Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Anak sambung pengobat luka.


__ADS_3

Adnan segera menggendong Sabrina setelah selesai ganti pembalut. Mendudukan istrinya di ranjang meninggikan bantal agar nyaman.


"Sekarang makan ya, aku suapi" Adnan ambil nampan meletakkan di pangkuan hendak menyuapi istrinya.


"Aku makan sendiri saja," Ina memindahkan nampan ke pangkuannya. Ia menyuap satu sendok kini lidahnya baru merasakan makan enak sejak kemarin.


Adnan memperhatikan setiap gerak gerik Sabrina ia merasa rindu. Wanita di depanya ini membuat jiwanya jungkir balik. Karena cinta membuat perasaanya berubah-ubah. Siapa yang ingin marah? Jika bisa memilih ingin terus belajar untuk mengendalikan diri agar tidak emosi. Namun kadang ini di luar kendali.


"Apa sih?! Lihatin terus!" Sabrina cemberut ketika selesai makan. Sejak tadi suaminya memperhatikan terus membuat nya risi.


"Kangen sama kamu," Adnan menopang dagu.


"Gombal!" ketus Sabrina melengos nampak lucu membuat Adnan gemas.


"Ih! Nopang dagu seperti anak cewek, tahu!" protes Sabrina. Seketika Adnan menurunkan tangan.


"Galak banget deh" kelakar Adnan.


"Mulai sekarang aku mau merubah sikap, harus galak biar nggak selalu ditindas," jawab Sabrina, tentu bohongan.


"Iya deh... suka-suka kamu, mau balas dendam juga nggak apa-apa," Adnan menanggapi serius. Sejenak kedua nya saling diam hingga beberapa menit kemudian.


"Mas makan dulu gih, sekarang sudah jam satu loh," kali ini Sabrina sudah kembali bicara lembut seperti biasa.


"Ya deh! Aku sekalian shalat ya, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sebentar," Adnan menatap istrinya yang sedang menggerakan tanganya yang terasa kaku bekas suntikan infus.


"Nggak apa-apa,"


Adnan segera beranjak namun kembali menoleh.


"Kamu mau nyemil apa? Aku belikan ya," Adnan tahu wanita hamil biasanya suka nyemil.


"Nggak kepingin Mas," tolak Sabrina.


*******


Sebelum shalat Adnan memutuskan makan terlebih dahulu. Alangkah baiknya sholat dalam keadaan perut kenyang daripada pikiranya tidak tenang. Jujur saat ini ia merasakan lapar setelah dua hari ini. Ia ambil buku menu memesan makan siang kemudian memberikan kepada pelayan resto di seberang jalan rumah sakit.


Sambil menunggu Adnan ambil handphone.


"Tuan..." suara seorang wanita mengejutkan Adnan.


"Bibi... mau makan siang juga, mau pesan apa? Pesan saja Bi, apa yang Bibi suka nanti saya yang bayar sekalian,"

__ADS_1


"Tidak Tuan, bukan buat saya, tapi buat Non Rasmi. Non Rasmi tidak suka makanan rumah sakit," tutur bibi.


"Oh... ya sudah... pesan saja, sekalian buat Bibi ya," Adnan mengulangi.


"Tidak Tuan, saya sudah diberi uang jajan sama Nyonya," sebelum bibi berangkat tadi pagi, mama Fatimah memberi uang pada bibi.


Makan siang pesanan Adnan pun datang Adan makan sendiri sebab bibi tidak mau makan bersamanya.


"Bi saya duluan ya," ujarnya setelah meneguk minuman yang terakhir.


"Silahkan Tuan," bibi masih menunggu pesanan tentu minta dibungkus untuk Rasmi.


Adnan keburu-keburu hendak shalat. Namun sebelumnya merogoh kantong ambil dompet kemudian mengelurkan lembaran uang merah entah berapa jumlah nya, memberikan kepada bibi.


"Bi... ini untuk membayar makan siang dan buat Bibi, kemudian yang ini berikan pada wanita itu, untuk pegangan," Adnan meletakkan uang di depan bibi.


"Terimakasih, Tuan," Pungkas bibi sebab Adnan sudah berlalu.


Adnan segera ke masjid yang berada di area rumah sakit. Ia bersujud memohon ampunan atas dosa yang ia perbuat. Adnan juga berdoa agar anak dan istrinya diberikan kesehatan.


Ia segera beranjak mengenakan sepatu, kemudian meninggalkan masjid.


"Papaa..." panggil Afina ketika Adnan hendak naik lift. Afina datang bersama Bobby.


"Loh kok kesini?" Adnan terkejut lalu menatap Bobby minta penjelasan.


"Bunda mana Pa? Ayo cepetan jangan ngobrol disini, Fina pengen cepet ketemu Bunda," Afina menarik-narik lengan Adnan.


"Okay... kita ketemu Bunda," Adnan menuntun putrinya masuk ke dalam lift.


"Loe tahu darimana kalau bini gw di rawat disini?" Adan heran Bobby cepat sekali mendengar berita ini.


"Kata bibi yang kerja di rumah loe, gw cari loe ke kampus nggak ada, ke rumah loe nggak ada, jadi gw penasaran tanya sama bibi," tutur Bobby.


Mereka sampai di depan kamar Ina kemudian mensterilkan tangan sebelum masuk. Fina bersemangat masuk lebih dulu kemudian menghampiri ranjang Sabrina.


Fina berjalan pelan takut mengganggu tidur sang bunda. Satu telunjuk ia tempelkan di bibir memberi isyarat pada dua pria di belakang, agar jangan bersuara. Kedua nya hanya tersenyum saling pandang menatap Afina tampak lucu. Fina memandangi wajah Sabrina. "Kan benar... Bunda tidur..." ia berbisik-bisik. Tentu Sabrina segera membuka mata. Sebab ia tidak tidur hanya memejamkan mata.


"Fina... kamu menyusul sayang..." Sabrina tersenyum anak sambungnya itu pengobat luka.


"Iya... tadi kan Fina nguping Bun, waktu di mobil Nenek sama Uty, lagi ngomongin Bunda, terus Fina nangis minta di antar kesini," celoteh Afina. Ketiga orang dewasa itu tertawa.


"Memang Bunda sakit apa?" wajah Fina yang awalnya berseri karena bunda nya tidak hilang seperti yang ia pikirkan, kini berubah sedih.

__ADS_1


"Bunda nggak sakit kok, cuma kata dokter suruh istirahat," Sabrina tersenyum.


"Sini-sini naik" Sabrina menepuk kasur di sebelahnya.


"Memang boleh Bu?" Afina ingin sekali naik ke tempat tidur namun ragu-ragu.


"Boleh... tapi hati-hati ya, jangan memegang perut Bunda kencang-kencang, di perut ada dedek," Adnan menjelaskan.


"Ada dedek Bun? Yeee... yeee..." seru Afina segera duduk di ranjang. Diusapnya kepala anak sambungnya itu sayang. Sabrina tanya ini itu, selama ia tinggal. Afina pun menjawab dengan celotehan yang kas anak-anak.


Adnan dan Bobby lantas berjalan ke sofa ngobrol disana.


"Oh jadi bini loe bunting?" tanya Bobby.


"Bunting! Memang bini gw kucing apa?!" ketus Adnan.


"Hahaha... gaul-gaul..." seloroh Bobby.


Bobby tidak tahu jika di balik senyumnya Adnan, pikiranya kini sedang kacau. Bagaimana jika bayinya tidak selamat? Adnan memikirkan betapa hancurnya hati istrinya, jika ini terjadi. Adnan menoleh senyum istrinya pada Afina sudah kembali, tentu senyum itu akan hilang jika bayinya tidak bisa di pertahankan.


********


"Ini Bu, pesanannya," pelayan memberikan nasi box kepada bibi. Bibi menunggu lumayan lama sebab jam makan siang antrinya panjang.


"Terimakasih..." setelah membayar bibi kembali ke kamar Rasmi.


"Non... ini pesananya," bibi memberikan kotak.


"Kok hanya satu, buat bibi mana?" tanya Rasmi. Padahal tadi sudah menyuruh bibi agar membeli sekalian.


"Saya tidak usah Non, bibi makan jatah Non saja," bibi menunjuk makan siang yang disediakan oleh rumah sakit, yang seharusnya untuk Rasmi, tentu lebih sehat. Standar gizi pun sudah diatur dan lagi tidak mubazir bagi bibi.


"Oh gitu ya," jawab Rasmi kemudian membuka kotak mereka makan siang bersama.


"Non... ini tadi ada titipan uang dari Tuan muda, jika Non membutuhkan uang untuk beli sesuatu," bibi menuturkan seperti yang Adnan katakan pada bibi tadi.


"Waah... ini pemberian Mas Adnan Bi?" Rasmi berbinar-binar, bukan karena uangnya tetapi perhatian Adnan membuat nya seperti sudah ada lampu hijau. Rasmi tidak tahu jika Adnan memberikan uang itu hanya karena rasa tanggung jawabnya. Pasalnya Adnan sudah membuat Rasmi celaka.


"Ngomong-ngomong... Bibi bertemu Mas Adnan dimana?" Rasmini baru ingat bukankah tadi pagi Adnan sudah akan pergi? Lalu mengapa ia masih di rumah sakit ini? Rasmi senyum-senyum. Ia berpikir bahwa Adnan sengaja datang kemari karena mengantar uang untuknya.


"Saya bertemu di resto Non, beliau sedang makan siang," jujur bibi.


"Oh iya Bi, ngomong-ngomong... Mas Adnan itu sudah punya istri belum?" Rasmi sungguh penasaran.

__ADS_1


"Saya tidak tahu Non, saya kan kerja baru hari ini karena di suruh jagain Non Rasmi," Pungkas bibi.


.


__ADS_2