
"Fina... buka pintunya sayang..." pekik Bella dari luar kamar mandi. Satu jam sudah Fina mengurung diri. Bella memumukul-mukul daun pintu gusar. Berbagai macam cara Bella berusaha membujuk agar putrinya ke luar, namun sia-sia saja.
Sementara Afina yang sedang bersandar di tembok kamar mandi merosot ke lantai, menatap atap kamar mandi. Ia merenung selama ini bunda Sabrina tidak pernah memaksakan kehendak, tidak pernah membentak, tidak pernah pula kasar. Sungguh berbanding terbalik dengan mama Bella.
"Bunda... hiks hiks hiks." Afina kembali menangis.
Tok tok tok.
"Sayang... buka pintunya Nak,"
"Tidak mau... Mama jahat! hu huuu..."
********
Sementara di fila yang bersebelahan dengan Bella. Pasutri sedang memadu kasih. Dia adalah Arman dan Lastri. Selesai mengarungi lautan, mereka lantas mandi berdua. Ya. Pasangan itu semakin bertambah usia perkawinannya semakin romantis saja. Padahal mereka baru saja pulang gerak jalan seperti tidak ada lelahnya justeru berselancar.
"Yank, kita cari sarapan yuk," ajak Arman setelah selesai mandi dan salin baju santai, perutnya terasa lapar.
"Capek banget Mas," tolak Lastri wanita cantik itu ingin bermalas-malasan di kasur sebelum pulang ke Jakarta. Saat ini sudah tidak ada acara apapun, gerak jalan tadi menutup acara outbound. Namun para mahasiswa masih menunggu bus berangkat jam 4 nanti sore.
"Kalau gitu aku beli makanan dulu ya, kamu menunggu disini," usul Arman.
"Okay..." Lastri mengacunkan jempolnya.
Arman pun akhirnya keluar dari fila jalan kira-kira 100 meter dari penginapan banyak penjual makanan matang di tempat itu. Arman memilih menu lontong sayur campur telur, tahu dan sayuran. Begitulah mereka selalu menyukai masakan tradisional. Setelah mendapatkan yang dicari Arman pun kembali.
"Selamat pagi Pak," ucap Rico, Helmy dan salah satu temanya. Mereka sedang memetik gitar di teras mengiringi suaranya yang seperti kaset rusak. Begitu Arman datang mereka menghentikan kegiatannya.
"Selamat pagi," jawab Arman. Saat ia melewati fila Rico yang berada di samping. "Kalian sudah sarapan belum?" tanya Arman kemudian.
"Sudah Pak," jawabnya bersamaan.
"Oh iya Pak Arman, Bapak sudah membaca berita di group UAIN?" ( Universitas Al Inayah)
"Belum, ada berita apa pagi ini?" Arman yang awalnya ingin segera ke dalam menghentikan langkahnya.
"Putri nya pemilik kampus di culik ibu kandunganya Pak," tutur Rico. Riko tidak menyadari bahwa Afina berada di fila sebelah. Bahkan tadi malam mereka makan jagung bakar bersama.
"Maksudnya Afina putri Pak Adnan?" Arman memastikan.
__ADS_1
"Betul Pak,"
"Terimakasih infonya," Arman mengakhiri percakapan, lalu membuka pintu fila. Sampai di dalam sang istri sedang membereskan pakaian.
"Tadi katanya capek... biar aku saja nanti yang membereskan," Arman meletakkan ketupat sayur di atas meja.
"Iya sih... nggak betah aku nya, nanti tinggal berangkat," Lastri menjawab santai. Padahal jika mereka berniat pulang duluan pun, tidak ada yang melarang. Toh suami istri itu membawa mobil sendiri, tapi Arman masih ingin berduaan dengan sang istri.
"Sekarang kita sarapan dulu," Arman ambil mangkok ke dapur fasilitas fila. Lima menit kemudian kembali. Ia memindahkan ketupat sayur ke dalam mangkok tersebut, lalu makan bersama. Arman sengaja tidak memberi tahu dulu tentang hilangnya Afina. Sebab yang ada selera makan Tri otomatis menghilang.
Selesai sarapan Arman mencuci mangkok sebenarnya Lastri yang akan melakukan tetapi Arman melarang. Sementara Lastri ambil handphone berniat menanyakan kabar putra nya kepada art di rumah. Namun sebelumnya membuka WAG UAIN sangat ramai hingga ribuan an chat. Lastri terkejut saat membaca chat ramai membicarakan masalah Afina diculik Bella.
"Maaasss..." pekik Lastri.
"Ada apa?" Arman ternyata sudah berada di kamar.
"Lihat grup," Tri menunjukan handphone ketika Adnan naik ke atas ranjang.
"Iya Yank, aku sudah tahu," jawab Arman.
"Mas sudah baca chat? Kok nggak bilang sama aku sih" sungut Tri.
"Ya Allah... kasihan Sabrina, dia itu walaupun Fina bukan anak kandungnya, sayang... banget Mas," Lastri membayangkan betapa terpukul nya mantan mahasiswa nya itu.
"Bella itu memang kurangajar kok, kalau memang benar Dia sayang dengan anaknya, tunjukan dong! Pada Adnan, bagaimana agar mereka bisa menyayangi dan membesarkan Afina bersama, bukan malah menculiknya seperti ini!" Arman tampak kesal.
"Kalau marah itu pas ada orangnya Mas, memang kalau Mas Arman ngomel-ngomel gitu, Bella mendengar? Yang ada Mas darah tinggi" Tri mengingatkan.
*********
Pagi berganti siang, Bella masih belum mampu membujuk Fina. "Fina... keluar sayang... please..." Bella benar-benar khawatir. Yang awalnya Fina menangis kini tidak terdengar lagi. Padahal 5 jam sudah Fina di kamar mandi.
Bella mondar mandir di depan kamar mandi bagaimana caranya agar bisa membuka pintu. Bella pun ke dapur mencari alat untuk mencongkel pintu, tetapi tidak menemukan alat apapun selain pisau kecil tentu tidak akan mampu untuk membuka pintu.
Dengan terpaksa Bella keluar dari fila mencari bantuan.
"Pak, tolong saya, anak saya mengurung diri di kamar mandi sejak pagi," tutur Bella kepada security.
"Kenapa bisa begitu Bu?" security merasa heran.
__ADS_1
"Mari Pak, tidak ada waktu," tegas Bella. Bella berlari ke dalam diikuti security.
Rico dkk yang sedang ngobrol di teras mendengar obrolan Bella dan security lalu menepuk pundak temanya mengikuti wanita itu. Rico dkk sudah tahu siapa anak yang dimaksud merasa berinisiatif menolong. Afina gadis kecil yang pintar menurut Rico. Tadi malam Fina cukup ceria jika sampai mengurung diri di kamar mandi. Itu artinya wanita ini bukan wanita baik. Pikiran Rico kemama-mana.
Brak! Brak! Braak!
Tiga kali mendobrak pintu, security yang berbadan tegap itu berhasil membuka. Security mendekati Fina yang tergeletak di lantai kamar mandi dengan wajah yang pucat. Pira itu segera mengangkat tubuh Afina. Fina di tidurkan di sofa disana Rico dkk sudah menunggu.
"Ada apa Pak?" tanya Riko.
"Anak ini rupanya pingsan," jawab security.
"Fina... bangun Nak... bangun..." Bella menepuk pelan pipi Afina. Namun Afina tidak merespon.
"Ada minyak angin Bu?" tanya security.
Tidak menjawab Bella lalu ke kamar. Tidak lama kemudian kembali, membuka tutup botol, kemudian membaluri tubuh putrinya dengan minyak kayu putih.
"Bangun Fina... bangun sayang..." Bella saat ini tidak mampu lagi untuk berpikir.
"Sebaiknya dek Fina kita bawa ke rumah sakit saja Bu," saran Riko.
Bella tidak menjawab saran Rico tapi dalam hati menyetujui, ia hendak mengangkat tubuh Afina namun rupanya tidak kuat.
"Biar saya saja Bu," Rico mendekat.
"Siapa kamu?!" tandas Bella.
"Yang jelas saya bukan orang jahat," jawab Riko pendek lalu pria berambut gondrong itu mengangkat tubuh Afina membawa ke luar.
"Riko... ada apa ini?" tanya Lastri dan Arman berpapasan dengan mereka namun netranya masih fokus pada anak yang di gendong Riko. Belum menatap Bella yang sedang berjalan di belakang mengunci pintu dulu.
"Saya mau membawa anak ini ke dokter Pak Arman, kami mohon sampaikan pada patia, nanti kami pulang sendiri saja," tutur Riko
Tidak menjawab Riko, Arman dan Lastri mendekati anak dalam gendongan Riko.
"Afina..." Pekik Lastri terkesiap kemudian menatap Bella yang baru saja balik badan. Arman pun mendelik gusar menatap Bella, mantan mahasiswi nya yang abadi di kampus karena tidak lulus dan pada akhirinya kena DO.
"Kurangajar kamu Bella!" bentak Arman geram.
__ADS_1
.