Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

"Angela... boleh? Aku gendong putra kamu?" tanya Bella mendekat.


"Mari... masuk dulu," jawab Angela berjalan lebih dulu. Bella mengikuti dari belakang memindai isi rumah Angela. Ruang tamu kecil hanya ada fasilitas seadanya. Lantai pun bukan lantai keramik, mengapa David tidak merenovasi rumah ini? Bella bertanya dalam hati.


"Silahkan duduk Bella," kata Angela menunjuk kursi sofa yang David belikan beberapa bulan yang lalu, karena awalnya Angela hanya duduk di lantai jika ingin bersantai di depan televisi.


"Terimakasih," Bella melungguhkan bokongnya, perlahan.


"Ini... katanya mau menggendong Danial" tanpa ragu Angela menyerahkan Danial.


"Namanya Danial? Oh... nama yang bagus," Bella pun menimang Danial.


"Terimakasih..." ujar Angela, kemudian ke dapur membuat minuman. Setelah selesai ia kembali ke depan.


"Minum dulu Bella," Angela meletakkan dua cangkir minuman di depan Bella dan juga diri nya.


"Terimakasih" kata Bella menatap wajah Angela yang sedang meletakkan nampan di kolong meja. Angela sangat cantik walaupun tidak ada polesan di wajah. Namun justeru alami, membuat Bella semakin iri. Pantas saja, David menikahi Angela siapa yang akan menolak wanita seperti Angela.


"Angela... aku minta maaf, atas kejadian tempo hari." tulus Bella.


"Sudahlah Bella... jangan diungkit lagi, aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah merebut David dari kamu,"


Dua wanita yang awalnya bermusuhan itu, kini saling intropeksi diri. Mengakui kesalahan masing-masing.


Hingga satu jam kemudian, Bella pamit pulang. Angela mengambil alih Danial dari pangkuan Bella, lalu menidurkan di kamar. Angela kembali lagi ke depan.


"Angela... aku pamit dulu" kata Bella sambil membuka retsleting tas slempang.


"Okay... Terimakasih Bella, kamu sudah mau berkunjung," jawab Angela.


"Ela... selamat ya, kamu sudah bisa memberi kebahagiaan kepada David yang selama ini tidak pernah David dapatkan dari aku. Selamat juga karena kamu sudah memberikan David anak, yang David dambakan sejak dulu, dan aku pun ternyata tidak bisa memberikan juga," Mata Bella mengembun.


"Bella..." Angela pun turut menitikan air mata. Kedua wanita itu saling berangkulan. Hingga beberapa menit kemudian. Bella melepas pelukanya.


"El, aku punya kado, untuk kenang-kenangan," Bella ambil kotak dari dalam tas. Lalu menberikan kepada Angela.


"Kok repot-repot Bella..." Angela menelisik kotak yang di bungkus dengan rapi dan lucu.


"Tidak repot kok, saya pamit," kata Bella sambil berjalan keluar.

__ADS_1


"Hati-hati Bella, aku besok nggak bisa mengantar kamu," pungkas Angela.


"Nggak apa-apa," Bella mengenakan sepatu yang lepas di depan pintu masuk, kemudian berlalu.


Angela menatap kepergian Bella. Bella masih menunggu taksi.


"Semoga kamu mendapat jodoh yang lebih dari David Bella..." Angela bergumam.


*************


"Kamu baru pulang La?" tanya Andini ketika Bella sudah masuk ke apartemen.


"Iya Ma, asik juga ternyata ngobrol sama istrinya David," Bella pun duduk di depan Andini yang sedang menonton televisi.


"Bella... kamu sama sekali sudah bisa melupakan David?" tanya Andini. Bella boleh pura-pura tegar, tetapi sebagai seorang ibu. Tentu Andini mengerti apa yang dirasakan putrinya.


"Bella akan berusaha Ma," jawab Bella menarik napas berat. Bohong jika Bella bisa secepat ini melupakan David. Cinta Bella kepada David sungguh besar dibandingkan dengan cintanya pada Adnan ketika itu. Namun Bella harus menerima dengan lapang. Demi kebahagiaan David, demi Angela, dan juga Danial bayi kecil yang tidak berdosa.


"Kamu yang sabar Bella... kamu masih muda, bisa mendapatkan yang lebih baik dari David," hibur Andini.


"Tapi... aku nggak mau, jika Mama menyuruh aku mendekati Adnan Ma, aku kapok Ma, aku ingin tenang," juiur Bella, memohon.


"Aku mau beres-beres ya Ma, besok kan berangkat pagi-pagi," Bella beranjak.


"Iya" jawab Andini singkat. Menatap Bella hingga masuk ke kamar dan menutup pintu.


Bella ambil koper lalu membereskan pakaian tentu tidak semua, karena suatu saat nanti ia pasti akan datang kemari. Mengingat apartemen ini sudah dipindah nama oleh David untuk Bella. Apartemen ini menurut David sebagai harta gono gini pernikahan mereka.


*


Di tempat yang berbeda David sedang berbincang-bincang dengan Djody di salah satu Cafe.


"Jadi... Bella akan pulang ke Indonesia Dav? Dan kamu akan mengantar Dia?"tanya Djody terkejut.


"Iya, sebenarnya saya tidak mau mengantarkan Bella Djod, karena menjaga perasan istri saya, tapi... aku nantinya akan dihantui rasa bersalah terus menerus, pada mantan mertua saya yang laki-laki. Beliau itu menyangai saya seperti bukan menantu," David mengingat tiap kali Andini mengatai yang jelek-jelek, Wijaya selalu membelanya. Alangkah sedihnya perasaan Wijaya, jika ia lepas tangan begitu saja.


"Lalu bagaimana dengan istrimu? Apa ia tidak cemburu?" dahi Djody berkerut-kerut.


"Awalnya aku juga mengira begitu Djod, tapi ini justeru permintaan istriku,"

__ADS_1


Mereka ngobrol panjang lebar sambil menikmati kopi. Satu jam kemudian mereka kembali ke kantor masing-masing.


*********


Pagi berganti, Angela ambil koper milik suaminya, kemudian menyiapkan baju untuk beberapa hari di Indonesia. Bohong jika Angela tidak merasa cemburu membayangkan suaminya berangkat satu pesawat dengan Bella. Angela membayangkan jika di pesawat nanti Bella sedang tidur dan secara tidak sengaja kepalanya menempel di pundak David.


"Oh tidak...! pekik Angela dalam hati. Tetapi bukankah ini atas kemauannya sendiri yang meminta agar suaminya mengantar Bella, tapi mengapa kini justeru meragukan suaminya? Ya Allah... kuatkan hati ku. Batin Angela berkecamuk.


"Sayang..." David yang baru selesai mandi memeluk Angela dari belakang.


Angela balik badan lantas menatap mata suaminya lekat mencari kejujuran disana.


"Ela... kenapa kamu?" David menggerak-gerakkan telapak tangan ke wajah Angela.


"Dav... kamu sama Bella sudah tidak ada apa-apa kan? Kalian tidak akan macam-macam di belakang aku kan?" cecar Angela.


"Ela..." David menekan kedua pipi istrinya menatapnya seksama. "Jika kamu meragukan aku, dan tidak mempercayai aku, sebaiknya aku batalkan saja, tidak usah mengantar Bella," tegas David.


"David..." Angela menjatuhkan wajahnya di dada bidang David yang masih mengenakan handuk.


*


Di salah satu rumah mewah, berlantai dua. Djody pun sudah selesai mandi. Wajahnya tampak capek dan mengantuk, karena semalaman tidak bisa tidur. Mengapa ada perasan tidak rela ketika mendengar David akan mengantarkan Bella pulang. Sambil mengenakan pakaian, pikiranya melayang-layang.


Perasaan apa ini? monolog Djody.


Djody ambil handphone kemudian duduk di sofa. Ia buka galeri, memandangi foto Bella yang ia abadikan tanpa Bella tahu, ketika di rumah sakit.


Ia telusuri wajah Bella dalam foto tersebut dengan telunjuk. Semenjak kejadian Bella mendorong Angela ketika itu. Djody belum pernah bertemu. Ketika Bella di penjara pun, Djody tidak pernah menjenguk. Padahal Bella saat itu membutuhkan dukungan.


Telepon saja" gumam Djody, kemudian mencari nomer Bella yang ia beri nama CCJ. Ia klik telepon namun hingga berkali-kali tidak aktif.


"Aaagghhh..." Djody mengeram. Ia lirik jam saat ini masih jam 7 30 menit. Seharusnya Bella belum mematikan handphone, karena menurut David mereka berangkat jam 9 pagi.


Djody beranjak ambil jaket dari lemari, kemudian mengenakan. Ia berniat menyusul ke bandara siapa tahu masih bisa bertemu untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.


Djody membuka pintu kamar putrinya berniat pamit, tetapi masih tidur. Wajar, karena sekarang hari libur sekolah. Djody kembali menutup pintu perlahan lalu ambil kunci mobil kemudian berangkat setelah pamit salah satu ART.


.

__ADS_1


__ADS_2