Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Musibah.


__ADS_3

Di negara A, dengan mengendarai taksi, Djody tiba di kediaman Prayoga.


"Kamu sendirian? Kenapa istri dan anak kamu tidak diajak?" tanya mommy Ariana, menyambut kedatangan putra semata wayangnya.


"Elma kan belum libur Mom, nanti kalau liburan IsyaAllah... mereka aku ajak liburan kemari." jawab Djody seraya menarik koper.


"Oh iya, istri kamu kan lagi hamil, Mommy jadi pengen ketemu," Mommy tersenyum membayangkan Bella hamil dengan perut buncit akan memberikan cucu kedua untuknya. "Oh iya, jangan diajak kesini dulu istrimu Djod" ralat mommy. Tentu mommy tidak ingin terjadi sesuatu dengan kehamilan Bella.


"Itu juga salah satunya alasan Djody Mom," jawab Djody lalu ambil minum yang sudah disediakan oleh bibi. Ia duduk sambil meneguk air hingga seperempat kemudian kembali beranjak.


"Ayah kemana Mom?" Djody sudah kangen dengan ayahnya, tetapi sepertinya di rumah ini sepi.


"Ayah kamu menemui Uncle di kantor kamu Djod"


"Oh... kalau gitu... aku istirahat dulu ya Mom,"


"Iya..." jawab mommy pendek.


Djody ke kamar yang sudah tiga bulan tidak ia tiduri. Setelah mandi dan salin baju, pria itu segera merebahkan tubuhnya di kasur. Sebelumnya ambil handphone ingin segera menghungi istrinya yang sudah ia janjikan. Setelah menemukan nama CCJ, Djody segera menggeser tombol.


"Assalamualaikum..." Salam dari wanita yang ia rindukan dari seberang telepon. "Djody... kamu sudah sampai? Jam berapa? Lancar tidak?" cecar Bella.


"Waalaikumsalam..."


"Bertanya satu-satu dong... jangan kayak burung betet. Hahaha..." bukan menjawab pertanyaan Bella Djody malah berkelakar.


"Djody... aku serius nih, semalaman aku nggak bisa tidur tahu nggak! Mikirin perjalanan kamu!"


"Ciee... cieee... yang sedang rindu berat" Djody terkekeh.


"Memang kamu nggak kangen?" tanya Bella.


"Sedikit..." Djody kembali terkekeh.


Tut


Djody mengamati telepon yang sudah diputus sepihak oleh Bella. Entah memang sengaja atau tidak yang jelas secara tiba-tiba handphone mati. "Yah... marah" gumam Djody. Ia berusaha menghubungi Bella kembali namun handphone Bella tidak aktif. Djody meletakkan handphone di samping ranjang kemudian tidur.


.


Keesokan harinya Djody sudah mengadakan pertemuan dengan salah satu pengusaha yang bergerak di bidang properti. Sebagai pembisnis, Djody sudah menandatangani project besar, yakni pembuatan ilustrasi beberapa gedung di negara tersebut. Hawa dingin karena saat ini di negara A sedang dilanda badai salju. Namun tidak menyurutkan langkah Djody untuk mencari rezeki demi anak dan istri. Pria itu keluar dari gedung berjalan tegap kedua tangan masuk ke dalam saku jaket tebal untuk mengurangi rasa dingin.

__ADS_1


Mantel berbahan tebal dengan ukuran panjang hingga mata kaki. Pakaian itulah yang ia kenakan kini sebagai pakaian paling luar.


Ia mengendarai mobilnya yang sudah jarang sekali dipakai, karena Djody lebih betah tinggal di Jakarta. Djody menerobos salju yang memenuhi jalan raya. Jalanan tampak sepi hanya terdapat beberapa mobil saja.


Tidak lama kemudian Djody tiba di kediamannya.


"Kamu sudah kembali Djod? Bagaimana pertemuan kamu dengan Mister Roberto?" tanya Prayoga.


"Lancar Pa" Djody membuka mantel yang sudah basah memberikan kepada bibi dan akhirnya meletakkan bokong di depan Prayoga.


"Bi...tolong buatkan minuman hangat ya," pintanya kepada bibi.


"Baik Tuan" bibi yang masih kerabat dekat dengan Jono itu segera membuat minuman coklat hangat, cocok diminum saat musim dingin seperti sekarang.


"Minumanya Tuan..." bibi meletakkan dua cangkir coklat yang masih ngebul di depan Djody dan Prayoga.


"Terimakasih Bi" kata Djody. Bibi mengangguk santun lalu meninggalkan tempat itu seraya menenteng nampan.


"Kamu jadi pulang besok Djody?" Prayoga memastikan. Anaknya ini di rumah hanya tiga hari sudah mau kembali ke Indonesia lagi.


"Jadi Yah, sudah pesan tiket kok, apa Ayah tidak ingin ikut pulang?"


"Nanti Mom, sama Ayah kamu, pulang kalau mendekati Bella lahir saja Djod," mommy yang baru saja keluar dari kamar menyahut. "InsyaAllah... kan 4 bulan lagi Bella lahiran," Mommy Ariana bersemangat.


Anak bapak dan ibu itu berbincang-bincang santai sambil sesekali menyeruput coklat.


************


Di Indonesia pagi ini Bella sudah berdandan cantik, karena hari ini Djody saatnya tiba di Indonesia. Bella akan menjemput suami tercinta ke bandara diantar Jono tentunya. Namun sebelumnya ia ke resto dulu setelah mengantar Elma ke sekolah. Bella menyalakan komputer mengecek laporan keuangan laba bersih kemarin. Seperti hasil lalu-lalu omset penjualan makanan dari hari ke hari terus melejit. Bella tersenyum karena usahanya tidak mengkhianati hasil.


"Jono... kita berangkat," ajak Bella, ketika sudah sampai di depan restoran.


"Mari Non" Jono yang sedang ngobrol bersama sesama supir, tetapi supir restoran yang biasa mengantar pesanan makanan berjumlah besar.


Jono pun segera berangkat di dalam mobil Bella berusaha menghubungi Djody, namun tidak aktif. Itu Artinya pesawat yang ditumpangi belum tiba di bandara internasional Jakarta.


********


Di depan televisi Sabrina sedang mendengarkan celotehan Dafa. Sebab Bilqis sedang tidur di kamar ditemani Eti.


"Bunda... cekalang Dafa dipanggil Kakak ya?" Dafa rupanya senang dipanggil kakak, oleh seisi rumah.

__ADS_1


"Iya, kan Dafa sudah punya dedek Bilqis, makanya... sekarang tidak dipanggil dedek Dafa lagi, tetapi Kakak Dafa," Sabrina menjelaskan sambil menggelitik ketiak Dafa, yang bergelayut manja di pangkuanya. Dafa tertawa geli. Waktu seperti ini Sabrina gunakan untuk mencurahkan perhatianya pada Dafa agar tidak semakin iri dengan Bilqis.


"Yayy... cekalang aku jadi kakak..." Dafa kegirangan membuat Sabrina menarik napas lega.


"Makanya... Kak Dafa nggak boleh nangis lagi kalau Bunda menggendong Bilqis. Dedek Bilqis kan masih kecil belum bisa jalan, jadi... harus Bunda gendong,"


"Iya. Kakak Dafa kan sudah besal ya Bun, sudah bisa lali-lali," celoteh Dafa, dengan bahasa cadel sangat lucu. Suasana menjadi hening kala Dafa sampai tertidur di pangkuan Sabrina. Sabrina menggendong Dafa menidurkan di ranjang. Di sana tampak Eti sedang menunggui Bilqis. Setelah menitipkan Dafa pada Suheiti. Sabrina berniat ke ruang kerja menghampiri Adnan. Namun di depan televisi netranya menangkap berita yang mencengangkan.


Pesawat xxx yang sedang membawa 60 orang penumpang hilang pada hari senin. Pesawat mengudara dari negara A jurusan Indonesia di nyatakan hilang setelah take off selama 12 jam di pulau xxx karena cuaca buruk.


Begitulah berita hangat pagi ini. "Astagfirrullah... itukan pesawat yang Djody tumpangi? gumam Sabrina. Sabrina begegas membuka pintu ruang kerja.


"Mas...." ucap Sabrina seraya mendorong handle pintu yang tidak dikunci.


"Iya sayang... anak-anak kemana?" tanya Adnan yang sibuk di depan komputer, menoleh istrinya terlukis dengan jelas bahwa istri nya sedang panik.


"Bobo semua Mas. Mas coba check internet berita pesawat yang hilang subuh tadi itu sepertinya pesawat yang di tumpangi Kak Djody," kata Sabrina, mencoba berkata tenang.


"Apa..." tanpa membuang waktu Adnan membuka layanan berita yang akurat di internet. Mata Adnan melebar kala membaca berita. Ternyata yang Sabrina katakan itu benar.


"Mas... Mbak Bella kemarin bilang kan pesawat itu yang Kak Djody tumpangi?"


"Benar Yank,"


"Terus... bagaimana ini Mas?" mata Sabrina mengembun.


"Coba kamu hubungi Bella Yank," titah Adnan.


"Iya Mas," Sabrina segera telepon Bella dering ketiga kemudian diangkat.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Mbak Bella lagi dimana ini?" tanya Sabrina. Bingung entah apa yang harus ia tanyakan. Tentu Sabrina tidak ingin membuat hati Bella bersedih.


"Mau menjemput Djody ke bandara In, kenapa?" rupanya Bella belum mengetahui berita itu.


"Nggak apa-apa Mbak, cuma mau memastikan saja," Sabrina menyudahi panggilan.


"Mas... sebaiknya Mas susul Bella ke bandara," saran Sabrina. Tentu masalah ini harus dibicarakan empat mata dan dengan hati-hati.

__ADS_1


"Baik Yank," Adnan segera berangkat.


.


__ADS_2