
"Kurangajar! Kamu Bella!" tandas Arman menatap Bella tajam. Yang di tatap hanya menunduk bukan karena takut pada mantan dosen yang pernah di cintainya itu. Namun yang ada dalam benak Bella jika sampai terjadi sesuatu pada Afina ia tidak bisa memafkan dirinya.
"Kamu itu Ibu macam apa Bella?! Kamu apakan Fina?! Hah?!" Adnan hendak maju mendekati Bella. Namun lenganya di tahan Lastri.
"Mas... sudahlah... yang terpenting saat ini kita bawa Fina ke rumah sakit, mengenai Bella, biar Kak Adnan memberikan hukuman yang pantas untuknya," Tri melirik Bella. Kata-kata Tri walaupun pelan namun menghujam dada Bella.
Jika berhadapan dengan Arman Bella menunduk. Namun berbeda jika berhadapan dengan Lastri musuh bebuyutannya itu.
Bella menatap nyalang wajah Lastri, tapi kali ini terpaksa mengalah dulu akan lebih baik. Padahal dalam hatinya ingin mencabik-cabik wajah wanita di hadapanya. Jika tidak pura-pura baik, ia pasti akan diamuk tiga pemuda yang sejak tadi menatapnya tidak bersahabat. Walaupun Bella belum tahu siapa pemuda itu, di lihat dari kaos yang di kenakan adalah seragam kampus Al Inayah. Sudah barang tentu akan membela pemilik kampus.
Bella untuk saat ini tidak ada suaranya. Tenggorokan nya tercekat. Lidahnya kelu untuk berucap.
"Riko, berikan Fina pada saya," Arman mendekati tiga pemuda yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Mereka tentu tidak mengenal Bella. Namun mendengar Lastri menyebut nama Adnan, Helmy mencerna obrolan. Bahwa yang di share di group tadi adalah anak dalam gendongan Riko.
"Baik Pak," Riko menyerahkan Afina.
Arman kemudian menggendong Afina, menatap sendu bibir Afina yang pucat kebiruan.
"Sayang... tolong ambil kunci di kamar ya," titah Arman kepada Lastri.
"Iya Mas," Lastri bergegas ke dalam kamar ambil kunci tidak lama kemudian kembali. "Ini Mas," Lastri memberikan benda berwana hitam yang tak lain kunci mobil pada suaminya.
"Rico... kamu yang mengendarai mobil," Arman memberikan kunci.
"Baik Pak," Riko berjalan lebih dulu bermaksud menyalakan mobil.
Mereka semua berangkat ke rumah sakit, kecuali Helmy dan temanya yang masih tinggal atas saran Rico. Mereka menatap langkah dosen Arman yang berjalan paling depan di ikuti Tri dan juga Bella berjalan paling belakang.
"Oh pantas, dari tadi malam gw familiar dengan wajah anak itu. Gw baru ingat ternyata anak itu yang suka di ajak Pak Adnan ke kampus," tutur Helmy.
"Iya gw juga baru ingat, sekarang kita share di group agar Pak Adnan membaca," teman Helmy yang bernama Anas memberi saran.
"Pakai foto nggak Nas?" Helmy membuka galeri sempat mencuri gambar Afina ketika makan nasi kotak yang di berikan oleh Riko tadi malam. Kemudian menunjukan foto kepada sahabatnya.
"Bagus Helm, biar lebih ramai," kata Anas. Begitulah biasa Helmy dipanggil helm oleh teman-teman.
Mereka segera membuka group WAG, mengirim foto Afina yang sedang mangap hendak menyuap nasi tanpa di sengaja tampak lucu. Hanya dalam hitungan menit tanggapan positif dari para mahasiswa maupun dosen sangat ramai.
********
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Di kediaman Sabrina mama Fatimah berkunjung.
__ADS_1
"Mama..." Sabrina tersenyum menyambut kedatangan mama Fatimah. Ia merasa senang dengan kehadiran beliau merasa terhibur.
"Mama datang bersama siapa?" Sabrina mengedarkan pandangan.
"Sendirian In, tadi suami kamu telepon Mama, katanya mau ke kantor, makanya Mama langsung meluncur kesini," sahut mama Fatimah.
"Oh... gitu..." Sabrina mengikuti mertuanya yang langsung ke dapur.
"Bibi..." panggil mama.
"Saya Nyonya..." Bibi segera menghampiri nyonya besar.
"Pagi ini nggak usah memasak untuk makan siang ya, saya sudah membawa masakan," kata mama Fatimah memberikan rantang pada bibi.
"Terimakasih Ma," Ina yang menjawab.
"Sama-sama sayang... mana cucu Mama?" mama Fatimah sudah tidak sabar menimang Dafa.
"Baru saja bobo Ma," ina ke kamar di ikuti mama Fatimah menuju box bayi, jagoan kecil itu memang sudah pulas.
"Oh... pulas banget Dia In, kalau gitu biar saja, tidak usah di ganggu," Fatimah kembali ke keluar melungguhkan bokong nya perlahan.
"Ma, sudah ada kabar dari polisi, tentang keberadaan Fina belum?" kesedihan terlihat nyata di wajah Ina.
"Itulah In, mudah-mudahan saja Bella memang benar sayang dengan Fina dan memberikan kasih sayang selayaknya Ibu pada anaknya," jawab mama.
"Inilah kesalahan terbesar dalam hidup Mama In," sesal Fatimah.
"Kesalahan?" Sabrina menoleh Fatimah cepat.
"Mama dulu sudah berbuat kesalahan, memaksa Adnan menikah dengan Bella, padahal Mama tahu jika Bella wanita yang berkelakuan buruk," Fatimah bersandar di kursi menatap kosong ke depan.
"Mama sudah menceburkan Adnan dalam penderitaan yang panjang, kehidupan rumah tangganya seperti di neraka In" Fatimah menyusut air mata nya, mengingat semua.
"Mama..." Sabrina tidak tega pada mertuanya itu tergambar kekecewaan yang mendalam pada mama mertua.
"Itu penyebabnya Ini, Adnan trauma pada pernikahan, tidak mau berkomitmen, selama bertahun-tahun anak itu tersiksa, sampai Dia membenci setiap wanita, kami sering mengajak konsultasi ke dokter untuk memulihkan kondisi Adnan. Ternyata kamu lah obatnya walaupun Adnan kadang suka masih seperti anak kecil jika menyikapi suatu masalah, tapi mama perhatikan sikapnya sudah berubah lebih baik," tutur Fatimah panjang lebar.
"Mama benar, awalnya saya takut dengan sikapnya Ma, tapi sekarang Mas Adnan sudah banyak berubah," Ina menjawab. Mertua dan menantu itu bercerita panjang lebar.
"Minum nya Nonya" bibi datang menyuguhkan dua gelas teh hangat.
"Terimakasih Bi," jawab keduanya.
*********
__ADS_1
Di waktu yang sama begitu tiba di kampus, Adnan segera minta petugas untuk mengumpulkan para dosen yang kebetulan tidak ikut serta acara outbound. Dan saat ini semua dosen berkumpul di aula kampus. Adnan pun mengutarakan maksud dan tujuan mengumpulkan para dosen minta bantuan agar membantu mencari putrinya yang hilang.
"Baik Pak Adnan, kami akan mengumumkan di kelas masing-masing," jawab salah satu dosen.
"Terimakasih," jawab Adnan. Saat ini ia hanya berkata intinya tidak mau panjang lebar berbicara, kemudian keluar meninggalkan aula.
Para dosen memberi tahu kepada para mahasiswa sesuai jurusan masing-masing agar bahu membahu untuk membantu mencari putri Adnan yang sudah tiga hari tidak di ketahui keberadaanya.
Para mahasiswa pun sepakat share di WAG.
"Kok kedengarannya aneh sih? Di culik Ibu kandung," tiga mahasiswi masih belum mengerti jika Adnan pernah bercerai.
"Eh loe, nggak pernah mendengar apa? Pak Adnan itu kan pernah bercerai," wanita yang bertubuh ramping mulai bergosip.
"Ya Allah... sayang banget ya, walaupun banyak harta ternyata hidup Pak Adnan tidak bahagia," satu wanita bertubuh sedang menyahut.
"Kalau disimpulkan sepertinya mantan istri Pak Adnan wanita yang tidak baik, buktinya sampai menculik anaknya, berarti mereka perebutan hak asuh. Betul Nggak?" Wanita bertubuh tambun tapi otaknya lebih encer menyahut.
Tak tak tak.
Mendengar derap sepatu pantofel dari belakang semua menoleh. Betapa terkejutnya mereka ternyata yang mereka bicarakan berjalan cepat menuju ruangan.
"Selamat pagi Pak..." sapa mereka.
"Selamat pagi," ucapnya dingin mendahului mereka.
Adnan sampai di ruangan lalu duduk di depan komputer yang sudah seminggu tidak sempat ia nyalakan. Karena semenjak istrinya melahirkan Adnan tidak pernah ke kampus. Di tambah lagi Afina hingga kini belum ada kabar. Adnan rasanya ingin pergi ke hutan dan berteriak sekencang-kencang nya agar mengurangi rasa sesak di dalam dada. Adnan telungkup di meja kerja berbantalkan tangan.
"Loe kesini mau kerja apa mau tidur loe," Bobby tiba-tiba berdiri di depan nya. Adnan mengangkat kepala melengos kesal.
"Belum ada kabar dimana keberadaan Fina Nan?" tanya Bobby kemudian duduk di samping Adnan tanpa dipersilakan. Bobby merasa bersalah bercanda diwaktu yang kurang tepat. Pria yang sebentar lagi akan menikah itu begitu mendengar Adnan mulai ke kampus ia segera menyusul.
Adnan menggeleng lemah.
"Yang sabar Nan, gw turut prihatin," Sebisa mungkin Bobby menghibur sahabatnya.
"Terimakasih" Adnan menjawab hanya sepatah dua patah kata tidak seperti biasanya menimpali setiap kata-kata yang di lontarkan Bobby.
Saat sedang ngobrol suara handphone milik Adnan berisik terdengar suara-suara masuk. Adnan pun kemudian membukanya.
Adnan membuka group WAG matanya melebar ada titik terang mengenai putrinya.
"Bob anak gw ada di rumah sakit," Adnan seketika beranjak pergi meninggalkan Bobby.
"Rumah sakit mana? Gw ikut,"
__ADS_1
.