Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Dehidrasi.


__ADS_3

"Bob anak gw ada di rumah sakit," Adnan segera beranjak pergi meninggalkan Bobby.


"Rumah sakit mana? Gw ikut," Bobby yang baru saja duduk bangkit cepat, mengejar langkah panjang kaki Adnan. Adnan tidak menyahut maupun menoleh melangkah optimis menuju parkiran.


"Busyet deh, jalan loe sudah seperti kuda," Bobby diam sejenak di samping mobil mengatur napas.


Adnan membuka pintu mobil hendak menyetir.


"Gw saja yang nyetir," Bobby menarik mundur pundak sahabatnya.


Adnan membiarkan Bobby menyetir lagi pula pikiranya masih kacau. Ia kemudian berputar masuk pintu sebelah kiri ingin segera sampai tujuan. Walapun Fina sudah diketemukan, namun kabar yang ia terima di rumah sakit. Itu artinya Fina dalam keadaan tidak baik. Adnan gelisah tidak karuan.


"Di rumah sakit mana Nan?" tanya Bobby diplomatis. Ketika mobil sudah berlalu meninggalkan kampus.


"Ya Allah... di rumah sakit mana ya," Adnan seperti orang linglung, karena panik tidak membaca chat hingga tuntas.


Bobby hanya diam, ia mengerti bahwa sahabatnya sedang banyak pikiran. Bobby memilih meminggirkan mobil dulu sebab di depan ada pertigaan jalan mana yang harus Bobby lewati.


"Gw telepon ke kampus dulu," ujar Adnan kemudian ambil handphone.


Ku bukan dokter cinta


Ku bukan dukun cinta


Jangan kau tanya-tanya tentang cinta.


Belum sampai Adnan telepon sudah ada panggilan masuk. Adnan melihat nama siapa yang menghubungi.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Nan, kamu segera datang kerumah sakit xxx ya, kami menunggu,"


"Baik Pak," Adnan ingin bertanya lebih jelas siapa yang sakit sebab yang baru saja telepon adalah Arman. Tetapi Arman sudah memutuskan panggilan.


"Siapa yang telepon Nan?" tanya Bobby.


"Pak Arman Bob, kita segera ke rumah sakit xxx," jawab Adnan.


"Afina di rumah sakit itu?" Bobby menegaskan sambil menyalakan mobil.


"Kita lihat saja" Adnan menjawab. Di dalam mobil saling Diam. Adnan ingin rasanya terbang jika punya sayap. Segera ingin tahu keadaan Afina. Walaupun Arman tidak mencerikan siapa yang sakit, namun Adnan sudah bisa menebak pasti yang di rumah sakit adalah anaknya.


********


Di rumah sakit keadaan masih tegang Afina sedang di tangani oleh dokter. Sedangkan Arman dan Lastri menunggu di luar, pasalnya mereka tidak di ijinkan masuk.

__ADS_1


"Mas... Bella menunggu dimana ya, kok aku dari tadi tidak melihat?" Lastri memindai sekeliling.


"Nggak tahu," jawab Arman cepat. Pria itu tidak perduli dengan keberadaan Bella. Wanita yang sulit di atur dan tidak mau berubah, sejak SMK sikapnya banyak menyakiti orang lain, selalu bersikap semaunya sendiri.


"Mas, aku mau telepon bibi dulu ya," kata Tri. Sudah dua hari tidak bertemu putranya rasa kangennya membuncah.


"Iya sayang... aku juga rindu dengan anak kita,"


Lastri bersama Arman kemudian vidio call memastikan bahwa putranya baik-baik saja. Mereka berbicara dengan putra nya yang sudah berjalan tiga tahun. Tentu bahasanya masih cadel dan berceloteh membuat Arman dan Lastri tersenyum.


"Ayah... Unda... kapan puyang?" tanya anak mereka.


"InsyaAllah... nanti sore sayang..."


"Yaaahh... Unda lama,"


Mereka ngobrol beberapa menit sampai Arman dan Lastri menyudahi pembicaraan. Namun dokter belum juga memberi kabar tentang Afina.


Tak tak tak


Terdengar suara sepatu pantofel Arman seketika menoleh.


"Pak Arman..." sapa Adnan terserang panik. Wajar jika ia merasakan itu karena reaksi dari rasa kekhawatiran dan rasa sayangnya pada sang anak.


"Nan..." Arman pun tidak bisa berkata-kata menatap wajah Adnan di selimuti rasa cemas.


"Masih di tangani dokter Kak, kami belum mendapatkan kabar dari dokter, kakak yang sabar ya, semoga Fina segera sadar," Tri yang menjawab.


"Segera sadar? Memang Afina kenapa Tri?" Adnan semakin khawatir.


"Tadi Fina pingsan Nan," kata Arman. Arman mengajak duduk Adnan agar tenang dulu, sambil menceritakan apa yang terjadi di Fila.


Lastri memilih keluar mencari air minum selain untuk Adnan dirinya juga terasa haus. Sampai di luar rumah sakit, Lastri membeli tiga botol air meneral di warung kecil kemudian kembali.


Ia segera masuk ke dalam lift tentu menuju lantai dua, dimana Afina dirawat.


Plok!


"Auw"


Tangan pria menepuk kencang pundak Tri. Lastri mendongak. "Kak Bobby? Sakit tahu!" ketus Lastri sambil mengusap pundak nya.


"Ahahaha... habisnya kamu melamun," bukan Bobby jika tidak bercanda. Pria slengek-an itu kadang bikin orang sewot.


"Nggak lucu!" sungut Tri. Lift terbuka Tri keluar meninggalkan Bobby.


Bobby mengejarnya

__ADS_1


"Heee... jangan ngomel-ngomel, bagaimana keadaan Fina?" kali ini Bobby serius.


"Kak Bobby tahu darimana, kalau Afina sakit?" Tri menghentikan langkahnya.


"Tadi kan suami kamu telepon Adnan Tri."


"Oh jadi Kak Bobby, kesini sama Kak Adnan?" tanya Tri, kemudian berlalu disusul Bobby. Mereka berjalan bersebelahan.


"Iya, kok bisa sih Tri, Afina bersama kamu?" Bobby Bertanya balik.


Lastri menceritakan pertemuanya dengan Afina dan Bella di puncak. Obrolan mereka berhenti karena sudah sampai di depan ruang pemeriksaan. Adnan dan Arman masih berbincang-bincang.


"Kak Adnan, minum dulu," Tri menyerahkan satu botol air untuk Adnan dan satu lagi untuk suaminya.


"Terimakasih Tri," Adnan lantas membuka botol kemudian menyeruput. Adnan memang haus ia minum ketika sarapan bersama Sabrina sebelum berangkat ke kampus.


"Dokter Nya, belum keluar Mas?" Tri duduk di sebelah suaminya.


"Belum, kok kalian bisa barengan?" tanya Arman yang di maksud adalah Bobby. Bobby masih berdiri menekan tembok.


"Saya tadi bertemu Tri di lift, Pak Arman," jawab Bobby sopan. Ternyata Bobby bisa serius jika di depan mantan guru SMK Nya itu.


Ceklak.


Dokter membuka pintu, Adnan segera berdiri mendekati dokter.


"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Adnan yang awalnya sudah lebih tegar karena nasehat Arman, kini serangan panik datang lagi.


"Putri Anda siapa?" dokter bingung sebab Adnan tidak menyebut nama.


"Afina Mawadah Dok,"


"Mari ikut saya," titah Dokter. Dokter kembali ke ruang periksa disana sudah ada suster, tampak sedang merapikan alat pengukur tekanan darah.


"Afina..." Adnan kemudian menggenggam tangan putri nya mencium nya lembut. Namun Afina masih belum sadar.


"Kenapa anak saya belum sadar Dok?" Adnan mendekati meja Dokter.


"Silahkan duduk," Dokter menunjuk kursi di depanya.


"Putri Anda sebenarnya sudah sadar, hanya tidur setelah kami beri makan dan juga obat," jawab dokter.


"Memang anak saya sakit apa Dok?" Adnan menoleh Fina.


"Putri Anda sepertinya dehidrasi karena terlambat minum, dan makan, hingga asam lambung nya naik, tolong diperhatikan makan dan minumnya. Jika bisa... jangan diberikan makanan yang pedas," tutur dokter panjang lebar.


Adnan mengepalkan tangan selama ini Sabrina selalu menjaga makan Fina, standar gizi pun tercukupi, makan selalu teratur, tetapi kenapa bisa sampai terlambat makan? Siapa lagi jika bukan Bella yang tidak memperhatikan makanan Afina? Rahang Adnan mengeras. Adnan tidak tahu jika putrinya mengurung diri di kamar mandi hingga siang hari sudah pasti haus dan lapar. Ditambah lagi hari-hari sebelumnya Afina hanya diberi makan mie instan oleh Bella.

__ADS_1


.


__ADS_2