
"Sekarang kamu bobo di mobil dulu ya," kata Bella ketika mobil sudah berlalu.
"Iya Tante..." Afina rebahan di jok. Jika biasanya hanya lima menit di dalam mobil kemudian tidur. Namun tidak untuk saat ini. Kata-kata wanita yang mengaku mama kandungnya terngiang di telinga. Benarkah Bunda Sabrina berubah tidak menyayanginya setelah dedek bayi lahir? Oh tidaaaakkk... jerit Afina dalam hati. Seketika Afina menangis.
"Fina... kenapa kamu menangis sayang... katanya mengantuk?" Bella menatap putrinya dari kaca spion.
"Hiks hiks hiks" tangis Afina justeru lebih kencang. Ia ingat semua kenangan manis ketika bersama Sabrina. Fina menepis perasaan nya sendiri bahwa bunda nya tidak menyayanginya lagi. Tetapi Afina sering mendengar cerita temanya ketika sudah punya adik kasih sayangnya mama mereka pun akan terbagi. Fina sadar jika ia hanya anak tiri. Pikiran Afina kemana-mana.
Mobil sampai di depan apartemen setelah parkir Bella membukakan pintu untuk Afina. Kemudian menuntunnya ke lantai tiga dimana Bella tinggal.
"Sekarang Afina bobo ya, Mama temani," kata Bella ketika sampai di kamar.
"Kenapa kamu menangis sayang..." diusapnya sisa air mata di pipi Afina.
"Nggak apa-apa Tan," sanggah Fina.
"Fina mau lihat foto aku ketika masih bayi Tan," Afina nagih janji.
"Baiklah..." Bella ambil album berwarna biru kemudian memberikan kepada Afina.
"Ini foto kamu ketika masih bayi sayang... tidak ada seorang ibu kandung yang tidak menyayangi anaknya. Tiap kali Mama rindu sama kamu, Mama hanya bisa melihat Album ini," Air mata Bella menetes.
Bella kini baru menyadari ternyata kehadiran anak adalah suatu anugerah. Bella memandang wajah Fina yang sedang membuka lembar demi lembar album hatinya terasa sedih. Ia menyesal mengapa dulu menyia-nyiakan anak di depanya ini.
"Tante kok nangis..." Afina pun menatap air mata Bella yang bercucuran merasa tersentuh.
"Sayang... boleh Mama peluk kamu Nak," Bella mengansungkan tangan.
"Boleh," Afina menggeser album membiarkan Bella memeluknya.
"Maafkan Mama sayang..." Bella menumpahkan tangis. Inikah kehangatan antara ibu dan anak yang tidak pernah ia rasakan. Bella memang mempunyai ibu, tetapi tidak pernah dekat. Ketika Bella masih kecil Andini sibuk bekerja. Bella tumbuh dengan seorang asisten.
Bella merenggangkan pelukan. "Mama mohon, mulai sekarang panggil aku Mama sayang..." Bella memegang kedua pipi putrinya.
"Mama..." Afina berucap.
"Terimakasih sayang" Bella kemudian berdiri melangkah ke kamar mandi.
Sementara Afina kembali membuka album. Ia melihat foto-foto yang tidak memakai baju. Foto ini Bella dapat bukan dia yang mengabadikan. Tetapi ia dapat dari Andini.
Afina melukis foto dengan jari. Foto dirinya yang mengenakan baju berwarna pink dan bando di kepala.
Afina melantunkan lagu yang ia nyakikan bersama Sabrina.
Kubuka album biru.
Penuh debu dan usang.
Kupandangi semua gambar diri.
__ADS_1
Kecil bersih belum ternoda.
Pikirku pun melayang.
Dahulu penuh kasih.
Teringat semua cerita orang.
Tentang riwayatku. 🎶.
Afina bernyanyi putus-putus karena sambil menangis.
Di balik pintu Bella ternyata memperhatikan putrinya. Lebih-lebih mendengarkan putrinya bernyanyi lagu itu hati nya bagai tersayat sembilu. Anak ini yang dulu tidak ia kehendaki. Yang ia sia-siakan. Namun Ternyata Tuhan menyayangi Afina. Bella semakin tidak mau kehilangan putrinya.
"Aku akan mempertahankan kamu Nak, apapun caranya," gumam Bella.
Bella kemudian melanjutkan ke kamar mandi. Ia bersandar di tembok menerawang jauh. Bayangan masa lalu datang. Ketika ia berusaha menggugurkan janin dalam kandungan dengan minum alkohol yang berlebihan. Pernah ia pukul-pukul perut nya di depan Adnan, jika Adnan tidak menamparnya tentu bayi itu tidak akan bertahan. Belum lagi ketika Afina lahir ia tidak mau menyentuhnya. Semua ini karena konflik rumah tangga nya dengan Adnan yang membuatnya semakin depresi.
Bella membasuh wajahnya. Ia tipikal wanita yang tidak mudah menangis. Baru kali ini ia tumpahkan air matanya.
Bella kembali ke luar melihat Afina masih posisi duduk di lantai sambil melihat foto satu tangan menopang dagu satu tangan lagi membuka album.
"Sayang..." Bella lungguh di depan putrinya.
"Ada apa Ma?" Afina mendongak dengan mata yang masih memerah.
"Tentu sayang Ma" Fina berpikir karena surga nya di telapak kaki mama.
"Anak pintar," Bella tersenyum senang.
"Kamu mau berjanji kan Nak, apapun yang terjadi, jangan tinggalkan Mama," Bella memohon.
"Fina janji Ma,"
Teng tong teng tong.
Terdengar suara bel. Bella segera beranjak. "Mama buka pintu dulu sayang..." ucapnya.
"Iya Ma,"
Bella membuka pintu apartemen. Melihat siapa yang datang segera menutup pintu kembali. Ia tekan dengan badan memunggungi tamu.
"Bella! Buka pintunya! Bella..." pekik Adnan dari luar.
"Papa..." mendengar teriakan Adnan Afina segera berlari ke depan.
"Mama... buka pintunya, Fina mau ijin sama Papa, untuk menginap bersama Mama" pintanya pada Bella.
"Tapi sayang..." Bella takut jika Fina akan kembali pulang bersama Adnan.
__ADS_1
"Bella... Buka!" suara Adnan dari luar yang mencoba mendorong pintu.
"Mama please... Fina kan sudah janji tidak akan meninggalkan Mama," Fina meyakinkan Bella. Bella pada akhirnya membuka pintu membiarkan mantan suaminya masuk bersama Bobby.
"Fina... kamu tidak apa-apa sayang..." Adnan memegang pundak Afina menelisik seluruh tubuh putrinya.
"Fina nggak apa-apa kok Pa, Fina baik-baik saja,"
"Sekarang kita pulang sayang... dedek sudah lahir, kamu sekarang punya adik laki-laki," Adnan tersenyum. Namun senyum itu seketika menghilang kala Fina munjauh darinya.
"Fina..." Adnan tertegun. Ia sedih akan penolakan putrinya yang selama ini tidak pernah berpisah sedikit pun. Bahkan ketika kerja saja Adnan ajak Afina ikut serta.
"Fina tidak mau pulang Pa, biarkan Fina tinggal bersama Mama Bella," tegas Afina.
Deg.
"Fina..." Adnan memandang putrinya berkaca-kaca. Inilah yang Adnan takutkan selama ini. Akankah ia berpisah dengan putrinya? Bukan Adnan tidak memperbolehkan Fina dekat dengan ibu kandungnya. Namum penolakan Bella terhadap anak nya masih meninggalkan luka. Luka yang menurut Adnan sulit disembuhkan.
Bella yang berdiri di belakang Adnan tersenyum samar. Ia lega akan keputusan Afina. Semua itu tidak lepas dari pandangan Bobby yang sejak tadi memperhatikan Bella. Bella menyeringai puas.
"Papa, sebentar lagi maghrib, Fina mandi dulu ya," Afina mencium punggung tangan papanya sebelum akhirnya ke kamar.
"Fina..." Adnan berniat mengejar. Namun lenganya di tarik Bella.
Adnan menghempas tangan mantan istri nya itu kasar.
"Apa yang sudah kamu katakan pada putriku!" tandas Adnan.
"Adnan, kenapa kamu marah sama saya, Fina saja mau kok tinggal bersama saya!" jawab Bella congak. Melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya tersenyum miring, ia merasa menang.
"Kurangajar!" Adnan hendak melayangkan telapak tangan. Namun Bobby menahanya.
"Adnan..." ucap Bobby.
"Jangan halangi gw Bob," Adnan kembali mendekati Bella.
"Dengar Bella! Loe berani nantangin gw! Kita akan bertemu di pengadilan. Karena hak asuh Fina ada di tangan gw!" tandas Adnan kemudian keluar dari apartemen. Untuk saat ini ia lebih baik mengalah dulu, yang ada dalam pikiran Adnan yang penting Fina senang.
*******
"Hai... ada salah satu komentar yang mengatakan.
("Buna lebai amat sih? Buat cerita. Aku juga punya anak! Dan sudah berpisah dari bapaknya sampai bertahun-tahun, tapi anak saya tidak pernah menanyakan bapaknya. Ia tetap enjoy hidup tanpa bapak!") begitulah komentar di flafrom.
"Terimakasih atas komentarnya, karena komentar kalian yang aku tunggu,"
"Maaf ya, anak itu tidak seragam, yang bisa disamakan karena mereka bukan baju. Siapa tahu ada yang bisa di petik dalam cerita ini, yang jelek buang jauh-jauh," 💪💪💪❤❤❤.
.
__ADS_1