Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Beri saya waktu.


__ADS_3

Tubuh tinggi tegap itu sampai di depan restoran menyipitkan mata, menatap plang yang bertuliskan rumah makan Isabella. Memudahkan dirinya menemukan tempat tersebut. Djody segera parkir, sebelum akhirnya masuk ke dalam, yang sedang dipenuhi pengunjung.


Djody mencari tempat kosong rupanya semua kursi penuh dan pada akhirnya ia berdiri untuk beberapa saat. Setelah tiga orang pengunjung pergi, Djody kemudian duduk di tempat itu. Tampak meja masih kotor bekas tiga pria yang baru saja pergi masih berantakan.


Djody merogoh ponsel di saku celana kemudian menghubungi Bella. Namun hingga beberapa kali, tidak diangkat. Pelayan pria berseragam datang membersihkan meja di depan Djody.


"Maaf Tuan" ujar pelayan seraya menggosok-gosok meja.


Djody tidak menyahut lalu menyimpan kembali benda pipih, menatap pelayan yang bagian bersih-bersih sudah selesai membereskan meja, kemudian hendak pergi.


"Mas, tunggu Mas," Djody menahannya.


"Saya Tuan..." pelayan kembali lagi. Wah pelangan tajir semoga memberi aku uang tip. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?" pelayan tersenyum manis karena ada maksud tertentu.


"Bisa dipanggilkan pemilik restoran ini?" tanya Djody.


"Bisa Tuan" jawab pelayan yang masih belasan tahun itu. Namun tak kunjung berangkat.


"Tolong panggil, kok diam saja," Djody mengerutkan kening.


"Hehehe... anu Tuan, anu..." pelayan cengar cengir.


Djody paham lalu merogoh dompet, kemudian ambil pecahan 50 ribu, memberikan kepada pelayan tersebut. "Terimakasih Tuan" pelayan segera berjalan ke ruangan Bella. "Lumayan... bisa untuk membeli paketan," gumam pelayan hingga sampai di depan dimana Bella berada.


Tok tok tok.


"Masuk"


Pelayan pria yang ada tahi lalat di pucuk hidung itu membuka pintu, kemudian melangkahkan kaki, berdiri di depan meja kerja Bella. Bella sedang memainkan jari-jarinya mengetik dengan cepat. Pelayan terkesima menatap tangan Bella yang sangat lincah.


"Ada apa?" tanya Bella menunda pekerjaan.


"Ada pria yang ingin bertemu Nona," kata pelayan sopan.


"Siapa?" Bella merasa aneh. Selama di Indonesia belum pernah ada pria yang mencarinya.


"Saya tidak tahu Nona,"


"Baiklah" Bella membiarkan komputer tetap menyala. Kemudian merapikan penampilannya sebelum akhirnya menemui tamu nya. Pelayan mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Yang mana orang nya?" tanya Bella menoleh ke belakang.


"Itu... yang duduk sendiri memakai kaos hitam Nona," tunjuk pelayan.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kamu," ujar Bella segera mendekati pria tersebut. Setelah dijawab pelayan. Bella mendekati Djody dari belakang, tersenyum jail, berniat mengerjai Djody. Begitu melihat postur tubuh pria itu Bella langsung paham, jika pria itu adalah sahabatnya.


Plok!


Telapak tangan Bella menggeplak bahu kekar itu, membuat sang pemilik terkejut.


"Bella..." Djody menoleh cepat. Sikap yang biasa ceplas ceplos dan humoris tiap kali bertemu Bella dari mulut Djody, kini menjadi hilang entah kemana.


"Darimana loe tahu alamat gue? Tumben... loe nggak kerja?" cecar Bella kemudian duduk di depan Djody.


"Dari Adnan, ini mau kerja, tapi sebelumya mau makan siang di restoran kamu dulu," jawab Djody asal, entah harus memulai darimana.


"Lagian anak sultan kaya loe nggak usah kerja juga harta loe nggak akan habis dimakan selama tujuh turunan," kata Bella sebelum akhirnya melambaikan tangan kepada Waitreess.


"Ah kamu, bisa saja," Djody hanya bisa menjawab sepatah dua patah kata. Waitreess pun akhirnya datang membawa cacatan kecil.


"Loe mau makan apa?" Bella menatap Djody yang sejak tadi banyak diam tidak seperti biasanya menjadi heran. "Kenapa sih loe? Dari tadi diam saja, sariawan?" kelakar Bella.


"Loe vegetarian? Pantas... body loe keren," celetuk Bella. Membuat perasaan Djody serasa di awang-awang.


"Begitulah kira-kira supaya bisa mengait wanita cantik seperti..." Djody tidak melanjutkan ucapanya.


"Seperti siapa?" Bella yang mau menulis menu mengurungkan niatnya.


"Lupakan" jawab Djody cepat.


Tidak banyak bicara lagi, Bella menulis menu makanan tempo dulu kas Jakarta yang sudah jarang sekali di jual di restoran lain. Kemudian memberikan kepada Waitreess.


"Bella"


"Djody"


Dua insan itu memanggil bersamaan.


"Loe dulu yang bicara," Bella tersenyum.

__ADS_1


"Kamu dulu," Djody membalas semyuman Bella.


Belum sempat bicara, hidangan makan siang berupa nasi ulam sudah tersedia di depan mereka. Nasi masih panas, dengan lauk sederhana berupa ikan dan tambahan sayur, kentang kering, dan bawang goreng, menggugah selera Djody. Tentu Djody tidak pernah menemukan masakan seperti ini di negara asal mommy.


"Kita makan dulu, baru nanti ngobrol," kata Bella. Mereka makan dalam diam hingga makanan habis.


"Bella... kamu masih suka menghubungi David?" pancing Djody. Djody takut Bella belum bisa move on dengan mantan suaminya.


"Ngaco! Ya jelas nggak lah, gw tuh sudah janji untuk tidak menggangu mereka," tulus Bella. Bella tidak akan mengganggu kebahagiaan keluarga mantan suaminya. Djody mengangguk-angguk dalam hatinya senang.


"Bella... apa kamu tidak berniat mencari pasangan hidup, setelah perceraian kamu dengan David?" pertanyaan Djody mengejutkan Bella. Bella hanya menopang dagu menatap keluar restoran.


"Bella..." desak Djody.


"Hehehe... loe ngaco! Mana mau ada laki-laki yang mau sama gw, pernah menikah dua kali, dan semuanya sakit hati karena kelakuan gw," Bella geleng-geleng kepala lalu menyeruput minuman segar.


"Tentu ada Bella," tegas Djody.


"Loe jangan menghibur gw Djody," Bella tersenyum kecut.


"Bagaimana jika pria itu aku orang nya," jawab Djody to the point.


Bella terperangah menatap lekat wajah Djody mencari kejujuran disana. Kedua insan itu pun saling pandang. Diraihnya telapak tangan Bella yang berada di atas meja. Djody menggenggamnya erat.


Bella menarik tanganya cepat. "Jangan percanda Djod" Bella tidak yakin dengan ucapan Djody.


"Aku nggak percanda Bella. Jadilah istriku, ibu dari Elma dan juga anak-anak aku kelak, sekarang tatap mata aku Bella, apa ada ketidak juiuran disini," Djody menunjuk matanya.


Bella tidak mau menatap wajah Djody, ia tidak menyangka jika sahabatnya itu akan mengutarakan hal ini. Jika boleh jujur, Bella saat ini ingin menikmati kesendirian dulu. Dua kali menikah yang dipenuhi pertengkaran hampir setiap hari, Bella masih berpikir dua kali untuk mencari pendamping.


"Bella... jawab dengan jujur," Djody berniat menggenggam tangan Bella kembali, namun Bella segera menarik tanganya, menyembunyikan di bawah meja.


"Maafkan saya Djody, saya lebih senang kita menjadi sahabat," tegas Bella. "Saya tidak ingin persahabatan kita ini hancur karena adanya pernikahan," sambung Bella.


"Bella... aku mencintai kamu, aku tahu, kamu masih terluka dengan pernikahan kamu yang terdahulu. Tetapi apa kamu tidak ingin menyembuhkan luka kamu?" Djody ikut berdiri. Mereka berdua tidak menyadari jika saat ini sedang di tempat umum dan beberapa mata memandangi kedua nya.


"Beri saya waktu Djod," Bella melangkah keluar meningalkan Djody. Djody cepat mengejar.


.

__ADS_1


__ADS_2