
Kalian saling mengenal?" tanya mama Fatimah kepada Adnan dan wanita itu saat sedang menunggu di tangani oleh dokter.
"Kami bertemu di pesawat Bu" jawab wanita itu ternyata dia adalah Rasmi.
"Memang tujuan kamu mau kemana, Nak?" mama Fatimah yang sejak tadi mengajak bicara Rasmi dan bertanya ini itu. Sedangkan Adnan hanya diam seribu bahasa. Yang ada dalam benak hanya Sabrina, bukannya tidak bertanggungjawab dengan anak manusia yang sudah ia tabrak karena lalai, tetapi Adnan tidak akan bisa berbagi pikiran dengan yang lain untuk saat ini.
"Saya dari jawa timur Bu, padahal saya besok akan wawancara kerja, tapi bagaimana kalau kaki saya begini," Rasmi tampak sedih.
"Maafkan kami Nak, jika kaki kamu sudah sembuh, saya yang akan bertanggungjawab mencarikan kamu pekerjaan," tutur Fatimah panjang lebar.
"Terimakasih Bu,"
Rasmi segera di tangani oleh dokter tulang mata kaki nya patah, dan saat ini sedang di gips oleh dokter. Rasmi pun akhirnya harus menjalani rawat inap. Tentu semua biaya mama Fatimah yang menanggung.
"Mas, ini dompet kamu, saya sama sekali tidak membuka dompet ini, entah apa isinya saya tidak tahu," Rasmi mengacungkan dompet ketika mereka menunggu mama Fatimah yang sedang menemui bagian administrasi.
"Kenapa bisa berada di kamu!" Adnan menarik kasar dompet dari tangan Rasmi. Namun Rasmi menyembunyikan dompet itu ke belakang.
"Enak saja, main rebut! Mas harus memberikan ucapan terimakasih dulu," Rasmi minta syarat. "Dompet ini saya temukan di pesawat. Bagusnya saya yang menemukan jika orang lain sudah hilang, makanya saya minta imbalan,"
"Terimakasih," Adnan menjawab tanpa menatap obyek.
"Bukan begitu maksud saya, bukan hanya sekedar ucapan terimakasih," kata Rasmi.
"Ya sudah sini! Kembalikan dompet saya berapa yang kamu butuhkan? Saya akan membayar!" Adnan menengadahkan tangan.
"Tuh kan! Orang kaya segala sesuatunya musti di ukur dengan uang!" ketus Rasmi.
"Terus mau kamu apa? Jangan bertele-tele!" Adnan semakin kesal memikirkan istrinya yang belum bisa ia temukan membuat nya setres Rasmi justeru bikin pusing.
"Saya hanya minta nomor handphone kok, nggak susah kan! Nanti kalau saya nggak minta nomer hp kamu, yang ada kamu kabur, padahal kaki saya belum sembuh," Rasmi beralasan tepat.
Adnan tidak mau berdebat lagi kemudian memberikan nomor hp. Lalu ambil dompet membuka isinya yang hanya beberapa lembar uang merah dan surat-surat penting tentunya.
"Sudah mendapat ruangan Nak Rasmi, mari Ibu antar," mama Fatimah datang bersama suster yang mendorong kursi roda.
"Kamu mau ikut Nan?"tanya mama.
"Tidak Ma, saya menunggu di sini saja," pungkas Adnan. Adnan menunggu mama di ruang tunggu sambil telepon orang suruhanya sudah mendapat informasi tentang istrinya atau belum. Setelah menyelesaikan masalah ini Adnan bersama mama Fatimah akan melaporkan ke hilangan istrinya ke kantor polisi.
__ADS_1
*******
"Nak Rasmi, saya tinggal dulu ya, saya ada keperluan yang tidak bisa saya tinggalkan, nanti saya akan mencari orang agar menemani kamu disini," mama menjelaskan panjang lebar.
"Iya Bu, terimakasih,"
Mama Fatimah pun meninggalkan Rasmi yang sudah di ruang rawat inap sedang dipasang infus oleh salah satu suster.
Di ruang sebelah. "Kok aku seperti mendengar suara mama Fatimah... apa aku bermimpi? Tapi kan aku tidurnya tidak pulas," gumam Sabrina. Ya ternyata Sabrina dan Rasmi di rawat bersebelahan.
"Suster..." panggil Sabrina yang melihat dari celah gorden ada dua suster disana sedang mengurus Rasmi.
"Saya dek" suster bergegas ke kamar Sabrina.
"Tolong bantu saya ke kamar mandi Sus"
"Baik dek" suster berdiri di samping Sabrina kemudian membantunya pindah dari ranjang pasien ke kursi roda. Di dorongnya roda yang sudah di duduki Sabrina lalu ke toilet. Ketika melewati kamar Rasmi yang tidak ada pintu dan hanya gorden pun tidak di tutup, Sabrina menoleh tampak Rasmi yang sedang duduk menatap nya pula. Keduanya saling menganggukan kepala mengulas senyum.
Di antara tiga kamar yang ramai orang hanya yang paling ujung. Sedangkan kamar mereka hingga sore hari hanya terasa sepi.
Sabrina menatap langit-langit pikiranya mengembara. Ia merasa sepi. Sehari semalam tidak mendengar celotehan Afina rasa kangen nya membuncah. Dan sudah pasti saat ini Afina sedang bingung mencari dirinya. "Kenapa nggak pinjam hp suster saja? Monolog Sabrina.
Benturan roda di pinggr ranjang mengejutkan Sabrina.
"Hai, Mbak" sapa Rasmi menghampiri Sabrina. Kedua tanganya mendorong roda berhenti di samping ranjang.
"Hai, juga," Sabrina tersenyum, menatap gadis manis itu.
"Mbak di sini sendirian, juga?" tanya Rasmi sebenarnya ia menahan kaki yang terasa sakit. Namun Rasmi wanita yang tidak mau diam jadi tidak betah jika hanya tiduran terus.
"Ya begitulah," Sabrina menjahut.
"Mbak sakit apa memang?" Rasmini memandangi Sabrina dari atas sampai bawah. Padahal tubuh Sabrina di tutup dengan selimut hanya terlihat wajahnya saja. Rasmi kagum menatap wajah yang putih dan glowing padahal tidak dipoles.
"Saya di anjurkan bed rest, oleh dokter," jawab Sabrina seketika murung.
"Ya ampun... berarti kandungan Mbak lemah ya?" Rasmi langsung nyambung dan hanya di angguki oleh Sabrina.
"Lalu kenapa Mbak di rumah sakit hanya sendirian? Suami Mbak kemana? Laki-laki mau enaknya saja! Kalau saya jadi Mbak sudah saya hajar!" Rasmi ngomel-ngomel sendiri.
__ADS_1
Sabrina terperangah mendengar omelan Rasmi. "Bukan begitu, Suami saya sedang bekerja," Sabrina tidak ingin membahas ini.
"Oh iya kita sudah ngobrol tapi belum kenalan. Kenalkan Mbak, nama saya Rasmini," Rasmi mengulurkan tangan.
"Sabrina," Sabrina menyambut telapak tangan Rasmi mereka bersalaman jika Rasmi duduk di kursi roda. Sabrina tetap tiduran.
"Rasmi sendiri sakit apa?" Sabrina bangun meninggikan bantal kemudian bersandar di ranjang.
"Kaki saya patah Mbak," Rasmi menunduk menatap kaki yang di pasang gips.
"Patah?" Sabrina terkejut.
Rasmi pun menceritakan bahwa ia di tabrak mobil yang menyetir seorang pria tampan bersama ibu nya.
"Ya Allah... tapi yang menabrak kamu mau tanggung jawab kan?" Sabrina membayangkan jika Rasmi mengalami tabrak lari.
"Tanggungjawab Mbak, justeru tabrakan ini membawa berkah menurut saya," Rasmi mendongak menatap langit-langit senyumnya mengembang mengingat wajah Adnan.
"Membawa berkah?" dahi Sabrina berkerut menatap gadis di sebelahnya mana ada kecelakaan membawa berkah.
"Habisnya saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama cowok yang menabrak itu, Mbak" Rasmi senyum-senyum.
"Kamu ini lucu Ras, masa tiba-tiba jatuh cinta kalau pria itu sudah punya istri bagaimana?" Sabrina terkekeh. Rasmi rupanya cukup menghibur melupakan kegetiran hati.
Rasmi hanya diam saja, tidak lagi menimpali.
"Oh iya saya boleh pinjam hp nggak mau telepon ibu saya," Sabrina memberanikan diri. Walaupun baru kenal sepertinya Rasmini baik.
"Ada Mbak, sebentar saya ambil," Rasmi kembali mendorong kursi roda ambil handphone di kamar sebelah tidak lama kemudian kembali memberikan kepada Sabrina.
"Pinjam nggak apa-apa kan?" Sabrina tampak ragu-ragu mengambilnya.
"Nggak apa-apa Mbak, silahkan saja,"
"Jangan panggil Mbak Ras, panggil saja Ina, kayaknya kita seumuran,"
Mereka ngobrol ngalor ngidul lalu Sabrina segera telepon Kamila sang Bunda. Hanya nomor beliau yang ia ingat, selain nomor Adnan, tetapi saat ini ia masih malas dan kesal kepada suaminya itu.
.
__ADS_1