
"Pejamkan mata" ujar Djody menuntun tangan Bella ke pinggir tenda. Kali ini Bella tidak membantah berjalan dalam keadaan mata terpejam, tetapi pikiranya kemana-mana. Membayangkan jika calon suaminya akan melakukan pelecehan, terlebih sampai memperkosa, oh tidak.... jerit Bella dalam hati.
"Buka mata" ujar Djody, melepas tangan Bella.
Bella membuka mata perlahan, seketika menutup mulut karena terkejut. "Kalian..."
"Cieee... cieee... hahaha..." dua bocil berlari ke arah Bella. "Mamaaa..." seru mereka, keduanya memeluk tubuh Bella dari sisi kiri dan kanan. Bella terharu tidak hanya Fina yang memanggilnya mama, tetapi Elma pun sama.
"Kalian kenapa tiba-tiba disini?" tanya Bella dengan dahi berkerut. Ia tidak menyangka bahwa anak-anak akan hadir disini.
"Menyusul Mama" ucap mereka bersamaan. Bella melirik Djody yang hanya nyengir kuda.
"Kamu sudah merencanakan semua ya?" Kuku tajam Bella mendarat di lengan kiri Djody. Jujur Bella senang dengan kehadiran mereka. Namun mengingat saat ini sedang di hutan dan sudah sore, Bella mengkhawatirkan anak-anak.
"Auw" Djody meringis.
"Jangan Ma, kasihan Papa," lagi-lagi dua bocil memanggil Djody papa.
"Sudah... sekarang kita rayakan bersama. Sebentar lagi InsyaAllah... kita akan menjadi keluarga yang utuh," Djody mengajak mereka ke dalam tenda, hanya beberapa langkah sudah sampai di dalam tenda berukuran jumbo.
"Djody..." Bella lagi-lagi terperangah, ternyata di dalam tenda ada meja dan 4 kursi. Hidangan makan malam sudah siap. Namun karena saat ini masih jam lima sore berarti makan sore.
"Bella... semoga kita akan selalu seperti ini, hidup bersama dengan anak-anak dan selalu bahagia," Djody memegang kedua tangan Bella saling berhadapan.
"Mama... Papa... jangan pegang-pegangan terus... katanya mau makan," kata Fina polos menyadarkan kedua orang dewasa yang sedang dimabuk cinta itu.
"Okay..." Djody duduk bersebelahan dengan Bella, sementara Fina bersama Elma. Selayaknya keluarga mereka lantas makan bersama.
"Tuan... kami kok tidak diajak makan..." Jono tiba-tiba sudah berdiri di samping Djody bersama Satinah. Rupanya Fina bersama Elma hingga tiba disini diantar Jono
"Boleh kalian ikut makan, tapi tidak ada kursi lagi," jawab Djody.
"Tidak ada masalah," Jono bersemangat segera ambil piring dan menyendok nasi. Membiarkan Satinah yang masih malu dengan ulah Jono. Jono ambil porsi makan sepiring mentung.
__ADS_1
"Om Jono, yakin... habis nanti ambil makan segitu banyak?" tanya Elma geleng-geleng kepala.
"Habis dong... kan berdua sama Sati," jawab Jono. Jono segera duduk di karpet mengajak makan Sati sepiring berdua.
"Kalian jadian?" tanya Djody, menatap Jono. Tidak mungkin tidak ada apa-apa karena makan saja sepiring berdua.
"Betul Tuan, kami tidak mau ketinggalan sama Tuan, jika perlu menikah lebih dulu," Jono menjawab tanpa sungkan.
"Lantas... pacar kamu di kampung yang kamu ceritakan waktu itu, kamu kemanakan Jono?"
"Uhuk! Uhuk" Jono tersedak mendengar pertanyaan bos nya. Jono menatap Sati yang sedang mendelik gusar.
"Pelan-pelan Om, minum dulu," Fina mengingatkan. Jono tersenyum menatap Afina, lalu menatap Sati. Sati melengos ke samping.
Selesai makan sudah hampir magrib mereka keluar dari hutan menuju masjid Al Inayah. Sebelum pulang mereka shalat maghrib disana.
*************
Tiga bulan kemudian, dua minggu lagi pernikahan akan diselenggarakan. Bella yang sedang di kamar baru saja selesai telepon seseorang, kemudian beranjak pergi. Ia mengendarai mobil seorang diri menuju kediaman Adnan.
"Waalaikumsalam..." jawab Adnan. "Ada apa Bella, Fina kan belum pulang sekolah?" Adnan risau melihat Bella jalan tergesa-gesa, ia pikir Fina ada apa-apa.
"Saya mau ketemu Ina Nan, sudah janjian di telepon," tutur Bella. Ia minta Sabrina menemaninya fitting baju ke butik milik Sulastri.
"Memang Djody kemana?" Adnan merasa heran mengapa fitting baju tidak bersama calon suami justeru mengajak Sabrina.
"Djody sedang bertemu klien, tidak bisa di tinggalkan Nan," jawab Bella tetapi nanti Djody akan menyusul.
"Oh ya sudah..." Adnan hendak masuk mobil menyusul Bobby yang sudah menunggu di kursi pengemudi.
"Oh iya Nan, hari ini tolong jemput Fina ya," pesan Bella. Melihat Adnan dari kaca mobil.
"Beres" jawab Adnan singkat.
__ADS_1
"Bella... loe nggak mau mengudang gw?" tanya Bobby yang sudah menyalakan mobil.
"Tunggu seminggu lagi undangan akan disebar Bob," pungkas Bella. Kemudian masuk ke dalam rumah Sabrina, setelah dibukakan pintu oleh bi Suhaya.
"Eh Mbak Bella..." sapa Sabrina yang sedang duduk di depan televisi bersama Prliy.
"Jadi kan In, menemani aku ke butik Lastri?" Bella menanyakan ulang. Seperti yang sudah di bicarakan di telepon tadi. Bella merasa tidak punya keberanian untuk datang sendiri ke butik Lastri. Mengingat perlakuan nya kepada Lastri ketika masih kuliah hingga menjadi guru. Saat inilah kesempatan Bella untuk minta maaf.
"Jadi Mbak, Prily juga mau ikut" jawab Sabrina, menepuk pundak Prily ternyata dia sedang main ke rumah Sabrina bersama Bobby.
"Nggak apa-apa kalau saya ikut Mbak?" tanya Prily. Prily bermaksud silaturahmi kepada mantan dosennya, selama menikah sudah tidak sempat berkunjung lagi. Karena Prily harus bagi waktu mengajar dan juga mengurus rumah tangga.
"Nggak apa-apa Pril, biar ramai" Bella duduk menatap Dafa yang sudah berumur satu tahun. Tampak bocah itu sedang mengejar bola kecil yang digelindingkan Sabrina. Dafa bersemangat walaupun jalanya belum begitu lancar kadang terjatuh, tampak lucu. Ada perasaan sedih di hati Bella. Boleh ia senang saat ini Djody benar-benar menyayanginya, tetapi bagaimana dengan orang tua Djody jika suatu saat nanti akan mempermasalahkan kesuburanya? Karena saat masih menjadi istri David. Ia sudah di vonis akan sulit untuk mempunyai anak lagi karena penyebabnya kebanyakan minum alkohol. Jika mengingat itu Bella menyesal, inikah karma yang harus ia terima, karena kenakalanya dulu. Ya Allah... Bella menggigit bibir bawahnya.
"Kalau gitu... saya ganti baju dulu Mbak" pamit sabrina. Menyadarkan lamunan Bella.
"Iya In" Bella menjawab pendek.
Sabrina pun berdiri. "Pril titip Dafa ya," sambungnya.
"Siap In" Prily mengacungkan jempol, menatap Sabrina yang sudah naik tangga.
"Kamu hamil berapa bulan Pril?" Bella lagi-lagi merasa sedih menatap perut Prily yang sudah besar.
"Tujuh bulan Mbak Bella..." Prily tersenyum mengusap perutnya.
"Oa... ante... oaaa..." Dafa membawa Bola memberikan kepada Bella yang sedang melamun.
"Terimakasih..." ucap Bella menerima bola tersebut.
"Atih..." Dafa mengikuti jawaban Bella. Direngkuhnya tubuh mungil Dafa dalam dekapan Bella. Senantiasa berdoa, agar Allah memberikan kesempatan untuk menimang adiknya Fina yang terlahir dari rahimnya. Air bening pun akhirnya jatuh di pipi Bella. Semua itu tidak lepas dari pandangan Prily.
"Mari berangkat," Sabrina sudah siap hendak menggendong Dafa.
__ADS_1
"Biar aku saja yang menggendong Dafa In" pinta Bella.
.