Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Bertemu.


__ADS_3

Disalah satu restoran yang terkenal dengan kas masakan Indonesia. Disinilah resto papa Wijaya yang dibangun oleh sahabat nya, yakni papa Rachmad,10 tahun yang lalu.


"Papa dengar... anak kamu sudah lahir Nak?" tanya papa Wijaya, serasa tidak rela melepas mantan menantunya itu. Tetapi ya sudahlah. Wijaya sadar, inilah nasip yang sudah digariskan oleh Allah, bahwa Bella dengan David jodohnya hanya sampai disini.


Saat ini, Wijaya sedang ngobrol bersama David setelah makan siang berdua.


"Sudah dua minggu yang lalu Pa, maafkan saya, karena tidak bisa menjaga janji suci saya," David merasa bersalah kepada mantan mertuanya.


"Sudahlah Dav, Papa tahu, kelakuan anak Papa. Laki-laki mana yang akan kuat jika selalu di injak-injak harga dirinya," jawab papa Wijaya. Ia cukup peka dengan keadaan rumah tangga anak nya.


"Bella tidak salah Pa, ini karena saya sebagai suami tidak bisa mengurus rumah tangga dengan baik," David merasa bersalah.


"Tidak Nak, kamu suami yang baik, saat ini Papa lihat sikap Bella sudah berubah baik, mudah-mudahan... tidak akan berubah buruk lagi," tutur papa. Mantan mertua dan menantu itu pun ngobrol panjang lebar.


Papa Wijaya memaklumi apa yang terjadi, tidak ada pilihan lain selain merelakan menantunya. Agar mencari kebahagiaan yang selama ini tidak David dapatkan.


"Pa, kalau begitu... saya permisi dulu ya, mau beristirahat di hotel saja," David merasa lelah, sejak sampai tadi pagi sama sekali belum istirahat.


"Loh, kenapa harus menginap di hotel Dav, kan bisa menginap di rumah," saran papa Wijaya. Masih banyak yang akan beliau bicarakan bersama David.


"Saya sudah pesan kamar melalui online Pa. Besok... IsyaAllah, saya kesini lagi." Jawab David. Saat masih menjadi menantu pun, David jarang sekali menginap di rumah mertuanya, lebih baik menyewa apartemen. Terlebih saat ini David sudah bukan berstatus sebagai suami Bella lagi.


"Baiklah Dav, Papa juga mau istirahat sebentar," Wijaya seketika berdiri.


"Silahkan Pa" David menatap Wijaya yang berjalan gontai sambil memegangi pingangnya, hingga tidak terlihat lagi. Sementara David melangkahkan kakinya. Hendak keluar dari restoran.


"David" sapa pria tampan yang berpakaian rapi kemeja dengan celana bahan menghentikan langkahnya.


"Andan" mereka pun bersalaman. Ya, pria itu adalah Adnan. Pulang dari kampus pria tampan itu singgah di resto mantan mertuanya, atas perintah Sabrina agar Adnan bersilaturahmi.


"Kapan kamu datang, kok sendirian? Kemana Bella?" cecar Adnan memindai restoran pengunjung tampak ramai pasalnya tepat jam makan siang.


"Tadi pagi Nan. Bella istirahat di rumah, sekarang kita cari tempat duduk dulu, ngobrol-ngobrol," kata David, walaupun sebenarnya sudah ingin beristrahat, tapi ia ingin ngobrol bersama Adnan.


"Papa kemana, Dav?" tanya Adnan ketika mereka sudah duduk santai.


"Beliau sudah di ruangan Nan, baru saja ngobrol sama saya. Oh iya, mau pesan apa?" kata David, walaupun ia sudah makan, tetapi ingin menghormati Adnan.


"Saya mau makan di rumah saja Dav," Adnan lebih nikmat makan masakan Sabrina daripada makan dimanapun.

__ADS_1


"Rencananya bulan depan kami sekeluarga mau kesana Dav, Afina kangen sama Bella, tapi syukurlah... kalau kalian sudah tiba disini," Adnan merasa lega, karena tidak perlu datang ke negara A.


"Sebenarnya... saya dengan Bella sudah pisah Nan," jujur David.


"Pisah?" Adnan sebenarnya tidak begitu terkejut mengingat kelakuan mantan istrinya. Wajar, jika David menyerah seperti diri nya.


"Iya Nan, tapi ini bukan murni kesalahan Bella." David menceritakan semuanya tentang kisah dirinya dengan Bella, dan juga saat Bella di penjara. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Cepat atau lambat akan tahu juga.


"Jadi... kamu berani menduakan Bella? Kok bisa... kamu tidak digantung di alun-alun," kata Adnan sedikit berseloroh. Tidak menyangka jika David akan melakukan hal ini.


"Begitulah Nan, tapi saya sekarang sedikit lega, karena Bella sedikit demi sedikit memperbaiki diri," tutur David. Jika dua orang pria ini tidak bisa membuat Bella berubah hingga bertahun-tahun, ternyata ada cara lain yang bisa merubah Bella hanya waktu tujuh hari, yakni penjara.


Mereka ngobrol panjang lebar dan akhirnya pergi meninggalkan restoran. Setelah Adnan menemui papa Wijaya mantan mertuanya, Adnan mengantar David ke apartemen. Menurud Adnan daripada David numpang taksi.


*************


Sore hari setelah mandi, dan berpakaian rapi, Bella mengendarai mobilnya, menuju kediaman Adnan. Perasaan takut akan penolakan Sabrina maupun Adnan mendominasi pikiranya. Namun begitu, ia harus berusaha meyakinkan mereka, agar bisa bertemu putri satu-satunya.


Tok tok tok.


Dua jari Bella mengetuk pintu ketika sudah sampai di rumah sederhana milik Adnan. Bukan tidak mampu membuat rumah mewah bagi Adnan. Namun sang istri yakni Sabrina menyukai kesederhanaan. Maka membiarkan rumahnya segitu-segitu saja yang penting rapi, dan bersih, bagi Sabrina.


Ceklak.


"Mbak Bella..." lirih bibi. Hanya membuka pintu sedikit.


"Bi Aya... Sabrina nya ada?" Bella menatap mata bi Suhaya, seperti takut jika kehadiran nya akan mengganggu sang majikan.


"Sabrina ada Bi? Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin minta ijin bertemu dengan Afina sebentar," Bella meyakinkan bi Suhaya.


"Baik Mbak Bella... silahkan masuk, saya panggilkan Non Sabrina dulu," bibi pun akhirnya beranjak memanggil Sabrina.


Pok ame-ame belalang kupu-kupu.


Tepuk biar rame dek Dafa minum susu.


"Klak klak klak..." anggap saja tertawa anak umur tiga bulan begitu. Dafa tertawa senang saat di nyanyikan lagu oleh Afina sambil tepuk tangan.


Tok tok tok.

__ADS_1


"Masuk..." kata Afina.


"Bunda kemana Fina?" tanya bibi.


"Bunda lagi mandi Bi, ada apa?" Afina balik bertanya.


"Ada tamu yang mencari Bunda" bibi tidak mau bicara dulu pada Afina, bahwa yang datang adalah Bella. Bi Aya harus bicara dengan Sabrina dulu.


"Iya Bi, nanti kalau bunda sudah selesai, Fina suruh ke bawah." pungkas Fina. Bibi kembali ke bawah membuat minuman untuk Bella. Tidak lama kemudian bibi sudah ke depan membawa dua gelas air berwarna oranye.


"Di minum dulu Mbak Bella, Nona Ina sedang mandi," kata bibi lalu berdiri memeluk nampan.


"Terimakasih Bi," Bella yang sedang melamun entah apa yang di pikirkan mendongak menatap bibi.


"Adnan ada di rumah Bi?" selidik Bella. Sejak tadi ia tidak tenang khawatir diusir oleh mantan suaminya. Bella sadar, sejak bercerai tujuh tahun yang lalu mereka belum bisa damai.


"Tidak ada Mbak, setelah makan siang tadi, beliau berangkat lagi," tutur bibi. Bibi pun menemani Bella ngobrol.


Tak tak tak.


Sabrina menuruni tangga sudah tampil cantik dengan baju setelan lengkap dengan hijab. Jika di dalam rumah, Sabrina tidak memakai kerudung, tetapi karena ada tamu ia mengenakan baju muslim.


Ia menatap dari kejauhan siapa gerangan tamu yang datang tidak begitu jelas. Sabrina mempercepat langkahnya hingga sampai di depan Bella.


"Mbak Bella..." Sabrina terkesiap menatap Bella yang awalnya duduk santai asyik ngobrol dengan bibi tanya ini itu tentang Afina, kini ia segera beranjak.


"Sabrina... apa kabar?" tanya Bella, tangannya terulur bersalaman dengan wanita yang sering ia hina dulu.


"Kabar saya baik Mbak," Sabrina merasa heran dengan ucapan Bella yang terdengar santun. Yang belum pernah Ina dengar selama mengenal Bella.


Suasana sunyi senyap, kedua wanita itu saling pandang, hanyut dalam pikiran masing-masing.


Masih segar dalam ingatan Bella, ketika Sabrina terlambat membayar uang ujian, hampir saja, Bella mengeluarkan wanita di depanya jika tidak ditolong oleh Lastri ketika itu.


"Silahkan duduk Mbak," Sabrina mengejutkan Bella.


"Terimakasih," mereka duduk berhadapan.


"Afina ada In?" tanya Bella sudah tidak sabar ingin segera bertemu putrinya.

__ADS_1


"Bundaaaa.... dedek Dafa nangis...." seru Afina dari lantai dua.


.


__ADS_2