersenyum menatap wajah Afina. Afina hanya mengangguk sopan.
"Syukurlah... kalau kalian satu kelas. Fina dijemput siapa?" Djody tidak menyadari bahwa baru saja melewati Adnan dan Sabrina.
"Papa sama Bunda," Fina menunjuk orang tuanya. Djody menoleh, tampak wanita cantik memakai hijab rapi sedang menggendong bayi dan juga pria berwajah arab siapa lagi jika bukan teman SMP nya.
Djody menatap lekat wajah Adnan. Wajah yang terlihat lebih tampan jika dibandingkan dengan yang dulu ketika SMP. Jika bukan karena sudah kenal dengan Fina, mungkin jika berpapasan di jalan, Djody tidak akan mengenali Adnan.
__ADS_1
"Adnan," sapa Djody setelah sekian detik mengamati wajah Adnan.
"Anda mengenal saya?" Adnan menunjuk dadanya. Sementara Sabrina sejak tadi berpikir pernah melihat pria itu tetapi entah dimana.
"Loe benar-benar lupa sama gw?" tanya Djody asal. Padahal dia sendiri sudah tidak mengenali Adnan, jika bukan karena Afina.
"Siapa sih?" Adnan tampak berpikir. Tetapi otaknya buntu.
"Gw Tama Nan, teman SMP loe" pada akhirnya Djody jujur. Djody menjabat tangan Adnan.
"Tama yang dulu gendut? Hahaha..." tawa mereka pecah. "Loe itu dulu langganan guru BP setiap hari kena hukum," kata Adnan.
"Hais! Jangan buka kartu sama anak gw," Djody menoleh ke belakang ternyaya Elma sedang bermain dengan Fina tidak mendengarkan obrolan mereka.
"Jadi... Elma anak loe? Terus... buntut loe orang mana?" cecar Adnan.
"Dari negara asal nyokap, tapi sekarang sudah tiada," jawab Djody.
"Oh... Sorry," Adnan tidak mau membahas lagi tentang pendamping Djody.
"Jadi ini istri loe yang kedua Nan, bagusnya nggak gw tembak ketika itu," seleoroh Djody.
"Tembak ketika itu? Memang kalian saling kenal?" Adnan posesif.
"Nggak Mas" Sabrina menceritakan ketika vidio call. Setelah puas mengenang masa lalu mereka menanyakan alamat, kemudian pulang ke kediaman masing-masing.
...************...
Hari berikutnya Afina sudah belajar seperti biasa. Bella menghubungi Sabrina, agar mengatakan pada Adnan jika ia yang akan menjemput Afina. Begitulah jika ingin berunding sesuatu mengenai Afina. Bella lebih memilih berbicara dengan Sabrina. Karena Adnan pasti akan menuruti kata Sabrina dan sudah pasti Bella lebih santai ketika bicara dengan Sabrina daripada mantan suaminya.
Saat ini Bella sudah sampai di depan sekolah. Ia berjalan santai karena waktu masih lima menit lagi anak-anak baru bubar sekolah. Bella melungguhkan bokongnya di kursi taman sambil menunggu, ia merogoh ponsel kemudian memainkan.
Lima menit kemudian.
Kriiiing... kriiing... kriiiiing...
__ADS_1
Bel berbunyi tiga kali suara riuh anak-anak terdengar dari luar. Bella kemudian beranjak mendekati kelas.
"Mama..." panggil Afina. Ia sedang menggandeng tangan Elma. Namun seketika melepas kemudian menghambur ke perut Bella.
Elma tertegun, kemarin Fina dijemput Bunda, lalu sekarang di jemput mama, mengapa banyak sekali wanita yang bersama Fina. Lalu punya berapa bunda si Fina? tanya Elma dalam hati.
"Elma... sini" Afina melambaikan tangan pada sahabat barunya itu. Elma tersenyum kemudian mendekati Bella dan juga Fina.
"Elma, kenalin ini Mama aku," kata Fina.
"Tante..." Elma menyandak telapak tangan Bella kemudian menciumnya.
"Siapa nama kamu Nak?" tanya Bella menatap lekat wajah Elma seperti tidak asing dengan wajah itu. Wajar, karena Elma mirip sekali dengan Djody, tanpa Bella sadari.
"Nama saya Elma Tante..." Elma tersenyum.
"Oh..." Bella hanya menyahut begitu. "Yang menjemput kamu sudah datang belum," sambung Bella.
"Belum Tante, papa suka telat kalau jemput Elma," adu Elma. Memang benar ketika di negara A. Djody sering terlambat menjemput Elma.
"Ya sudah... kita menunggu di taman itu yuk..." ajak Bella di ikuti dua anak itu. Bella bermaksud menemani Elma sampai di jemput keluarganya.
"Elma... Papa cari kemana-mana ternyata kamu di sini?" suara Familiar mengejutkan mereka. Bobby masih fokus dengan Elma tidak menyadari jika wanita yang ia selalu impikan berada di tempat itu.
Begitu juga dengan Bella. Bella pikir, Djody belum mempunyai Istri. Sebab selama bersama hingga beberapa hari Djody tidak pernah menceritakan tentang pribadi nya.
"Iya, habisnya nunggu papa suka lama" Elma mendekati Papa nya cemberut.
"Ya sudah... jangan cemberut, sekarang kita pulang, terlambat hanya debentar kok," Djody hendak melangkah.
"Djody? Sombong sekali loe?!" Bella menyeringai. Melipat kedua tanganya di dada.
"Bella..." Djody menuntun Elma mendekati Bella. Mata sayu nya menatap wajah yang ia rindukan selama hampir dua bulan, akhirnya bertemu disini. Sesaat mereka saling Diam.
"Mama kenal sama Om Djody?" suara Afina mengalihkan pandangan Djody yang tidak berkedip.
__ADS_1
.